
I'am back gaesss π€π€π
Jangan lupa jejak silumannya ya gengs, komen n like jika kalian suka cerita iniπππ
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
...----------------...
Di sebuah bandara internasional, terlihat dua orang paruh baya sedang berjalan menuju lobby sambil menyeret dua koper besar. Keduanya nampak tengah bercengkrama sembari terus berjalan menuju area penjemputan.
"Senang akhirnya bisa pulang. Bagaimana kabarmu Suny?" Sapa Utomo hangat pada sang sopir pribadi.
Pria muda itu menjawab sembari membalas senyum hangat sang tuan dengan sangat ramah dan sopan.
"Baik tuan. Saya juga senang bisa kembali bertemu dengan tuan dan nyonya. Rasanya seperti sudah sangat lama anda pergi dari negara ini. Seisi rumah besar sangat merindukan kepulangan tuan dan nyonya. Terutama mbok Ratri. Beliau sering melamun saat makan, karena sering menghabiskan waktu makan bersama nyonya jika tuan sedang bekerja." Cerita Suny bersemangat.
Selesai menaruh koper sang majikan, Suny mulai masuk ke dalam mobilnya. Tak ada drama membukakan pintu mobil untuk kedua majikannya itu. Karena Utomo selalu melaksanakannya sendiri dan itu sudah di jelaskan pada Suny sejak pertama kali pemuda itu bekerja padanya. Mereka bukan majikan semacam itu.
"Apa kau mengetahui kabar terbaru dari anak dan menantuku, Suny?" tanya Utomo memecahkan keheningan.
Suny sedikit terkejut, namun secepat kilat pemuda itu tersenyum meski sedikit kaku.
"Sepanjang pemantauan saya, hubungan nyonya muda dan tuan Kent sudah mengalami progres tuan. Tuan Kent bahkan sudah menceraikan wanita itu. Kini hubungan tuan Kent Terlihat semakin harmonis bersama nyonya muda." Lapor Suny sesekali melirik kaca spion.
Utomo nampak mengulas senyum puas. Tak salah dia mengirim seorang mata-mata ke rumah sang menantu kesayangan.
"Apa wanita itu sudah hengkang dari kediaman menantuku?"
"Menurut informasinya, belum tuan. Wanita itu seperti sedang merencanakan konspirasi jahat untuk tetap bertahan meski tak lagi menyandang gelar istri tuan Kent. Semua berdalihkan nona Eli sebagai alasan kuat wanita itu, untuk bertahan di kediaman tuan Kent." Lanjut Suny dengan laporan lengkapnya.
"Kau dengar mam, wanita tak tau malu itu berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari kehadiran putrinya. Malang sekali anak itu, harus terlahir dari rahim wanita ja la ng seperti Melisa." Tukas Utomo menoleh sekilas pada sang istri yang hanya diam menyimak, perbincangan tanya jawab antara sang suami dan sopir pribadi mereka.
"Apa papa ingin mama melakukan sesuatu?" tanya Isadora. Wanita berdarah rusia itu menatap manik sang suami sembari tersenyum penuh arti. Seringai serigala tercetak jelas di wajah pria paruh baya tersebut. Wajah yang masih terlihat rupawan di usia yang tak lagi muda. Itu sukses membuat tengkuk Suny meremang, kala tak sengaja ekor matanya menangkap sinyal mengerikan, dari ekspresi wajah kedua majikannya itu.
Di kediaman Kent.
__ADS_1
"Cius?" tanya seorang gadis was-was. Mendengar berita yang di sampaikan oleh sang sepupu membuatnya sedikit terkejut dan panik.
"Ah, baiklah. Apa nyonya dan tuan akan langsung kemari? jika ya, aku akan meminta bi Sum menyiapkan makan siang untuk menyambut kedatangan tuan dan nyonya besar." Tukas Yuni nampak antusias namun juga terlihat sedikit cemas.
