
Edisi campur sari lagi ya gaesss π€ π
Jangan lupa komen n like ππ₯°
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
...----------------...
Melisa menghempas tubuh lelahnya di atas ranjang. Kesialannya bertubi-tubi. Setelah di tolak dan di campakkan bagai sepah oleh pria selingkuhannya selama ini, kini Melisa semakin di rundung kekesalan. Sang anak mulai menjaga jarak dengannya.
Saat dirinya kembali pulang, Melisa malah mendapati Eli tengah bermain bersama Kent dan istrinya di dalam kamar di lantai bawah.
Melisa merasa jika sepasang suami istri itu sengaja tak menutup pintu kamar, untuk memamerkan keharmonisan tersebut kepadanya. Padahal itu karena Eli baru saja masuk dan langsung bermain bersama Jess di atas karpet lantai.
Keduanya tengah menyusun balok susun untuk membuat istana mainan. Pemandangan yang membuat jiwa Melisa meronta tak rela. Namun Eli menolak keluar dari kamar tersebut, bahkan saat dia memaksa masuk untuk membawa Eli keluar. Kent malah mendorongnya hingga terhempas ke lantai.
"Lihat saja apa yang bisa aku lakukan Kent. Kau boleh merasa menang telah berhasil menyingkirkanku, dari statusku sebagai istrimu. Tapi tak lama lagi, statusku akan kembali ke posisi semula. Dan saat itu tiba, aku pastikan, istri tak tau dirimu itu akan ku singkirkan sejauh mungkin dari kehidupanmu." Geram Melisa bergumam kesal.
Sadam, pria itu hanya menggeleng melihat bagaimana berambisinya Melisa untuk merusak rumah tangga sang sepupu.
"Kau sungguh menyedihkan, Melisa." Melisa terjengkit mendengar suara dari arah belakangnya. Entah sejak kapan bule mesum itu ada di sana.
"Kent adalah suamiku sebelum wanita ja la ng itu merebutnya. Dan akan aku kembalikan semua ke posisi yang seharusnya. Jangan panggil aku Melisa jika tidak bisa melakukannya." Balas Melisa menyeringai jumawa.
Sadam hanya geleng-geleng kepala, melihat ambisi Melisa yang di luar nalarnya.
"Apa kau menyukainya sayang?"
"Tentu saja bibi, aku sangat menyukainya. Terimakasih sudah membelikan aku gaun yang sangat cantik." Ucap Eli memeluk gaun princess yang Jess beli untuknya.
"Sama-sama sayang, bibi senang kau menyukainya. Tapi..." Jess Terlihat seolah sedang berpikir dengan ekspresi yang terlihat sedih. Eli maju lalu menangkup pipi Jess dengan kedua tangan mungilnya.
"Tapi kenapa bibi? apa Eli nakal ya...maaf. Eli janji tidak akan nakal lagi, berjanjilah bibi tidak akan memarahi Eli seperti yang sering mama lakukan." Tukas Eli dengan tatapan penuh permohonan. Wajah memelas yang membuat hati Jess perih.
__ADS_1
Jess tersenyum lembut lalu menarik tubuh kecil Eli ke dalam pelukannya.
"Tentu saja tidak. Eli sangat manis, tapi akan lebih manis lagi jika Eli bisa mulai belajar melakukan segalanya sendiri. Mungkin bisa dari hal-hal kecil, seperti menyimpan mainan ke tempatnya jika sudah tidak di pakai lagi. Bisa?" Eli mengangguk cepat.
Jess melebarkan senyuman , melihat betapa antusiasnya Eli hanya karena takut di marahi dan berujung tidak di perhatikan lagi.
Semua tak luput dari perhatian Kent, pria tersenyum simpul dengan hati menghangat. Jess Terlihat lebih cocok menjadi seorang ibu ketimbang Melisa. Jiwa keibuan Jess nampak lebih baik dan natural, dari pada jiwa keibuan palsu yang sering Melisa perlihatkan.
"Khemm..." Kent berdehem dari muka pintu. Pria itu berjalan masuk untuk bergabung dengan kedua orang yang sangat dia sayangi itu.
"Apa papa tidak di ajak berpelukan juga, hmmm?" rajuk Kent dengan wajah yang menampilkan kesedihan.
Eli tertawa kecil lalu mengulurkan tangan kecilnya ke arah sang ayah.
"Terimakasih sayang," bisik kent lirih di telinga Jess. Jess hanya mengangguk kecil. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sempurna.
π
π
Ibu Maria sedang terlibat obrolan serius dengan mantan majikannya. Wanita itu terlihat gelisah di tempat duduknya, sesekali menatap kearah jendela kaca. Melihat bagaimana anak-anaknya bermain bersama tanpa beban apapun, membuat hatinya sedikit resah.
