
...Satu bab lagi semoga cukup πππ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak kasih sayang kalian untuk Jess ππ...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Benar saja. Kent menatap punggung kecil Jess yang berlalu begitu saja meninggalkannya. Sesakit ini rasanya mendapatkan penolakan.
Kent tak pernah di tolak oleh wanita. Para wanita bahkan rela melakukan apapun untuk bisa bersamanya. Termasuk Melisa. Namun sepertinya, pesona Kent kurang paten untuk menjerat seorang Jess Amartha yang tak banyak tingkah dan kata.
Terbukti wanita itu begitu kebal pada segala sikap lembutnya. Padahal Kent merasa telah melakukannya dengan sikap yang tulus dan tak di buat-buat.
Tak lama suara jeritan tangisan terdengar menggema, meski sayup-sayup. Jarak dari kamar Jess lumayan berjarak ke ruang keluarga
Dia yakin Eli pasti mencarinya ketika terbangun pagi ini, dan tak mendapatinya di manapun.
Semalam Kent sengaja keluar dari kamar Eli. Karena ketika terbangun karena rasa haus yang mendera tenggorokanya, Kent melihat satu penghuni lain ikut tertidur pulas sembari memeluknya dari samping kanan. Sungguh Kent tak habis pikir, bagaimana bisa Melisa masuk ke sana sementara pintu terkunci dari dalam.
Dia mulai mencurigai ada konspirasi antara putrinya dan juga Melisa. Mengingat jika Melisa bukanlah keturunan siluman, yang bisa menembus pintu tanpa di buka terlebih dahulu.
Itulah kenapa dia menyasar kamar Jess. Kebetulan kamar itu hanya di kunci menggunakan palang kayu kecil dari dalam. Kent belum sempat menyuruh orang memperbaikinya. Dan dia bersyukur karenanya. Untung saja, batinnya berucap syukur sebesar-besarnya. pada sang kontraktor nakal yang tak becus mengerjakan seluruh bangunan dengan sempurna.
Kent berhasil membobol pintu kamar Jess lalu menumpang tidur di sana. Berdesakan di kasur kecil ternyata membawa berkah baginya. Dia jadi bisa berdekatan dengan sang istri bahkan memeluknya sepanjang sisa malam.
Bisa saja Kent tidur di kamar lain di dalam rumah induk, hanya saja pikirannya terfokus pada sang istri yang pasti tidak nyaman tidur di tempat kumuh dan sempit. Nyatanya, Jess tertidur pulas dengan jejak air mata di sudut matanya. Kent tau itu karenanya. Rasa bersalah itu kembali mengusik hatinya.
Sebelum tertidur, Kent berpuas-puas hati memandang ciptaan Tuhan di hadapannya itu. Wajah cantik alami tanpa sedikitpun polesan make up tebal, seperti yang dilakukan oleh Melisa setiap hari.
__ADS_1
Kembali ke saat ini, Kent keluar dengan langkah malas menuju ke dalam rumah melalui dapur. Terlihat Eli menangis di pelukan ibunya. Kent berusaha bersabar akan kondisi tak nyaman ini hingga Jess tak lagi di sana.
"Kent? Dari mana saja kau? Apa kau tau Eli menangis sepanjang pagi ketika terbangun tak mendapatimu di tempat tidur. Kau membuat kesan buruk padanya. Ini pertama kalinya Eli kemari dan kau mengacaukan pagi pertamanya." Sarkas Melisa mencecar Kent dengan ekspresi marah.
Wajahnya terlihat memendam emosi dan kecewa, atas sikap Kent yang menurutnya kekanakan.
"Kau memperpanjang masalah Melisa. Kemarilah sayang, maafkan papa. Papa baru saja habis berolahraga di taman belakang. Sudah, berhenti menangis. Papa di sini sekarang." Kent mengambil alih Eli dari gendongan Melisa dengan sedikit paksaan.
Melisa menatap penuh selidik ke arah Kent, dari atas hingga ke bawah. Tak terlihat Kent seperti orang yang habis berolahraga. Pakaiannya masih pakaian tidur yang dia gunakan semalam. Melisa sedikit curiga, Kent baru saja menghabiskan subuh bersama istri keduanya.
Dia ingat saat menyelinap masuk ke dalam kamar Eli, sudah pukul 12 tengah malam. Dengan bantuan Eli yang membukakannya pintu dari dalam, Melisa berhasil masuk. Kent pasti terbangun subuh saat dirinya tertidur pulas.
"Katakan kau tidak sedang bermesraan dengan pembantu murahan itu, kan Kent?!" Tanya Melisa penuh selidik. Wajahnya merah padam karena pikirannya yang sedang berpikir kotor.
Kent menatap nyalang pada Melisa dengan rahang mengetat sempurna.
Melisa melotot sempurna mendengar kalimat bernada tuduhan tersebut.
"Jaga bicaramu Kent! Wajar jika Eli sangat manja. Kau ayahnya, sudah kewajibanmu memanjakannya. Di mana letak kesalahanku dalam mendidiknya? kau bahkan tak mau tau dengan pertumbuhannya selama ini. Kau pikir uangmu bisa menggantikan waktu yang tak dapat kau berikan sepenuhnya pada Eli? Tidak Kent! Kami membutuhkan dirimu, Eli membutuhkan ayahnya dan kau abai pada tanggung jawabmu belakangan ini. Karena apa? Karena wanita ja lang itu!" Teriak Melisa lepas kendali.
