
...----------------...
Kuy lanjut di baca gengs, jangan kasih kendor🤭🤭 tinggalkan komen kalian biar othor makin semangat 😘😘😘
...----------------...
"sepertinya di sini titik lokasinya berhenti. Si brengsek itu tak mungkin membohongiku. Jika dia berani, akan aku ***** istrinya tepat di depan kedua matanya." Gumam seorang pria memarkir mobilnya di halaman rumah yang sangat luas tersebut.
"Kau beruntung terlahir dari orang tua yang tak sepelit orang tuaku. Nasibmu mujur es mambo." Gumam pria itu terus berceloteh.
Ting tong
Tiga kali memencet bell namun tak kunjung di buka. Hingga keempat kalinya si pria mulai gusar.
"Awas saja jika kau mengerjaiku, es mambo. Ku congkel biji salakmu hingga tak bersisa." Dengus si pria mulai risau.
Saat kakinya akan berbalik pergi, suara handle pintu terbuka membuatnya berbalik kembali. Terlihat seorang wanita dengan wajah di lapisi masker perawatan kulit.
"Kau!? Apa kau tuli apa bagaimana? Aku memencet bell ratusan kali dan kau malah sibuk merawat keriput di wajah jelekmu ini?" Tunjuknya dengan amarah meradang.
"Kau baru memencet 4 kali dan langsung menyerah. Aku sengaja membiarkanmu berusaha terlebih dahulu, aku ingin melihat sejauh apa kau mengusahakan agar pintu ini di buka. Ternyata kau bermental kerupuk. Terlalu renyah. Gampang hancur." Ejek si tuan rumah melipat kedua tangannya dengan gaya pongah.
"Kau ingin menguji kesabaranku begitu ya? Apa kau menunggu pintu mewah ini ku lempari granat. Itu yang kau inginkan? Dasar sakit jiwa! Aku lelah, memencet bell membuat otot lenganku sedikit lemas." Si pria masuk menyeret kopernya tanpa permisi.
"Kamarmu di lantai atas, tepat di samping kamarku. Untuk sementara kau menempati kamar utama di rumah ini. Kapan lagi ada tamu seistimewa dirimu? Kau harus bersyukur, aku tak mendeportasimu kembali ke alam keabadian. Di mana kau hanya di jadikan pajangan ketimbang seorang anak laki-laki kesayangan."
Si tamu memicing mata penuh kecurigaan. Tak lumrah, tuan rumah memberikan kamar utama untuk seorang tamu. Meskipun itu adalah keluarga sendiri.
"Kenapa menatapku begitu? Tak perlu berterimakasih, kami sedang lelah menjadi tuan dan nona kaya raya. Sekarang giliranmu anak pungut. Nikmati semua fasilitas yang ada di kamar tersebut. Ada sedikit hadiah kecil untuk menyambutmu, aku letakkan di atas ranjang. Nikmati sepuasnya, mumpung aku berbaik hati." Setelah mengatakan kalimat memancing rasa curiga, wanita itu pergi begitu saja menuju dapur.
"Awas saja jika kau meletakkan tikus di kamar, akan aku ledakan rumah mewah ini hingga menjadi abu." Gerutu si pria mulai menyeret kopernya menaiki anak tangga.
"Kenapa tangganya harus berlekuk seperti ini? Bikin repot saja!" Tak henti-hentinya pria itu mengomel hingga dia tiba di depan pintu kamar utama.
Tak sulit membedakan nya dengan kamar lain. Kamar utama memiliki dua pintu, sementara kamar lain hanya memiliki satu pintu saja.
Klek
Sebelum masuk, lebih dulu kepalanya melongok ke dalam kamar. Dia masih tak percaya jika sang sepupu yang memiliki gen pelit seperti sang ayah, mau memberikannya kamar utama secara cuma-cuma tanpa maksud terselubung.
"Sepertinya aman," ujarnya setelah yakin di atas pintu tak di taruh seember air untuk mengerjainya.
"Ini baru namanya kamar sultan. Kamar ini memiliki ukuran dua kali lebih luas dari kamar utama di rumah pria tua kaya pelit itu." Dengan senyum lebar dan hati senang. Si pria mulai menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang berukuran fantastis tersebut.
Pria itu sampai melupakan perihal hadiah yang katanya diletakkan di atas ranjang untuk menyambutnya.
"Eughhh..."
__ADS_1
Si pria terdiam. Suara lenguhan tak asing terdengar jelas di indera pendengarannya. Dan tubuh siapa yang berada di bawah punggungnya saat ini.
"Kent? Kau kah itu?" Lirih seorang wanita dari balik selimut. Sadam mematung mendengar suara yang semakin jelas mengingatkan nya pada seseorang.
