
Kent menatap nanar wajah tirus di hadapan nya dengan hati perih. Lalu tatapan nya beralih pada ranjang bayi yang berada persis di samping ranjang sang istri.
"Kau tak ingin membuka kedua matamu sayang? kedua anak kita menantimu terbangun tanpa lelah setiap hari. Mereka sangat ingin mendengar suaramu menimang mereka dengan lagu Nina bobo saat waktunya mereka ingin tidur. Akupun merindukanmu, bangunlah sayang, ini sudah terlalu lama." Curhat Kent mengeluarkan isi hatinya yang terpendam selama hampir tiga bulan ini.
Pria itu terlihat begitu menyedihkan, Kent bahkan tak mengurus dirinya dengan benar selama Jess koma.
Kent tersentak kala mendengar suara tangisan bayi nya. Lekas pria itu mengusap kasar air mata nya sambil bergegas menghampiri sang anak.
"Kau harus sayang? sebentar, ayah akan memanaskan ASI untuk mu terlebih dahulu." Ujar Kent berjalan sembari menggendong sang anak menuju lemari penyimpanan stok ASI.
Kent menerima stok ASI tersebut dari Bank ASI di rumah sakit bersalin. Kedua anaknya rupanya alergi susu sapi juga rentan terhadap kacang-kacangan. Sehingga mengkonsumsi susu soya pun, membuat keduanya mengalami alergi parah pada kulit.
Beruntung Kent mendapatkan informasi tentang Bank ASI tersebut, sehingga dirinya tak lagi di pusing kan oleh kebutuhan nutrisi kedua anaknya.
"Kau suka sayang? lihat pipi mu sudah seperti bakpao, bulat dan montok. Lihat kakakmu, dia bahkan masih tidur pulas jam begini. Kau harus belajar membatasi jumlah ASI yang kau konsumsi, atau tubuhmu akan bertumbuh ke samping daripada ke atas." Kelakar Kent pada bayi perempuannya.
Kedua bayi tersebut lah yang kini menjadi sumber semangat bagi Kent, saat sudah ingin menyerah pada kondisi Jess yang tak kunjung membaik. Melihat wajah polos kedua bayi nya, Kent sadar dirinya tak boleh egois. Meski kehidupan Jess hanya bertopang pada alat bantu, bukan berarti wanita itu sudah tak memiliki kesempatan untuk kembali menyapa dunia.
Jess hanya memerlukan waktu untuk menemukan jalan pulang. Mencari jejak yang mulai di tumbuhi ilalang rimbun, hingga membuat nya sedikit tersesat arah.
Tok tok tok
Kent menoleh ke arah pintu ruang rawat sang istri. Seorang wanita muda tersenyum hangat sebagai bentuk sapaan ramah. Kent membalasnya dengan senyum simpul.
"Masuklah Flo, Navya baru saja terbangun karena lapar." Ujar Kent ramah. Navya berarti wanita cerdas dan di hormati. Kent sangat berharap nama sang anak dapat menggambarkan karakter sang anak di masa mendatang.
"Kemari kan Kent, biar aku memangku bayi montok ini." Balas Flo mengulurkan tangannya ke arah baby Navya, sayang bayi gembul itu langsung menangis keras saat sang ayah akan memberikan nya pada orang lain.
"Seperti nya Navya tak ingin berjauhan dari ayahnya," Seloroh Flo tertawa kecil. Tawa yang menular pada Kent.
__ADS_1
Dua bulan ini, Navya rutin berkunjung ke sana semenjak di percaya sebagai ahli terapis bagi kedua bayi lucu itu. Navya mengalami kesulitan tidur nyenyak di malam hari satu Minggu pasca kelahiran. Berbeda dengan sang kakak yang justru hampir tak pernah menangis.
Jadilah wanita muda bernama Flora memiliki akses bebas untuk sekedar berkunjung di luar jam kerjanya. Meski awalnya Kent merasa risih, namun belakangan kehadiran Flora sedikit mengurangi kesepian nya.
Wanita itu pandai mencairkan suasana, sehingga Kent merasa nyaman mengobrol dengan nya. Bahkan tanpa sadar pria itu sedikit mencurahkan isi hati nya, tentang kehampaan hatinya kala menanti Jess yang tak kunjung terbangun.
Tanpa Kent sadari, dirinya baru saja menyirami minyak di atas tumpukan daun kering. Kedekatan itu juga membuat Mario juga Sadam mulai tak respek terhadap pria itu.
"Ah ya, aku hampir lupa. Aku kebetulan memasak banyak jadi ku putuskan untuk membawanya untukmu. Makanlah, taruh Navya di boksnya jika bayi mungil ini tak ingin bersamaku." Flora mulai mengeluarkan bekal yang memang sengaja dia persiapkan untuk Kent.
