
Yuni tertawa kecil melihat reaksi bi Sum yang terlihat jelas tak enak hati padanya.
"Jadi aku di pecat ya bi? Padahal belum ada 24 jam loh, kurang 5 jam lagi baru genap 24 jam." Seloroh gadis itu mencairkan suasana. Dia tau bi Sum tak enak hati menyampaikan pesan tersebut kepadanya.
Dan Yuni lebih yakin lagi, jika pesan sang nyonya tak hanya sebatas itu.
"Maaf ya Yun. Bibik juga berencana resign dari pekerjaan ini. Bibik ngeri kalau-kalau bikin kesalahan, malah bibik yang di gampar seperti tadi. Bibik sudah reot Yun, di sentil sedikit aja udah oleng. Apalagi di tabok, bisa-bisa bibik berkahir pulang tinggal nama." Cerita wanita itu dengan wajah sendu yang terlihat dramatis.
Yuni tertawa renyah mendengar kata resign yang di ucapkan oleh bi Sum, dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
"Bibik keren juga ya, resign segala. Kaya mau keluar dari perusahaan besar saja." Keduanya tertawa di sisa waktu yang ada.
"Bukan salah bibik, aku mengerti kondisi bibik jadi tak apa. Mungkin bukan rejekiku di sini. Mungkin setelah ini aku bakal dapat job ngasuh anak sultan atau paling tidak anak artis terkenal. 'kan lumayan bi, gaji nya pasti lebih gede. Setahun gaji bisa buat bikin rumah gedong di kampung, beli 10 hektar lahan sawah, buka toko kelontong dan banyak lagi. Khayalan lain yang mungkin bisa terwujud nantinya." Yuni tergelak setelah mengatakan kalimat bualannya.
Diikuti oleh bi Sum yang tadi sempat murung. Yuni jelas tau siapa majikannya saat ini. Sebelum dia di kirim ke sana, gadis itu terlebih dahulu mencari tau perihal keluarga yang akan menjadi tempat pengabdian berbayarnya setiap bulan itu.
Namun gadis itu sedang sedikit risau, penilaian dari yayasan akan menjadi tolak ukur bagi kinerjanya sebagai seorang pengasuh handal.
Sedangkan di rumah sakit, Jess baru saja melakukan MRI. Wanita itu terlihat lebih segar setelah mendapatkan serangkaian penanganan medis menyeluruh.
Tak terlihat ekspresi wajah seperti orang yang tengah sakit keras. Jess bahkan masih mampu tertawa renyah bersama ibu dan adik-adiknya yang datang menjenguk. Hanya anak di atas 12 tahun, sisanya tetap berada di panti di jaga oleh tetangga baik hati mereka.
"Kakak tau tidak? Tadi ketika kakak sedang di dalam ruangan MRI, kak Ben menggoda seorang perawat di meja ruang jaga di depan loket masuk." Adu Listy bercerita pada Jess.
Sontak pengakuan jujur Listy, bocah kelas 2 sekolah menengah pertama tersebut membuat Ben panik. Pasalnya di sana ada Yulia yang tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
Dengan kelabakan, Ben berusaha untuk menyangkal.
"Tidak! Mana ada seperti itu. Kau ini, kecil-kecil sudah pandai menjadi seorang provokator." Ben menoyor kepala Listy pelan. Ekor matanya melirik ke arah Yulia yang kini sedang memasang ekspresi tak bersahabat.
Ben Meringis melihat wajah masam gadis tersebut.
"Tapi aku dengar kok, kak Ben bilang. Hai, kenalin, namaku Ben. Kakakku yang baru saja di dorong masuk ke dalam ruangan itu. Boleh minta nomor ponselmu, tidak? Begitukan? aku mendengarnya dengan jelas kok tadi." Kukuh Listy tak mau kalah.
Ben memejamkan kedua matanya. Dia lupa, adiknya yang satu ini tingkat kejujurannya tak di ragukan lagi.
"Sudah, sudah! Jangan berdebat. Hanya kita yang berisik di sini, apa kalian tak melihat yang lain sedang beristirahat." Tegur Bu Maria pada kedua anaknya.
"Tidak apa-apa bu, saya malah senang. Sebelum kalian masuk kemari. Kami seperti berada di pemakaman. Mencekam. Malah stress sendiri dengan suasana yang sehening kamar mayat." Ucap seorang pria paruh baya dari balik tirai di samping ranjang Jess.
Suara tersebut sontak membuat atensi mereka teralihkan. Terlihat ekspresi penuh keterkejutan di wajah bu Maria yang hanya di sadari oleh Jess. Ibunya seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar suara pria tadi.
