
Edisi promo ya sedulurku terkasih 🤭😁
...----------------...
Pelangi memandangi kaca pembatas antara dirinya dengan sang kakek. Wanita itu baru saja melahirkan bayi perempuan dan bayi laki-laki melalui operasi sesar.
Pelangi baru mengetahui perihal siapa dirinya dua hari yang lalu, saat tanpa sengaja dia mendengar percakapan sang suami dengan ayah mertuanya.
Wanita itu mengalami kontraksi hebat karena syok berat. Pelangi pendarahan dan langsung pingsan tanpa sempat kembali ke kamarnya.
Untung saja Ratna lekas menemukan sang majikan dalam kondisi bermandikan darah segar. Gadis muda berteriak histeris kala mendapati pemandangan mengerikan tersebut. Dan berhasil menghentikan obrolan antara Drex dan ayahnya.
Drex yang melihat kondisi istrinya, bagai orang kesetanan. Pria itu menggendong tubuh bulat istrinya menuju lantai bawah tanpa mengingat, jika di rumah nya ada fasilitas elevator.
Dan di sinilah wanita muda itu berada. Memandangi sang kakek yang masih terbujur tanpa daya di atas ranjang di ruang ICU. Walau perih di perutnya masih belum reda, Pelangi tetap ingin melihat kondisi kakeknya secara langsung.
"Bangunlah kek, apa kau tak ingin memelukku? aku telah memberikanmu dua cicit perempuan. Bukankah kakek sangat menyukai bayi perempuan? bukalah kedua matamu kek, tatap aku dan katakan kau menyayangiku agar aku tak terlalu marah padamu karena membiarkan aku hidup dalam kekurangan bersama para pengasuhku." Kini Pelangi tau, jika yang merawatnya selama ini, adalah Dirga sang ajudan kepercayaan sang kakek serta istrinya.
Keduanya sengaja di asingkan dengan kehidupan yang nampak serba pas-pasan. Namun di balik itu, segala kebutuhan Pelangi selalu tercukupi. Sayang keduanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan yang di sebabkan oleh orang-orang suruhan Sasongko. Mereka berusaha menyelamatkan sang nona muda, dengan mengalihkan rute perjalanan memutar ke arah jalan berbatu di tepi jurang terjal.
Itu kenapa hidup Joe semakin tak tenang. Semakin hari sikapnya semakin menyebalkan. Karena keresahan hati seorang kakek, yang takut kehilangan cucu kesayangannya.
Tiga tahun hidup Pelangi tanpa kedua orang tua angkatnya, membuat jiwa Joe bagai melayang di awang-awang. Ketentraman hati nya tak lagi ada.
Namun tak ada daya untuk menjemput sang cucu pulang, malah akan membuat pengorbanan mereka sia-sia. Jalan satu-satunya adalah memancing perkeruhan. Jeff sengaja di pertemuan dengan Pelangi pada malam kelabu itu.
Di mana kedua preman waktu itu, adalah orang-orang suruhan sang kakek. Jeff sengaja di arahkan pulang di waktu yang bertepatan. Semua sudah di rancang, oleh si cerdik Joe yang bagi mereka licik dan arogan.
Namun siapa sangka, kesalahpahaman malah terjadi. Pemer kosaan sang cucu, luput dari pantauannya. Hingga Joe akhirnya kehilangan jejak Pelangi, dan itu sukses menjadikan Joe kian bersikap arogan dan kejam.
Pria tua itu tak tau pada siapa dirinya melimpahkan rasa marah dan kecewa. Terlebih saat mengetahui, jika tuan muda keluarga Connor lah yang merenggut masa depan sang cucu kesayangan.
__ADS_1
Kembali ke masa kini, Drex berlutut di samping kaki sang istri. Memandang wanita itu dengan iba.
"Kakek akan segera bangun. Dokter sudah mengatakan, jika kakek hanya butuh waktu istirahat lebih banyak. Sekarang ayo kita kembali. Apa kau tau, jika kecebong kembar kita mulai gila-gilaan paduan suara di ruangan bayi? para suster mulai kewalahan untuk menjadi juri kedua bayi mungil kita itu. Ayo kita ke sana, mari lihat siapa yang jadi pemenangnya" Pelangi tersenyum tipis.
Sekali lagi, sang mantan Casanova berhasil membujuk sang istri dengan kalimat absurd nya.