"Bagaimana Maria? kau tau sendiri 'kan, jika Aryo sudah memilih untuk meninggalkan keyakinannya sejak masih muda. Semua bukan semata karena cintanya padamu, tapi sebuah panggilan hati. Aryo merasakan kedamaian atas pilihan yang dia anut saat ini, itu bukan suatu kesalahan. Meski saat itu aku menentangnya. Semua lantaran perbedaan status sosial kalian yang berseberangan. Aku merasa tak rela, jika putraku menikah dengan seorang wanita biasa. Namun seiring waktu berjalan, aku menyadari. Jika keegoisanku tersebut telah menjerumuskan putraku dalam kehidupan yang tak pernah ada kedamaian. Aryo kami paksa untuk menjalani kehidupan yang tidak dia inginkan, untuk melebarkan senyuman dibibir kami. Itu memang terkesan tak adil, tapi tidak pada saat itu. Pemikiran kami adalah sesuatu yang mutlak." Tukas nyonya Khairunisa berlinang air mata.
Maria menoleh sejenak ke arah pria paruh baya yang sejak tadi tak berhenti memusatkan perhatiannya ke arah dirinya.
"Aku tak bisa memutuskannya sendiri bu, maaf. Bukannya aku bermaksud tidak sopan atau menolak lamaran ini. Hanya saja aku bukan wanita muda seperti dulu. Ada anak-anak yang harus aku jaga perasaannya. Terutama putri sulungnya yang kini tengah sakit. Aku tak ingin melangkahi kehendak anak-anakku. Sekali lagi maafkan aku bu, mas..." lirih Maria tak enak hati.
Khairunisa menghela nafas panjang, dia tau keputusan Maria akan bergantung penuh pada keputusan anak-anaknya. Untuk itu dia sudah mengantisipasinya sejak awal.
"Ibu sudah menanyakan hal ini pada anak-anakmu, Maria. Dan mereka menyerahkan semua keputusan mutlak ke dalam tanganmu. Hanya saja putri sulungmu, aku belum sempat menemuinya. Tapi Mario berniat untuk mengunjungi kediaman Jess dalam waktu dekat. Selain untuk membicarakan perihal ini, Mario ingin lebih dekat dengan adiknya itu." Tutur nyonya Khairunisa mencoba menjelaskan.
Maria tercengang, jadi anak-anaknya sudah mengetahui perihal lamaran tersebut? pantas saja anak-anaknya langsung pamit main keluar kala tamu tersebut baru tiba. Rupanya sudah ada kongkalikong sebelumnya.
__ADS_1
"Aku bagaimana anak-anak saja bu, tapi seperti yang ibu dan mas Aryo ketahui. Anak-anak adalah prioritasku. Aku tak bisa meninggalkan mereka..."
"Kami tak memintamu untuk pergi dari sini Maria, kau akan tetap berada disini bersama mereka. Hanya saja dengan di tambahkan satu penghuni lagi. Yaitu putraku, Aryo. Mario lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen." Potong nyonya Khairunisa memotong kalimat ragu Maria.
Ada rona kebahagiaan terpancar di wajah Maria. Bersatu dengan pria yang dulu pernah mengisi hatinya, adalah hal yang membahagiakan. Meski tak menampik, jika kenang kenangan bersama sang suami tercinta juga tak kalah memberinya kenangan manis.
Akhir dari percakapan tersebut berujung pada muara sebuah keputusan final. Maria resmi menerima pinangan Aryo. Dan ke-duanya akan menggelar pemberkatan sederhana di rumah tersebut. Hanya ada kerabat dan para tetangga dekat saja yang di undang.
Kembali ke rumah Kent.
Seorang pria terlihat memencet bell berkali-kali, hingga akhirnya seorang wanita dengan penampilan seperti reok membuka pintu utama.
"Wow! setan sekarang mangkalnya siang bolong. Ckckck! Sebelum keluar menyambut tamu, tolong bercerminlah terlebih dahulu. Kau akan membuat tamu langsung berakhir di keranda mayat jika melihat penampilan memukau mu saat ini nyonya." Ujar Mario menelisik penampilan si pembuka pintu.
Alis tebal sebelah, lipstik lumer, kantung mata menghitam akibat lunturan eyeliner. Benar-benar terlihat seperti setan di mata Mario.
"Hei! kau siapa? ini rumahku, suka-suka aku berpenampilan seperti apa, itu bukan urusanmu brengsek! pergi dari sini, kau salah alamat jika ingin meminta sumbangan. Ini area elit, dasar orang miskin! mengganggu istirahat saja!" Seru Melisa mengomel kesal.
Namun Mario nampak acuh, pria itu malah berjalan masuk tanpa di minta dan itu sukses membuat Melisa semakin meradang.
"Hei! kenapa kau tak sopan sekali, masuk rumah orang tanpa ijin. Pergi sekarang atau aku akan melaporkan kelancanganmu ini pada polisi." Ancam Melisa berjalan menuju meja yang terdapat telepon rumah.
"Kak? kapan kau datang? kenapa tidak menghubungiku atau Kent saja?" Melisa memicing melihat Jess keluar dengan kursi rodanya menghampiri sang tamu.
"Jadi dia tamumu? pantas saja tak punya etika. Sama-sama orang kampung!" Ketus Melisa mencibir.
Jess hanya menggeleng pelan, lalu melanjutkan obrolannya dengan sang kakak tanpa mempedulikan Melisa yang terus merecoki obrolan mereka dengan kata-kata tak enak di dengar.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
...----------------...
Melisa ini maunya apa sih gengs, udah numpang banyak gaya lagiπ‘π
__ADS_1
Lope lope para kesayangan buna Qaya π€π€π€