Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 51


__ADS_3

I am back again gaesss, Setelah berkeliling jagat raya, menelusuri alam semesta. Akhirnya aku bertemu kembali dengan mas Ilham 🤭🤭🤣🤣🤣🤣


Semoga masih ada pembaca nya ya😁


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Nampak dua paruh baya baru saja turun dari sebuah mobil mewah yang kini terparkir di halaman rumah Bu Maria. Kedua sejenak saling melemparkan senyuman untuk saling menguatkan.


"Barata! Kirani? akhirnya kalian tiba juga. Aku sempat berpikir jika kalian tidak jadi datang. Padahal istriku sudah susah payah bangun subuh demi ingin menyambut tamu agung dengan jamuan olahan tangannya sendiri." Gurau Aryo menyapa kedua tamu yang memang sejak kemarin tak sabar ingin dia jumpai.


Pelukan hangat Aryo berikan pada pria bernama Barata tersebut, dan wanita bernama Kirani terlihat mencium tangan Aryo dengan takzim.


"Mas apa kabar? sepertinya mas sangat bahagia, perutnya semakin ke depan." Canda Kirani tertawa kecil.


"Tentu saja, kakak iparmu sangat pandai memanjakan perutmu kangmas mu ini Kirani. Itu kenapa kalian harus mencoba masakan sederhana namun penuh cita rasa buatan istriku. Ayo masuk, mbakmu sedang berberes di dapur yang telah dia hancur lebur kan demi memasak masakan spesial untuk kalian." Kirani dan Barata tertawa mendengar kalimat gurauan dari Aryo.


Pria itu terlihat banyak berubah di mata keduanya. Lebih berseri dan terlihat sangat bahagia.


"Ibu bagaimana kabarnya mas? maaf tidak bisa datang menjenguk kemarin, Kirani sedang tidak sehat."


"Ibu baik. Hanya penyakit nya saja yang masih karena memang sulit untuk sembuh. Tapi selebihnya, ibu sangat bahagia. Apalagi sejak tinggal bersama kami. Maria begitu telaten dalam mengurus kami semua. Kalian harus berkenalan juga dengan anak-anak kami."


"Tentu saja. Aku tak sabar ingin berkenalan dengan anak-anak mas Aryo, kalau boleh aku ingin menculiknya satu dua orang untukku bawa pulang ke Jogja." Ucap Kirani Terlihat serius.


"Coba saja kau bernegosiasi dengan mbakmu, aku yakin tak akan mudah jika kau ingin menculik anak-anak kami." Kekeh Aryo mencandai Kirani. Wanita itu adalah istri dari sang sepupu.


"Kirani? Barata?" Maria baru tiba dari arah dapur, wanita itu terlihat sedikit terkejut meski sudah mengetahui perihal kedatangan kedua tamunya. Namun melihat secara langsung orang-orang yang pernah dia kenal di masa lalu nya. Terasa sedikit berbeda.


"Mbak Mery? masyaallah , mbakku ini semakin cantik saja. Aku sampai pangling loh tadi, ku pikir anak gadis nya siapa yang tiba-tiba muncul." Ucap Kirani langsung menyongsong tubuh mungil Maria. Kedua wanita itu berpelukan diiringi isak tangis kerinduan.


"Mbak apa kabar? pasti tersiksa batin ya, punya suami seperti mas Aryo." Celoteh Kirani mengusap pipi nya yang sudah penuh dengan linangan air mata.


"Enak saja! mbakmu jelas bahagia, bisa menikah dengan cinta pertama nya." Protes Aryo pada sang ipar. Meski tergolong ipar, Kirani masih sepupu dau garis keturunan di keluarga nya. Maklum, pernikahan hasil perjodohan, Beruntung keduanya ternyata saling menyimpan rasa sejak lama. Jadi pernikahan tersebut berjalan lancar tanpa drama.


"Mbak Maria yo di bawa duduk dulu toh mah, masa langsung di unyel unyel pake ingusmu." Tegur sang suami gemas. Kirani mengusap sisa ingusnya menggunakan ujung gamis yang dia pakai.

__ADS_1


"Sembarangan saja papa ini, wong ayu gini kok." Sungut Kirani tak terima.


"Barata apa kabar, senang akhirnya bisa bertemu setelah puluhan tahun berpisah." Sapa Maria hangat dan ramah. Dulu dia memanggil kedua tamunya tersebut dengan panggilan berbeda. Yaitu non dan aden. Namun permintaan Aryo, agar tak lagi membedakan status di antara mereka agar situasi tak lagi canggung.


"Kabar baik mbak, sebaik saat kami mendapatkan kabar membahagiakan dari mas Aryo. Jika beliau telah di pertemukan berikut di persatukan dengan wanita cinta sejatinya. Kami sekeluarga sangat gembira mendengar kabar tersebut. Sayang mendiang ibu tak sempat menyaksikan momen terbaik ini. Beliau selalu menanyakan tentang mbak hampir setiap saat. Bahkan di detik-detik akan berpulang, ibu berpesan agar menemukan mbak agar beliau lebih tenang di tempat barunya." Tutur Barata dengan nada sendu.


Maria mengangguk pelan. Nyonya Ratmi dan tuan Subono memang teramat sangat baik terhadapnya. Beberapa kali wanita itu meminta dirinya untuk pindah bekerja di kediaman nya saja, namun tak di ijinkan oleh wanita yang kini menjadi ibu mertuanya.


Bukan tanpa alasan, agar Maria bisa dia awasi agar tak berdekatan dengan putranya Aryo.


Namun garis takdir, malah mempersatukan mereka meski telah terpisah puluhan tahun lamanya.


