Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 15


__ADS_3

Kent kembali menatap Ben yang terlihat menunduk memainkan botol minumannya.


"Aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahan yang telah aku lakukan di masa lalu. Aku tak akan melepaskan wanitaku apapun yang terjadi. Aku tak memintamu untuk mempercayaiku. Cukup lihat perjuanganku setelah ini, hanya itu. Jess akan baik-baik saja. Aku berjanji akan mencarikan dokter terbaik untuk kakakmu. Dia istriku, dan aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya di pernikahan waktu itu. Maaf telah menorehkan luka mendalam di hati kakakmu, dan membuatmu terpaksa melihat pengkhianatan yang aku lakukan hari ini."


Flashback


Ben berlari kecil sembari bersenandung riang, menuju sebuah counter yang menjual berbagai macam aneka kue. Dan beberapa jenis kue tersebut adalah buatan sang ibu. Ben beruntung karena memiliki teman, yang orang tuanya memiliki stand di pusat perbelanjaan di kota itu.


Ben menitipkan jualan sang ibu di sana sebagian, sebagian lagi di kantin sekolah. Itulah kenapa dia bisa bertemu dengan Kent yang tengah menemani Melisa serta putri mereka Eli. Meski emosinya memuncak mendengar seorang bocah memanggil Kent dengan sebutan papa, namun Ben tetap menahan kekecewaannya itu.


Sementara Kent mematung kala melihat punggung lebar Ben semakin menjauh meninggalkan area tersebut. Perasaannya campur aduk. Akankah Ben mengatakan hal yang baru saja dia lihat kepada sang mertua? pikiran Kent mendadak kacau. Itu kenapa pria itu mendesak Melisa untuk pulang, karena hatinya mulai resah dan ketakutan yang tak dapat di jelaskan.


Flashback end


"Tak perlu memaksakan diri kak. Jika kau memang tak menginginkan kakakku, tidak mengapa. Kak Jess memiliki kami sebagai rumah dan keluarga, yang selalu menantinya pulang dengan hati penuh suka cita. Aku tak ingin kakakku di cap sebagai perebut suami wanita lain. Terlebih kalian sudah memiliki seorang anak. Kakakku akan baik-baik saja setelah berpisah darimu. Kami akan menjaganya dengan baik seperti sebelum kau hadir dalam hidunya." Ucap Ben bijak.


Lagi-lagi Kent kehilangan kata-kata. Pemuda di hadapannya itu memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa daripada dirinya. Kent merasa tertampar oleh kalimat panjang nan sederhana dari seorang bocah SMA. Wajahnya pias menikmati rasa malu yang terpampang jelas di wajahnya.


Melihat Kent terdiam mendengar ucapannya. Ben tersenyum hangat.


"Jangan terlalu di pikirkan kak. Aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kakakku. Bisa saja istrimu yang lain merasa sakit hati dan merencanakan hal buruk pada kak Jess. Kedalaman hati seseorang tak ada yang mampu untuk menyelaminya." Lanjut Ben menepuk pelan bahu Kent yang masih mematung.


Pemuda itu berdiri untuk memperbaiki selimut sang kakak. Kent terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh Ben pada Jess.


Sungguh hatinya iri, ada rasa cemburu yang tak dapat di jelaskan mengusik hatinya. Melihat bagaimana Ben begitu tulus memperlakukan Jess sebagai seorang kakak perempuan. Membuat Kent merasa tertampar kenyataan.


Entah apa fungsinya dia sebagai seorang suami. Kent bahkan tak tau apapun tentang Jess sebelum kenyataan yang dia ketahui hari ini.


Kent memilih bersandar di tembok sembari memejamkan kedua matanya. Tubuhnya lelah terutama pikirannya. Melisa pasti uring-uringan mencari keberadaannya, belum termasuk Eli yang mulai bersikap seperti ibunya.


Dalam keheningan malam, sepasang telinga sejak tadi mendengar semua percakapan kedua pria beda generasi tersebut. Ada genangan embun yang coba dia tahan, agar tak menerobos keluar dari pelupuk matanya yang terpejam.


