Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 29


__ADS_3

Kita mulai memasuki babak kebucinan seorang Kent Rahardjo 😍😍


Kuy komen yang banyak untuk menyemangati Kent dalam meraih hati Jess 😘😘


...----------------...


"Maaf merahasiakan hal sebesar ini dari kakak. Terutama dari mama dan papa. Aku belum memiliki keberanian untuk mengatakan kejadian yang sebenarnya. Aku takut mama akan marah dan syok jika tau kecelakaan maut itu sudah di persiapkan oleh seseorang." Ujar Kent membuka pembicaraan.


Queen terlihat fokus menatap pigura, di mana ada seorang balita yang sedang di pangku oleh seorang wanita cantik yang sangat dia sayangi. Sang ibu. Dan balita berusia satu tahun itu adalah sang adik. Bayi polos dan lucu yang di culik oleh ART mereka belasan tahun silam.


Itulah kenapa Rendra bisa menjadi bagian dari keluarga Rahardjo. Pertemuan tak sengaja di lampu merah, membawa Rendra menjadi seorang Rahardjo muda.


Senyum anak remaja itu membuat nyonya Rahardjo seakan melihat senyum polos bayinya yang telah hilang. Dan jadilah Rendra di adopsi oleh keluarga konglomerat kaya raya tersebut. Dan menjadi anak pertama yang di adopsi di panti asuhan milik bu Maria kala itu.


Bukan untuk niat mendapatkan seorang donatur, namun mendengar kisah pilu nyonya Rahardjo. Membuat sisi keibuan Maria tersentuh sangat dalam. Rendra pun tak menolak, dan akhirnya mereka berpisah. Namun Rendra tetap peduli pada adik-adiknya. Terutama Jess yang sangat dia sayangi sejak kecil.


Rendra di bawa oleh Yusuf, suami Maria ke sana saat Rendra berusia lima tahun dan Jess tiga tahun. Kala itu Rendra terlihat linglung di lampu di depan sebuah minimarket karena seharian mengamen dan belum makan apapun sejak kemarin. Hati Yusuf tergerak untuk menjadikan anak malang itu sebagai putra sulungnya.


Kembali pada Kent di masa sekarang.


"Mama dan papa masih belum melupakan peristiwa hilangnya Kaylo. Kakak berharap, Kaylo di rawat dengan baik oleh siapapun yang menemukannya di suatu tempat. Sama seperti kita menyayangi Rendra dalam keluarga kita." Ucap Queen dengan suara bergetar.


Setegar apapun dirinya, Queen tetaplah seorang wanita dengan hati yang lembut. Kent berjalan kemudian memeluk tubuh sang kakak. Kini hanya tinggal mereka berdua.


"Kau adalah tumpuan keluarga setelah Rendra tiada. Jadilah pria tegas sekali saja. Tak selamanya kau mampu menjadi dua orang Kent untuk dua orang wanita. Oundakmu pun bisa lelah jika terus kau tumpuk beban berat, tanpa ada niatan untuk melepaskan beban tersebut. Kau bisa bertanggungjawab terhadap Eli tanpa harus terikat pernikahan yang tak pernah kau inginkan." Nasehat Queen bijak.


Kent tak mampu menjawab. Pria itu bergeming dalam diam seperti sebelumnya. Ada hutang nyawa yang harus dia tebus seumur hidupnya pada Eli. Karena dirinya, Eli kehilangan sosok ayah. Entah bagaimana bisa Rendra terlibat hubungan dengan Melisa, yang pasti Eli telah hadir di antara keduanya.


Queen mengurai pelukan lalu menatap sang adik.


"Diammu akan membuat mu kehilangan smuanya kelak. Jess yang sabar juga memiliki batas kesabarannya. Melisa yang ambisius akan mendapatkan kemenangannya setelah berhasil menyingkirkan Jess dari kehidupanmu. Semua pilihan ada di tanganmu, Kent. Bukan aku, mama atau papa. Kami hanya faktor pendukung untuk mencapai puncak kebahagiaanmu. Kaulah pemain yang sesungguhnya. Kami hanya pendukung." Tukas Queen sebelum meninggalkan Kent yang masih mematung.