"Turut berdukacita, maaf mbak tidak tau menahu mengenai kabar keluarga nyonya di Jogja. Bukannya tak ingin tau, keadaan saat itu sedikit berbeda. Mbak juga merindukan nyonya, beliau wanita yang sangat baik. Andai mbak sempat bertemu, banyak kalimat terimakasih yang ingin mbak ucapkan pada beliau." Balas Maria dengan suara bergetar.


Aeyo meraih jemari sang istri. Melebarkan Senyuman untuk menguatkan hati ripuh wanita itu.


"Yang berlalu biarlah berlalu mbak, ibu pasti bahagia melihat mbak sekarang juga sebelum bersama mas Aryo. Mas Yusuf pasti menjaga juga menyayangi mbak dengan baik, sebelum mas Aryo kembali dalam kehidupan mbak. Sekarang kita hanya perlu melanjutkan perjalanan kita yang entah sampai kapan ini. Usia tak ada yang tau, semua adalah rahasia ilahi." Sela Kirani bijak.


"Dan ibu ingin mbak tak lagi memanggil nya dengan sebutan nyonya. Bisa saja jika panggilan ibu terlalu berat. Ibu sudah menganggap mbak sebagai putri sulungnya." Sela Barata. Maria mengangguk paham. Wanita itu memang selalu memarahi nya soal panggilan yang dia sematkan.


"Ibuuu! lihat kak Seto, dia mengambil pensil warna ku lagi." Suara seruan seorang gadis kecil membuyar suasana awkward tersebut. Semua atensi beralih pada sosok yang kini tengah berdiri mematung di depan pintu penghubung menuju dapur.


Rupanya gadis kecil itu lupa, jika sang ibu sedang menerima tamu.


Senyum cengengesan nya menarik perhatian Kirani.


"Hai cantik, siapa namamu nak?" sapa Kirani pada gadis yang di taksir usianya sekitar 7 tahun tersebut.


"Lunasin hutang bu, namanya." Sahut seorang remaja tanggung dari arah belakang tubuh si gadis kecil. Membuat gadis kecil itu kembali merengek kesal.


"Ibu..."


"Seto, berhentilah mengusili adik-adik mu." Tegur Aryo pada putranya. "Ah ya, kemarilah kalian berdua. Ayo berkenalan, mereka adalah saudara ayah. Luna sini nak, Seto juga." Panggil Aryo melambaikan tangan nya ke arah kedua anaknya.


Dengan langkah malu-malu, Luna berjalan menghampiri sang ayah.


"Jadi namanya siapa tadi?" ulang Kirani. Dia langsung jatuh cinta pada gadis kecil tersebut saat bertemu pandang dengan gadis berwajah bulat itu.

__ADS_1


"Luna bu, bukan lunasin hutang. Kak Seto suka nakal dia," terang Luna sambil mengadu.


"Cih, tukang ngadu." Ejek Seto.


"Tuh kan, kak Seto nya nakal bu. Suka ngeledekin adik-adiknya, suka ambil pewarna tapi tidak mau ngaku." Lanjut gadis tersebut mengadu.


"Pinjam Luna, pinjam. Bedain dong, nanti kakak balikin juga. Dasar cengeng, tukang ngadu. Wleee!" ledek Seto semakin menjadi.


"Seto!" ingat sang ibu menatap sang anak. Seto cengengesan memperlihatkan baris gigi nya yang tersusun rapi dan bersih.


"Maaf bu, maaf Lun. Nanti kakak balikin ya, kakak masih ada tugas menggambar. Nanti Luna kakak buatkan gambar yang bagus, mau?" Ujar Seto memberikan negosiasi kecil terhadap sang adik. Mereka terbiasa saling meminjam peralatan sekolah, karena tak ingin memberatkan sang ibu meski kini mereka telah memiliki ayah.


Terbiasa dalam kesederhanaan, tak membuat mereka kalap kala bisa mendapatkan segalanya dari kedua kakak mereka. Yaitu Jess, dan Mario. Mereka tetap sadar diri untuk tak menjadi anak-anak yang tak tau di untung dan bersyukur.


"Janji ya, jangan buat gambar jelek lagi. Luna tidak suka gambar mobil-mobilan, Luna kan perempuan." Sungut gadis itu merajuk. Seto pernah berjanji akan membuat kan nya gambar, namun remaja itu malah membuat gambar mobil-mobilan dan arena balapan.


"Ya, kakak janji. Bu, Seto pamit ke belakang dulu ya, mau manggil adik-adik yang lain untuk makan siang. Sayang masakan ibu di garap sama laler di dapur." Sindir Seto tersenyum meringis.


Maria menepuk keningnya karena terlalu bahagia bisa bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya, wanita itu sampai melupakan makanan yang sudah terhidang di meja, sebagian di atas tikar.


"Astaga! ibu kok bisa sampai lupa sih." Ucap wanita itu geleng-geleng sendiri.


"Mari ke belakang, maaf jika santap siangnya kali ini tidak di meja makan." lanjut Maria tak enak hati. Pasalnya dia menggelar tikar di lantai sebagai alas makan siang mereka. Meja makan tak muat untuk mereka semua.


"Ck, seperti sama siapa aja." Sungut Kirani menggandeng lengan Maria. Wanita itu berlalu meninggalkan sang suami yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri.


"Lihat adik mu mas, kalau sudah bertemu dengan pawangnya. Suami saja sampai tak di hiraukan." Adu Barata membuat Aryo terkekeh. Keduanya menyusul langkah dua wanita kecintaan mereka menuju dapur.


Sungguh momen yang sangat mereka rindukan sejak lama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


tinggalkan komen n jempol nya ya, supaya othor tau kalau masih ada pembacanya 🤭


lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍

__ADS_1


__ADS_2