Tak lama tirai terbuka, terlihat seorang pria berusia sekitar setengah abad berdiri mematung, kala matanya bersitatap dengan netra seorang wanita masa lalunya.
Sungguh dunia begitu sempit, hingga kembali mempertemukan mereka setelah puluhan tahun berpisah.
"Mery.." gumam pria tersebut terdengar begitu lirih.
"Maaf pak, nama ibu kami Maria bukan Mery." Sela Listy tak terima. Gadis tersebut memang selalu jujur dan kadang membuat orang lain kesulitan.
__ADS_1
Si pria terkesiap gugup, lalu menoleh ke arah ranjang Jess.
"Sakit apa nak?" Tanya pria tersebut basa basi.
"Kanker otak pak, kata dokternya sih begitu. Tapi saya merasa tidak sedang sakit. Ini malah ingin minta pulang saja. Tidak betah sama makanannya, malah bikin tambah sakit." Sahut Jess ramah disertai candaan ringan.
Si pria terkekeh mendengar kalimat jujur Jess. Gadis cantik ini membuatnya teringat akan bayangan wajah seseorang. Namun pria itu tak berani menebak.
"Bapak sedang menjaga siapa?" Jess bertanya balik sembari melirik tirai yang masih tertutup separuh.
Si bapak menoleh lalu membuka sedikit agar Jess bisa melihat tetangganya di ranjang sebelah. Jaraknya hanya sekitar satu setengah meter.
"Ibu, kenalkan tetangga ibu. Namanya Jess, cantik ya bu. Dia juga sakit kanker seperti ibu, tapi kanker otak." Ucap si pria pada wanita yang dia panggil ibu tersebut.
Bu Maria tergugah untuk melihat pasien yang menjadi tetangga putrinya itu. Hatinya mencelos kala melihat wanita tua yang terlihat sangat lemah di atas ranjang tersebut.
Begitupun si wanita tua tersebut. Matanya masih cukup jeli, untuk melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.
"Mery..? Nak? Kaukah itu?" Ucapnya dengan suara bergetar. Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari bibirnya yang keriput. Maria terenyuh tak tega lalu memutuskan untuk menghampiri sisi ranjang wanita itu.
"Ya nyonya, ini aku Maria alias Mery yang dulu bekerja di rumah nyonya. Nyonya sakit apa?" Maria menyeka sudut mata yang telah menua tersebut.
"Ibu terkena kanker paru-paru, Mer. Sudah sejak beberapa tahun lalu hanya saja kami baru mengetahuinya lima tahun terakhir." Sela si bapak tadi mewakili sang ibu yang terlihat lemah untuk berbicara panjang lebar.
Maria mengangguk paham. Lalu meraih tangan keriput wanita itu.
"Nyonya yang sabar ya, putriku juga sedang sakit kanker. Kaner otak stadium 3. Percaya mujizat itu nyata, kita hanya perlu berserah pada_Nya dan berusaha. Ibu pasti sembuh." Doa Maria tulus. Di usapnya tangan keriput mantan majikannya itu dengan lembut.
"Panggil ibu saja, Maria. Maaf atas dosaku padamu dimasa lalu. Aku sangat menyesalinya, Aryo mencari keberadaanmu dan Yusuf. Tapi rumah kontrakan kalian sudah kosong. Kami mencari keberadaanmu, nak. Terutama Aryo dan Mario." Ujar wanita itu terisak.
Maria sungguh tak tega melihatnya. Sebisa mungkin Maria menenangkan wanita itu agar tak larut pada masa lalu, yang bahkan sudah dia lupakan tersebut.
"Sudah nyonya, jangan seperti ini. Yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah melupakannya. Nyonya tak pernah ada salah padaku, dan lagi apapun itu. Aku sudah mengikhlaskannya. Sudah, lupakan saja. Nyonya harus fokus pada kesembuhan saja sekarang, kasihan mas Aryo. Maaf, den Aryo." Ujar maria gugup kemudian meralat kata-katanya.
Aryo mengusap sudut matanya yang basah. Ada kerinduan mendalam yang ingin merengkuh tubuh wanita di hadapannya itu. Namun dia tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Terutama Maria telah menjadi istri sahabatnya sendiri.
"Bagaimana kabarmu? Di mana Yusuf suamimu? Apa dia putrimu?" Cecar wanita itu pada Maria.
"Bu, nanyanya satu satu to." Tegur Aryo tak enak hati.
"Tidak apa den."
"Mas Aryo saja, Mery. Sama seperti panggilanmu dulu." Ralat Aryo menatap sendu wanita tercintanya itu. Maria salah tingkah dibuatnya, terutama di sana sedang ada anak-anaknya.
