Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 30


__ADS_3

Kita lanjutkan episode drama membosankan ini ya gaesss 😁


Semoga masih betah stay with othor receh ini, jangan lupa komen n like nya ya gengsπŸ™πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jess menggeliat kala merasakan hawa hangat menerpa kulit wajahnya.


"Selamat pagi istriku yang cantik." Sapa seorang pria dari arah belakang tubuh Jess dengan suara serak khas orang bangun tidur.. Wanita itu terbangun dalam posisi miring. Dan baru sadar jika ada sebuah tangan melingkar di perutnya.


"Kent?" Gumam Jess masih tak percaya. Bagaimana bisa Kent ada di sana bersamanya.


"Memangnya siapa yang kau harapkan memelukmu seperti ini?" Tanya Kent dengan nada penuh kecemburuan.


"Ishhh...kau seperti siluman, bukankah semalam kau marah padaku karena mentertawaimu?" Balas Jess berusaha menepis tangan Kent yang mulai bergerak lincah, mengusap perut ratanya.


Kent menghentikan gerakannya, pria itu membalikan tubuh Jess hingga menghadap ke arahnya.


"Siapa yang memarahimu? Aku mematikan panggilan karena aku terlalu gemas melihatmu tertawa renyah di sambungan video. Jadi aku memutuskan untuk datang kemari saat itu juga." Cerita Kent jujur.


Wajah jess memerah menahan malu. Wanita itu berpaling namun Kent menahannya.


"Sambut pagi dengan memberikan senyuman manis pada suamimu Jess. Dan jangan lupa ini..." Kent mengecup bibir ranum Jess dalam. Membuat kedua bola mata wanita itu hampir melompat keluar.


"Kau harus mulai terbiasa sekarang. Aku akan melakukannya setiap pagi, siang dan malam. Tidak ada bantahan dan protes. Sekarang ayo kita mandi bersama, hari ini kau ada jadwal Check up, bukan?" Kent lekas duduk, dia ingin menyiapkan air mandi untuk sang istri terlebih dahulu.


Kent juga ingin menuntaskan sesuatu di kamar mandi sebelum mereka mandi bersama. Tuntutan para pria atas kebutuhan yang tak bisa di wakilkan oleh orang lain.


πŸ‘ΈπŸ»


πŸ‘ΈπŸ»


Melisa terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Tulang-tulangnya serasa lepas dari engselnya.


Terlihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, ada suara gemericik air dari dalam. Bisa di pastikan siapa yang tengah melakukan hajat di dalam sana.


Melisa menyingkap selimut yang membalut tubuhnya. Netra wanita itu membelalak sempurna kala melihat cairan yang menempel di sprei bagai guyuran air keran.


"Dasar bule sialan!" Umpat Melisa dongkol. Untuk berjalan menuju sofa saja wanita itu terlihat begitu kepayahan. Melisa berjalan dengan menyeret kakinya yang masih bergetar.


Seorang pria tersenyum menyeringai melihat wanita yang dia gempur habis-habisan semalam tertatih menuju sofa.


"Kau luar biasa baby. Meski aku sedikit kesulitan mencapai puncakku, but ist ok. Kau harus sering-sering melakukan perawatan terhadap aset basahmu. Jika tidak, pria selanjutnya akan berpikir kau baru saja melahirkan bayi raksasa setelah memasukimu." Ujar pria bule tersebut tanpa saringan filter.


Kalimat frontal tersebut dia ucapkan dengan begitu enteng tanpa beban sedikitpun. Boro-boro memikirkan perasaan Melisa yang kian dongkol menahan rasa kesal, marah dan malu yang bercampur aduk.

__ADS_1


Melisa melempar gelas minuman yang baru saja dia pakai untuk melepaskan dahaganya. Untung saja tak mengenai wajah si pria bule tersebut.


Seperti biasa, tak ada kemarahan di wajah tampan itu. Hanya ada wajah tengil, dan sikap pecicilan khas yang pria itu perlihatkan.


"Hei, nyonya. Aku hanya memberikanmu masukkan. Kenapa kau malah marah? Bukankah aku teman kencan yang baik dan perhatian? Kau harusnya bersyukur karena berkencan dengan pria tampan sepertiku. Ah ya, jika perutmu mulai terisi benih. Tolong jangan libatkan aku. Aku tak tau dengan siapa saja kau menghabiskan malam panas penuh dosa seperti ini. Aku tak mau terlibat di dalamnya. Tugasku hanya menyumbangkan benih kualitas super, tugasmu untuk merawat atau membiarkannya layu tak berkembang di sini." Tegas pria itu dengan nada serius.


Telapak tangan lebar itu meremat perut Melisa lumayan keras. Wanita itu sampai meringis menahan nyeri di bagian perutnya.


"Dasar saiko!" Umpat Melisa menghempaskan tangan si pria dari perutnya.


