Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 58


__ADS_3

Operasi Caesar seharusnya tak memakan waktu yang lama. Namun kondisi Jess sedikit berbeda, wanita itu sedang mengalami komplikasi hebat di dalam ruang operasi.


Jess mengalami pendarahan hebat, beruntung sang ayah yang memiliki golongan darah yang sama dengan nya sedang berada dalam kondisi kesehatan yang cukup baik untuk menjadi seorang pendonor.


Kent yang baru tiba di parkiran rumah sakit memarkirkan mobil nya secara asal. Pria itu tak peduli lagi pada teriakan seorang sekuriti yang memanggil nya memperbaiki letak parkir mobil nya yang asal.


"Bagaimana kondisi istriku, Dam?" tanya Kent tak sabar. Pria itu bahkan masih belum bisa bernafas dengan benar namun sudah mencecar sang sepupu dengan pertanyaan tak sabar.


"Masih di tangani. Kenapa ponselmu begitu sulit untuk di hubungi? Untung saja aku bergerak cepat, CK!" dalam situasi genting, sempat-sempatnya Sadam melontarkan kalimat menyebalkan seperti itu.


"Aku meeting dengan klien," sahut Kent singkat. Tak mungkin dia menjelaskan perihal klien seperti apa yang hari ini dirinya temui. Bisa-bisa Sadam akan memberikan hadiah kelahiran anak-anak nya berupa Bogeman mentah.


"Kau ingin masuk? ku rasa tak masalah, sebentar aku akan bertanya pada suster di sana." Sadam beranjak menuju meja jaga, setelah mendapatkan ijin masuk Sadam lekas memberitahu pada Kent.


Sedangkan Sadam dan yang lain menunggu dengan doa yang mereka gumamkan dalam hati masing-masing. Sudah hampir satu jam berlalu namun Jess belum ada tanda-tanda akan keluar dari ruang operasi.


Hingga seorang perawat keluar dengan mendorong boks bayi. Ada dua bayi mungil di dalam sana.


"Sus, mereka cucuku?" tanya Kirani menatap dua bayi tersebut dengan perasaan haru.


"Bayi atas nama pasien Jess Amarta?" sambung Sadam memberikan penjelasan.


"Ah benar, apa anda keluarganya?" Sadam mengangguk cepat. "Satu orang bisa ikut dengan saya ke ruang NICU, untuk sementara kedua ya akan di rawat di sana selama ibunya masih dalam proses pemulihan." Ujar perawat tersebut tersenyum ramah.


"Saya saja, papa di sini menunggu Jessie keluar. Mama akan menjaga cucu kita di ruang bayi," potong Kirani cepat. Wanita sampai lupa jika Maria juga ingin menemani cucunya, namun wanita lembut itu hanya tersenyum maklum. Aryo meremat jemari sang istri lembut, dia tau hati istri nya pasti sedih saat ini. Namun wanita itu masih mampu menunjukkan senyum lebar seolah hatinya tak apa-apa.


Di dala rang operasi, Kent tak henti-henti nya mencium kening istrinya dengan membisikkan kalimat penguat agar sang istri tetap bertahan. Wanita itu sedang di observasi sebelum akhirnya di pindahkan ke ruang ICU.

__ADS_1


"Tuan Kent, pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU melalui jalur emergency. Keluarga anda mau menunggu di pintu depan. Anda berniat untuk menemui mereka terlebih dahulu?" Kent menggeleng, dia tak bisa meninggalkan sang istri yang kini terlihat begitu sekarat di matanya.


"Baiklah, kami saja yang akan menyampaikan nya pada keluarga anda." Ujar perawat tersebut memaklumi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan berlalu namun wanita itu masih setia merajut mimpi nya sendiri tanpa peduli pada seseorang yang juga tak kalah setia menanti nya terbangun kembali.


Kent, pria itu terlihat begitu kurus tak terawat. Dari pria yang selalu terlihat macho dengan penampilan rapi, kini lebih sering menggunakan celana jeans dan baju kaos biasa.


"Makanlah, kau butuh tenaga agar tak tumbang menjaga istrimu." Ujar Sadam menyodorkan piring yang sudah dia isi dengan aneka macam makanan di atasnya.


Kent melirik sekilas kemudian kembali fokus menatap laptop nya. Pria itu tetap bekerja walaupun tak pernah mengunjungi kantor sejak sang istri koma.


