
Jangan lupa bahagia, berikan novel othor senyum ceriaππ
πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»
Kevin yang masih kesal rela menahan rasa lapar yang menggerogoti lambungnya. Pemuda itu gengsi makan makanan yang di beli menggunakan uang pemberian Kent.
Sementara Bu Maria makan di temani oleh Ben. Keduanya sudah beberapa kali mengajak Kevin untuk makan, namun pemuda itu menolak halus dengan mengatakan masih kenyang, karena tadi sempat makan di kantin sebelum pulang sekolah.
Padahal Ben tau, Kevin sama kerenya seperti dirinya. Uang jualan kue sang ibu yang di titipkan di kantin tak mungkin mereka gunakan, meski sangat ingin menikmati minuman dingin barang sebungkus bertiga.
Mereka tau lelahnya wanita itu bangun subuh, untuk menyiapkan segala bahan yang di gunakan. Sementara mereka bertiga bertugas untuk menyiapkan sarapan untuk adik-adik mereka yang berjumlah 11 orang.
Hanya mereka bertiga yang sudah cukup dewasa untuk memahami keadaan. Ada 4 yang sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Masing-masing kelas 1 dan kelas 2. Mereka belum memberikan tanggung jawab yang berat untuk keempatnya. Hanya membantu hal-hal kecil seperti membereskan rumah, dan membantu menjaga adik-adik mereka yang masih kecil.
"Nak Kent tidak ikut makan? Ini masih ada banyak." Tawar ibu Maria menatap Kent yang sejak tadi rerus melirik kearah Kevin.
"Hah? Aku, aku masih kenyang bu." Sahut Kent gagap. "Sebelum kemari aku sempat makan siang, jadi belum merasa lapar. Ibu makan yang banyak, ibu butuh tenaga untuk bisa menjaga Jess nanti." Sahut Kent tersenyum tulus pada wanita di hadapannya itu. Padahal Kent pun tengah berkata dusta, dia sama sekali belum menyentuh makan siang hari ini. Moodnya kacau akibat menahan emosi terhadap sikap bebal Melisa.
Kevin mencibir, entah mengapa semua yang keluar dari mulut Kent terasa seperti omong kosong baginya.
"Pantas saja terlambat datang. Rupanya sibuk mengenyangkan diri sendiri sementara istrinya sekarat di sini." Sarkas pemuda itu tanpa melihat siapa yang tengah dia bicarakan.
Kent menghela nafas panjang. Salah lagi, batinnya mendumel kesal.
Ibu Maria menatap teduh putranya yang keras kepala itu.
"Kevin, nak.. tidak baik berpraduga seperti itu. Nak Kent sudah meminta maaf atas keterlambatannya datang kemari. Kent juga pasti tak ingin hal buruk terjadi pada istrinya." Tegur bu Maria menasehati putranya dengan nada lembut seperti biasa.
"Tapi bu.." Kevin masih kukuh tak terima.
"Sudah, sudah! Tidak usah di bahas lagi. Kakakmu butuh kita menjadi satu keluarga untuk menyemangatinya, bukan pertikaian seperti ini. Ibu sedih melihat keadaan ini nak, tolong jangan buat ibumu ini pergi lebih cepat ke akhirat." Isak ibu Maria terdengar pilu.
Ben menatap horor pada Kevin yang keras kepala.
"Maaf bu, Kevin tak akan membahasnya lagi. Maaf ya bu.." Pemuda itu meraih tangan kasar ibu Maria lalu menempelkan nya di pipinya.
Wanita itu mengangguk sembari mengusap air matanya dengan tangan lain.
Kent menatap haru momen tersebut. Melihat bagaimana keluarga istrinya saling menyayangi meski tak terikat hubungan darah, membuat Kent sadar, jika dia telah melukai permata orang-orang baik di hadapannya itu.
Rasa bersalahnya kian bertambah besar. Entah berapa banyak lagi rasa bersalah yang harus dia tanggung ke depannya nanti. Kent hanya berharap Jess lekas pulih, dan kembali berkumpul dengan orang-orang yang wanita itu kasihi.
πΉ
__ADS_1
πΉ
"Sus Yuyun? Malam ini temani aku tidur ya? Kamar ini besar sekali, aku takut tidur sendiri. Mama bilang ingin membuatkan aku adik, jadi aku harus tidur sendiri." Yuni menggeleng pelan mendengar ocehan Eli.
Bagaimana bisa sang nyonya mengatakan hal sensitif seperti itu dengan begitu frontal. Apa wanita itu tak tau jika pikiran anak-anak sangat kritis. Sungguh Yuni tak habis pikir.
