
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guysπ€π€ππ
Novel ini juga sedang update di lapak berbayar tetangga sebelah. Semoga NT bisa meloloskan review kontrak kalau sudah memenuhi syarat untuk pengajuan kontrak.
Jadi bisa terus lanjut di sini sampai ending π€²π€²
Komen yang banyak yah, biar othor makin semangat update nyaππππ
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€
Drama panjang dengan tangisan pun di mulai. Sungguh Kent lelah meladeninya. Pria itu menghampiri ranjang lalu duduk di sisi sang anak.
"Eli, malam ini papa akan menemani Eli tidur. Tapi bisakah Eli keluar sebentar, papa ingin berbicara sesuatu hal yang penting dengan mama?" Ucap Kent lembut sembari mengusap pelan rambut ikal sang anak.
Gadis kecil itu terlihat ragu, namun akhirnya mengangguk setuju kemudian turun dari ranjang king size milik Kent, dengan di bantu oleh sang ayah.
Setelah Eli keluar, Kent berjalan untuk menutup pintu kemudian berpindah duduk di sofa. Yang akhirnya di ikuti oleh Melisa, yang kegeeran oleh sikap Kent tersebut. Senyum penuh kemenangan terbit di bibirnya yang merah menyala oleh lipstik. Wanita itu menggunakan baju tidur tali spaghetti yang cukup menggoda kelakian.
Namun pikiran Kent yang sedang mumet, tak melihat keindahan terhadap pemandangan tersebut. Melainkan rasa muak dan amarahnya semakin bertumpuk.
"Kenapa kau memutuskan hal sebesar ini tanpa berkompromi terlebih dahulu denganku, Melisa?" Tanya Kent dengan menekan kalimatnya. Nyali Melisa sedikit ciut namun dia tak bisa mundur lagi.
"Maafkan aku Kent. Aku hanya tak ingin apa yang menjadi milik Alissa di rampas oleh orang lain. Kau berubah acuh pada kami setelah kau menikah. Apa kau pernah menanyakan kabar Eli jika bukan aku yang memulai? Kau seperti bukan dirimu semenjak bersama wanita murahan itu." Sarkas Melisa meluapkan amarahnya.
Plak!
Suara nyaring, terdengar begitu menyeramkan. Tamparan telapak tangan lebar Kent baru saja menyapa kulit mulus Melisa.
Wanita terhempas ke sandaran tangan sofa. Dengan tubuh bergetar menahan rasa sakit, Melisa berteriak histeris pada Kent
"Kau! Kau menamparku hanya karena wanita perebut itu, hah?! Mana janjimu dulu, yang akan selalu memprioritaskan aku dan Eli sepanjang sisa hidupmu. Kau pembohong! Kau jahat Kent! Kau jahat!" Melisa memukul dada bidang Kent penuh amarah menggebu.
__ADS_1
Rasa kecewanya merebut sisi baik dalam dirinya.
Kent tak bereaksi. Pria itu hanya diam menerima rasa sakit dari pukulan tangan kecil Melisa.
"Maaf, seharusnya aku tak pernah membuat janji yang tidak akan pernah bisa aku tepati. Aku sungguh menyesal ini terjadi. Namun satu hal yang tak pernah aku sesali. Pernikahanku dengan Jess adalah sesuatu hal yang paling nyata dan masuk akal, yang pernah aku jalani dalam hidupku. Aku memang akan menceraikan nya, namun untuk membuatnya terbebas dari kehidupan penuh konflik rumit ini. Bukan karena hatiku yang menginginkan dia pergi." Ungkap Kent jujur.
"Dan ya, rumah ini bukan milikku. Rumah ini di berikan mama untuk Jess sebagai kado ulang tahunnya. Dan itu jauh sebelum pernikahan kami di laksanakan. Jadi baik aku ataupun Eli. Tak memiliki hak apapun atas rumah ini. Apalagi kau!" Pungkas Kent apa adanya. Kalimat yang semakin menambah dalam lubang hitam di hati Melisa.
Kent keluar dari kamar, setelah berhasil memporak-porandakan harapan indah seorang Melisa. Wanita itu berada di titik balik Paling rendah setelah mengetahui fakta tak mengenakan tersebut.
"Brengsek kau wanita ja la ng! Kau merebut apa yang seharusnya menjadi milik putriku! Lihat saja, jika aku tak bisa memiliki rumah ini. Kau pun tak akan bisa tidur nyenyak di dalamnya setelah aku pergi dari sini." Melisa tersenyum sinis setelah ide jahat muncul begitu saja dalam pikiran kotornya.
Sedangkan Kent menuju kamar Jess, di mana Eli tengah menantinya untuk di temani. Tak lupa Kent mengunci kamar tersebut. Dia hanya tak ingin Melisa berbuat nekat.
Di kamar bawah, Jess baru saja menghubungi ibu Maria. Wanita itu meminta maaf atas mangkirnya dia dari acara ulang tahun adik-adiknya. Untung wanita paruh baya itu selalu pengertian. Bahkan mendoakan hubungan Jess dan Kent semakin membaik.
Tanpa tau, jika putri kesayangannya baru saja membualkan sebuah kalimat penuh kebohongan. Kent tak memintanya tinggal karena ingin menghabiskan waktu bersamanya. Melainkan melepaskan kerinduan pada anak dan istri pertamanya. Dengan dia sebagai saksi bisu hubungan suami istri tersebut.
