Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 33


__ADS_3

Kita ikut menikmati suasana sarapan pagi di rumah Kent dulu yukπŸ€—πŸ€—πŸ€­


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Suasana pagi di kediaman Kent terasa sangat canggung. Bagaimana tidak, kemesraan dan perhatian yang di tunjukkan oleh Kent terhadap Jess sang istri, berhasil membuat kepulan asap di kepala Melisa bagai awan mendung.


"Ck! bisa tidak jangan memamerkan kemesraan di sini? kau membuat selera makanku langsung menurun." Gerutu Sadam melirik kesal ke arah sang sepupu, yang sejak tadi lebih sibuk memperhatikan piring makan sang istri ketimbang mengenyangkan perutnya sendiri.


Kent nampak acuh, seakan tak mendengar kalimat yang baru saja Sadam ucapkan.


"Kent? apa kau lupa mentransfer uang nafkah untukku? bulan ini rekeningku masih kosong, mungkin saja kau lupa karena terlalu sibuk dengan istri keduamu." Sela Melisa mengambil kesempatan untuk membuat Jess terpojok dengan kalimat sindiranya.


Kent mengehentikan aktivitasnya memotong daging di piring Jess. Tatapan tajam, Kent hadiahkan atas kalimat lancang Melisa menyindir istrinya.


"Bagaimana mungkin bisa sampai kosong? bukankah kau juga mengambil jatah Eli diam-diam bulan ini? kemana semua uang itu pergi? bahkan jika aku tak memberikanmu uang hingga tiga bulan kedepan, kau tak akan mati kelaparan, bukan? semua kebutuhan rumah sudah ditanggung penuh oleh Jess. Bahkan istriku ini masih mampu menabung banyak uang, dari sisa nafkah yang aku berikan dalam jumlah tak seberapa itu. Kenapa kau tidak bisa seperti Jess? tanggungan apa yang kau keluarkan hingga menggelontorkan dana luar biasa, Melisa?" Sahut Kent tenang.


Skak!


Melisa terdiam kikuk. Wanita itu mati kutu tanpa bisa menjawab.


"Kau lupa Kent? melisa memiliki kesibukan lain di luar rumah. Mungkin uangnya sedang dia gunakan untuk merintis bisnis baru. Bukan begitu Melisa?" sambung Queen tersenyum penuh kemenangan. Dia tau kemana uang yang diberikan oleh adiknya lenyap.


Melisa melirik tak suka atas kalimat provokatif di ucapkan oleh Queen.


"Itu...aku memakainya untuk kebutuhanku Kent. Lagi pula Eli belum terlalu membutuhkan banyak biaya sekarang. Aku hanya meminjamnya saja." Elak melisa mencoba membela diri.


"Kalau begitu pakai saja dulu uang jatah Eli. Bukankah nominalnya sama dengan yang aku berikan padamu? itu jumlah yang tak sedikit jika saja kau pandai bersyukur. Jess saja hampir tak pernah menggunakan uang dariku untuk kebutuhannya pribadi. Istriku ini memang luar biasa, untuk itu aku semakin mencintainya setiap detik dan waktu tak terbatas." Lanjut Kent tersenyum manis pada Jess.


Tanpa beban sedikitpun, Kent mencium pipi tirus istrinya dengan sayang. Membuat wajah Jess merona malu. Mereka sedang sarapan bersama yang lain dan Kent terus memperlakukannya layaknya satu-satunya istrinya.


Jangan tanya bagaimana reaksi Melisa. Tak mendapatkan apa yang dia harapkan, di tambah lagi dengan sikap Kent yang tak menghargainya sama sekali.


Klontang!


Suara dentingan sendok yang di hempaskan oleh Melisa, membuat semua penghuni meja makan tersebut kaget. Tak terkecuali Yuni yang tengah menguping dari balik sekat pembatas. Gadis itu berpura-pura mengelap perabotan dari dalam lemari, agar memiliki alasan untuk menguping pembicaraan hangat sang majikan di meja makan.

__ADS_1


Yuni sungguh kreatif.


"Alamak! jantung copot eh copot!" seru gadis itu terjengkit kaget. Untung saja piring porselen yang dia pegang tak terjun bebas mencium lantai.


