Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 19


__ADS_3

kita intip kebobrokan Melisa sejenak yuk🤭


Semoga saja Kent lekas mengetahui nya dan menghempas wanita siluman itu dari kehidupan nya dengan mudah.


...----------------...


Meninggalkan Kent yang dirasa berhasil membujuk Jess. Melisa tengah menikmati hari malam tanpa kehadiran Kent bersama seorang pria di sebuah kamar hotel.


Sisa peluh surgawi yang baru saja ke-duanya rengkuh, masih terlihat jelas di tubuh polos tersebut.


"Sayang? Kapan kau akan memberikanku modal usaha yang kau janjikan itu? Rekanku sudah mendesak agar aku segera berinvestasi dalam proyek besarnya di Singapura. Sayang jika dilewatkan. Kau pun akan mendapatkan keuntungan besar jika proyek besar itu berhasil." Rajuk si pria sembari bermain nakal menggunakan satu tangannya.


Dengan mata terpejam, Melisa berusaha memberikan pengertian.


"Aku masih berusaha membuat Kent mempercayaiku sepenuhnya sayang. Kau tau jika selama ini Kent memberikanku jatah bulanan yang tak seberapa. Aku bahkan sering menilap uang jatah Eli diam-diam, dan Kent ternyata mengetahuinya. Jika Kent sudah berada dalam kendaliku, maka aku akan dengan mudah menguasai seluruh asetnya. Dan kita tak akan kekurangan uang lagi untuk bersenang-senang." Jawab Melisa membelai dada bidang kekasihnya.


"Kau payah. Apa gunanya kau melakukan permak tubuh setelah melahirkan anak Sialan itu. Toh Kent sampai sekarang masih belum pernah menyentuhmu. Beri dia obat perang sang, semua akan mudah setelah itu. Kau hanya perlu mengambil alih permainan dan membuatnya terus meminta setiap saat." Sungut si pria terlihat kesal.


Melisa mendelik. Dia memang melakukan operasi plastik untuk memperbesar dadanya, juga mempermak bekas operasi kelahiran Eli. Agar perutnya kembali kencang seperti semula. Namun Kent tak pernah tertarik padanya meski beberapa kali dia meminta haknya sebagai seorang istri.


Kent lebih memilih menginap di hotel jika sudah berada dalam desakan tersebut. Itu membuat Melisa uring-uringan.


"Aku melakukan permak juga agar kau tak berpaling dariku. Lihatlah, kau yang rakus menikmati hasil permakan di tubuhku, bukan?" Rajuk Melisa menepis tangan nakal kekasihnya yang sejak tadi sibuk memelintir puncak da danya.


"Jangan marah sayang. Aku hanya bercanda, maafkan aku. Kau benar, aku mana bisa tak tergoda setiap saat. Milik istriku sudah kendor dan tak lagi menarik. Aku bahkan selalu mati rasa saat berada di dekatnya. Berbeda saat bersamamu, milikku langsung tegak sempurna." Ujar si pria berusaha membujuk.


Pria itu takut kehilangan sumber uangnya. Tanpa perlu bekerja keras, dia bisa mendapatkan cuan hanya dengan membuat wanita itu melayang penuh kenikmatan.


Melisa yang kadung kesal tak menggubris. Wanita itu turun dari ranjang tanpa peduli dengan tubuhnya yang masih polos.


Melihat pemandangan indah di depan mata, si pria kekas beranjak dari ranjang. Memeluk tubuh sintal hasil bedah plastik tersebut dengan penuh minat.


"Jangan marah oke? Ayo kita ulangi pendakian gunung dan menyusuri lembah. Aku yang akan bekerja kali ini." Ucap si pria tak menyerah.


Melisa mulai hanyut oleh sentuhan-sentuhan liar yang menggerayangi lekuk tubuhnya.


Kejadia penuh peluh tersebut pun kembali terulang. Dalam jangka waktu yang cukup lama dari yang sebelumnya.


Sementara di rumah, Eli mengalami demam tinggi. Bi Sum dan Yuni sangat mencemaskan gadis kecil tersebut. Sedangkan nomor ponsel Kent belum bisa di hubungi, begitupun dengan Melisa.


"Kita bawa saja ke rumah sakit Yun, bibik takut non Eli kenapa-kenapa. Kita akan di salahkan jika sesuatu sampai terjadi pada non Eli." Tukas bi Sum dalam kecemasannya.


"Tapi aku tidak punya duit bik, biaya rumah sakit kan mahal. Wong baru kerja sehari sudah di pecat kok." Keluh Yuni bersungut-sungut.