"Bapak ini mantan pacarnya ibu ya?" Celetuk Listy menyela. Ben lekas membekap mulut lanteh sang adik kemudian tersenyum tak enak hati pada pak Aryo dan ibunya.
Sementara Aryo terkekeh kecil melihat kepolosan Listy.
"Benar. Ibu kalian dahulu adalah mantan terindah paman." Jawab pria itu lugas. Membuat wajah Maria merah padam menahan malu.
__ADS_1
"Mas Aryo!" Cicit Maria bergumam kecil.
"Lah kenapa to? Benar'kan?" Tukas Aryo terus menggoda Maria.
"Ibu kalian dulu adalah kekasih anak saya, namun waktu itu saya menentang hubungan mereka karena...." Namun Maria memotong cepat kalimat sang mantan majikan.
"Karena tidak jodoh saja, begitu kan mas?" Tekan Maria menatap tajam ke arah Aryo. Dia tak ingin anak-anaknya memiliki persepsi buruk terhadap sang mantan majikan. Memelihara sifat dendam bukanlah ajarannya.
"Suamimu dimana, Maria?" Ulang wanita tua itu.
"Mas Yusuf sudah berpulang bu, enam tahun yang lalu." Jawab Maria dengan ekspresi terlihat sedih.
"Inalillahi wa Inna ilaihi Raji'un.." ucap wanita itu dengan mengusap dadanya. Seolah tak percaya jika pria baik sahabat sang putra telah tiada. Sementara Aryo terdiam, pria itu sama terkejutnya. Sahabat terbaik yang dia miliki telah berpulang begitu cepat.(maaf jika penulisannya tidak tepat untuk kalimat belasungkawanya🙏)
"Ibu bahkan belum sempat meminta maaf pada Yusuf suamimu, Maria." Lirih wanita itu terlihat sangat terpukul.
"Tak ada yang perlu dimaafkan nyonya, semua sudah jalannya. Mas Yusuf bukan pria pendendam, bahkan sebelum pergi mas Yusuf berpesan agar mengatakan pada nyonya, jika beliau sangat berterimakasih atas kebaikan nyonya selama hidupnya di Jogja dahulu. Tak ada kebencian apalagi dendam yang di bawa pergi oleh mas Yusuf ketika beliau berpulang." Terang Maria tersenyum hangat.
"Panggil ibu saja Maria, jika kau benar-benar tak menyimpan sakit hati pada wanita renta ini." Pinta wanita itu menatap penuh harapan pada Maria. Maria menoleh ke arah Aryo yang mengangguk mantap padanya.
"Baik bu, maaf jika aku tidak sopan." Ujar Maria akhirnya.
Kemudian obrolan mulai terasa lebih santai. Maria memperkenalkan semua anak-anaknya yang ada disana termasuk yang ada di rumah. Aryo jadi tau, jika Maria dan Yusuf tak memiliki anak kandung.
Namun terselip rasa bangga atas apa yang Maria dan suaminya lakukan. Merawat anak-anak malang itu dengan penuh cinta dan kasih. Aryo jadi teringat pada putranya Mario. Pasti anaknya itu akan sangat senang jika mengetahui, wanita yang mereka cari selama ini telah dia temukan meski tak sengaja.
Jess akhirnya mengerti, jika Aryo adalah kekasih sekaligus majikan sang ibu di masa lalu. Karena perbedaan status sosial lah, yang membuat hubungan itu kandas. Kasta yang tak sebanding membuat ibunya tersingkir telak dari kehidupan sang kekasih hati. Sungguh kisah cinta yang tragis.
👸
👸
Dikantor, Kent terlihat tak tenang. Pikirannya terus memikirkan Jess di rumah sakit. Padahal Ben baru saja mengirimkan video Jess yang sedang makan juga tengah bercanda ria dengan adik-adiknya.
Namun justru video tersebut membuat Kent semakin tak tenang. Rasa ingin mengunjungi wanita itu kian besar. Tapi pekerjaannya masih sangat menumpuk.
Tok tok tok
Klek
Terlihat seorang wanita cantik dengan baju yang cukup membuat kelakian para pria berontak nakal. Sekretaris Kent tersebut memang terkenal memiliki style pakaian yang serba kurang bahan.
Namun wanita cantik dan seksi tersebut tak pernah melakukan hal diluar batasannya terhadap sang atasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Apakah wanita itu salah satu calon lakor? kuy scroll bab selanjutnya gengs 🤭😁
__ADS_1
lope lope para kesayangan buna Qaya 🥰🤍🥰