Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 13


__ADS_3

Tak bosan-bosannya othor berpesan, agar meninggalkan jejak gaib di novel receh ini🀭😁


πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»


"Khmmm.." ketiga insan tersebut serentak menoleh. Hal pertama yang Kent dapatkan adalah tatapan tak ramah dari kedua pemuda di hadapannya itu. Sementara ibu Maria menatapnya dengan sayu. Kedua mata wanita itu terlihat membengkak. Namun senyum hangat tetap di perlihatkan untuknya.


Hati Kent mencelos. Rasa bersalah kian menumpuk dalam benaknya. Apa gerangan yang telah terjadi pada sang istri. Kenapa dia tidak tau jika Jess sedang mengalami suatu penyakit serius. Selama bersamanya, Jess selalu terlihat sehat dan bugar.


Tapi kenyataan ini membuatnya sadar, jika Jess bukan tipe wanita yang manja dan suka merengek apalagi mengeluh.


"Maaf aku baru datang. Pekerjaan di kantor sangat padat dan lagi aku...." Kalimat penjelasan itu terpotong begitu saja oleh intrupsi Kevin.


"Kakakku memang tak lebih penting dari pekerjaan anda tuan Kent. Tak apa, kami selalu ada untuknya. Kau hanya perlu hadir kala kau sudah tak memiliki kesibukan. Paling tidak cukup untuk membuktikan, jika kakak kami bukan lagi seorang anak gadis milik ibunya. Melainkan seorang wanita bersuami, meski kehidupannya tetap seperti wanita singel." Potong Kevin telak.


Deg!


Perih hati Kent mendengar kalimat nyelekit dari mulut pedas pemuda tersebut. Apa remaja itu mengetahui sesuatu tentang perihal rumah tangganya dengan Jess? Rasa-rasanya tak mungkin. Jess bukan tipe wanita pengadu sepanjang yang dia ketahui.


Pemuda-pemuda yang bahkan tak dia ketahui namanya itu mungkin geram, karena keterlambatannya datang ke sana.


"Kevin, kenapa kau berbicara seperti itu pada kakak iparmu nak? Lekas minta maaf. Nak Kent pasti sedang sibuk di kantor sehingga tak sempat mengetahui kabar kakakmu dengan cepat." Tegur ibu Maria lembut.


Kevin tersenyum hangat pada wanita itu.


"Aku tidak mengatakan hal yang buruk bu, jadi ku rasa tak perlu meminta maafpun tak masalah. Bukan, begitu kakak ipar?" Kevin menatap Kent setajam belati. Kent hanya bisa mengangguk pasrah, tak ingin suasana semakin rumit dan kacau.


"Apa yang dokter katakan bu?" Tanya Kent terlihat cemas.


"Masih belum pasti. Hasil laboratorium lengkap akan keluar dua jam setelah di lakukan pemeriksaan. Mungkin tak lama lagi hasilnya keluar. Kami tak di perbolehkan menjaga pasien di dalam. Ibu sangat mencemaskan kondisi Jess saat ini. Kenapa anak itu tak ingin bangun sama sekali. Apa ibu terlalu keras padanya selama ini, sampai Jess tak mau lagi melihat wajah ibunya ini?" Kevin dan Ben segera menenangkan wanita itu.


Kevin memeluk ibunya dengan menaruh kepala ibu Maria di dada bidangnya.


"Kakak wanita yang kuat bu, mungkin kakak hanya sedikit lelah saja. Selama ini kakak selalu bekerja keras bagai kuda tanpa kenal lelah untuk kita. Sekarang biarkan kakak tertidur sejenak untuk mengistirahatkan tubuh letihnya di dalam. Dokter sudah mengatakan kondisi kakak stabil untuk saat ini. Jadi ibu hanya perlu mendoakan kakak agar segera bangun, dan mengomelinya nanti sepuas hati." Hibur Kevin mengusap lembut bahu sang ibu.


Sedangkan Ben tak banyak berkata. Pemuda itu seperti sedang memikirkan hal yang berat di kepalanya. Terlihat dari gestur tubuhnya yang bergerak gelisah sejak tadi.


"Jika kakak masih banyak pekerjaan, lebih baik kembali saja ke kantor. Lagipula kak Jess belum boleh di jenguk. Kami akan mengabari kakak jika kak Jess akan di pindahkan ke ruangan." Ben akhirnya membuka suara.

__ADS_1


Melihat Kent yang sama resahnya seperti mereka, membuat hatinya iba. Ben memang tak sekeras Kevin. Pemuda itu cenderung lebih perasa dan lembut.


Kent menggeleng pelan seraya tersenyum simpul, tak mungkin dia meninggalkan istrinya dalam kondisi yang belum ada kepastian.


"Kakak akan di sini saja" ucap Kent menolak pengusiran halus yang di lakukan Ben terhadapnya. Kent menelisik sekitar, tak terlihat ada barang apapun di sana selain tas lusuh ibu Maria yang mungkin berisi beberapa hal penting.


Kent merogoh sakunya, mengeluarkan dompet mahal dari sana. Beberapa lembar uang berwarna merah di keluarkan dari sana lalu do serahkan kepada Ben.


"Siapa namamu?"


"Ben, kak" sahut pemuda itu tersenyum ramah.


"Ini, belilah beberapa roti dan minuman. Kalian pasti belum sempat makan 'kan? Beli beberapa makanan yang Kalian sukai, kakak akan menemani ibu di sini." Kent meletakkan lembaran kertas bermerek rupiah tersebut di telapak tangan Ben.