"Bibik ada, tidak banyak semoga cukup." Tutur wanita itu yakin.


"Ada berapa bik? Kalau cuma seratus dua ratus ribu mana cukup. Orang kaya mana make BPJS. Auto malah bibik yang di rawat akibat serangan jantung mendadak. Kita coba hubungi nomor yang di kasih sama tuan tempo hari saja. Ingat tidak? Tuan bilang kalau bibik butuh sesuatu untuk menambah kekurangan di dapur. Bibik di minta menghubungi nomor yang di tempel di tembok dapur?" ujar Yuni berusaha mengingatkan bi Sum.

__ADS_1


Bik Sum seolah mendapatkan siraman air surga. Wanita itu baru teringat akan pesan pesan sang tuan tempo hari ketika baru saja mulai bekerja.


Entah nomor ponsel siapa, yang jelas itu adalah satu-satunya harapan mereka sekarang.


Bergegas Yuni berjalan menuruni tangga untuk mengambil secarik note yang di tempel oleh sang tuan di dapur. Setelah mendapatkan nya, Yuni langsung menghubungi nomor tersebut.


Dua kali panggilan tak di jawab, Yuni semakin gelisah. Hingga panggilan ketiga, barulah di jawab. Hati gadis itu lega.


"Hallo?" Yuni terdiam, tak mungkin itu adalah istri sang tuan. Nada suara yang begitu hangat dan lembut sangat berbeda dengan istri sang tuan.


"Maaf jika saya mengganggu, ini mbak eh aduh..manggilnya apa ya.." gadis itu mendadak bingung sendiri.


"Panggil Jess saja, maaf ini dengan siapa ya?" Sahut Jess lembut.


"Ini saya Yuni, mbak. Saya yang ngasuh non Eli, tapi udah di pecat sih sebenarnya..." Sempat-sempatnya gadis itu bergumam curhat di ujung kalimatnya.


"Lalu?"


"Jadi gini mbak, ini, non Eli demam tinggi. Nyonya Melisa sudah tak pulang beberapa hari. Nomor tuan Kent juga tak bisa di hubungi. Kami tak memiliki uang yang cukup untuk membawa non Eli ke rumah sakit. Jadi...." Tut tut Tut


Yuni tertegun, melihat layar ponselnya yang sudah menampilkan wajah lebar sang ibu.


"Dasar tidak sopan. Main matiin saja, untung aku make paket nelpon gratis sepuasnya. Suaranya aja yang kalem, ishh ngeselein!" Sungut Yuni jengkel. Mau tak mau mereka harus merawat Eli dengan upaya seadanya. Obat penurun panas tak berpengaruh banyak untuk menurunkan demam gadis kecil itu. Kini hanya kompres hangat yang bisa mereka lakukan.


Berselang 25 menit berlalu, suara derap langkah terdengar dari arah tangga. Yuni dan bik Sum tersenyum lega. Mereka pikir sang tuan telah datang. Nyatanya, seorang wanita yang di gendong oleh seorang remaja pria, dan seorang pria dengan setelan kemeja dan celana kain. Serta sebuah tas di tangannya.


"Eli mana?"


"Periksa dia Jon..."


Yuni dan bi Sum hanya berdiri mematung melihat seseorang yang rupanya seorang dokter tersebut mulai memeriksa sang nona.


"Sejak kapan dia demam?"


"Kemarin pagi pak dokter, tapi siang sampai Sore kemarin sudah mulai membaik. Non Eli diam-diam minum susu kotak di kulkas ketika kami tak melihatnya. Jadi ya, ini dok. Demam lagi.." jelas Yuni dengan nada takut-takut.


"Maafkan kami nyonya, kami tak bisa menjaga non Eli dengan baik." Lanjut bi Sum pada Jess yang masih menggenggam jemari Eli.


Yuni mematung, mendengar bi Sum memanggil wanita muda di hadapannya dengan sebutan nyonya.


"Tidak apa bi, terimakasih sudah menjaga Eli. Ini bukan salah siapapun, Eli akan baik-baik saja. Jon?"


"Aku akan memberikan cairan infus untuk membantu memulihkan kondisinya. Aku juga akan memberikan beberapa injeksi melalui cairan infus. Kau sudah menghubungi suamimu?"


Jess menggeleng pelan. Nomor ponsel Kent tak bisa dia hubungi. Pria itu pamit padanya akan melakukan pertemuan penting dengan seorang klien dari Singapura.


"Si brengsek itu beruntung mendapatkanmu sebagai istrinya. Jika pria bo doh itu sudah menentukan pilihannya, katakan padaku apa hasil akhirnya. Aku siap menerima jandanya yang cantik jelita bagai bidadari ini." Seloroh Jon.