Ya, gadis itu adalah Yuni. Gadis itu bekerja di sana atas rekomendasi Suny sang kakak sepupu, yang terlebih dahulu bekerja sebagai sopir pribadi di kediaman Utomo, sang tuan besar. Pria yang mengamanatkan tugas mulia kepadanya untuk mengawasi pergerakan Melisa di kediaman Kent.
Pluk
Sapuan hangat dari telapak tangan lebar bi Sum hampir saja membuat gadis itu terkena serangan jantung.
Yuni berbalik seraya mengusap dadanya karena terkejut, sedangkan bi Sum hanya meringis melihat ekspresi datar Yuni.
"Bibik ih, kalau aku jantungan gimana? ibuku di kampung akan bertanya-tanya pada siapa kalau aku tiada kabar berita. Nanti orang-orang akan menjawab, kamu nanyhaa kamu bertanyha-tanyhaa?!" dumel Yuni mengerucut bibirnya pura-pura kesal.
Bi Sum malah tertawa renyah mendengar kalimat Yuni yang dia anggap sebagai leluncon menggelitik hatinya.
"Baru pukul 10 pagi Yun, nyebut. Mending bantu si bibik masak deh. Bibik lagi bingung mau bikin menu makan siang apa. di kulkas terlalu berlimpah ruah bahan mentah, bibik sampe linglung liatnya." Ungkap bi Sum terlihat seperti sedang berpikir keras.
Yuni memutar bola matanya, "masak rendang, tumis kacang panjang karo tempe goreng, sambel kolor ijo, ayam kecap sama sup ayam." Yuni mulai mengabsen menu makanan yang cocok di lidahnya tanpa peduli selera sang majikan. Toh baginya menu tersebut bukanlah menu kampungan menurutnya.
Wanita paruh baya itu berjalan dengan tubuh bergoyang akibat lemak yang menimpa beberapa bagian tubuhnya.
"Itung-itung belajar dulu bik, siapa tahu ke depannya nanti nasib Sri Wahyuni gadis desa ini bisa berubah jadi nona muda beneran 'kan? bibik juga pasti ketiban untung. Nanti bibik aku rekrut jadi kepala pelayan di mansion nya Yuni, enak toh? bibik tinggal duduk manis mondar mandir buat mantau doang." Kekeh Yuni cengengesan.
Plak
"Ngayal jangan terlalu tinggi Yun, jatuh itu sakit. Yuk ah masak, ngehalu mulu kaya si othor." Ah bibik, merusak khayalan Yuni aja.
Di dalam kamar, Kent baru saja membantu Jess di kamar mandi. Wanita itu baru saja mendapatkan tamu rutinnya setiap bulan. Meski ada sedikit gurat kekecewaan nampak di wajah tampan Kent. Namun pria itu tetap melebarkan Senyuman pada sang istri tercinta. Toh waktu masih panjang. Dan lagi mereka baru melaksanakan ritual suami istri itu sekali. Wajar saja jika benih kecebong Kent masih malu-malu membuahi sel telur Jess.
"Kau marah?" pertanyaan Jess membuat Kent menghentikan gerakan tangannya yang baru akan merapikan tempat tidur. Pria itu baru saja mengganti sprei yang terkena noda darah dari Jess.
Dengan senyum hangat, Kent menghampiri Jess di sofa.
"Kenapa harus marah? kita masih memiliki banyak waktu, bahkan seumur hidup adalah waktu yang selalu aku pinta pada Tuhan agar kita selalu di persatukan. Dengan atau tanpa kehadiran anak di antara kita. Kita sudah memiliki Eli, dan kita juga memiliki anak-anak panti yang menggemaskan. Kita akan menjadi orang tua hebat meski bukan untuk anak kandung. Jadi, jangan berpikir macam-macam yang memberatkan pikiranmu sayang. Aku tak mengapa, aku mencintaimu. Anak adalah hadiah dari Tuhan, jika Tuhan belum memberikannya. Artinya Tuhan sedang mempersiapkan hadiah paling istimewa, untuk pasangan istimewa seperti kita. Percayalah pada kehendak_Nya." Tukas Kent tersenyum tulus penuh keyakinan.