"Ck, kau pilih aku yang menyuapi mu atau kau makan menggunakan tangan mu sendiri?" ancam Sadam yang sudah mulai jengah dengan sikap keras kepala sang sepupu.


"Kau terlihat seperti reinkarnasi Datuk maringgih, apa kau sadar? Jess akan sulit mengenalimu jika dia terbangun nanti. Apa kau tak takut istri mu jatuh cinta padaku yang jauh terlihat lebih tampan darimu sekarang?" pancing Sadam dan kalimat tersebut berhasil mengalihkan atensi Kent dari pekerjaan nya.


"Jadi kau pilih untuk makan sendiri atau perlu ku kunyahkan terlebih dahulu?" tawar Sadam Menaik turunkan alisnya jahil.


Kent merebut piring dari tangan Sadam dengan tatapan membunuh.


"Apa kau kekurangan belaian belakangan ini? kau terlihat semakin mengerikan. Cepatlah menikah dan hidup mu akan lebih baik setelah nya." Nasihat Kent sembari menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Dia memang sedang sangat lapar, namun pekerjaan nya tak dapat dia limpahkan semua pada sang asisten sesuka hati.


Belum lagi kedua anaknya kini dia rawat di rumah sakit. Kent tak ingin berjauhan dengan keduanya, hingga keluarga akhirnya mengalah. Mereka secara bergantian membagi waktu untuk membantu Kent menjaga kedua bayi mungil tersebut.


"Aku tak perlu menikah untuk memiliki kehidupan lebih baik." Jawab Sadam tersenyum penuh arti. Dirinya tengah berbahagia menikmati hari-hari nya sebagai seorang ayah bagi putri angkatnya. Dan ajaibnya, Melisa bahkan tak pernah mencari keberadaan sang anak sama sekali. Itu cukup menguntungkan bagi Sadam.

__ADS_1


Dua kali tanpa sengaja bertemu dengan wanita itu, tak terlihat raut kehilangan di wajah penuh dosa itu. Wanita bahkan bisa tertawa lepas saat mendapatkan orderan plus-plus tanpa gangguan tangisan dari sang anak.


Kent menyipitkan matanya, menatap sang sepupu penuh selidik.


"Kau tidak sedang menghamili seorang wanita, bukan?" tanya Kent tiba-tiba.


Sadam mendengus jengah mendapatkan pertanyaan tersebut.


"Aku masih waras untuk tak menghamili sembarang wanita. Enak saja!" sarkas pria itu jengkel.


Kent mengangkat kedua bahunya acuh.


"Aku hanya berjaga-jaga saja. Bagaimana dengan proyek renovasi apartemen? aku harap kau tak mengecewakan paman kali ini, atau kalian akan menjadi gelandangan jika Bisma menguasai semua aset keluarga. Kau tentu tak ingin kehilangan kemewahan keluarga mu, bukan?" Ujar Kent menatap sang sepupu yang terlihat santai.


"Aku sudah cukup kaya, hanya menampung kedua orang tua ku. Ku rasa aku tak akan menjadi miskin. Hanya saja aku tak rela jika pria itu yang menguasai semua aset keluarga yang seharusnya di bagi rata. Intinya aku tak suka orang serakah." Pungkas Sadam menyuarakan isi hatinya.


"Dan artinya kau harus bisa memenangkan hati kakekmu jika begitu. Ku dengar beliau cukup menyebalkan," Ucap Kent tanpa filter.


"Tidak hanya menyebalkan, pria baik tanah itu juga sangat arogan dan pilih kasih. Mentang-mentang ibuku terlahir sebagai anak perempuan, lalu di perlakukan seenaknya udelnya. Dasar orang tua tak punya perasaan!" Oceh Sadam kesal. Mengingat sang kakek membuatnya ingin segera mengirim pria bangkotan itu ke alam lain.


"Begitupun beliau kakekmu, jadi berjuanglah dengan cara yang gentle." nasihat Kent tanpa teras telah menghabiskan seporsi makanan yang Sadam berikan.


Sadam tersenyum simpul, melihat piring kosong di atas meja.


kau juga harus berjuang bro, berjuang menjadi suami yang setia dan tabah. Semoga cinta dan ketulusan mu berbuah manis. Ucap Sadam dalam hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Othor sedang dalam kondisi kesehatan yang tidak baik. Mohon doanya agar lekas di berikan kesehatan kembali.🙏🙏


lope lope para kesayangan Buna Qaya 🥰🥰🥰


__ADS_2