Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 6


__ADS_3

Jangan lupa jejak kalian ya readers πŸ™


Favorit, komen n likeπŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜


πŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘Έ


Jess terkejut membaca sebuah pesan singkat dari nomor asing. Seorang mengatakan jika rumahnya terlihat mengeluarkan kepulan asap tebal dari arah dapur.


Jess teringat dia sempat membuat sarapan sebelum berangkat tadi pagi. Namun bukankah sudah sangat terlambat, jika rumahnya baru mengeluarkan asap sekarang. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang menuju sore.


Ini terdengar seperti leluncon orang iseng baginya.


Meski sedikit ragu, Jess tetap pamit pergi pada ibu Maria. Sepanjang jalan Jess terus berpikir untuk sekedar memutar memorinya. Dia ingat telah mematikan kompor sebelum pergi. Itulah yang terus terekam jelas dikepalanya saat ini.


Setiba di halaman rumah nya, Jess terheran-heran melihat pintu rumah yang sedikit terbuka. Padahal tadi pagi dia ingat telah menguncinya.


Setiba di ruang tamu, Jess lebih terkejut lagi dengan jaket kecil berwarna pink di atas sofa. Lalu ada boneka Barbie yang teronggok di lantai begitu saja.


Kala pikirannya di penuhi oleh banyak tanda tanya. Suara seorang wanita menyapa gendang telinganya dengan nada begitu lembut.


Jess mengangkat kepalanya untuk melihat tamu tak di undang, yang sudah lancang memasuki rumahnya tanpa ijin.


Mata Jess menyipit. Berusaha mengingat-ingat sesuatu, barangkali dia pernah melihat wanita di hadapannya itu. Namun hingga beberapa detik kemudian, Jess tak bisa mengingat apapun. Selain melihat wajah asing yang tengah tersenyum ramah ke arahnya.


"Maaf, anda siapa ya?"


Si wanita berjalan lebih dekat ke arah Jess.

__ADS_1


"Kenalkan, aku Melisa dan yang di sana itu adalah putriku Alissa. Putriku dan Kent. Kau pasti mengerti maksudku, bukan? Kami menikah beberapa tahun yang lalu, dan beberapa bulan lalu Kent meminta ijin padaku untuk menikahi seorang wanita yatim-piatu. Awalnya aku menolak keras, istri mana yang rela berbagi suami." Helaan nafas panjang menjeda kalimat wanita itu.


"Namun Kent menjelaskan, jika pernikahan kalian hanyalah simbiosis belaka. Aku lega, Kent tak benar-benar ingin mendua. Terbukti Kent selalu mengunjungi kami setiap saat meski telah memiliki istri lain." Lanjutnya dengan senyum bangga.


"Kini Kent memintaku dan Eli untuk tinggal bersamanya di sini. Berjauhan dari orang yang dia sayangi sangat menyiksa dan tak mudah untuk di jalani. Maaf jika kata-kataku membuatmu terluka. Aku hanya tak ingin kau terlalu berharap pada pernikahan semu ini. Kent tak menginginkanmu. Dia bahkan mengatakan akan menceraikan mu kurang dari sebulan lagi." Lanjut wanita itu tanpa peduli akan perasaan Jess.


"Itu kenapa kami di sini. Kent merasa aku dan Eli lebih pantas menempati rumah ini setelah kau pergi dari kehidupan kami." Pungkasnya dengan begitu angkuh namun tetap dikemas dengan senyum hangat yang dibuat-buat.


Jess terpekur di tempatnya. Sakit hati? Tidak sama sekali. Hanya saja Jess baru menyadari, rupanya Kent telah memiliki kehidupan lain sebelum dirinya. Lalu kenapa pria itu menikahinya? Dan terjawab sudah alasan Kent tak ingin berbagi kamar dengannya. Pria itu berusaha menjaga perasaan sang istri tercinta. Sungguh miris.


"Oh, maafkan aku. Aku tak tau jika Kent sudah memiliki seorang istri dan seorang putri yang sangat cantik." Balas Jess melirik ke arah seorang bocah perempuan yang sedang bermain di pembatas ruang keluarga.


"Dia sangat mirip dengan ayahnya." Tukas Jess memuji. Entah mengapa melihat kontur wajah Eli membuat ingatan Jess seperti flashback ke masa lalu. Wajah itu mengingatkannya pada seseorang yang sangat dia sayangi. Kini dia mulai mengingat sedikit demi sedikit, memorinya berusaha mengurai benang kusut dikepalanya.


"Tentu saja, bukankah seorang putri akan selalu mirip dengan ayahnya, kan?" Sahut Melisa tersenyum bangga sembari melirik sang anak.


Jess tersenyum simpul mendengar jawaban yang sedikit menggelitik ulu hatinya.