"Aku hanya ingin berjaga-jaga saja. Kau yang datang dan meminta untuk di hangatkan. Bukan salahku jika benihku atau benih pria lain tumbuh di dalam rahimmu. Salahkan dirimu sendiri, kenpa mau menjadi wanita murahan tanpa harga diri." Sarkas si pria tersenyum miring.


Selesai mengenakan pakaianmya si pria mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Sebuah lembaran cek dengan nominal yang fantastis.


"Itu hargamu, aku harap itu bisa membungkammu jika tiba-tiba saja kau terlambat kedatangan tamu bulanan. Jika kelak kita bertemu, anggap saja kita tak saling mengenal. Aku tak suka di libatkan dalam masalah dengan seorang wanita ja la ng!" Tandas si pria datar. Melisa menggenggam erat jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.


Seumur hidup, dirinya tak pernah di permalukan sedemikian rupa hingga tak punya muka lagi. Tapi seorang pria asing melontarkan kalimat-kalimat penuh hinaan yang merendahkan harga dirinya hingga tak bersisa tepat di depan mata.


"Bawa cek mu, kau pikir aku wanita seperti itu? Kau terlalu percaya diri tuan. Kekayaan suamiku bahkan melampaui apa yang kau miliki. Kau akan terkejut kala mengetahui siapa aku sebenarnya. Jadi, bawa kertas lusuh ini. Aku tak butuh uang receh darimu!" Balas melisa melempar senyum puas setelah membalas hinaan sang pria terhadapnya.


Si pria menatap lembaran cek ya sudah tak berbentuk karena di remas kuat oleh melisa. Prai itu mengangkat bahu acuh lalu memungutnya kembali tanpa merasa tersinggung.


"Jumlah yang kau sebut recehan ini adalah 1 miliyar rupiah. Aku rasa aku salah. Ja la ng sepertimu memang tak pantas di hargai sebanyak ini. Ini terlalu berlebihan. Tadinya aku merasa iba padamu, berharap cek ini bisa membuatmu tak lagi Melakukan hal rendah seperti ini. Nyatanya, ja la ng tetaplah ja la ng! Menggunakan pakaian semahal apapun, penampilan mewah itu tak akan mampu merubah image yang sudah terlanjur melekat kuat." Ujar si pria tersenyum sinis.


Sepeninggalan si pria Melisa mengamuk di dalam kamar tersebut. Harga dirinya serasa terjun bebas ke dasar jurang oleh perkataan seorang pria asing.


"Semoga saja kau terkena penyakit HIV, pria brengsek! Dasar penjahat ke la min biadab!" Melisa kembali meringis akibat gerakannya yang tiba-tiba.


Di sebuah rumah sakit, Kent terlihat sabar mendorong kursi roda Jess menuju ke ruangan dokter bedah saraf. Setelah mendapatkan rekomendasi dari dokter onkologi, kini mereka melanjutkan rujukan ke dokter spesialis saraf.


"Jangan memikirkan hal berat. Kau pasti sembuh. Bila perlu kita berbagi otak separuh-separuh. Jadi sebagian diriku ada bersamamu selamanya." Ujar Kent memecahkan keheningan. Dia tau pikiran Jess kini tengah kacau memikirkan kondisi penyakitnya.


"Aku merasa sehat Kent. Entah apa yang perlu di permak di dalam kepalaku ini. Aku bahkan tak sedikitpun merasakan kesakitan di tubuhku." Sahut Jess tenang. Tak ada yang tau kedalaman hatinya saat ini.


Sejatinya Jess tengah memikirkan nasibnya ke depan nanti. Bagaimana dengan kehidupan adik-adiknya, bagaimana dengan sang ibu jika kehilangan dirinya. Pikirannya berkecamuk namun sebisa mungkin Jess memperlihatkan ketegaran melalui ekspresi wajah tenang yang mampu menipu banyak mata.


"Ya, kau sehat. Tetaplah berpikir seperti itu sampai kapanpun. Setelah pengobatanmu selesai, kita akan berkunjung ke banyak tempat sesuai keinginanmu. Bahkan ke ujung dunia sekalipun, aku akan menyanggupinya." Balas Kent terus mendorong kursi roda Jess menuju elevator.


Sekuat hati, Kent berusaha menahan rasa panas di kedua netranya. Pria itu terlihat akan menangis, manik berkaca-kaca itu terlihat jelas bagi siapa saja yang melihatnya. Terkecuali Jess yang tengah duduk tenang dikursi rodanya tanpa menoleh ke belakang.


Di rumah Kent, Eli merengek meminta kembali ke kamarnya di lantai atas. Gadis kecil itu merasa tak cocok dengan suasana dan perabotan yang ada di dalam kamar tamu yang kini dia tempati bersama Yuni.


"Kamar ini bagus kok non. Sus Yuyun saja suka. Andai boleh menetap di kamar ini, sus Yuyun mau deh. Ikhlas banget malah." Bujuk Yuni berusaha menghibur sang nona asuhannya.