Malam semakin larut, hening dan hampa bagi Jess yang sedang di rundung kepiluan. Entah mengapa sesakit ini rasanya, sakit yang tak dapat dia jelaskan. Tak di inginkan oleh kedua orang tuanya saja sudah membuatnya terluka, kini mengetahui Kent memiliki istri dan seorang putri. Jess tak tau bagaimana lagi cara menunjukkan pada dunia, jika hatinya amatlah kecewa.
Wanita itu menarik selimut tipis yang dia bawa dari panti. Hanya itu yang dia punya saat ini. Tak ada selimut tebal seperti saat di kamarnya kemarin. Jess kini benar-benar seperti kembali pada kehidupan nyatanya selama ini. Terbangun dari mimpi indah sebagai seorang sinderella, dan sadar telah kehilangan gaun indah serta sepatu kaca pinjamannya.
Pagi menyapa, cahaya hangat menerobos melalui celah gorden yang memang tak setebal yang ada di dalam rumah induk. Namun tak masalah bagi seorang Jess yang memang tak terlahir dari keluarga Sultan.
Jess melirik jam dinding yang menggantung indah di dinding kamar barunya. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Artinya dia terlambat bangun. Namun entah kenapa Jess merasa sedikit malas untuk beraktivitas. Terutama harus berpapasan dengan orang-orang yang berusaha keras dia hindari. Rumah itu sudah seperti jurang menuju neraka baginya sekarang.
Kedamaiannya selama dua bulan ini menanti perpisahannya dengan Kent, kini telah terusik oleh kehadiran wanita lain bersama putrinya. Wanita yang baru saja dia ketahui merupakan istri pertama suaminya, Kent.
Saat akan beranjak duduk, Jess merasa tubuhnya seperti di timpa bongkahan batu. Apa menangis semalam membuat tubuhnya membengkak? Rasanya mustahil. Matanya mungkin masih meninggalkan jejak kejahatan dari sisa air matanya tadi malam. Namun tidak sampai membuat bengkak hingga pagi hari.
"Pagi.." suara sapaan bernada serak membuat bulu kuduk Jess meremang. Jess baru menyadari ada deru nafas yang menerpa ceruk lehernya.
__ADS_1
Wanita itu menjauhkan sedikit kepalanya lalu menoleh, untuk melihat pria lancang yang sudah berani tidur sembari memeluknya.
Jess memejamkan kedua matanya. Tarikan nafas panjang dan berat, menandakan jika wanita itu sedang menahan tumpukan kekesalannya yang semakin menggunung.
"Jangan marah dulu, kamar ini tempat yang paling aman untukku. Aku baru bisa tidur nyenyak setelah subuh, ijinkan aku tidur sebentar lagi. Tak perlu membuat sarapan. Pesan saja nanti. Pejamkan kembali matamu, nikmati pagimu tanpa berkutat dengan uap masakan." Oceh Kent panjang lebar.
Matanya bahkan masih tertutup rapat, namun mulutnya begitu lancar mengeluarkan kata-kata mutiara yang membuat hati Jess semakin kesal.
"Aku tak terbiasa menjadi Pemalas. Malas bagiku berarti tak makan. Kau bisa tidur tanpa mengajak satu RT untuk ikut melanjutkan tidur bersamamu." Tukas Jess sarkastik.
Kent mendesah kecewa. Ini kali pertamanya dia tidur memeluk istrinya. Rasanya sangat nyaman dan menenangkan. Dia mulai merasa candu. Namun reaksi Jess di luar ekspektasinya. Wanita itu kebal terhadap segala macam kalimat manis penuh rayuan.
Kent mendudukkan tubuhnya yang terlihat kuyu. Kantung matanya masih terlihat jelas di sana. Menandakan jika pria itu semalam begadang cukup larut.
"Kau akan ke panti lagi hari ini?" Mengabaikan tatapan Jess yang tak enak di pandang, Kent lebih memilih mengalihkan topik pembicaraan.
"Hmmm" hanya terdengar suara deheman yang menjengkelkan.
"Buatkan aku telur orak arik dengan campuran nasi panas seperti biasanya. Kali ini tambahkan telur dadar di iris Panjang menyerupai mie gepeng. Sepertinya itu akan lebih nikmat daripada ayam goreng." Jess menghentikan aktivitas kedua tangannya, yang hendak mengambil baju di dalam lemari kayu pendek yang sedikit lapuk.
Wanita itu mengernyitkan dahinya sembari melirik Kent dari pantulan kaca lemari.
"Istrimu sedang hamil muda? Kau terlihat seperti orang yang sedang mengidam saja. Lebih baik kau meminta Melisa saja yang memasaknya, aku akan langsung ke panti setelah mandi." Tolak Jess kemudian berlalu keluar dari kamarnya.
Tanpa peduli pada Kent yang pasti sedang menatapnya, entah kesal atau apa. Bukannya dia GR, hanya saja dia sempat melirik sekilas melalui pantulan cermin. Pria itu menatap lekat padanya tak berkedip
Entah tatapan seperti apa yang Kent lontarkan padanya. Yang jelas netra pria itu memancarkan cahaya kekecewaan atas penolakan Jess terhadapnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Apakah Kent mampu meluluhkan hati beku seorang Jess Amartha? yuk komen yang banyakπ€π€
__ADS_1
lope lope para kesayangan buna Qaya π€π€π€π€