Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 66


__ADS_3

I am back again readers 🤗 🥰


...----------------...


Drama penjebakan Kent telah berlalu sejak seminggu yang lalu. Pria itu kembali menjalani kehidupan normal seperti biasanya. Jess juga sudah mengetahui perihal kejadian yang menimpa sang suami, wanita itu tak banyak berkomentar.


Jess hanya berucap syukur karena Kent masih bisa menahan dirinya di tengah godaan yang terpampang nyata di hadapannya.


Hubungan keduanya pun kian hari kian membaik. Jess tak ingin menjalani hidup dalam rasa marah setiap hari. Mungkin perasaan nya masih sakit, namun menyimpan luka terlalu lama juga tak baik untuk kesehatan mentalnya. Jess memilih berdamai dengan keadaan.


"Sayang, hari ini kita akan berkunjung ke rumah ibu. Oma sangat ingin bertemu dengan si kembar," ucap Kent di sela-sela sarapan pagi.


Jess mengangguk setuju, dirinya juga sudah sangat merindukan sang ibu. Meski sekarang kedua orang tua kandungnya tinggal bersamanya, namun tetap saja Jess tak bisa begitu saja melupakan sang ibu angkat yang telah membesarkan nya dengan penuh kasih sayang.


"Mama dan papa juga ikut, kita menginap di sana saja mumpung Eli libur selama dua hari." Ujar Kirani menimpali dengan penuh semangat. Tak ada kecemburuan di hatinya akan kasih sayang Jess terhadap Maria. Karena tanpa wanita itu, putrinya entah bagaimana kabarnya.


"Boleh ma, gimana pa?" sambung Jess menatap sang ayah yang masih fokus pada sarapan nya.


Sebelum menjawab pria paruh baya itu mengangguk tanda setuju.


"Papa ikut saja, kemana kalian pergi papa akan menjadi penumpang yang setia di sepanjang petualangan kalian." Kelakar Barata dengan tawa renyah nya.


"Eli juga, karena Eli bertugas untuk menjaga adik-adik Eli di manapun kedua adik eli berada." Ujar Eli menimpali dengan suara riang yang cempreng.


Semua orang di meja makan tersebut sontak tertawa lucu melihat gadis kecil itu selalu saja antusias untuk menjaga kedua adiknya.


Eli tak pernah merasa cemburu pada kedua makhluk kecil di rumah tersebut. Gadis polos itu justru sangat menyayangi kedua adiknya.


Di tempat lain, nampak Maria sibuk menyiapkan beberapa bahan masakan untuk menu makan siang mereka. Kali ini terlihat tumpukan sayur mayur yang lebih banyak dari biasa. Itu semua untuk menyambut kedatangan sang putri, juga cucu-cucunya.


"Ini sudah cukup belum bu?" tanya Kevin pada sang ibu. Maria menoleh sejenak untuk melihat jumlah sayuran yang baru saja di petik oleh anak-anak nya di kebun belakang. Kebun yang kini semakin luas setelah keberadaan Aryo sang suami di sana. Pria itu ingin menghabiskan masa tuanya dengan melakukan pekerjaan rumahan yang bermanfaat bagi semua anak-anak mereka.


Sebagian di jual ke pengepul sebagian di bagi-bagi kan pada tetangga sekitar lalu sisanya untuk makan sehari-hari.


"Seperti nya cukup nak. Ah ya, ibu hampir lupa. Bisa tolong antarkan sayuran yang di dalam keranjang biru itu ke rumah besar? kemarin Queen memesan kentang, tapi ibu menambah beberapa sayur lainnya." Rumah besar adalah sebutan untuk rumah mewah Utomo dan Isadora.


"Bisa bu, antar sekarang?" sahut Kevin tak membantah. Maria tersenyum penuh arti, wanita itu mengangguk pelan.


Kevin membawa keranjang penuh sayuran tersebut menuju motor barunya. Motor matic pemberian sang kakak, Mario. Itu lebih memudahkan Kevin dalam membawa barang dalam jumlah banyak, ketimbang motor Supra nya yang lama.

__ADS_1


"Semoga kali ini nyonya Isadora peka," ucap wanita itu terselip sebuah harapan yang tulus.


Melihat punggung Kevin yang menghilang di ujung jalan, Maria kembali melanjutkan pekerjaan nya di dapur. Sedangkan sang suami tengah sibuk di kebun bersama anak-anak.


Di rumah besar, Utomo tengah menikmati suguhan kue buatan sang istri. Queen pun ikut duduk di sana bersama kedua orang tuanya. Wanita itu sengaja tak pergi karena sedang menunggu kiriman sayuran dari rumah bu Maria.


Bisa saja dia meminta sang ART membelinya di supermarket, namun Queen menyukai sayuran segar yang baru saja di petik langsung. Rasanya jauh lebih nikmat, begitu lah menurut nya.


"Papa jangan makan banyak-banyak, ingat penyakit diabet papa." Ujar Isadora menepis pelan tangan sang suami yang tak berhenti mencomot setiap potongan kue di dalam piring.


"Lah? ini bukannya do hidangkan untuk papa? loh kenapa kok jadi di batasi sih?" protes Utomo tak terima. Pasalnya pria itu sangat menyukai makanan tersebut.


"Ya, tapi makannya juga pake takaran. Ingat kesehatan jangan semua semua mau di lahap habis. Mama juga mau, Queen juga. Benarkan sayang?" kini Isadora mencari pembelaan dari sang anak. Queen hanya tersenyum samar melihat perdebatan kedua orang tuanya.