"Baiklah non, sus Yuyun akan tidur di sini malam ini. Tapi minta ijin mama dulu, oke? Nanti mama bisa marah kalau sus ikut tidur bareng non Eli di kamar ini." Eli mengangguk setuju.
Gadis kecil itu terlihat ceria kembali. Pantas saja Eli sedikit murung setelah keluar dari kamar orang tuanya. Rupanya sang nyonya menolak kehadiran sang anak dengan trik kotor.
Sungguh licik batin Yuni mengumpat kesal.
πΈ
πΈ
Kent menonaktifkan ponselnya setelah selesai menghubungi Aditya. Pria itu baru saja mendiklat sang asisten, agar tak kembali ceroboh dan terjebak oleh permainan kata dari Melisa.
"Pulang saja nak, kau pasti lelah. Kami di sini akan menjaganya, lagipula kau pasti tak nyaman dengan situasi di sini." Ucap ibu Maria menatap sang menantu lalu melirik ruangan dimana Jess di rawat.
Jess di rawat di ruang kelas 2 sesuai faskes yang dia miliki. Kent tak berani ngotot meski dia keberatan dengan ruangan tersebut. Dia berusaha menghargai sang mertua, agar wanita itu tak bersedih hati dengan sikapnya yang akan terkesan arogan.
"Tak apa bu, aku akan terbiasa nanti. Ibu tidur saja duluan, aku akan berjaga bersama Kevin. Benarkan dek?" Kent tersenyum smirk setelah berhasil menggoda sang adik ipar. Sementara wajah Kevin semakin di tekuk sempurna.
"Ya sudah, ibu tidur duluan ya. Kalau Jess terbangun tolong beritahukan kepada ibu. Mungkin saja Jess mau buang air nanti." Ujar Bu Maria mengingatkan.
Kent mengangguk paham. Kini tinggal mereka berdua yang terjaga. Ruang sempit di ujung ruangan itu, terasa menyesakkan. Padahal tidakkah sempit-sempit amat. Namun situasi canggung keduanyalah yang membuat keadaan terasa gerah
Dalam ruangan Jess ada 4 ranjang pasien. Dan beruntung ranjang Jess berada di ujung dekat jendela. Dan hanya tiga ranjang yang terisi pasien. Jadi tidaklah terlalu pengap, ruangan tersebut juga menggunakan pendingin ruangan.
"Apa kau akan terus mendiamkanku seperti ini? Sampai kapan? Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak sengaja? Kenapa kau keras kepala sekali." Gerutu Kent memulai perdebatan.
"Tidak sengaja bagaimana? sampai membuat kue buatan ibu berhamburan di jalanan? Begitu?" Balas Kevin berdesis jengkel.
"Ck! Aku sudah akan membayar ganti rugi, kau saja yang terlalu gengsian. Jadi bukan sepenuhnya salahku. Kau menolakku untuk bertanggung jawab, jadi itu salahmu juga." Sanggah Kent yang juga masih kukuh pada pendiriannya.
Kedua pria keras kepala itu sangat cocok jika beradu argumen, karena sama-sama tak ada yang mau mengalah.
"Tapi kalau kau tidak mengemudikan mobilmu ugal-ugalan, kueku tak akan jatuh dan rusak. Jadi itu mutlak salahmu!" Suara desisan Kevin sudah seperti suara ular berebut mangsa.
"Tapi 'kan aku sudah ingin menggantinya kalau saja kau tidak...."
"Bisakah kalian berdua diam?! Lihat sekeliling, hanya lorong ini saja yang penghuninya berisik." Sela Ben menengahi.
__ADS_1
Pemuda itu meletakkan plastik indokaret di tengah kedua pria yang sedang bersitegang tersebut.
"Tadi ketika akan kembali ke sini, aku tak sengaja melihat di ujung jalan ada papan nama bertuliskan Gym Tinju. Jika kalian berniat adu otot, bisa di coba di sana. Semua orang di sini butuh istirahat. Jika kalian terus berdebat, besok pagi salah satu pasien akan berakhir dikamar mayat karena kurang istirahat." Sarkas Ben menatap kesal kedua pria di hadapannya itu.
Kevin menatap horor ke arah Ben, sementara Kent tertawa tanpa suara. Pria itu merasa terhibur oleh celotehan Ben. Pemuda itu cukup netral, dan dia beruntung untuk itu.
