Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 26


__ADS_3

Sang juru selamat telah tiba, siapakah dia? mari kita cari tau bersama gengs🀭😁


Sosok hebat yang akan membantu Kent terbebas dari jerat pernikahan nya dengan sang nyonya dajal versi sus Yuyun πŸ˜πŸ˜†


kuy kepoin kolom komentar yukπŸ€—πŸ€—


...----------------...


Di lobby sebuah bandara internasional, seorang wanita terlihat berjalan dengan gaya anggun menuju ke arah mobil mewah yang terparkir khusus untuk menjemput kedatangannya.


"Langsung ke perusahaan saja. Aku ingin melihat bagaimana pria bodoh itu menangani dua masalah sekaligus tanpa meminta bantuan siapapun."


"Baik nona." Sungguh jawaban yang menunjukkan kepatuhan hakiki.


"Tak banyak yang berubah dengan kota ini, selain kehampaan hati saat melihat pemandangan yang sama di beberapa sudut kota. Aku sungguh merindukan kedua adikku yang telah tiada. Aku tak ingin kehilangan seorang adik lagi, Aditya. Kau tau betapa terpukulnya kedua orang tuaku. Menganggap jika mereka adalah orang tua yang membawa kutukan bagi anak-anak mereka. Rasa sakit itu tak dapat ku urai dengan kata-kata, Dit. Luka itu masih basah, rasanya seperti baru kemarin di torehkan."


Aditya terdiam, entah jawaban apa yang bisa dia berikan. Karena kisah yang di ucapkan oleh sang nona adalah cerita paling pilu, sepanjang pengetahuannya yang telah lama mengabdi pada keluarga Rahardjo.


"Apa wanita itu terlihat bahagia menikah dengan adikku, Aditya?"


Hampir saja Aditya menginjak pedal rem secara mendadak. Pertanyaan sang nona sungguh menjebaknya dalam situasi yang tak menguntungkan.


"Sepanjang yang saya ketahui, nyonya Jess terlihat tak banyak berubah setelah menikah dengan tuan Kent. Tetap menjadi wanita baik, lembut dan penuh perhatian seperti sebelumnya nona." Sahut Aditya memberikan gambaran secara umum.


Tak berani menyuarakan pendapat secara pribadi, Aditya lebih memilih untuk mengamankan posisinya dari amukan sang atasan.


Namun melihat senyum sinis sang nona dari balik spion. Justru membuat hati Aditya ketar ketir.


"Jess memang wanita yang baik. Itulah kenapa kedua orang tuaku begitu berambisi untuk menjadikannya sebagai seorang menantu perempuan di keluarga Rahardjo. Kau tau pertanyaanku bukan itu, Aditya. Jangan sampai aku meragukan kredibilitasmu sebagai orang kepercayaan keluarga Rahardjo. Kau tau bukan, jika keputusan tertinggi tak hanya berasal dari kedua orang tuaku. Melainkan dari diriku juga? Kent hanya diibaratkan seorang perintis, bukan pewaris. Jadi, tampuk kekuasaan berada penuh dalam kendali tanganku."


Gluk!


Aditya bersusah payah menelan ludah, untuk sedikit menyejukkan kerongkongannya yang mendadak kering kerontang.


"Ma_maafkan aku nona. Nyonya Jess sekarang kembali ke panti. Karena...itu karena...di rumah mereka, ada nyonya Melisa dan putrinya." Jawab Aditya dengan terbata-bata.


Senyum miring tertangkap jelas oleh kedua netra Aditya. Senyum yang membuat tengkuk pria itu meremang penuh ketakutan.


"Kalau begitu, kita ganti rute. Aku ingin berkenalan secara langsung dengan wanita yang telah mengirim adikku ke akhirat." Oh dewa dewi lagit. Kini Aditya benar-benar terjebak oleh situasi.


Pria itu menampilkan ekspresi memelas melalui pantulan kaca spion. Namun malah di tanggapi dengan senyum manis oleh sang nona muda.