Dia senang do usia yang tak lagi muda, ke-dua masih di berikan nikmat sehat untuk menikmati hari-hari penuh kebahagiaan. Meski kebahagiaan itu tidak pernah sempurna sejak mereka kehilangan dua sosok dalam keluarga mereka.


Rendra juga Kaylo sang adik tercinta.


"Hmmm..." jawab Queen mengambil jalan tengah. Itu membuat Utomo tersenyum penuh kemenangan. Pria itu kembali mengambil satu potong kue yang tersisa laku melahap nya cepat.


Isadora menepuk bahu sang anak karena merasa telah di curangi oleh kedua orang kesayangan nya itu.


Queen bergegas keluar lalu menyapa Kevin dengan ramah.


"Masuk dulu dek, salam sama mama papa dulu baru balik pulang." Ajak Queen sedikit memaksa, Kevin akhirnya mengangguk meski sedikit canggung.


Dirinya tak pernah benar-benar bersua langsung dengan kedua paruh baya tersebut. Itu karena setiap kali ada acara kumpul keluarga, Kevin selalu merasa tak nyaman di keramaian. Kevin lebih suka berkutat di area dapur membantu apa yang bisa dia lakukan.


"Ma, pa!" seru Queen pada kedua orang tuanya. Wanita itu berbelok menuju dapur sedangkan Kevin di minta untuk langsung menemui kedua orangtuanya di ruang keluarga.


Kevin hanya mengangguk padahal pemuda itu hanya berdiri diam di ruang tamu tanpa melangkah lagi. Hingga saat Queen kembali, wanita itu tersenyum geli melihat Kevin yang terlihat malu-malu di rumah nya.


"Kirain langsung masuk ke dalam, taunya malah jadi patung di sini." Seloroh Queen lalu merangkul bahu lebar Kevin menuju ruang keluarga. Kevin semakin kikuk, selain Jess dan sang ibu, tak pernah ada wanita lain yang pernah menyentuh nya sedekat itu.


"Ma, lihat siapa yang datang." Sapa wanita itu pada sang ibu yang masih mengumandangkan sejuta Omelan juga nasihat pada sang suami.


Isadora juga Utomo serentak menoleh. Namun sesaat setelah nya, tubuh kedua paruh baya itu menegang seketika saat menatap pemuda yang kini tengah di rangkul oleh sang putri.


"Kaylo..." ucap Isadora berbisik lirih.

__ADS_1


Kevin yang merasa terus di tatap, menjadi salah tingkah. Pemuda itu melepaskan rangkulan tangan Queen dengan halus. Kevin berpura-pura memperbaiki letak jaketnya dengan cara mengangkat kedua bahunya sedikit naik.


"Ma? pa?" tegur Queen merasa tak enak hati. Kedua orang tuanya menatap Kevin membuat pemuda tanggung itu terlihat gugup.


Utomo tersentak, kemudian sadar telah membuat pemuda di hadapannya merasa canggung.


"Ah maaf, papa seperti melihat Kent di waktu seusianya dulu." Ujar Utomo tersenyum hangat. "Siapa namamu, maaf aku terlalu tua untuk mengingat nama anak-anak Maria dan Aryo." Lanjut pria itu mencair kan suasana.


Utomo kemudian mempersilahkan Kevin untuk duduk meski awalnya Kevin sempat menolak.


"Nama saya Kevin tuan," jawab Kevin sedikit menunduk. Entah mengapa menatap wajah kedua paruh baya di hadapannya, membuat hatinya sedikit mellow.


"Kevin? nama yang bagus, cocok untuk pemuda tampan seperti mu." Puji Utomo terus menelisik kontur wajah Kevin dengan seksama.


"Kevin ini anaknya cerdas loh pa, kata ibu Maria, Kevin selalu mendapatkan juara umum di sekolah." Cerita Queen dengan bangga, sedangkan Kevin menunduk malu-malu mendapatkan pujian tersebut.


"Wah! hebat dong, pasti belajar nya giat sekali. Papa bangga melihat anak muda lebih mengutamakan pendidikan di atas kehura-huraan masa remaja. Itu jarang sekali, hanya segelintir dan kau salahnya." Timpal Utomo tak kalah kagum.


Isadora tak lepas memandang Kevin sejak tadi, ada perasaan hangat mengalir dalam darah nya kela melihat senyum malu-malu Kevin.


"Apa itu tanda lahir nak?" celetuk Isadora di tengah obrolan. Semua atensi berpindah padanya. Isadora kemudian menunjuk ke arah lengkap di dekat siku Kevin. Ada tanda merah melingkar di sana yang mencuri perhatian nya.


Kevin mengangkat lengan kirinya kemudian mengangguk samar.


"Kata ibu ini tanda lahir aku, dulu terlihat seperti tersiram air panas. Merah sekali dan sedikit timbul. Sekarang sudah mulai rata dengan kulit dan tipis. Tapi masih terlihat jelas jika orang jeli melihat nya, seperti yang nyonya lihat." Jelas Kevin sembari tersenyum.


Air mata Isadora tak lagi dapat di bendung. Wanita itu menghampiri Kevin lalu duduk di sisinya.


"Kau kembali pulang nak," ucap Isadora parau. Air matanya sudah mengalir tanpa bisa lagi di cegah. Kevin juga yang lain keheranan melihat reaksi Isadora yang nampak sentimentil.


Apalagi saat wanita itu merengkuh tubuh Kevin dalam dekapannya. Walau terkejut, namun Kevin tak berontak. Rasa nyaman pun turut dia rasakan di dalam hatinya.


Seperti pelukan hangat seorang ibu. Itu lah yang Kevin rasakan saat ini.


TBC


Semoga ada cintanya di April ini🤭


lope lope para kesayangan Buna Qaya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2