Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 25


__ADS_3

Masih dengan Kent yang galau resah dan merana🤭 semoga tidak bosan dengan cerita receh ini🥰🥰


...----------------...


Kent menatap tumpukan berkas yang baru saja di letakkan oleh sang sekretaris di atas meja kerjanya. Pikirannya masih kacau. Pembahasannya dengan Jess tak mendapatkan penyelesaian yang dia harapkan. Wanita itu tetap kukuh ingin berpisah darinya.


Dan itu sukses membuat hari Kent tak tenang.


"Tuan? Anda baik-baik saja?" Kent tersentak lalu membuka berkas di tangannya tanpa menjawab apapun. Risma menampilkan wajah acuh yang sama datarnya pada sang atasan.


"Kau bisa keluar Risma, bukankah pekerjaanmu juga masih menumpuk?" Risma mencibir mendengar kalimat sindiran terang-terangan yang di ucapkan oleh sang atasan. Pekerjaannya menumpuk juga karena pria di hadapannya itu yang memiliki jam kerja suka-suka.


Kent sering pulang entah karena panggilan darurat atau apa. Dan berkahirlah Risma yang harus menghandle pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh Kent.


Bermodal keterampilannya dalam meniru tanda tangan sang atasan, Kent mempercayai Risma sepenuhnya dalam melakukan pengecekan berkas laporan yang membutuhkan tanda tangannya. Sebesar itu kepercayaan Kent terhadap sang sekretaris.


"Anda mau di buatkan teh hangat tuan, di bawakan makanan ringan, mungkin?" Tawar Risma sebelum keluar dari dalam ruangan Kent.


Kening Kent mengerut sempurna. Tak biasanya sang sekretaris menawarkan hal tersebut jika Kent tak memintanya.


"To the poin saja, Risma. Aku bukan cenayang yang dapat melihat isi dadamu." Sarkas Kent membuat Risma reflek menutup bongkahan dadanya yang menyembul keluar.


Wanita itu mendelik jengkel. Namun di detik berikutnya, Risma tersenyum penuh arti. Senyum yang membuat Kent mulai menaruh kewaspadaan.


"Aku hanya ingin...."


"Jika kau meminta cuti di saat-saat sekarang ini, maka kau tak perlu repot-repot mengetik surat permohonan cuti. Karena aku akan langsung menolaknya saat itu juga." Risma melipat bibirnya kesal.


Cuti yang sangat dia idamkan kini di tolak bahkan sebelum sempat melakukan pengajuan. Bukankah Kent bos yang kejam?


"Tapi aku baru akan mengambil cutiku kali ini, tuan? Tuan Aditya saja sudah mengambil cutinya sebanyak dua kali tahun ini? Kenapa anda sangat pilih kasih? Apa semangat anda akan kendor jika tak melihat body menggodaku ini, tuan?" Balas Risma dengan gaya centilnya.


"Aku lebih tak bersemangat lagi kalau melihat ukuran bajumu yang terus kau kecilkan dari ukuran dadamu itu, Risma. Aku membutuhkanmu bekerja penuh tahun ini. Kehidupan rumah tanggaku sedang berada di ujung tanduk, dan hanya kau yang bisa menyelamatkanku dari kehancuran pernikahan ini." Risma mencibir jengkel.


Dia pun sedang berjuang untuk menemukan calon imam yang bisa membawanya ke jalan yang benar. Namun sang atasan sungguh tak pengertian.


"Aku akan melipat gandakan bonusmu tahun ini. Bagaimana? Beberapa hari ke depan mungkin aku akan lebih sering mangkir dari pekerjaanku. Berbaik hatilah pada atasanmu yang malang ini. Aku memiliki dua istri dan seorang putri. Salah satu dari istriku itu bukanlah wanita yang aku inginkan. Tapi aku masih belum memiliki kekuatan untuk melepaskannya. Aku sedang mencari bukti yang kuat, agar bisa terbebas dari hubungan rumit ini. Tolong, bantulah aku kali ini. Batalkan cutimu meski dalam hati kau mengumpatku penuh kekesalan. Aku tak peduli."

__ADS_1


Mohon Kent terdengar menyimpan harapan tinggi pada wanita seksi di hadapannya itu.


Risma membaung pandangan ke arah lain kala terus di tatap penuh permohonan. Jantungnya mulai berdegup kencang tak tau diri. Sial amat mengagumi sosok yang hanya bisa dia khayalkan di dalam mimpi.


"Baiklah, terimakasih atas kerjasamamu. Aku akan mentransfer uang bonusmu lebih awal. Belilah beberapa pakaian yang memiliki size sesuai ukuran dadamu itu. Aku khawatir silikon di dadamu akan meledak jika kau terus menggunakan pakaian ketat seperti ini." Ucap Kent entang.


Risma semakin menekuk wajahnya. Dia bahkan belum menyetujui namun sang atasan sudah memutuskan secara sepihak tanpa persetujuannya.


"Suka sekali seenaknya mentang-mentang bos." Dumel Risma tak suka, namun tak mampu menyuarakan protesnya secara terang-terangan. Terlebih kala mendengar suara notifikasi di ponsel pintarnya.


Senyum lebar yang terkesan malu-malu di wajah Risma membuatkan Kent tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil membuat sang sekretaris bungkam tanpa kata.


"Sekarang keluarlah. Ah ya, bukankah tadi kau menawarkanku teh hangat dan cemilan? Kebetulan aku sedang ingin minum teh juga makan cake. Tolong, antar kemari nanti." Ucap Kent tersenyum tanpa dosa.


Risma melengos kemudian memutar langkah untuk keluar dari ruangan sang atasan.


