Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 50


__ADS_3

I'am back ack again gaesss 🤗 🤗


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Sadam menatap nanar wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya dengan kondisi perut membuncit seperti bola basket.


"Apa kau terkena busung lapar, Melisa? ck, tak kusangka setelah terhempas dari kehidupan adik sepupuku, kehidupanmu bukannya membaik. Mau jadi apa anakmu jika terus di sirami berbagai macam jenis cairan para pria?" Melisa meremat ujung gaunnya yang memperlihatkan lebih separuh pahanya. Wanita itu nampak menahan dongkol atas kalimat menohok dari mulut lemes Sadam.


"Katakan saja, kau bisa membantuku atau tidak?! jangan banyak bacot jika tidak ingin memberikan bantuan." Kesal Melisa menahan dongkol yang bercokol di dalam hatinya. Berhadapan dengan pria seperti Sadam, memang harus memiliki stok kesabaran tidak terbatas.


Sayang Melisa bukanlah orang yang tepat untuk di uji kesabarannya.


"Cih! kau meminta bantuan seperti menagih hutang saja. Apa yang aku dapatkan dengan memberikan mu bantuan? mengingat kau pasti tak akan sanggup untuk membayar kembali. Aku tak mau rugi, kau pasti mengerti. Kehidupan jaman sekarang tak jauh-jauh dari ikatan simbiosis mutualisme." Ucap sadam menyeringai licik.


Melisa memejamkan kedua matanya, dada nya terasa bergemuruh menahan gejolak ingin memaki pria di hadapannya itu. Namun sayang, kondisi nya tidak sedang dalam posisi yang bisa melakukannya.


"Aku akan memuaskan mu, brengsek!" desis Melisa menjatuhkan harga diri nya yang memang sudah tak lagi berarti.


Sadam tergelak renyah, pria tersebut menelisik penampilan Melisa secara keseluruhan.


"Aku khawatir kau tak akan mampu membuat ku puas, Melisa." Ucap Sadam menohok, pria itu tersenyum miring sembari menelisik penampilan Melisa yang sama sekali tak membuatnya bergairah.


"Katakan saja kau mau atau tidak menolongku, brengsek!" seru Melisa mulai meninggikan suaranya. Wanita itu sudah mencoba bersabar dengan menebalkan wajahnya. Namun balasan Sadam sungguh menyebalkan.


"Slowly Melisa, kenapa kau jadi semakin pemarah sekarang. Lihatlah, orok di perutmu sampai terlonjak kaget mendengar suaramu itu." ucap Sadam terkekeh kecil.


Pria itu merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar berwarna merah. Tanpa menghitung, Sadam melempar lembaran tersebut ke wajah Melisa.


"Ambillah, kau tak perlu melakukan apapun untukku. Dan tak perlu juga kau menggantinya. Aku tau kau sedang dalam fase yang sangat menyedihkan saat ini, tapi saranku, cobalah untuk menjerat pria kaya raya agar hidupmu terjamin. Kau bisa merusak calon anakmu itu kelak dengan berbagai kunjungan kasar para pria hidung belang. Cukup kau saja yang rusak, paling tidak anakmu jangan sampai seperti mu kelak." Ucap Sadam bijak.

__ADS_1


Kali ini pria itu sedang dalam mode normal. Melisa mencebik, seolah kata-kata Sadam hanya omong kosong belaka.


"Ini hidup ku, urus saja urusan mu sendiri. aku tau apa yang harus aku lakukan terhadap anakku kelak, itu bukan urusanmu." Ketus Melisa marah.


Sadam mengendikkan bahunya acuh, "pergilah dari sini kau merusak pemandangan dengan tubuh jelekmu ini." Sarkas Sadam menatap jengah pada wanita yang bebal seperti Melisa.


Melisa pergi setelah memungut sejumlah uang yang Sadam berikan. Walau harus mempertaruhkan harga diri nya di injak-injak oleh pria itu, Melisa memilih abai pada tatapan merendahkan nya dari orang-orang di sana. Kelak dia akan membalas perbuatan rendah tersebut saat dirinya sudah mampu mendapatkan seorang penjamin hidup baginya.


Tentu saja pria yang lebih kaya daripada Kent sang mantan suami sirinya.


Namun Melisa sepertinya amnesia, Kent merupakan pengusaha nomor satu di negeri ini. Pria kaya bagaimana lagi yang wanita itu cari, jika perangainya masih saja bak seorang ja la ng.


Di kediaman Kent, Eli tengah bermain balok susun bersama Jess. Kehamilannya yang sedikit bermasalah karena penyakitnya, membuat Jess tak begitu leluasa untuk melakukan banyak aktivitas di luar ruangan.


"Bunda, adik bayinya kapan keluar dari sini?" tanya Eli mengelus perut buncit sang bunda. Jess tersenyum lembut, Eli selalu menanyakan pertanyaan yang sama hampir setiap hari.