"Eli tidak suka sus Yuyun... kamar ini kecil Eli mau kamar yang besar, biar bisa bermain sepuasnya. Eli tidak bisa membangun tenda-tenda di dalam sini sus Yuyun..." Rengek Eli ngotot.

__ADS_1


Yuni memijit pelipisnya menahan denyut di kepalanya.


"Eli, mulai sekarang Eli harus mulai belajar mendengarkan nasihat orang lain. Karena apa? Karena anak baik dan penurut, di sayang oleh semua orang. Apa Eli tak ingin di sayangi oleh banyak orang? Anak nakal tidak akan memiliki teman. Karena mereka tak suka berteman dengan anak cengeng dan cerewet. Apa kau mengerti?" Yuni meneguk ludahnya susah payah.


Suara datar Queen tak terdengar untuk di bantah. Gadis itu menatap Eli sembari tersenyum lalu mengangguk pelan,agar sang nona muda itu lekas mengangguk paham.


Eli mengangguk sambil menunduk takut. Aura galak terpancar jelas di watjsh Queen yang layaknya Yeti, dalam mitologi penghuni pegunungan Himalaya.


Jika Yuni saja merasa tskut, apa kabar dengan Eli kecil.


"Anak cerdas. Ah Yuni, aku ingin keluar. Di garasi hanya ada kehampaan. Apakah adikku sudah jatuh miskin hingga tak mampu untuk membeli kendaraan meski dengan merek sejuta umat? Berapa adikku menggajimu? Aku khawatir keuangan Kent sedang dalam masalah, mengingat jika pria malang itu memiliki dua istri dan seorang anak yang sifatnya terlihat seperti duplikat ibunya." Komentar Queen sarkastik.


Yuni meringis mendengar penilaian yang begitu frontal tersebut. Gadis itu melirik ke arah Eli yang kini mulai sibuk memainkan tabletnya.


"Satu mobil di pakai oleh nyonya melisa nona, semalam nyonya keluar pukul 11 kalau tidak salah ingat. Dan soal gaji, nyonya melisa mengatakan jika aku tak akan mendapatkan gaji bulan ini." Jawab Yuni berusaha mengingat jelas sekaligus menyuarakan sedikit aduan terhadap nona cantik di hadapannya itu.


Apa salahnya mencoba peruntungan. Begitupun pikiran Yuni yang memang selalu iseng dengan segala ide-ide dadakan yang melintas di kepalanya.


"Sepertinya wanita itu memiliki jam terbang yang cukup tinggi." Queen menatap Yuni intens.


"Alasan apa membuatmu tak berhak atas gajimu sendiri? Apa kau membuat kesalahan?" Selidik qtueen dengan tatapan menuntut jawaban.


Kedua kaki Yuni serasa ringan, seakan tubuhnya melayang beberapa senti dari dasar lantai.


"Itu.. karena aku lancang membentak nyonya Melisa, nona." Gadis itu menyisakan sedikit keberanian untuk menatap Queen yang masih menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Kau hebat. Aku yang akan memberikanmu gaji beserta bonus bulan ini. Jadi sering-seringlah membentak majikanmu. Terkhusus hanya untuk wanita tak tau malu itu. Ingatlah ini Yuni, nyonya yang seharusnya kau hormati, adalah Jess adik iparku yang sesungguhnya. Hanya padanya kau boleh menaruh rasa hormat dan sungkan. Wanita baik dan hebat karena terlihat tegar meski di sakiti oleh keadaan begitu dalam."


Yuni tertegun, dapat dia lihat bagaimana kalimat tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Queen mengatakan sederet kalimat tersebut dengan nada yang begitu lirih namun tetap lugas dengan caranya.


Gadis itu masih bergeming, menatap punggung kecil sang nona muda keluarga Rahardjo menaiki anak tangga menuju lantai atas. Setiap langkahnya seperti membawa banyak harapan yang terselip di sana.


"Sus Yuyun ayo main.." Yuni tersentak oleh rengekan Eli. Tanpa terasa, bulir hangat merembes dari kedua matanya.


"Ishhh... cengeng banget sih, begitu saja menangis." Sungut Yuni mengusap kasar pipinya.


Kalimat Queen membuatnya teringat bagaimana wajah teduh Jess kala datang tempo hari. terlihat jelas raut kekhawatiran akan kondisi Eli yang tengah sakit. Wanita itu terlihat begitu tulus meski sadar suaminya telah memiliki wanita lain.


...----------------...


......................


Makin seru gak sih, othor kaya novelnya kehilangan jiwanya. lempeng-lempeng aja alurnya. Apa kurang menarik yaπŸ€” tolong komen ya. Beri masukan biar othor memperbaiki alurnya ke depan nanti. Oya, ini harusnya dua bab, tapi othor jadikan satu bab panjang. Mohon jangan bisan bacanya yaπŸ™πŸ˜šπŸ˜šπŸ˜š


lope lope para kesayangan buna Qaya 🀍🀍🀍

__ADS_1


__ADS_2