Rasa haru akan ketulusan dan cinta kasih sang adik, dan rasa sesak karena Kent tak berkomentar apapun tentang kalimat terkahir adiknya. Artinya pria itu masih gamang, lalu apa yang dia harapkan dari pria seperti Kent?


Kini dia sudah lebih lapang. Mengetahui jawaban meski tak terucap oleh kata. Dia akan menerima perpisahan mereka dengan hati penuh keikhlasan. Menjadi seorang janda bukan suatu perkara besar.


Hanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, suasana dan keadaan yang ada.


Malam semakin larut, hanya ada suara langkah kaki para penunggu pasien yang terkadang bolak balik ke kamar kecil. Setiap ranjang memiliki sekat pembatas tirai. Hingga mereka masih memiliki area privasi masing-masing.


Kent tak benar-benar tertidur. Pria itu sibuk berkelana dengan pikirannya sendiri. Memikirkan banyak hal yang tak pasti. Kebimbangan lebih mendominasi pikirannya. Ada rasa takut kehilangan istrinya, Jess. Namun Kent juga takut kehilangan putrinya Eli.

__ADS_1


Semua fakta itu memberatkan pikirannya. Keduanya sama-sama penting, namun Kent harus tetap memilih salah satunya. Dia tak bisa menjadi egois, terutama Melisa masihlah istrinya. Entah bagaimana dia menjelaskan realita hidupnya pada kedua paruh baya yang telah membesarkannya.


Keduanya pasti akan sangat kecewa dan terluka atas semar masa lalu, yang dia coreng di wajah kedua orang tuanya.


👸


👸


Di kediaman mewah Kent, terdengar suara jeritan tangis Eli yang menggema di ruang makan. Gadis kecil itu mencari sang ayah sejak subuh, lalu kini mulai mempersoalkan tentang menu makanan yang di buat oleh ART baru di rumah mereka.


Yuni hampir kewalahan dalam menangani Eli yang terus berontak. Melempar piring bahkan gelas susunya hingga berhamburan di lantai. Hampir saja gadis itu terluka jika saja bi Sum tak segera menariknya mundur.


"Dengar Eli! Papamu akan pulang ketika pekerjaan sudah selesai. Jadi berhentilah bersikap seperti ini. Mama pusing tau tidak?!" Bentak Melisa yang sudah geram melihat sikap sang anak.


Bukan sekali dua kali Eli bersikap seperti saat ini, namun Melisa selalu bisa mengatasinya dengan menggunakan nama Kent sebagai penawarnya.


Namun kini ketika sudah tinggal bersama, nama Kent sudah tak lagi mempan untuk membuat Eli bersikap manis.


"Papa pasti pergi karena mama, kan?" Tuduh sang anak berteriak marah. Karena dia sempat mendengar sang ibu mengumpat Kent melalui sambungan telepon tadi malam.


Gadis itu berpikir jika penyebab Kent tak pulang, karena umpatan sang ibu. Pikiran kritis gadis itu menyimpulkan sendiri apa yang dia dengar dengan fakta yang terjadi. Kent tak kunjung pulang, semua karena ibunya. Itulah yang terpatri dalam otak kecil gadis itu.


Yuni lekas meraih tubuh Eli yang nyaris limbung menimpa ceceran pecahan gelas.


"Nyonya! Anda keterlaluan! Non Eli masih sangat kecil, kenapa anda tega sekali?!" Seru Yuni penuh keberanian. Gadis itu tak habis pikir. Bagaimana bisa ada seorang ibu seperti Melisa. Menyakiti anaknya tanpa perasaan.


Melisa menatap nyalang ke arah sang pengasuh dengan tatapan remeh dan marah.


"Kau hanya seorang pengasuh! Apa kau paham? Jadi bersikaplah selayaknya seorang pesuruh. Kau tidak memiliki hak suara untuk menasehatiku, apa kau paham?!" Tekan Melisa dengan nada marah.


Wanita itu merasa Yuni telah lancang mencampuri urusan majikannya.


"Saya memang babu nyonya, tapi paling tidak saya memiliki nurani yang bersih. Bukan wanita dengan hati berlogo iblis seperti anda." Melisa terbeliak mendengar kalimat lancang sang pengasuh.


Dengan langkah lebar, Melisa menghampiri Yuni yang tengah memeluk Eli yang masih menangis tergugu.


