
Perjuangan Jess rupanya masih syarat akan ujian. Wanita itu mengalami komplikasi kehamilan pada bulan ketujuh kehamilannya. Itu membuat Kent merasa sangat bersalah dan ketakutan akan kehilangan sang istri tercinta.
Wanita hamil itu kini tengah di rawat intensif di ruang observasi IGD. Kent beberapa kali menghubungi seseorang melalui ponsel genggamannya. Terlihat ekspresi penuh rona frustasi di wajah tampan pria itu.
"Tolong Aditya Kusuma, aku tak pernah meminta hal terlalu berat padamu. Kali ini saja, tolong aku...aku mohon.." lirih Kent penuh permohonan dengan nada yang begitu menyedihkan.
Di seberang sana, Aditya tercenung. Ini kali pertamanya, sang atasan meminta bantuannya dan dia masih belum bisa mendapatkan apa yang sang atasan butuhkan.
Ginjal. Ya Jess membutuhkan transplantasi ginjal segera. Terlalu sering mengkonsumsi obat-obatan pereda nyeri rupanya berefek fatal pada organ ginjalnya. Kini Jess juga mengalami kondisi kehamilan pre-eklampsia. Di mana tekanan darah tinggi mengakibatkan kondisi wanita itu menurun drastis.
Itu terjadi karena adanya gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan plasenta. Itu membuat sirkulasi darah pada sang ibu dan janin mengalami gangguan. Apalagi Jess memiliki dua kehidupan yang harus dia topang di dalam tubuh lemahnya.
"Duduk nak, ayah tau seberapa cemasnya dirimu saat ini. Tak ada yang dapat meredam kekhawatiran seorang suami kala melihat istrinya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Jess putri ku adalah wanita yang sangat kuat. Percayalah pada kuasa ilahi, saat ini Jess juga tengah berjuang di alam bawah sadarnya. Kau tau Jess tak bisa melakukan operasi itu, karena sama saja mengorbankan calon anak kalian. Dan jika kau memaksakannya, kita tau akan berakhir kemana kedua janin tak berdosa itu. Dan Jess tidak akan menjadi lebih baik setelah dirinya mendapatkan donor ginjal sedangkan kedua anaknya di korbankan. Ayah sudah meminta Mario ke Kalimantan. Semoga saja tabib itu bisa membantu, berdoa saja nak. Kita ikhtiar dengan cara lain, Tuhan pasti akan memberkahi Jess dengan kesembuhan." Nasihat Aryo panjang lebar.
Dia tau kondisi jiwa Kent sedang terguncang, rapuh dan butuh sandaran. Kini perannya sangat di butuhkan untuk menenangkan hati sang menantu. Mario putranya sedang terbang ke Kalimantan, di mana pengobatan tradisional itu berada.
Dengan memanjatkan doa setinggi angkasa, Aryo berharap segala upaya yang mereka lakukan membuahkan hasil. Tak ada insan yang sanggup kehilangan, apalagi ada tiga nyawa yang sedang di pertaruhkan.
Kasih sayang nya terhadap Jess sudah melekat kuat bagai cinta seorang ayah pada putrinya. Aryo pun tak ingin kehilangan putrinya itu.
"Aku hanya tak ingin kehilangan istriku yah, mungkin jika harus mengorbankan kedua anak kami, aku akan melakukannya walau itu bertentangan dengan hati nurani ku. Aku tak di berikan banyak pilihan. Satu-satunya harapan hidup Jess adalah operasi itu, lalu apa yang harus aku lakukan. Jess tak bisa menunggu lama, komplikasi yang dia alami pun bisa menyebabkan kedua anak kami tiada. Kenapa Tuhan tak memilih orang lain saja? kenapa harus istri ku? kenapa harus memangkas kebahagiaan kami padahal Jess sudah begitu menderita dengan sakitnya." Kent tergugu, bahu tegap itu terlihat lesu tak bertenaga.
Pria itu sedang dalam fase rapuh yang amat sangat. Aryo berjalan mendekati sang menantu lalu merengkuhnya seperti seorang putra.
"Ayah tau perasaanmu nak, ayah pun merasakan hal yang sama. Kita sama-sama tak memiliki keberanian untuk mengalami sebuah fase kehilangan. Tetaplah teguh dalam keyakinanmu, doa akan lebih kuat daripada obat manapun di dunia ini." Ucap Aryo menahan isakan agar tak semakin membuat Kent rapuh.
__ADS_1
Seseorang harus menjadi lebih kuat meski sebenarnya tak ada yang benar-benar tegar saat ini. Putrinya sedang dalam kondisi yang jauh dari kata baik-baik saja.
Kent masih terisak, seluruh tubuhnya berguncang hebat. Sementara kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan kembali pulang ke tanah air bersama sang kakak. Yang menemaninya saat ini hanyalah sang sepupu juga sang mertua. Sedangkan Bu Maria terpaksa harus tinggal di rumah, kondisi ibu mertuanya pun kini sedang menurun.
"Paman, aku baru mendapatkan kabar dari Mario. Dia sedang dalam perjalanan dari bandara kemari." Lapor Sadam. Pria itu baru saja pulang dari kantin untuk membeli air mineral. Dan setelah mendapatkan kabar dari Mario, Sadam bergegas menuju ruangan di mana Jess tengah di tangani.