__ADS_1


Pria itu merupakan sahabat Kent, dan sudah mengenal baik Jess. Jon bertugas sesekali ke panti kala waktu senggangnya. Semua atas perintah tuan dan nyonya Rahardjo.


"Becandamu suka kadang-kadang, Jon." Ujar Jess tersenyum simpul.


"Jadi kau yang menghubungiku tadi?" Tanya Jess menatap ke arah Yuni. Gadis itu tersenyum kikuk seraya mengangguk pelan.


"Maaf aku langsung mematikan panggilanmu, aku panik lalu menghubungi dokter ngenes ini." Ujar Jess terkekeh mencairkan suasana.


"Hey, perhatikan ucapanmu nyonya. Aku hanya belum menemukan wanita yang cocok. Tapi sepertinya aku sudah melihat hilal ku di seberang ranjang. Eh, maksud ku di seberang lautan." Jon tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi.


Yuni yang merasa di tatap oleh dokter ganjen tersebut, menunduk malu-malu.


"Berhentilah menggoda setiap gadis yang kau temui. Mereka bisa melakukan konspirasi suatu saat nanti. Bisa saja kau di temukan berupa potongan tubuh yang tak utuh di tempat pembuangan akhir." Jon mendelik tak suka.


"Enak saja. Aku hanya mencoba mencari wanita yang memenuhi kriteriaku. Apa salahnya jika aku sedikit menyeleksi. Mereka saja yang terlalu baper." Sanggah Jon tak terima.


"Ya ya, kau sudah selesai bukan? Sekarang pergilah, Kent akan membayarmu seperti biasanya." Jon semakin kesal, niat hati sengaja berlama-lama di sana agar bisa merayu pucuk yang sedang kuncup. Kini malah di usir sang tuan rumah tanpa perasaan.


"Ck! Aku bahkan belum membuatkan resume untuk pasienku. Kau seenaknya mengusirku tanpa perasaan." Dengus Jon.


Selesai menyimpan peralatannya, Jon mengerling ke arah Yuni yang kebetulan sedang menatap ke arahnya. Membuat tubuh gadis itu serasa melayang di udara.


"Jon! Pulanglah, kau sudah tak di perlukan lagi." Ingat Jess kembali mengusir.


"Dasar wanita kejam." Omel Jon menatap jengkel.


Sebelum Jon keluar, seorang pria berjalan dengan langkah lebar memasuki kamar.


"Sayang? Bagaimana bisa kau kemari padahal keadaanmu belum membaik. Ibu mengatakan kau pergi bersama Ben tergesa-gesa setelah mendapatkan panggilan. Aku baru menyalakan ponselku. Ada pesan dari bi Sum jadi aku memutuskan untuk kemari terlihat dahulu sebelum ke panti." Cecar Kent dengan nafas tersengal-sengal.


Pria itu berlari dari parkiran menuju lantai atas tanpa jeda.


" Inhale exhale! Lakukan secara perlahan tuan Kent Rahardjo, wanitamu ini masih sangat muda dan tentunya sangat cantik. Aku akan menjadi orang pertama yang mendaftar untuk mengantri jandanya jika kau tewas."


Kent melempar bantal guling ke arah Jon dengan wajah kesal.


"Jika aku mati, semua pria di muka bumi ini akan aku bawa mati masal bersamaku. Terutama kau, buaya rawa!" Ketus Kent menatap tajam pada sahabatnya.


"Suamimu mengerikan nyonya, aku lebih baik pulang saja. Aku terlalu dini untuk mati sekarang. Malaikat pun tau, aku terlalu unyu untuk berpulang di usia semuda ini." Selesai dengan kalimat pelopor pertikaian, Jon bergegas pergi dari kamar tersebut.


"Kenapa kau bisa sampai kemari? Bagaimana kau jalan? Siapa yang lancang membawamu pergi tanpa ijin dariku?" Kent kembali mencecar Jess dengan berbagai pertanyaan.


Ben memilih pamit keluar dengan alasan ingin minum. Kerongkongannya mendadak seret mendengar kalimat cecaran Kent tak berjeda. Dia tak ingin terlibat dalam permasalahan rumah tangga sang kakak. Lebih baik kabur demi menyelamatkan masa depannya.


...----------------...


......................

__ADS_1


Komen yang banyak buat Melisa, hujat dia dengan kalimat mutiara terindah 😁


Lope lope para kesayangan buna Qaya 🥰🥰🥰


__ADS_2