πŸ‘ΈπŸ»


πŸ‘ΈπŸ»


Di panti, Jess terlihat sedikit gelisah. Kent tak memberinya kabar apapun. Terbersit niat untuk menghubungi pria itu terlebih dahulu, namun gengsi mengambil alih hatinya


"Sudah lupakan dia Jess, kau hanya perlu membiasakan diri terhadap sikap tarik ulur pria itu. Anggap saja perhatiannya sebagai bagian dari tanggung jawab sebagai seorang suami. Jangan berharap lebih." Gumam Jess berusaha menyemangati hatinya yang resah.

__ADS_1


πŸ‘ΈπŸ»


πŸ‘ΈπŸ»


Kent memilih tidur di ruang kerjanya. Meski tak nyaman tidur di sofa, Kent Lebih memilih jalan aman dari gangguan Melisa


Di dalam kamar, Melisa sidah bersiap dengan baju dinasnya. Dia akan berusaha merayu Kent dengan minuman racikannya. Jiwanya ketar ketir menghadapi kemungkinan akan di depak dari kehidupan pria itu. Dengan membuat Kent terjerat dalam permainannya. Maka dia akan dengan mudah mengendalikan kehidupan pria itu.


Namun hingga pukul 11 malam, Kent tak kunjung masuk ke dalam kamar. Dengan hati dongkol, Melisa meneguk minuman yang seharusnya dia berikan pada Kent.


Dan Melisa sadar akan kecerobohannya, wanita itu berjalan keluar menuju ruang kerja Kent dengan terburu-buru. Namun sayang pintu ruang kerja pria itu di kunci dari dalam. Kent tak seceroboh itu, dengan membiarkan pintu ruangannya tak terkunci rapat.


Melisa mulai gelisah. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Obat yang dia gunakan memiliki dosis yang kuat. Dengan tertatih, melisa kembali ke kamarnya. Wanita itu bahkan tak sempat berganti pakaian. Hanya menggunakan mantel panjang, Melisa meraih tas juga kunci mobilnya. Tujuannya hanya satu, club malam.


Dimana para mangsa siap sedia tanpa susah susah mencari orang yang bersedia menghangatkan tubuhnya. Melisa ingin segera menuntaskan hasrat di dalam dirinya.


Sesampainya di club malam, entah suatu keberuntungan atau kesialan. Melisa kembali bertemu dengan bule sialan yang berbagi peluh dengannya beberapa waktu lalu.


Karena terdesak oleh keadaan, Melisa tak membuang waktu lama. Keduanya kembali beradu di atas ranjang hangat untuk mengejar puncak.


Malam yang terasa panjang, karena dosis yang Melisa konsumsi rupanya tak bisa berhenti hanya dengan sekali dua kali permainan. Dan si pria asing tersebutlah yang merasa di untungkan.


Di rumah Kent menatap layar ponselnya bolak-balik. Berharap sang istri menghubunginya terlebih dahulu. Namun hingga tengah malam, Jess tak kunjung menghubunginya. Bukannya dia tak mendengar suara handle pintu yang berusaha di buka paksa oleh Melisa. Namun Kent memilih pura-pura tidak mendengar.


Satu kali panggilan tak mendapatkan respon, panggilan kedua Kent mulai gelisah. Namun di ujung panggilan tersambung, panggilannya di jawab oleh Jess.


Senyum lebar menghiasi sudut bibir Kent.


"Apa kau sudah tidur?" Sungguh pertanyaan yang seharusnya tak perlu.


"Apa kau tak punya jam di sana?" Balas Jess balik bertanya. Kent terkekeh kecil.


"Aku terlalu merindukanmu, sampai lupa melihat pukul berapa sekarang. Katakan, apa kau juga merindukanku?" Tuntut Kent meminta jawaban.


Jess mencebik di ujung telepon.