__ADS_1
Jess menyapu pipinya yang terasa panas. Air matanya sering keluar tanpa dia minta belakangan ini. Pengobatan tradisional yang sedang mereka tekuni, sudah memberikan efek baik pada kedua kakinya. Jess mulai bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda. Namun tak boleh terlalu lelah, Jess lebih mudah merasa kelelahan meski hanya berjalan di area rumahnya. Belum lagi bermain bersama Eli, kadang membuatnya lupa diri.
"Terimakasih suamiku sayang," ucap Jess dengan mata yang masih menyisakan embun bening.
Kent terkesiap mendengar panggilan mesra tersebut. Untuk pertama kalinya, dan dia ingin mendengarnya lagi dan lagi.
"Ulangi sayang...astaga! ini keajaiban alam, kau memanggilku dengan sebutan sayang. Sungguh hal terbaik yang pernah ku dengar sepanjang hidupku. Ayo, coba ulangi lagi, aku ingin mendengarnya." Desak Kent tak sabar.
"Kent suamiku sayang, suamiku yang tampan, suamiku yang baik dan penyayang, setia walau sedikit menyebalkan. Terimakasih sudah mencintaiku sepenuh hati dengan segala kekuranganku ini. Aku mencintaimu, sangat. Kent Rahardjo." Ungkap Jess akhirnya. Setelah hampir 8 bulan, kini rasa itu telah benar-benar menguasai seluruh hatinya.
Air mata Kent mengalir tanpa bisa di cegah. Mendengar ungkapan cinta dari sang istri, baginya adalah sesuatu yang sangat istimewa. Kent memeluk Jess dengan isak yang di barengi tawa bahagia. Sungguh harinya terasa semakin indah dan sempurna.
Kent tak hanya memiliki raga, namun juga hati sang istri sepenuhnya. Wanita yang akan selalu dia jaga di sisa hidupnya, wanita yang akan di sayangi tanpa batas waktu.
Meninggalkan Kent dengan kebahagiaan yang tengah menguasai seluruh hatinya. Isadora tengah memilih beberapa kue sebagai buah tangan, selain oleh-oleh yang memang sudah mereka persiapkan jauh-jauh hari.
"Apa ini sudah cukup sayang? aku khawatir menantu kita akan terkena diabetes karena kau terus menjejali perutnya dengan banyak makanan mengandung glukosa." Ujar Utomo menatap nampan yang sudah menumpuk dengan beberapa jenis roti isi dan satu lagi berisi beberapa slice cake.
"Ck, mama hanya terlalu antusias saja. Sudah lama sekali mama tak berjumpa dengan menantu kesayangan mama itu. Mama khawatir Jess mengalami penurunan berat badan karena banyak beban pikiran. Makanan manis akan membantu menaikkan berat badannya." Sanggah Isadora.
"Ya, dan gula darahnya pun ikut naik serta." Gumam Utomo yang masih terdengar jelas di telinga sang istri. Wanita itu memberikan tatapan membunuh yang membuat nyali Utomo ciut seketika.
Pria itu merangkul bahu sang istri lalu mengecup kening wanita kesayangannya, sebagai ungkapan permohonan maaf.
Membuat pegawai toko tersebut mesen-mesem sendiri, teringat status jomblo abadi yang masih melekat kuat padanya tanpa berniat untuk pergi walau sejenak. Hatinya meringis ngilu.
"Kalah star sama yang udah aroma kemenyan" gumam si gadis dalam hatinya merasa malu sendiri.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
...----------------...
Pembaca terlope lope, jangan lupa meninggalkan jejak cinta kalian okeπππ
lope lope para kesayangan buna Qaya π€π€π€
__ADS_1