Dengan gerakan cepat, Sadam bangun lalu berbalik untuk melihat siapa wanita yang baru saja dia timpa dengan tubuh tegapnya.
"Kau?!" Keduanya sama-sama terkejut bukan main. Terlebih Sadam. Dia tak menyangka jika wanita yang menjadi partner ranjangnya adalah istri sang sepupu.
"Bagaimana bisa kau berada di dalam kamarku, bule gila! Keluar kau dari rumahku sekarang juga! Atau suamiku akan membunuhmu tanpa ampun!" Usir si wanita histeris. Ketakutan akan ketahuan oleh Kent membuatnya meradang panik.
"Hai Dam? Kau suka kamarmu? Bagaimana hadiah kecilku? Kau menyukainya? Tentu saja, kau akan menyukainya. Bukankah kalian sudah terbiasa tidur bersama? Aku ingin melanjutkan maskerku yang tertunda karena menyambut kedatanganmu. Ah Melisa. Perkenalkan, dia Sadam adikku. Kalian pasti tidak sempat saling berkenalan karena terlalu sibuk bertukar peluh dan ludah. Aku permisi, silahkan lanjutkan. Pintunya jangan lupa di tutup rapat. Di sini banyak siluman yang suka mengintip." Queen setengah berbisik di akhir kalimatnya.
Sontak membuat Yuni sang tukang kepo meringis malu. Dia kedapatan mengintip sang majikan dari sudut pintu sambil memeluk handuk bersih.
"Anu nona, saya mau mengantarkan tambahan handuk bersih untuk mas tampan tadi." Ujar Yuni membela diri.
"Ck! Periksa matamu Yuni, kau sudah mulai mengalami kerabunan dini. Pria ini sumbing dan kurapan. Tampan dari mananya?" Ujar Queen tanpa perasaan.
Mata Sadam melotot tajam. Enak saja pria tampan sepertinya di katai kurapan dan sumbing. Bibirnya cukup sehat untuk menyusu dengan benar.
Sedangkan melisa masih bengong. Wanita itu syok saat mengetahui pria yang berbagi kehangatan dengannya adalah saudara suaminya, Kent. Dengan keringat dingin, Melisa berjalan menuju kamar mandi. Wanita itu kehilangan kata-kata. Perkataan Queen menjelaskan jika wanita itu mengetahui sesuatu tentangnya lebih banyak lagi. Kini dia harus benar-benar waspada pada iparnya tersebut.
Posisinya terancam lengser dari istana megah Kent. Hati melihat ketar ketir menahan ketakutan luar biasa sekarang.
"Aku tak menyangka jika seleramu ternyata seorang ja la ng. Menyedihkan sekali, kau merusak nama baik ayahmu Sadam. Kasihan sekali paman memiliki anak sepertimu." Lanjut Queen menatap Sadam yang masih diam di tempatnya berdiri.
"Ck! Aku hanya tak ingin menyia-nyiakan berkat. Bukankah kita selalu di ajarkan untuk menghargai berkat besar maupun kecil? Aku hanya berusaha mensyukuri nikmat yang gratis sepuasnya." Balas Sadam tergelak renyah.
"Untung baru mengagumi," ucap Yuni mengelus dada lega. "Pak asisten sepertinya lebih tampan dan kalem." Lanjut Yuni mesen-mesem sendiri teringat Aditya yang sempat meminta nomor ponselnya. Namun hingga hari ini, pria itu tak kunjung menghubunginya. Membuat Yuni gusar sendiri.
👸🏻
👸🏻
Sepanjang perjalanan, Kent berusaha menghibur sang istri. Berbagai cara Kent lakukan untuk membuat senyum di sudut bibir Jess mengembang kembali.
"Kau ingin makan cendol? Sepertinya di depan sana ada yang menjualnya. Kita akan mampir jika kau menginginkannya." Tawar Kent entah untuk ke berapa kalinya, pria itu menawarkan berbagai jenis makanan.
Namun hanya di jawab oleh keheningan.
Kali ini jess sedikit merespon, itu bagai siraman air di tengah pandang pasir bagi Kent.
"Mau?" Ulang Pria itu bersemangat.
"Boleh, tapi gulanya jangan banyak-banyak. Aku mau roti juga, boleh?" Kent segera mengangguk cepat dengan binar senang.
"Tentu saja boleh sayang. Sebentar, kita akan memutar dulu, penjualnya ada di seberang jalan sana." Tunjuk Kent ke arah seberang jalan. Ada gerobak cendol di sana.
__ADS_1
"Berapa gelas tuan?" Tanya si penjual ramah.