Melihat celana abu-abu yang di pakai oleh keduanya, Kent yakin mereka pasti tidak sempat mengisi perut masing-masing.


Ben menoleh ke arah Kevin yang terlihat melengos ke arah lain. Dengan ragu, Ben menerima uang tersebut. Dirinya juga Kevin memang belum mendapatkan gaji mereka bulan ini.


Namun melihat reaksi Kevin membuat hatinya ketar ketir.


Ben mengembalikan tiga lembar kepada Kent, dia hanya mengambil satu lembar saja yang dia rasa akan cukup untuk sekedar membeli beberapa potong roti dan air mineral.


Dengan terpaksa, Ben membawa semua uang tersebut. Setelah pamit pada bu Maria yang kini terlihat memejamkan kedua matanya sambil bersandar di sudut dingin.


"Maafkan sikapku tempo hari, aku tak sengaja. Ku pikir kau orang lain yang sengaja berbuat ceroboh." Kent membuka pembicaraan meski tau Kevin tak ingin berbicara padanya.


Kevin seolah tuli, pemuda itu tak menggubris perkataan Kent meski dia dengan jelas mendengarnya.


"Aku hanya ingin kita berdamai untuk saat ini. Kondisi Jess lebih penting dari kekesalanmu padaku dan rasa bersalahku padamu. Yang jelas aku sudah minta maaf dengan tulus padamu, terserah bagaimana kau menerimanya." Kent akhirnya memilih ikut membisu.


Berbicara dengan orang yang sedang kesal tak akan menghasilkan apapun, selain malah semakin memperkeruh situasi.


🌹


🌹


Setiba di rumah, melisa melihat sang anak tengah bermain di tepi kolam renang, bersama seorang wanita muda. Keningnya mengerut heran. Apakah wanita itu keluarga dekat Kent? Dia memang tak tau banyak mengenai keluarga inti pria itu selain ayah dan ibunya. Itupun hanya melalui media sosial dan majalah.

__ADS_1


"Khmmm.." sontak Eli dan suster barunya menoleh bersamaan. Si wanita lekas berdiri lalu menyapa Melisa dengan sopan.


"Sore nyonya, saya suster baru yang bertuga untuk menjaga nona Eli mulai hari ini. Nama saya Wahyuni, nyonya bisa memanggil saya Yuni saja." Suster tersebut memperkenalkan dirinya dengan sopan sembari menunduk.


Melisa menelisik penampilan wanita muda di hadapannya dengan tatapan menilai.


"Berapa usiamu? Apa pendidikan terakhirmu? Berapa lama pengalamanmu bekerja sebagai seorang pengasuh?" Melisa membrondong Yuni dengan pertanyaan yang membuat gadis itu sedikit canggung.


"Usia saya 21 tahun nyonya, pendidikan terakhir saya SMA kesehatan. Saya sudah bekerja sebagai pengasuh sejak masih duduk di bangku SMA. Karena saat itu sekolah sedang liburan pandemi, jadi saya bisa belajar online sembari bekerja sebagai pengasuh bayi hingga dua tahun sampai lulus." Terang Yuni sedikit gugup.


Melisa menatapnya dengan tatapan menyelidik. Entah apa yang salah dengan penampilannya saat ini.


"Mulai besok ganti seragammu. Aku tak suka melihatmu bekerja menggunakan rok sependek itu. Kau akan kesulitan bergerak bebas jika menggunakan rok. Dan lagi kau di sini untuk bekerja, bukan untuk menjadi wanita penggoda."


Deg!


Yuni terkesiap mendengar kalimat pedas yang keluar dari mulut sang majikan barunya. Bukankah itu memang seragam standar dari yayasan tempatnya bernaung? Dan lagi rok itu sampai di lutut, bagaimana bisa dia di sebut sebagai wanita penggoda.


"Maaf nyonya, saya akan menggantinya besok. Ini adalah seragam standar dari yayasan saya, maaf jika standar yayasan kami tidak berkenan di hati anda. Mungkin anda bisa mengajukan keluhan pada yayasan kami perihal masalah seragam tak layak ini." Balas Yuni menyindir telak.


Baru hari pertama saja hatinya sudah di buat dongkol oleh sikap sang majikan. Apa kabar besok dan seterusnya. Untung saja dia hanya menandatangani kontrak percobaan kerja selama tiga bulan. Jika tidak di jamin hari-harinya akan terasa seperti di kandang serigala.


Melisa tak menanggapi kalimat sindiran dari pengasuh tersebut. Wanita itu berjalan angkuh kembali ke dalam rumah.


"Sus Yuyun? Yuk main lagi!" Ajak Eli merengek manja. Meski hatinya kesal, yuni tetap tersenyum manis pada gadis kecil di hadapannya itu.


"Untung gajinya gede, kalau tidak hari ini juga aku akan pura-pura kejang-kejang agar di keluarkan dari pekerjaan ini." Gerutu Yuni beegumam pelan. Gadis itu kembali melanjutkan permainan masak memasak bersama Eli di tepi kolam.


Sementara Melisa memutuskan untuk berendam di dalam bathtub, demi menenangkan pikirannya yang kacau.


Kent mengunci pintu walk-in closet miliknya. Sehingga Melisa terpaksa menggunakan lemari nakas untuk menyimpan pakaiannya. Sungguh hatinya dongkol bukan main.


Kent secara terang-terangan menolaknya tanpa peduli pada perasaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


Untung sus nya tidak lemah seperti yang di sinetron-sinetron ya gaess! lanjut Yun, othor mendukungmu🀭🀭


Lope lope para kesayangan buna Qaya 🀍πŸ₯°πŸ€


__ADS_2