Pelangi akhirnya mengangguk setuju. Mereka meninggalkan ruangan Joe menuju ruangan bayi. Di dalam ruangan nya, Joe menggerakkan jari-jarinya tanpa sepengetahuan siapapun.
"Wow boy! kau harus berbagi dengan saudarimu. Terlebih kau harus menyisakan bagianmu untuk ayah," ucap Drex berbisik di telinga sang anak.
Pelangi menepuk pelan lengan kekar suaminya dengan kesal.
"Jangan berbicara sembarangan pada bayiku," sergah Pelangi marah.
"Hei, mereka bayiku juga sayang. Kau lupa aku begitu rajin menyirami mereka agar tumbuh sehat seperti ini?" sahut Drex tanpa beban. Tanpa peduli ada berapa pasang telinga yang mendengarnya.
"Dasar bocah gendeng!" omel Hendrik pada sang anak dari balik tirai.
Sungguh Hendrik merasa sangat dongkol menghadapi mulut lemes putranya.
"Sudah..sudah! seperti bocah saja kalau bertemu," sungut Nadya menyela. "lihat cucu eyang lagi bobo anteng. Venus pintar nak ya, duh gemesnya cucu eyang uti." Ujar Nadya begitu gemas terhadap sang cucu perempuan yang di beri nama Venus oleh Drex.
Dan Bumi untuk nama sang anak laki-laki. Karena mereka kembar, maka Drex mengurut deretan jajaran planet terdekat sebagai nama kedua anaknya. Venus dan Bumi. Lalu Mentari sang anak sulung sebagai penerang bagi kedua planet tersebut.
"Lihat jeng, cucu kita lucu ya... nanti kalau sudah besaran dikit sudah bisa di ajak pergi arisan sama ngemall deh. Duh jadi tidak sabar tunggu dua tahun lagi." Tak henti-hentinya Nadya berceloteh tentang cucu perempuannya.
Sedang Salia sibuk memandangi sang cucu dengan perasaan membuncah. Ada penyesalan karena tak bisa merawat sang anak sedari kecil. Namun semua demi kebaikan bersama Salia tak dapat memutar waktu.
Seperti memahami keterdiaman sang besan, Nadya mengusap lengan Salia dengan lembut.
"Yang lalu biarlah berlalu, kita tak hidup di masa itu. Jalani apa yang ada sekarang, nikmati selagi Tuhan masih berkenan. Lihat, kita sudah memiliki banyak cucu, artinya kita sudah semakin menua. Jangan sia-siakan waktu untuk sebuah penyesalan. Tak akan membawa kebaikan," nasihat Nadya bijak.
__ADS_1
Salia mengangguk paham.
Wanita itu memangku sang cucu perempuan pertamanya dengan penuh sayang. Mentari pun anteng tanpa membuat kegaduhan. Seperti memahami, jika kedua adiknya lebih membutuhkan perhatian lebih.
Srekk
Drex membuka tirai kala Bumi sudah terlelap kekenyangan setelah melahap habis sumber kehidupan dari tubuh sang ibu.
Drex terlihat mencebik, merasa kini dirinya telah memiliki seorang pesaing.
"Padahal aku berharap memiliki anak perempuan semua, agar aku tetap menjadi yang paling tampan di dalam rumah." Gerutu Drex saat membaringkan sang anak di atas kasur bayi di atas karpet lantai.
Plak!
"Susuku habis!" seru Drex melatah. Lagi-lagi pria itu mendapatkan tabokan sayang dari sang ayah setelah kulit punggung nya di belai mersa telapak tangan sang ibu.
"Cangkemmu!" desis Nadya dan Hendrik bersamaan.
"Apa sih? suka banget aniaya anak sendiri. Heran," dumel Drex mengusap lengannya.
"Makanya kalau bicara itu kalimat di jaga. Mau anak laki-lakimu nanti besar jadi belok? kata-kata itu harapan, paham?" omel Nadya kesal.
"Ck, kan aku cuma berkata andai. Aku kan tim nya kakek. Pecinta anak perempuan," dalih Drex mengkambinghitamkan pria tua yang bahkan masih belum sadar dari koma nya. Sungguh cucu menantu kurang asam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yang berkenan aja ya, silahkan mampir. Udah otw tamat tinggal beberapa bab lagi, ini bab 68 ya. Lagi seru-serunya menuju ending.
Judul\=> BUCINNYA PRIA AROGAN
Tar author spil lapak nya di komentar kalau berminat mampir. Intip-intip saja dulu, siapa tau lama-kelamaan tertarik 😆😆
__ADS_1