"Apa maksudmu? Kent adalah ayah kandungnya. Kau pikir kau siapa berani berkata yang tidak-tidak tentang putriku!" Hardik Melisa marah. Matanya berkilat penuh kobaran kemarahan yang amat besar. Wanita itu merasa terhina akan kalimat yang di lontarkan oleh Jess terhadap putrinya.


"Ups! Maaf. Tidak ada maksud apa-apa. Jadi kau yang menghubungiku dan mengatakan hal konyol, tentang asap tebal yang mengepul dari arah rumahku?" Alih Jess setenang mungkin.


"Benar! Aku hanya ingin kau mengetahui kedatangan kami. Mulai sekarang apapun yang ada di rumah ini, akulah yang akan mengaturnya sebagai istri pertama dari Kent Rahardjo." Ujar Melisa pongah. Wanita itu menatap Jess dengan tatapan sinis yang merendahkan.


Namun Jess sama sekali tak terpengaruh. Meski hatinya terkoyak sangat dalam. Jess tetap terlihat tenang dan tegar.


"Kau benar. Asap tebal itu telah berubah menjadi nyala api yang siap membakar para penghuninya tak lama lagi." Tukas Jess tanpa emosi apapun.

__ADS_1


"Aku baru tau, jika seorang pria kristiani boleh memiliki lebih dari satu istri. Cukup mencengangkan bagiku yang kurang pemahaman, akan ilmu pengetahuan tentang agama dengan sempurna. Bukannya apa-apa. Yang ku tau hukum agamaku adalah monogami. Apa dia menikahimu dengan tata cara lain? Tidak masalah, hanya saja aku sedikit tergelitik. Pernikahan kami terdaftar sah di mata hukum negara. Dan tidak tertera aku sebagai istri kedua."


Melisa terlihat gugup. Namun mental wanita itu cukup kuat meski telah di tabok oleh kenyataan.


Melihat Melisa tak berkutik. Jess melanjutkan kalimat yang tak kalah menohok.


"Kent rupanya sangat pandai memilih istri. Setelah istri pertamanya berada di fase menuju penuaan, Kent memilih menerima pernikahan dengan seorang wanita muda atas dalih sebuah perjodohan. Namun untuk sekedar kau ketahui, Kent menerima pernikahan kami hanya dengan sekali pertanyaan yang di berikan oleh orang tuanya. Sungguh anak yang berbakti, atau memang pesonaku yang mendebarkan. Akupun tak tau." Lanjut Jess mengangkat sebelah bahunya dengan senyum penuh kemenangan.


Namun terlihat seperti ledekan di mata Melisa.


Niat hati ingin membuat Jess terbakar membara dalam nyala api yang sengaja dia kobarkan. Kini malah dirinya yang terbakar tanpa sisa.


Meninggalkan dua wanita yang sedang berada dalam kondisi emosional yang sedikit menegangkan. Kent gila-gilaan mengemudikan mobilnya menerobos macetnya lalu lintas. Hatinya kesal karena harus terjebak macet yang tak kunjung usai.


Beberapa kali menghubungi nomor ponsel Jess yang baru saja dia dapatkan dari sang asisten. Namun wanita itu tak kunjung menjawab. Membuat Kent semakin frustasi.


Tanpa pria itu ketahui. Jika dua wanita yang dia takuti untuk saling bersua, kini sedang terlibat obrolan panas di rumahnya. Sepanjang jalan Kent memanjatkan doa setinggi angkasa, hingga menembus langit ketujuh. Agar keduanya tak bertemu untuk sementara waktu.


Sementara dirinya masih mengurus segala hal rumit dalam pernikahan tersebut. Begitulah harapan sederhana seorang Kent Rahardjo.


Setiba di halaman, Kent memarkirkan mobilnya secara asal. Melihat pintu rumah yang terbuka setengah, degup jantung Kent semakin bertalu-talu. Pria itu seperti seorang suami yang ketahuan selingkuh oleh istrinya.


Dengan langkah lebar, Kent berjalan cepat menuju ke dalam rumah. Hal pertama yang dia dapatkan adalah sambutan dengan suara teriakan si kecil, Eli. Yang berlari menyongsong dirinya di ruang tamu, lalu di susul oleh Melisa yang tersenyum tanpa dosa ke arahnya.


Sungguh Kent muak melihatnya. Wanita itu baru saja menabur garam padanya, hingga membuat kepalanya panas dingin menahan luapan kemarahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bagaimana kah cara Kent untuk mengembalikan situasi seperti semula? apakah Melisa akan dijadikan satu rumah dengan Jess? kuy komen yang banyak yahπŸ‘ŒπŸ™πŸ€—


Lope lope para kesayangan buna Qaya πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜šπŸ˜š


__ADS_2