"Melisa! jika kau hanya ingin membuat mood semua orang buruk, lebih baik kau tak perlu repot-repot ikut sarapan di meja ini. Kalau perlu, kau bisa makan diluar karena tak ada yang mengharapkan mu disini." Tekan Kent dengan intonasi yang mulai meninggi.


Jess menggenggam lembut tangan sang suami agar Kent tak meninggikan suaranya. Mengingat di sana ada Eli yang kini terlihat ketakutan, namun gadis kecil itu tak berani menangis. Ada pawang yang dia takuti, yaitu sang bibi.


"Kau seharusnya juga memperhatikanku Kent! aku istrimu juga. Istri pertama jika kau lupa akan statusku!" Teriak melisa tak kalah nyaring.


"Kau berubah Sejak kehadiran wanita cacat ini, kau melupakan semua janjimu untuk setia padaku dan hanya akan ada aku dan Eli dalam hidupmu. Kau pengkhianat! kau pembohong Kent! dan kau, kau puas telah merampas perhatian seorang ayah dari putrinya hah? apa kau tak didik dengan benar oleh orang tuamu? ah aku lupa, bukankah kau anak yang tak diinginkan?" Seru Melisa menatap sinis ke arah Jess yang terpekur mendengar kalimat menohok dari mulut Melisa.


bugh!


suara ringisan di sertai umpatan-umpatan kasar terdengar, setelah bunyi tonjokan yang baru saja mendarat sempurna di hidung melisa.


Yuni bergegas mengambil alih Eli dari kursinya. Untung saja gadis itu sejak tadi terus menunduk karena rasa takut. Jadi tak perlu melihat bagaimana bar-barnya sang bibi menonjok hidung silikon sang ibu.


"Apa kau gila! lihatlah Kent, kakakmu telah menganiayaku dan kau tak melakukan apapun? apa ini bagian dari janjimu dulu? kau lupa? kau lah yang membuat Eli kehilangan ayah kandungnya. Kau yang membuatku kehilangan pria yang aku cintai!" seru Melisa terisak, wanita terus menjejal tisu untuk menyumpal hidung yang berdarah.


Sedangkan Sadam sedikit syok. dia tau betapa bar-barnya sang kakak, tapi tak menyangka jika Queen benar-benar akan bertindak beringas hanya karena tak suka adik ipar kesayangannya di kata-katai.


Sadam menggeleng pelan. Sungguh wanita tak tau di untung pikirnya.


"Pergilah ke kamar Melisa, kau mengotori lantai dengan darahmu." ucap Sadam datar. pria itu kesal karena Melisa menepis tangannya tanpa tau terimakasih.


"itu hanya hadiah kecil dariku Melisa, jika kau masih berani menyudutkan Jess dengan mulut kotormu. Maka bukan hanya hidungmu ku buat berdarah. Tapi mulutmu akan aku lenyapkan dari tempatnya." Tandas Queen kemudian berlalu begitu saja meninggalkan meja makan.


"Ck! setelah membuat kekacauan dia sama sekali tak berniat untuk melakukan perbaikan." gumam Sadam semakin dongkol dengan suasana yang mulai terasa mencekam. Pria itu melirik piring nasi gorengnya yang baru di makan setengah porsi.


"ingat baik-baik Melisa. Jess adalah istri sah ku. Di urutan ke berapa aku menikahinya, Jess tetaplah istriku satu-satunya. Kehadiranmu hanya sebatas tanggung jawab, dan sekarang aku lelah mempertanggungjawabkan sesuatu yang bukan kesalahanku. Melisa Wulandari, kau ku ceraikan. Mulai saat ini, kau bukan lagi istriku. Aku Kent Rahardjo telah menjatuhkan talak tiga kepadamu." Ujar Kent dengan lantang.


Melisa terlihat linglung, suara Kent terasa masih bergema di kedua telinganya. Wanita itu menggeleng kuat, tak terima akan keputusan Kent yang sepihak.


"Tidak Kent! aku tidak mau berpisah darimu, aku mencintaimu Kent. Tolong jangan ceraikan aku, aku mohon. Apa kau tega pada Eli, dia putrimu bukan? kau sangat menyayanginya. Ini hanya karena perhatianmu teralihkan oleh kehadiran Istri keduamu ini. Ya, hanya karena pelakor ini kau berubah pada kami." Ucap Melisa tampak frustasi.


wanita itu berjongkok di samping kursi Kent dengan sangat menyedihkan. Membuat sisi kemanusiaan di dalam hati Sadam tergerak.