Dia khawatir Kent sudah menyetujui saran dokter untuk melakukan tindakan segera terhadap istrinya. Maka itu sama saja akan membunuh Jess kala wanita itu sadar, jika kesembuhannya telah mengorbankan dua nyawa.
Dengan berlari kecil akhirnya Sadam sampai ke tempat tujuan, meski dengan nafas yang tidak teratur pria itu menyampaikan pesan dari Mario kepada sang paman juga sepupunya tersebut.
Aryo mengurai pelukannya, menatap Kent juga Sadam secara bergantian. Ada seberkas sinar harapan di manik pria paruh baya tersebut.
"Kau dengar nak, Jess pasti akan pulih dan baik-baik saja. Tunggulah sebentar lagi, Jess hanya sedang di berikan dosis obat tidur agar bisa beristirahat sejenak dari rasa sakitnya. Semua akan baik-baik saja sekarang," ucap pria itu kembali menyemangati sang menantu.
Dalam hatinya memupuk banyak harapan, melangit kan doa tak putus-putusnya agar sang putri tercinta di berikan kesempatan untuk sembuh seperti sedia kala.
"Istrimu wanita yang kuat. Jika tidak dia tak akan bisa bertahan selama berbulan-bulan denganmu di saat kau masih menjadi pria brengsek yang tak punya pendirian.Tapi lihatlah, dia masih mampu berdiri di sampingmu hingga akhirnya kau taburi berton-ton benih kecebongmu. Namun sayang yang jadi hanya dua, coba kalau selusin, bisa ku bayangkan Jess akan sebesar apa." Seloroh Sadam menghibur sang sepupu dengan cara yang sedikit ngaur.
Kent memberikan bogem mentah pada lengan kekar Sadam membuat pria itu meringis.
"Ck, kau kasar sekali. Aku khawatir kau sangat beringas di ranjang hingga membuat kakak iparku langsung KO." Celoteh Sadam mengusap lengannya yang masih terasa ngilu.
Kent tak lagi menanggapi, dia tau Sadam tidak hanya sedang menggoda nya namun pria itu sedang berusaha menghiburnya.
Sadam lah orang pertama yang mengetahui kondisi Jess. Dirinya tengah melakukan meeting di kantor saat Jess tak sadarkan diri di ruang bermain Eli. Pria pecicilan itu lekas membawa Jess ke rumah sakit dengan di bantu oleh Yuni yang ikut bersamanya.
__ADS_1
Sadam memang lebih banyak di rumah jika Kent sedang sangat terpaksa keluar untuk sebuah urusan pekerjaan. Entah siapa yang memulai kebiasaan tersebut, yang jelas tak pernah ada yang meminta. Semua terjadi begitu saja. Sadam meski terlihat brengsek di luar sana namun memiliki hati yang peka dan peduli.
Dia akan berada di sekitar sang ipar dan siap melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Dan jika Kent sedang di rumah, barulah Sadam kembali menjadi pria liar di luar sana.
Kedua orang tua Kent memang tidak menetap di tanah air. Mengingat jika Utomo memimpin perusahaan mereka yang ada di luar negara. Begitu pula Queen, wanita itu memiliki beberapa usaha rumah mode dan dua rumah sakit swasta yang dia bangun di dua negara berbeda. Sangat jarang Queen memiliki waktu luang untuk keluarganya jika bukan untuk situasi-situasi tertentu.
Termasuk saat Queen meluangkan waktu untuk menyingkirkan Melisa dari kehidupan adiknya.
Dalam perjalanan, Mario terus menatap sebuah botol yang berada dalam tas punggungnya. Hampir saja dia tak bisa membawanya karena prosedur di bandara. Namun beruntung dirinya memiliki seorang teman yang merupakan petinggi di sebuah perusahaan penerbangan lokal. Yang membantunya untuk lolos membawa ramuan tersebut.
"Kakak harap kau masih bisa bertahan Jess. Kakak menyayangimu, semua orang menyayangimu. Bertahanlah sebentar lagi, atau kau akan membuat suamimu menjadi pria yang kehilangan akal sehatnya jika kau memilih untuk menyerah." Gumam Mario tanpa peduli akan tatapan aneh sang sopir taksi.
Perjalanan pulang pergi yang penuh perjuangan, membawa Mario pada sebuah pemahaman baru akan sebuah arti dalam hidup sepasang suami istri. Di mana cinta yang kokoh akan menguatkan hati kedua insan yang saling terikat janji dan sumpah tersebut. Ada rasa takut akan kehilangan, ada rasa getir kala berada dalam situasi yang genting. Mario sadar, kini dirinya telah melewati fase itu begitu saja tanpa dia sadari.
Kembali ke rumah sakit, kondisi Jess tiba-tiba menurun drastis. Suara denyit monitor ICU berbunyi nyaring bagai suara sangkakala di telinga ketiga pria yang berdiri mematung di ujung pintu.
Tubuh Kent ambruk, Sadam lekas menolong sang sepupu meski kedua lututnya pun sama lemas nya. Sedangkan Aryo berusaha menjadi yang paling tegar diantara mereka bertiga, meski tubuhnya pun tengah menahan getar yang hampir membuatmya limbung tak berdaya.
Hingga tiba-tiba...
TBC
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak meminta banyak, cukup berikan jempol terbaik kalian ya gaesss 🙏😚😚
__ADS_1
Lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