"Kenapa menghubungiku selarut ini? Apa kau menunggu istrimu terlelap terlebih dahulu?" Balas Jess dengan nada tak enak di dengar. Kent semakin tersenyum lebar. Dia tau apa yang wanita itu pikirkan.


Menghubungi di jam segini, seseorang pasti akan berpikir jika Kent baru saja melakukan sesuatu di sana.

__ADS_1


"Maaf, kakakku datang tiba-tiba dan aku terpaksa menginap di rumah kita. Aku bahkan tidur di ruang kerja, punggungku sakit semua. Pijit aku besok. Aku juga sepertinya masuk angin, aku lupa membawa selimut." Cerita Kent meminta simpati Jess.


Jess mencibir sikap Kent yang seolah memperlihatkan kesetiaan padanya.


"Kau punya kamar yang nyaman dan istri yang siap menghangatkan mu. Kenapa harus menyusahkan diri seperti itu." Ketus Jess. Entah mengapa emosinya menjadi sedikit labil. Sikap Kent beberapa waktu ini yang memperlakukannya layaknya seorang istri tercinta. Jelas membuat wanita mana saja akan terkesan dan melambung tinggi.


"Ck! Aku tak seperti itu. Lihatlah..." Panggilan berubah menjadi panggilan video. Wajah Kent mendominasi layar ponsel Jess. Sedangkan Jess menarik selimutnya hingga batas leher.


Wanita itu memakai daster dengan potongan dada sedikit rendah. Kent bahkan sampai melotot melihat pemandangan lanka tersebut.


"Kenapa bajumu seperti itu?" Protes Kent tak suka.


"Kenapa dengan bajuku? Ini hanya daster tidur, apanya yang salah?" Tanya Jess polos.


"Ck! Jangan biarkan pria lain masuk ke dalam kamarmu, kecuali ibu dan Yulia. Awas saja jika kau berani mengijinkan Ben apalagi si pemarah Kevin masuk ke sana. Ku habisi kau tanpa sisa." Ancam Kent terlihat gregetan sendiri.


Pria itu duduk dengan gelisah di kursi kerjanya.


"Mana bisa seperti itu, aku membutuhkan bantuan kedua pemuda tampan itu untuk membantuku beraktivitas." Sahut Jess menahan kedutan senyum di bibirnya.


"Hei! Jangan berani-berani, awas saja jika ksu berani mengundang mereka masuk ke kamar kita?!" Ujar Kent penuh peringatan. Matanya bahkan sampai melotot tajam ke arah layar ponselnya.


Membuat tawa Jess pecah seketika. Tawa lepas tanpa beban, yang pertama kali Kent lihat. Sungguh ciptaan Tuhan yang mahadahsyat. Kent sampai terpana tanpa mampu berkata-kata.


Blip


Jess menghentikan tawanya, wanita itu mematung melihat layar ponselnya kini sudah menampilkan wajah seorang pria tampan di sana.


"Apa dia marah karena aku menertawainya? Ck! Dasar childish." Gerutu Jess. Tanpa niat untuk menghubungi kembali, Jess memilih untuk melanjutkan tidur nyenyaknya yang sempat terganggu.


Tanpa tau, jika Kent sedang mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan. Pria itu terpancing rasa gemas yang amat sangat melihat tawa lebar Jess. Tanpa berpikir panjang, Kent lekas pergi ke rumah di mana sang istri berada. Kerinduannya sudah memuncak hingga tak dapat lagi terbendung.


Kini Kent mulai tau kemana arah hatinya memilih untuk pulang. Jess adalah rumahnya, wanita itu adalah cinta sejatinya. Wanita yang akan dia perjuangkan meski harus merelakan Eli dari kehidupannya. Sudah saatnya dia memikirkan kebahagiaan dan kebebasan jiwanya, yang selama ini terkungkung oleh rasa bersalah dan tanggungjawab sepihak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Sudah mulai senang gak Kent sudah memilih untuk menentukan pilihan??

__ADS_1


jangan lupa jempolnya ya gaesss πŸ€—πŸ™


lope lope para kesayangan buna Qaya πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2