Sedangkan di rumah, Melisa benar-benar berubah menjadi ibu yang penuh kasih sayang seperti sedia kala. Jelas semua itu hanyalah tipu muslihat. Melisa memiliki rencana yang akan berjalan lancar dengan bantuan si kecil Eli yang polos.

__ADS_1


Tanpa tau jika malaikat mautnya sedang OTW menuju rumah tersebut.


πŸ‘ΈπŸ»


πŸ‘ΈπŸ»


Jess melirik ponselnya beberapa kali, entah mengapa dia begitu berharap Kent akan menghubunginya. Sungguh konyol, batin Jess tertawa mengejek.


"Kak? Boleh aku duduk di sini?" Jess menoleh ke arah sang adik kemudian tersenyum sembari mengangguk.


"Sejak kapan kau meminta ijinku ketika kau ingin duduk, hmmm? Apa yang sudah kakak lewatkan, sehingga kau terlihat begitu banyak berubah belakangan ini." Ben tersenyum simpul mendengar perkataan sang kakak.


"Aku hanya merasa sudah cukup dewasa untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan bijak." Jawab Ben sarkastik. Jess terkekeh kecil mendengar jawaban lugas sang adik.


Wanita itu menelisik penampilan Ben.


"Kau benar. Aku bahkan semakin kecil darimu. Apa kau menilap jatah makan adik-adik yang lain, hmmm?" Canda Jess membuat pemuda tampan itu tertawa renyah.


"Kakak benar. Aku menguasai area dapur. Jelas aku mendapatkan jatah makanan yang lebih banyak." Sambung Ben menimpali candaan sang kakak.


Dari balik pintu keluar menuju teras belakang, bu Maria diam-diam menguping pembicaraan kedua anaknya. Wanita itu ingin mengetahui perkara apa yang sedang sang putri pendam seorang diri selama pernikahanya.


"Boleh aku bertanya sesuatu pada kakak?" Ben menatap Jess dengan tatapan serius. Jess terdiam sejenak. Seperti ada keraguan untuk melanjutkan obrolan mereka ke arah yang lebih serius. Jess takut akan salah memberikan jawaban.


Jess akhirnya mengangguk pasrah.


"Apa kakak bahagia?" Jess memejamkan kedua matanya cukup lama. Dapat Ben lihat, jika sang kakak berusaha untuk mengurai jawaban agar tak salah untuk di sampaikan.


"Kenapa pertanyaanmu melenceng dari ranahmu sebagai seorang pelajar, Ben? Kau harusnya bertanya tentang kisi-kisi soal ujian akhir, bukan perkara rumah tangga." Seloroh Jess berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku sudah menguasai hampir 90 persen mata pelajaran sekolahku. Sekarang otakku sedikit menganggur, jadi aku ingin mengisinya dengan ilmu pengetahuan umum. Mungkin bisa di mulai dari masalah rumit rumah tangga, misalnya." Jawab pemuda tersebut dengan nada santai.


Namun tidak bagi Jess. Dia tau Ben sedang menjebaknya ke dalam sebuah obrolan ringan penuh jebakan.


"Ishhh..mana ada pelajaran sekolah yang membahas masalah rumah tangga. Kau ini, ada-ada saja." Tukas Jess menepuk pelan lengan sang adik.


Jess hanya berusaha mengurangi kegugupannya agar tak terlalu kentara.


"Jadi?" Jess menoleh, berusaha memahami maksud pertanyaan sang adik yang terus mendesaknya hingga terpojok.


"Kakak baik-baik saja Ben, tak perlu pusing memikirkan hal yang di luar pelajaran sekolahmu. Semua terkendali dengan baik, bahagia atau tidak itu relatif. Sudut pandang orang beda-beda, begitupun kakak. Kakak mencoba memaknai pernikahan kakak dari sudut pandang pribadi. Jadi bahagai atau tidak, itu tergantung bagaimana kita mensyukuri sebuah hubungan itu berjalan. Kent pria yang baik sebenarnya, hanya saja lebih banyak diam dari pada mengurai kalimat-kalimat romantis. Bukankah pria yang terlalu banyak mengatakan kata cinta biasanya ciri-ciri penghuni sungai rawa? Hmmm?"