"Masih beberapa bulan lagi sayang." Sahut Jess mengelus rambut hitam sang anak dengan sayang. "Apa Eli akan menyayangi adik-adik jika sudah lahir nanti?" tanya Jess dengan perasaan harap-harap cemas. Bagaimana pun Eli masih terlalu kecil dan masih membutuhkan kasih sayang yang utuh darinya juga Kent.


"Tentu saja aku akan menyayangi adik-adik ku bun, tapi jika bisa aku ingin adik perempuan. Agar aku bisa berbagi mainan Barbie dengannya." sahut Eli membuat Jess gemas.


"Permisi nyonya, di depan ada tamu. Mau ketemu nyonya, katanya dari panti." Ujar bi Sum menyela momen ibu dan anak tersebut.


Jess sejenak mematung, tak biasanya dia di kunjungi tanpa di beritahu terlebih dahulu.


"Baik bi, aku akan ke depan." Jawab Jess tersenyum ramah. Sepeninggalan bi Sum, Jess bersiap untuk keluar kamar.


"Kita ke depan dulu yuk, atau Eli mau lanjut bermain di kamar saja?" tanya Jess memastikan.


Eli memutuskan untuk melanjutkan bermain balok susun di dalam kamar saja. Namun sebelumnya dia meminta agar di temani oleh Yuni, dan Jess menyetujui nya.


"Ibu? ayah?" sambut Jess dengan wajah berbinar cerah. Ketikan mendapati siapa tamunya.

__ADS_1


Kedua paruh baya itu tersenyum hangat menyambut kedatangan sang putri tercinta. Terlebih Bu Maria yang sangat merindukan putri sulungnya.


"Kau apa kabar nak? maaf kami baru bisa menjengukmu, kau tau sendiri kondisi oma mu sekarang sedang tidak terlalu baik. Pengobatan tradisional hanya sebagai penghambat penyebaran kanker agar tidak semakin meluas saja. Untuk kesembuhan, sepertinya sulit." Terang Bu Maria setelah memeluk sang anak penuh kerinduan.


"Faktor usia juga, ayah senang mendengar perkembangan pengobatanmu. Kent baru saja mampir tiga hari yang lalu mengantar berbagai keperluan bulanan adik-adikmu di panti. Kent mengatakan kondisi mu Susah jauh lebih baik, hanya saja belum bisa bepergian jauh untuk sementara waktu." Sambung sang ayah tiri.


Jess tersenyum simpul mendengarnya, dia bahkan tak tau jika sang suami baru saja mengunjungi rumah sang ibu.


"Aku harap oma bisa bertahan sampai aku melahirkan nanti. Oma selalu bilang merindukan suara tangisan bayi." Ujar Jess menimpali. Kondisi sang nenek memang sudah semakin melemah, karena kankernya sudah mencapai stadium akhir. Berbagai faktor pun menjadi penyebab utama kian memburuknya kondisi wanita renta itu.


Berbeda dengan Jess yang notabene masih muda, kondisi fisiknya masih sanggup untuk menahan rasa sakit yang dia alami.


"Berdoa saja nak, oma mu selalu berkata ingin menjadi orang pertama yang menggendong anak-anak mu nanti." Ujar sang ibu terkekeh kecil. Ada kesedihan di netra wanita paruh baya itu.


"Ah, kami tadi membelikan mu ini. Ayah harap kau boleh memakannya, ayah pun sudah meminta ijin pada Kent terlebih dahulu sebelum membelinya." Sela sang ayah, memberikan buah tangan yang sengaja mereka beli untuk wanita hamil itu.


Kedua mata Jess berbinar, kala melihat rujak buah bawaan kedua orang tuanya. Yang jelas bukan mangga masam, melainkan mangga mengkal manis meski terlihat belum menguning.


"Aroma sambal kacang nya enak banget, aku tidak sabar untuk memakannya. Bu, bisa tolong panggilkan bi sum di belakang? Yuni juga pasti menyukainya." Ucap Jess terlihat begitu antusias.


Bu Maria mengangguk pelan, wanita itu juga berniat untuk mengambil piring berikut air kobokan untuk sang anak.


Jess bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayangi nya meski bukan orang tua kandungnya.


Sedangkan Aryo terus menatap sang anak dengan tatapan tak terbaca. Dia berharap dugaan nya kali ini tak salah. Semoga saja Tuhan berkenan untuk memberikan sedikit harapan bagi sepasang suami istri di sudut kota lain. Agar di usia mereka yang tak lagi muda, keduanya memiliki kesempatan untuk merasakan kasih sayang seorang anak yang selama ini mereka cari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Maaf atas kemalasan hakiki ini para readers 😁😁

__ADS_1


lope lope deh para readers setia kuh😚😚😚😚🥰🥰🥰


__ADS_2