Wanita itu menata makanan di dalam piring untuk di hidangkan. Sedangkan Kent kembali menaruh Navya yang mulai mengantuk kembali ke dalam boks bersama sang kakak. Lalu Kent kembali menuju sofa dan duduk persis di samping Flora.
"Seperti nya lezat," ucap Kent mulai mengambil sendok. Pri itu tak henti-henti ya memuji masakan Flora, sehingga dia lupa jika masakan sang istri jauh lebih nikmat dari buatan koki manapun.
Rupanya benar kata pepatah, rasa itu akan hadir karena terbiasa. Begitupun dengan Kent, pria itu tanpa sengaja telah memupuk rasa nyaman terhadap wanita lain. Kehampaan hati akan kasih sayang dan perhatian seorang wanita, membuat Kent berteman dengan kata khilaf.
Tanpa keduanya Sadari, jika sejak tadi pemandangan itu di lihat dengan hati membara dari balik pintu yang tak tertutup rapat.
"Permisi, maaf jika kehadiran ku mengganggu. Lanjutkan saja, anggap aku tak ada." Ucap Sadam datar. Pria itu menghampiri boks sang keponakan untuk sekedar menyapa kedua bayi lucu tersebut meski dalam keadaan tertidur pulas.
Sadam beralih menuju ranjang Jess, pria itu duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Kent.
"Apa kabar mu hari ini cantik? kau masih belum menemukan rute pulang hmmm? padahal aku sudah mengirim sinyal darurat untuk mu di dalam mimpiku setiap malam. Sekarang aku mengerti kenapa kau begitu sulit untuk membuka kedua matamu. Bukan hanya rohmu yang tersesat, tapi jiwamu pun terjebak oleh keadaan yang tak pernah kau harapkan. Lanjutkan saja tidur panjang mu, sekarang kau tak perlu mengkhawatirkan apapun. Suami berikut kedua anakku telah menemukan calon ibu dan istri pengganti, bahkan sebelum kau berpulang. Bukankah itu luar biasa? kau tak perlu merasa sedih akan meninggalkan Kent dalam kesepian, karena pria itu telah menemukan tambatan hati yang lebih baik darimu." Celoteh Sadam penuh dengan sindiran tajam.
Kent meremat sendok di tangannya menahan perasaan yang mulai bergejolak. Sementara Flora merasa salah tingkah mendengar sederet kalimat yang jelas tengah menyindir kehadiran nya dalam kehidupan Kent serta kedua anaknya.
"Pergilah Jess, kau bebas sekarang. Kent tak membutuhkan wanita jelek sepertimu saat ada wanita cantik, dan yang pasti lebih menarik dari berbagai sudut pandang. Sudah seharusnya kau menyerah berjuang, karena akan percuma saja. Akan butuh waktu lama bagimu untuk bisa terlihat menarik di mata suamimu. Andai kau dapat melihat rupamu, kau sendiri pasti langsung merinding ngeri. Kau tampak sangat kurus dan tentunya sangat tak sedap untuk sekedar di lirik. Sedangkan wanita yang kini tengah duduk bersisian dengan suamimu, memiliki tubuh yang indah dan proporsional. Dan tentunya lebih cantik dan enak untuk di tatap dengan tatapan penuh damba. Sedangkan dirimu, kau nampak sangat menyedihkan."
"Hentikan Sadam! kau tak berhak mengatakan hal buruk pada istri ku." bentak Kent dengan emosi membuncah. Sadam tersenyum miring kemudian berbalik menghadap ke arah Kent. Tak lupa, genggaman tangan nya yang kini tengah di tautkan dengan jemari Jess, sengaja Sadam perlihatkan dengan jelas di hadapan sang sepupu.
__ADS_1
"Kenapa kau marah? benar bukan? Jess kini menjadi wanita jelek yang membosankan untuk di tunggu. Aku hanya ingin membantumu terlepas dari beban , itu saja. Tak selamanya kau bisa bertahan dengan wanita yang tak memiliki kesempatan untuk memberikan mu kebahagiaan dalam bentuk apapun. Kau pria normal, pasti membutuhkan perhatian dan sentuhan hangat seorang wanita. Dan ya, bukankah kau sudah mendapatkan nya sekarang. Denyut nadi istri mu bahkan masih berdenyut, tapi kau sudah mampu mencari pengalihan dari rasa frustasimu. Artinya kehadiran Jess bukan lagi sebuah prioritas, kau bebas. Saatnya untuk melepaskan, bukan malah menyiksa fisiknya dengan terus menyaksikan kedekatan kalian yang semakin hari semakin tak wajar." Balas Sadam ringan.