Jess berusaha mencairkan suasana dengan sedikit candaan. Ben tak tersenyum sedikitpun. Pemuda itu menatap sukar ke arah dang kakak dengan banyak kata yang terpendam dalam benaknya.

__ADS_1


"Jika kakak merasa tidak bahagia, kakak bisa melepaskan diri dari pernikahan kakak. Aku tak ingin kakakku yang baik dan berhati mulia ini, di sebut sebagai seorang wanita perebut suami wanita lain. Terlebih jika pria itu telah memiliki seorang anak dengan istrinya yang lain. Jika terlalu menyakitkan, maka bebaskan diri kakak. Kak Jess berhak untuk behagia tanpa kak Kent."


Jess mematung. Adiknya sudah mengetahui sesuatukah? Bukakah waktu itu dirinya mengatakan jika Eli adalah keponakan sang suami. Lalu apa yang telah dia lewatkan?


"Apa yang kau bicarakan Ben? Berhentilah menonton drakor, kau jadi terlarut dalam cerita-cerita tak masuk akal seperti ini." Sanggah Jess berusaha mengalihkan arah pembicaraan mereka.


Ben menggeleng pelan. Menandakan jika pemuda itu mengetahui lebih banyak dari yang Jess perkirakan.


Sementara di balik pintu, seorang wanita berusaha keras tetap berdiri tegak sembari meremat dadanya menahan sesak. Apa yang dia dengar sungguh membuat batinnya terguncang sangat hebat.


Menantunya telah memiliki istri lain sebelum menikah dengan sang anak? Bagaimana bisa keluarga Rahardjo tak pernah mengatakan apapun padanya perihal ini. Apa tujuan keluarga konglomerat itu membawa masuk putrinya dalam lingkaran keluarga tersebut.


Bu Maria berjalan tertatih menuju kamar. Dengan burai air mata, Bu Maria berusaha kuat untuk menahan isak pilunya. Rupanya seberat ini beban yang menimpa pundak kecil sang anak. Pantas saja Jess terlihat begitu rapuh di balik tawa cerianya bersama adik-adiknya.


Tawa itu nyatanya hanya sebuah pelipur lara, atas luka menganga yang di torehkan oleh sang menantu terhadap putri kesayangannya.


πŸ‘ΈπŸ»


πŸ‘ΈπŸ»


"Kita sudah sampai nona." Ucap Aditya membuat lamunan sang nona buyar.


"Ah, maaf Dit. Aku terlalu terpesona dengan pemandangan perumahan elit ini. Apa ini perumahan yang di dedikasikan oleh kedua orang tuaku untuk Jess?"


"Ya nona. Perumahan ini adalah milik nyonya Jess secara hukum notaris. Dan rumah ini merupakan hadiah ulang tahun nyonya Jess sebelum menikah dengan tuan Kent. Saya yang mengurus semua kelengkapan validasi berkasnya." Jawab Aditya.


"Kau ingin ikut masuk denganku, Aditya?" Pria itu terlihat ragu namun akhirnya mengangguk setuju. Dia tak punya pilihan, selama ini sang nona sudah mengetahui perihal nyonya nya yang lain serta putrinya. Namun atas perintah sang nona pulalah, Aditya tak pernah bisa menolak keinginan Melisa. Termasuk memberikan nomor ponsel Jess pada Melisa kala itu.


Dia tak mengerti apa yang sang nona pikirkan, namun Aditya mengenal baik bagaimana karakter tenang sang nona dalam menghadapi masalah. Berusaha pasrah dan mengikuti alur bagai air mengalir tanpa pernah sekalipun mengajukan protes.


Ting tong


Klek


Netra seorang wanita menatap sengit pada sang tamu. Memindai seluruh penampilan wanita anggun di hadapannya dengan tatapan penuh selidik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Jangan lupa sejumput kasih sayang kalian gaeesss πŸ˜˜πŸ™


lope lope para kesayangan buna Qaya 🀍🀍🀍

__ADS_1


__ADS_2