__ADS_1


"bawa istrimu ke kamar Kent, aku akan menanganinya." sela Sadam memberikan saran.


sedangkan Jess masih mematung. Kenyataan jika Eli bukanlah anak kandung Kent, membuat hatinya lega. Namun juga iba. Iba terhadap nasib gadis kecil itu.


Kent mengangguk sebagai ungkapan rasa terimakasihnya pada sang sepupu. Lekas kent menggendong tubuh kecil istrinya menuju kamar. Mereka menghuni kamar bawah. Karena kondisi Jess yang masih belum bisa berjalan sendiri dengan baik.


"Tidak! aku bukan janda, Kent masihlah suamiku. benar, kent hanya sedang tergoda oleh wanita ja la ng itu. Aku akan menunggu sampai kent menarik kembali kata-katanya." Ucap Melisa seperti orang kehilangan akal sehat. Bergumam sendiri dengan keyakinan yang coba dia pupuk ke dalam benaknya. Meski sebenarnya hanyalah sebuah harapan kosong.


Kent secara sadar telah menceraikannya. Karena pria itu tak pernah menginginkan keberadaannya selama ini.


Sadam menggeleng pelan melihat tingkah Melisa yang mulai terlihat kurang waras di matanya.


"Bangunlah Melisa, percuma kau mengharapkan pria yang bahkan tak pernah menganggap mu sebagai bagian dari hidupnya. Sudah cukup baik Kent mau meluangkan waktunya selama bertahun-tahun untuk menjagamu dan Eli. Kau harusnya bersyukur. Kent tidak menitipkan Eli di panti asuhan, dan terus membiayaimu juga anakmu selama ini. Tanggung jawab yang seharusnya tak perlu Kent lakukan, mengingat tak adanya hubungan apapun yang mengikat Kent dengan putrimu itu." Ucap Sadam mencoba memberikan pemahaman.


namun Melisa yang keras kepala tak ingin mendengarnya.


"Eli adalah keturunan Rahardjo, suka tidak suka Kent harus menerimanya sebagai tanggung jawab penuh. aku tak akan membiarkan wanita ja la ng itu merebut apa yang menjadi hak putriku di keluarga Rahardjo." Balas Melisa menatap horor ke arah Sadam yang terlihat menghela nafas panjang.


"kau salah Melisa. Rendra bukanlah seorang Rahardjo. Rendra hanyalah anak adopsi paman dan bibiku. Jadi benar atau tidaknya Eli darah daging Rendra, Eli tak berhak apapun atas apapun yang Kent miliki. Termasuk kekayaan keluarga pamanku. Aku harap kau bisa mencerna kata-kataku dengan baik. Berhentilah sebelum kau kehilangan Eli juga, mendengarkan saran orang lain sesekali itu perlu. Termasuk saran yang kukatakan tempo hari." pungkas Sadam mengerling dengan gaya menjengkelkan.


Melisa melempar gelas yang hampir saja mendarat sempurna di wajah bule Tampan tersebut.


"Kau bajingan gila tak tau malu!"


teriak melisa marah juga malu.


sedangkan Sadam terkekeh tanpa dosa kemudian berlalu begitu saja, setelah mematik api kemarahan Melisa semakin berkobar.


di dalam kamar, Yuni tengah menenangkan Eli yang masih menangis takut. kamarnya dekat dengan ruang makan. Suara teriakan sang ibu masih terdengar jelas ditelinga kecilnya. Membuat Eli sedikit memahami, jika Kent bukan ayah kandungnya sesuai apa yang dia dengar.


Gadis kecil itu menyimpulkan setiap informasi baru yang dia peroleh. Otak kecilnya tak memahami cara mencerna informasi yang dia dengar. Semua dia lahap habis tanpa memilah. Begitulah pikiran polos anak-anak bekerja. Apa yang dia lihat dan dengar, akan di jadikan acuan dalam memori sucinya.


...----------------...


......................


Semoga alurnya masih enak di cerna ya gaesss 😁

__ADS_1


Jangan lupa like n komenπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™πŸ™


Lope lope para kesayangan buna Qaya 🀍🀍🀍


__ADS_2