Pria itu bahkan mengecup punggung tangan kurus milik Jess penuh perasaan. Itu sukses membuat Kent meradang. Hingga adu jotos pun tak terhindari. Flora berusaha melerai malah terdorong oleh Kent tanpa sengaja ke sudut meja hingga dahi wanita itu terluka.
Kent menyadari tindakan bergegas membantu Flora duduk di sofa. Dengan telaten Kent memberikan pertolongan pada Luka lecet di kening Flora.
Dan sekali lagi, Sadam tersenyum miring sembari menggeleng pelan. Pria itu menyeka sudut bibir nya yang terasa perih akibat Bogeman mentah dari Kent.
"Kau bahkan sampai sepanik itu melihat wanita lain terluka. Apa kau sadar jika hatimu tak lagi sama? kau berubah hanya karena merasa lelah menunggu terlalu lama. Apa kabar jika Jess benar-benar tiada? mungkin saat itu juga kau akan langsung mengganti nya seperti menukar sebuah barang. Kau akan menjumpai sesal di kemudian hari saat kau sadar telah melukai berlian demi seonggok kerikil jalanan." Ucap Sadam pedas.
Flora menetes kan air matanya mendengar kalimat tersebut. Kent tak terima, pria itu kembali membentak sang sepupu hingga membuat sang anak kembali terbangun.
"Kau membentak ku hanya karena air mata seorang wanita penggoda? kau hebat bro, kau patut di berikan medali atas prestasi mu dalam hal kesetiaan yang kandas di tengah penantian." Ucap Sadam menghampiri boks sang keponakan lalu menggendong nya hingga kembali tenang.
"Kau tak berhak menghakimi ku, kau tak mengerti bagaimana rasanya menjadi diriku. Pria bejat seperti mu tak akan pernah memahami rasanya menjadi seorang ayah, sekaligus ibu untuk dua bayi sekaligus. Flora tak ada sangkut pautnya dengan situasi ku saat ini. Flora banyak membantu ku di saat tersulit ku, jika kau tak mengerti apapun lebih baik kau diam. Aku tak butuh ceramah dari seorang Casanova seperti mu." Tukas Kent menekan setiap kalimat nya.
Sadam menyeringai, "kau salah Kent. Aku lebih memahami mu lebih dari yang kau tau. Katakan padaku, siapa yang selalu ada untuk istri mu saat kau memilih pekerjaan dan meninggalkan wanita itu di rumah dalam kesepian? siapa yang selalu ada kala Jess sedang dalam kesulitan? siapa orang pertama yang hadir kala wanitamu tengah berjuang melawan maut demi membawa kedua anakku ke dunia ini? aku, pria yang kau Katai bejat ini. Pahamilah Kent, kau lah yang sedang tersesat saat ini bukan Jess. Jess telah menemukan jalan pulangnya sejak lama, hanya saja dia membutuhkan suaminya dengan hati yang utuh untuk menyambutnya kembali pulang." Setelah menaruh kembali Navya ke dalam boks nya, Sadam keluar dari ruangan Jess dengan membawa jutaan kekecewaan terhadap sang sepupu.
Di parkiran, Sadam tersenyum miris mengingat bagaimana Kent terlihat begitu khawatir terhadap wanita lain sedangkan istrinya sedang sekarat.
"Kau akan menyesali nya Kent, lihat saja permainan takdir akan membawamu kembali pada titik terendah untuk bisa meraih hati istri mu kembali. Saat itu tiba, aku akan maju untuk menjemput kebahagiaanku yang selama ini ku pinjamkan kepadamu. Dasar pria bodoh, hanya karena kesepian kau menerima perhatian wanita lain dengan tanpa berpikir panjang." Sadam memutar kemudi mobil nya menuju sebuah perumahan elit.
Pria itu baru saja membeli sebuah rumah mewah tiga lantai. Tentu saja semua karena Sadam telah memiliki sebuah untaian rencana dalam hidup nya ke depan.
Sedangkan di rumah sakit, Kent kehilangan moodnya meminta Flora untuk pulang. Meski awalnya wanita menolak dengan alasan ingin menemani Kent untuk mengurus kedua bayinya, namun Kent menolak dengan halus.
Tentu saja setelah di janjikan jika besok wanita itu boleh kembali lagi seperti hari-hari biasanya. Jelas itu membuat hati Flora berbunga-bunga. Ranjau cintanya telah mulai menjerat jiwa Kent yang tengah rapuh dalam keputusan asaan.
TBC
__ADS_1