Kent menutup kedua telinga sang anak menggunakan satu tangannya, sisi sebelahnya Kent tempelkan ke dada bidangnya.
Kent tersenyum sinis. Melisa selalu meledak-ledak seperti biasanya jika pembahasan mereka sudah mulai berat. Wanita dengan emosi yang labil meski usianya sudah cukup dewasa.
"Bukankah kau menikmati perhatianku itu, Melisa? Ku lihat begitu banyak koleksi barang-barang mewah dengan harga fantastis yang kau beli meski tak terlalu penting. Apa aku pernah protes? Tidak bukan? Kau menghabiskan jatah yang seharusnya menjadi hak Eli, aku diam saja. Itu karena aku sadar tak bisa memberikan seluruh waktuku untuk kalian. Tapi jika kau menuntut lebih. Ingat posisimu, Melisa. Aku bukan pria polos seperti 6 tahun yang lalu. Aku tak sesabar dulu, jika kau terlalu banyak mengatur dan menuntut kehidupanku. Bersiaplah untuk menjadi gelandangan di jalanan." Ucap Kent tenang. Tatapan mata elang yang selalu Melisa puja itu terlihat begitu menakutkan untuk di tatap.
Melisa mematung, mendengar kalimat menohok tersebut. Kent benar-benar sudah di luar kendalinya sekarang. Dia harus mulai bermain indah sekarang, jika tidak ingin kehilangan sumber kemewahannya.
__ADS_1
"Maafkan aku Kent. Aku hanya ingin di pandang sebagai istrimu juga. Bukankah benar jika wanita itu telah merebutmu dariku? Kau mulai berubahpun semenjak kehadirannya. Apa salah aku menuntut hakku sebagai istri pertamamu? Aku lelah bersembunyi, Kent. Eli butuh pengakuan keluargamu. Semakin dewasa Eli akan sadar jika dia tak diinginkan, dan itu akan melukai hatinya kelak. Aku tak rela hati putriku terluka Kent, tidak akan pernah rela." Ujar Melisa mulai melunak, meski dibubuhi dengan kalimat yang menyudutkan Jess.
Dramapun kembali terjadi. Isakan kecil penuh kepiluan layaknya istri yang teraniaya terlihat begitu menyedihkan.
Kent mengabaikan isakan penuh drama tersebut.
Menggendong tubuh kecil Eli menuju lantai atas. Menghadapi Melisa cukup dengan mengabaikan nya. Karena jika dengan meladeninya, hanya akan semakin membuat wanita itu terus berkicau tanpa henti. Layaknya seekor burung yang terkurung di dalam sangkar. Penuh penderitaan namun diam-diam menumpuk emas di bawah sarangnya.
Tanpa mereka sadari, jika sejak tadi Jess tanpa sengaja menguping pembicaraan tersebut. Wanita itu tersenyum miris. Melihat bagaimana sepasang suami istri itu saling mendebat argumen masing-masing, di hadapan bocah tak berdosa tersebut.
Tak ingin terlibat dalam kondisi toxic tersebut, Jess memilih melanjutkan langkah tanpa peduli pada keberadaan Melisa di ruang keluarga.
Melihat bagaimana Jess melewatinya begitu saja, membuat emosi Melisa semakin tersulut karena merasa tak di hargai sebagai istri pertama.
"Tidak heran kau tak memiliki sopan santun. Kau bahkan anak yang tak pernah diinginkan oleh kedua orang tuamu. Di panti asuhan kau pasti tak terlalu mendapatkan perhatian dan didikan yang layak. Mengingat jumlah anak-anak di sana yang pastinya berjumlah cukup banyak." Jess menghentikan langkahnya.
Kalimat Melisa mengoyak hatinya. Dengan sekali tarikan nafas, Jess berusaha tak terpancing dengan umpan receh wanita itu. Jess berbalik dengan anggun, tersenyum simpul tanpa memperlihatkan emosi apapun. Tak ada kemarahan yang di tunjukkan di wajahnya. Hanya terlihat senyum miring yang terkesan mengejek.
"Kau benar. Jumlah anak-anak di panti memang cukup banyak. Itu kenapa tempat tersebut di namai panti asuhan. Tempat penampungan anak-anak yang tak diinginkan oleh para orang tua. Tapi salah jika kau berasumsi jika kami tak mendapatkan perhatian dan didikan etika yang cukup. Nyatanya kami mendapatkan nya melebihi dari apa yang kami butuhkan. Selain etika, kami dididik dengan pengetahuan moralitas dan ketuhanan yang baik. Kau harus berkunjung sewaktu-waktu, kau akan tercengang kala melihat bagaimana kami menyambut kedatangan tamu dengan cara yang benar, ramah dan yang paling penting." Jess menjeda kalimatnya, menatap Melisa dengan senyum misterius.
"Kami tak diajarkan memasuki kediaman orang lain dengan paksa tanpa urat malu." Lanjut Jess mengakhiri sesi siraman rohani singkat, untuk menyegarkan ingatan wanita tak tau malu seperti Melisa.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Apa yang akan terjadi selanjutnya??
Yuk komen yang banyak biar kita sama-sama mendapatkan jawaban dan othor mendapatkan Ilham π€π
__ADS_1
lope lope para kesayangan buna Qaya π€π€π€