"Kau membelanya karena memberikanmu banyak uang, bukan? Dasar mata duitan!" Cibir Kevin namun Ben sama sekali tak tersinggung. Kevin memang jika sudah kesal pada seseorang, maka akan sulit untuk meluluhkan hati keras saudaranya itu.
"Kau benar. Aku tidak jadi ikut marah pada kakak ipar. Ternyata lembaran tipis bergambar para pahlawan Nasional itu bisa mengembalikan mood seseorang, termasuk aku." Ujar Ben membenarkan dengan berbisik pelan.
Kevin semakin terpojok dan kesal. Dia merasa Ben telah bersekutu dengan Kent.
"Aku ngantuk, tolong buat dirimu berguna sebagai suami kakakku. Ingat, hanya menjaganya saja. Ben, perhatikan pria ini, dia bisa saja melakukan hal buruk pada kak Jess jika kita semua tertidur pulas." Kent menggeleng sambil terkekeh kecil.
Kevin sungguh seperti duplikat dirinya. Keras kepala dan tak suka di tentang. Sama persis, membuat Kent merindukan sang adik yang telah lama pergi.
Kini hanya Ben dan Kent yang masih terjaga. Ben sesekali mengecek infus sang kakak, khawatir jika cairan tersebut macet. Padahal memang sengaja di set ke mode lambat.
"Maafkan Kevin. Dia sebenarnya baik dan lembut jika kau sudah mengenalnya. Kevin terlalu menyayangi kak Jess, sehingga tak rela jika ada seseorang yang mengabaikan kakak kami ini. Kak Jess berjuang sangat keras seorang diri demi mambantu meringankan beban ibu. Kakak bahkan mengikuti balap liar agar bisa mengumpulkan uang yang banyak demi pendidikan kami. Wanita hebat ini rela tak kuliah meski dia mendapatkan beasiswa. Karena kakak sadar, jika masih banyak yang harus ditanggung di luar beasiswanya." Ben melirik ranjang di mana sang kakak tertidur lelap.
"Jika kakak tak bisa menjaga hati kakakku, lebih baik lepaskan kak Jess sebelum luka itu semakin dalam. Kakakku menikah denganmu karena permintaan tuan dan nyonya Rahardjo. Bukan karena kak Jess terpikat dengan pesona putra mereka. Tapi kak Jess hanya berusaha membuat senyum lebar di bibir ibu kami tetap berkembang. Sebesar itu pengorbanan kak Jess, tanpa peduli berapa kali kondisi seperti ini dia alami. Kehidupannya seolah tak penting, sehingga hanya menganggap tubuhnya sebagai mesin yang terus bekerja tanpa boleh merasa lelah."
Ben berpaling lalu mengusap sudut matanya yang mulai basah. Kent mematung mendengar kisah hidup sang istri. Perjuangan besar yang luar biasa. Dirinya bahkan ragu bisa melakukan pengorbanan sebesar itu. Di tatapnya wajah teduh yang masih terpasang masker oksigen tersebut.
Tak ada cela yang membuat pria menolak kecantikan hakiki wanita itu. Bahkan dirinya yang kukuh membantah permintaan kedua orang tuanya, mendadak bisu tanpa suara ketika bertemu langsung dengan Jess untuk pertama kalinya.
Sampai selesai prosesi pernikahan dadakan sederhana mereka. Kent masih belum mampu berkata-kata. Pesona keanggunan seorang Jess telah menghipnotisnya hingga tak berdaya.
Namun menjunjung tinggi rasa gengsi dalam dirinya, Kent bersikap angkuh seperti biasanya. Tak pernah ada obrolan panjang diantara keduanya. Sepanjang pernikahan, hanya ada satu dua kalimat sebagai penghubung komunikasi yang menjelaskan, jika keduanya memiliki sebuah hubungan.
Kini kebimbangan dalam hatinya semakin besar. Akankah dia sanggup melepaskan Jess dari kehidupannya? Terutama saat tau jika wanita itu mengidap kanker otak stadium 3.
Rasa ibakah yang ada di dalam hatinya? Kent mendadak ragu pada hati yang kini mulai memupuk sebuah rasa.
Namun apa yang dia lihat saat ini, merupakan kenyataan yang menghancurkan kerasnya tembok pertahanan seorang Kent. Mengetahui jika kehidupan Jess berada di ujung maut, membuat jiwanya berontak tak rela.
...****************...
...----------------...
Pilihan apakah yang akan Kent lakukan nanti, apakah mempertahankan Jess atau melepaskan nya pergi.
Gak komen ya gaessπππ
__ADS_1
Lope lope para kesayangan buna Qaya π€π€π€