Sesaat akan melayangkan tamparan yang sama ke arah pipi Yuni. Gadis itu dengan berani menangkap pergelangan tangan majikannya.


"Anda mungkin majikan saya nyonya, tapi anda salah jika berpikir saya sudi diperlakukan dengan buruk dan diam saja. Saya Sri Wahyuni, gadis desa yang tak berpendidikan tinggi. Namun memiliki harga diri dan martabat yang tak bisa anda injak sesuka hati anda. Camkan itu nyonya!" Yuni melewati tubuh Melisa yang masih mematung kaku sambil menggendong Eli.


Wanita itu syok dengan apa yang baru saja dia alami. Seorang pengasuh berani menentangnya tanpa rasa takut sedikitpun. Itu sungguh mencengangkan baginya. Dia merasa harga dirinya sebagai seorang majikan telah di injak-injak oleh pengasuh rendahan tersebut.

__ADS_1


"Bereskan sampah ini dan katakan pada pengasuh belagu itu. Aku memecatnya hari ini juga. Jadi suruh dia kemasi kain lap yang dia bawa, aku tak ingin ada satupun sampah yang tersisa di dalam kamar pengasuh belagu itu!" Bi Sum hanya mengangguk patuh.


Wanita paruh baya itu membersihkan beling di lantai dengan perasaan campur aduk. Melihat betapa seramnya sang majikan, membuat nyalinya pun ciut untuk bekerja lebih lama di sana.


Apalagi jika Yuni tak lagi bekerja, otomatis pekerjaannya akan bertambah berat dengan mengasuh nona mudanya.


Bi Sum sejenak mengusap dadanya, sungguh hatinya bimbang.


Sementara Melisa kembali ke kamar untuk mengambil tas serta kunci mobilnya. Mobil yang seharusnya menjadi milik Jess sesuai dengan surat-surat yang tertera lengkap identitasnya.


Namun Jess bukan wanita maruk. Lagipula dia lebih suka menunggangi motor miliknya sendiri.


Eli baru saja tertidur setelah di tenangkan oleh Yuni. Gadis itu beranjak keluar untuk membantu bi Sum membereskan rumah, yang tadi sangat berantakan akibat ulah Eli.


Setiba di lantai bawah, terlihat bi Sum baru selesai mengepel lantai. Artinya semua sudah beres.


"Sudah selesai bi? Maaf tidak sempat membantu. Eli baru saja tertidur setelah lelah menangis." Ucap Yuni tak enak hati.


"Tak apa, Yun. Bibik bisa mengerjakannya sendiri, lagipula ini memang tugas bibik. Bagaimana non Eli? Apa pipinya bengkak?" Tanya bi Sum cemas.


"Sedikit memar, sudah aku kompreskan air dingin. Nyonya dajal tadi kemana bi?" Yuni celingak-celinguk mencari dajal yang dia maksud.


"Husshhh..jangan bicara sembarangan, nanti jadi dajal beneran kan kita juga yang repot." Tegur bi Sum dengan sedikit candaan. Wanita itu terlihat tegang untuk menyampaikan pesan tak manusiawi dari sang nyonya dajal mereka.


"Ada apa bi?" Yuni terlihat peka melihat ekspresi wanita paruh baya itu.


"Anu Yun..tadi..nyonya berpesan, jika kau boleh mengemasi barang-barangmu hari ini dan kembali ke yayasan. Maafkan bibik Yun, tidak bisa membelamu tadi. Bibik juga takut sama nyonya. Tidak nyangka, majikan kita ternyata menakutkan sekali kelakuannya. Hiii..bibik masih merinding mendengar suara tamparan tadi." Wanita itu terlihat bergidik ngeri mengingat kejadian yang baru saja dia saksikan.


Tbc


...****************...


...----------------...


Bagaimana kelanjutan nya? penasaran gak gaess? penasaran dong yaa🤭🤭


Apalagi sama sus Yuyun yang super duper beraninya, pasti kalian terkagum-kagum, bukan?😆😆


komen yang banyak dong, othor gak minta sajen. Cukup like n komen nya aja. Udah, itu aja cukup😁😁


...lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍...

__ADS_1


__ADS_2