"Lima deh, ya lima pak. Satunya jangan terlalu manis, istri saya tidak boleh makan yang manis-manis. Takut saya diabetes kalau istri saya terlalu manis." Seloroh Kent memancing tawa si penjual cendol.
Kent sengaja membuk sedikit kaca jendela, agar Jess bisa memilih toping apa saja yang mau di campur ke dalam campuran es nya.
"Sakit neng? Wajahnya pucat banget." Tanya sang penjual kala tak sengaja menatap ke arah Jess.
Jess hanya mengangguk pelan.
"Istri saya terkena kanker otak pak. Sekarang sedikit kesulitan berjalan makanya tidak turun dari mobil. Bukannya bermaksud sombong." Terang Kent tanpa di minta.
Si penjual hanya mengangguk paham.
"Sudah coba berobat tradisional tuan? Dulu tetangga saya juga kena kanker. Tapi kanker rahim. Berobat tradisional, Alhamdulillah sembuh total. Tidak instan, butuh proses sampai tiga bulan. Tapi sekarang sudah tak pernah kambuh-kambuh lagi. Menurutnya, ramuan herbal yang dikonsumsi berfungsi untuk mematikan sel kanker sampai ke akar-akarnya. Begitu cerita yang saya dengar dari suami tetangga saya itu." Cerita si penjual cendol sambil menakar isian cendol ke dalam gelas plastik.
"Bapak tau di mana tetangga bapak berobat? mungkin kami bisa sedikit berkonsultasi masalah penyakit istri saya terlebih dahulu. Bisa atau tidaknya yang penting sudah ikhtiar." Tanya Kent merespon antusias. Ada harapan terselip dari pertanyaannya itu.
"Saya kurang tau tuan, kalau mau lebih jelas informasinya. Tuan sama neng bisa langsung ke rumah tetangga saya saja. Alamat di Jalan XX. Ini kebetulan saya punya nomer teleponnya. Hubungi saja dulu, takut orangnya sedang tidak di rumah." Pak Jupri, nama si tukang cendol merogoh saku celana lusuhnya.
Pria itu mengeluarkan ponsel No*kia miliknya lalu menyerahkan pada Kent untuk di catat. Kent dengan antusias mengetik nomor tetangga pak Jupri yang di beri nama Kang Murat tersebut.
"Makasih banyak pak, nanti kalau saya ke sana saya mampir ke rumah bapak sekalian." Ujar Kent mengembalikan ponsel pak Jupri.
"Sama-sama tuan. Silahkan mampir, tapi ya rumahnya tidak bagus. Semoga tidak menyurutkan niat tuan untuk berkunjung," ucap pak Jupri sedikit malu.
"Yang penting rumah sendiri pak, bagus tidaknya tergantung kita bahagia tidaknya tinggal di dalam rumah tersebut. Kalau begitu saya permisi dulu pak, sekali lagi terimakasih atas informasinya." Kent menyelipkan beberapa lembar rupiah berwarna merah di sela toples toping cendol, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Pak Jupri yang hendak mengembalikan uang tersebut kalah cepat, mobil Kent sudah menjauh dari pandangannya.
"Semoga istri tuan di berikan kesembuhan sempurna sehat seperti sedia kala. Amin ya rabbal alamin." Ucap pak Jupri menatap mobil Kent hingga tak lagi terlihat.( Maaf jika penulisannya tidak benar🙏)
Sepanjang jalan, Kent melambungkan doa menembus awan terik siang itu. Berharap ikhtiarnya bisa membawa sang istri pulih kembali dari penyakit mematikan yang di deritanya.
Sementara di rumahnya, terjadi ketegangan suasana. Melisa terlihat tak nyaman dengan keberadaan Sadam di rumah itu. Sedangkan Sadam bersikap seolah mereka tak saling mengenal. Sesekali pria itu bertindak jahil dengan kedua tangannya kala tak sengaja berpapasan dengan Melisa.
Dan itu membuat Melisa meradang kesal. Sadam bertindak sesuka hati meremat bokong juga dadanya kala mereka berpapasan. Sungguh emosi Melisa naik turun bagai trampolin dengan kelakuan bastard Sadam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Gimana kejutan othor, seru gak sih🤭😁
Kini kehidupan Melisa bagai cosplay di neraka, karena kehadiran Sadam 😆😆
Sepertinya tak cukup menderita dengan kedatangan Queen, othor masih ada dendam kesumat sama tokoh yang satu ini. Jadi othor tambah lagi bumbu penyedap rasa balado di dalam kehidupan Melisa yang semrawut biar makin aut-autan🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Semoga kalian gak sejahat othor ya gaesss 😁
lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