Kent menatap layar ponselnya, bukan untuk mengintip sisa saldonya yang baru saja terkuras demi menukarnya dengan cuti sang sekretaris. Namun untuk melihat potret seorang wanita yang saat ini tengah dia rindukan.


"Bertahanlah bersamaku, Jess. Aku tak bisa melepaskanmu. Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku, cobalah untuk memahami keadaanku." Lirih Kent menatap sendu poto Jess yang dia ambil diam-diam dalam banyak pose.


👸🏻


👸🏻


"Eh? Anak mama lagi di sini. Mama cariin loh sampe ke kamar. Eli lagi ngapain sayang sama suster Yuni?" Melisa berujar begitu manis dan lembut. Entah mengapa Yuni melihat ada udang di balik batu..


Sikap Melisa yang tiba-tiba berubah membuat kecurigaannya semakin besar.


"Eli lagi menggambar ma, ya kan sus Yuyun?" Yuni tersenyum paksa sembari mengangguk.


"Main sama mama aja ya, biar sus Yuyun nya istirahat. Mau ya?" Tawar Melisa merayu sang anak. Dia tau Eli masih menyimpan ketakutan terhadapnya, dan tugasnya membuat semua perhatian Eli kembali tertuju padanya seperti dahulu.


Eli terlihat ragu, menatap Yuni seakan meminta pendapat. Yuni mengangguk pelan. Tak mungkin dia melarang Eli bermain bersama ibu kandungnya. Meski jauh di dalam hati gadis itu merasa ragu.


Perubahan sikap sang nyonya yang mendadak, membuat yuni berpikir banyak hal buruk yang tengah wanita itu rencanakan.


Yuni beranjak meninggalkan gazebo. Namun sebelum benar-benar pergi, Yuni mengaktifkan baby monitor yang tak di ketahui oleh Melisa. Gadis itu menaruh nya di balik rimbunnya tanaman bunga di dalam pot di dekat Eli duduk.

__ADS_1


Seperti biasa, Yuni yang kepo selalu penasaran untuk hal sekecil apapun.


"Semoga saja nyonya benar-benar tulus. Kasihan banget kalau non Eli hanya di manfaatkan demi tujuan tertentu oleh nyonya dajal itu." Gumam Yuni berjalan menuju dapur.


"Ngomongin apa toh Yun? Kok ngedumel sendiri, non Eli nya mana?" Tegur bi Sum mengagetkan Yuni. Gadis itu mengusap dadanya akibat suara bi Sum yang membuat kinerja jantungnya menjadi tak beraturan.


"Bibik ih, kalau aku punya riwayat penyakit jantung. Auto kejang-kejang ngeluarin busa dari mulut terus end. Kan bibik juga yang repot, nangis kejer guling-guling." Omel gadis itu pura-pura kesal.


"Alah, baru juga gitu Yun. Kebanyakan nonton sinetron ikan terbang ya gini jadinya. Suka dramatisu." Ucap bi Sum memancing gelak tawa Yuni semakin nyaring.


"Keren bibik, berhasil menciptakan kosakata baru. Dramatisu, tiramisu kali bik." Ucap Yuni terkekeh-kekeh. Kedua wanita beda generasi itu berjalan beriringan menuju dapur.


"Eli mau tidak, kalau punya adik bayi?" Pancing Melisa. Sontak membuat Eli yang tengah menggambarkan, menghentikan gerakan tangannya. Gadis kecil itu menatap sang ibu dengan tatapan polos penuh harapan.


"Mau ma, memangnya adik bayi belinya di mana?" Tanya Eli antusias. Melisa meringis mendapati pertanyaan konyol sang anak.


"Bukan begitu konsepnya sayang, adik bayi ada kalau papa dan mama sering menghabiskan waktu bersama. Sekarang kan papa jarang ada waktu bersama kita, karena di rebut oleh tante jahat yang tempo hari. Eli mau tidak, bujuk papa supaya kembali lagi perhatian sama kita?" Melisa memulai aksinya untuk memprovokasi pikiran polos sang anak.


Eli terlihat berpikir kemudian mengangguk. Dia pun merasakan jika semenjak kehadirannya di rumah sang ayah. Kent tak pernah ada waktu untuk sekedar bermain dengannya.


"Eli bilang sama papa, kalau Eli ingin punya adik dan minta papa untuk tinggal sama kita selamanya. Bisa tidak?" Desak Melisa tanpa tau jika permintaannya telah membebani otak kecil putrinya.


Eli lagi-lagi mengangguk. Dia tak mengerti maksud permintaan sang ibu memiliki makna lain di baliknya. Yang Eli tau, dia menginginkan seorang adik sebagai teman bermain, dan ayahnya kembali memperhatikannya seperti dahulu.


Melisa tersenyum penuh kemenangan. Sebentar lagi Kent akan kembali dalam kendali putrinya. Jika semua usahanya untuk meraih hati Kent telah gagal, maka apa salahnya memanfaatkan Eli yang notabene adalah keturunan Rahardjo meski bukan anak kandung Kent.


Begitulah pikir Melisa. Dan dia akan memanfaatkan Eli untuk mendapatkan sebagian bahkan bagian paling besar dari keluarga terkaya itu. Meski tau masih ada saudari kembar Kent, yang juga berhak atas aset keluarga itu, namun Melisa selangkah lebih di depan.


Dengan adanya Eli, posisinya akan semakin kuat untuk menempati jajaran paling tinggi dalam keluarga Rahardjo.


Sungguh impian Melisa tak muluk-muluk. Menguasai Kent dalam kendalinya, berikut harta kekayaan pria itu. Maka sempurnalah kehidupannya. Khayalan tingkat tinggi yang tak main-main.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Bagaimana gaesss, impian Melisa cukup sederhana bukan? dan...

__ADS_1


Tidak tau malu🤭🤭🤣🤣🤣


lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍


__ADS_2