Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 53


__ADS_3

I am back again bestieh 🤗 🥰


Kondisi Jess perlahan membaik walau tak bisa di bilang pulih Sempurna. Wanita itu telah di perbolehkan meninggalkan rumah sakit dengan sederet pesan, dari sang dokter yang selama beberapa bulan ini merasa di abaikan.


Bagaimana tidak, sejak Jess menekuni pengobatan alternatif, jasa sang dokter mereka lupakan begitu saja. Jika biasanya pasien yang sibuk menghubungi dokter dan meminta waktu untuk sekedar berkonsultasi. Tidak dengan dokter Adam dan dokter Arya. Keduanya yang sibuk menghubungi pasien tak ada akhlak tersebut.


Keduanya mencemaskan kondisi Jess yang memaksakan diri untuk melanjutkan kehamilan di tengah penyakit yang di deritanya. Namun wanita itu malah acuh tak acuh pada perhatian kedua dokter tersebut.


"Bisakah kalian tak menekan psikologis istriku? ck, dasar dokter pemaksaan." Gerutu Kent tak suka.


Dokter Arya yang sudah mulai terbiasa dengan mulut pedas Kent tak menanggapi nya. Dia masih cukup sehat akalnya untuk tak menggubris perkataan pria bucin tersebut.


"Aku akan melakukan check up rutin setelah ini dokter. Maaf sempat melupakan pengobatan ku, dan terimakasih atas perhatian dokter-dokter tampan ini. Aku terharu, sungguh." Ucap Jess berhasil menciptakan decakan di lidah sang suami.


Pria itu tak suka istrinya mengatakan kalimat tersebut pada kedua dokter gabut tersebut. Kent mulai berpikir jika kedua dokter tersebut menyukai istrinya. Padahal kedua dokter itu mendapatkan mandat langsung dari tuan Utomo untuk memberikan perawatan terbaik untuk sang menantu tercinta. Tentu saja dengan di iming-imingi oleh hukum simbiosis mutualisme.


"Jangan melupakan obatmu meski kau juga melakukan pengobatan alternatif. Tidak ada salah nya sama-sama ikhtiar. Semoga keduanya bisa memberikan dampak yang baik untuk kesembuhan yang pastinya sangat kau dambakan." Nasihat dokter Adam kesekian kalinya.


"Dan untuk obat pereda nyeri, kau hanya boleh mengkonsumsi nya setengah dosis saja. Tak peduli sesakit apa yang kau rasakan. Itu gunanya kami sebagai dokter, kau hanya perlu menghubungi salah satu dari kami jika sudah tak mampu menahan rasa sakit. Ku rasa tuan Kent yang kaya raya ini pasti sanggup membelikan mu ponsel, meski dengan pabrik nya sekalipun." Sindir Aryo menimpali. Dokter tersebut melirik sinis Kent melalui ekor matanya.


Kent mendelik kesal. Dia memang tak mengijinkan sang istri menyimpan nomor ponsel pria lain di ponsel istri nya. Kent yang cemburuan kadang suka berlebihan protektif terhadap sang istri.


Namun Jess tak masalah. Dia menyukai semua perhatian suaminya termasuk sikap posesif Kent tersebut. Itu tak mengganggu nya.


"Setelah nya aku akan mengakuisisi rumah sakit ini, lalu kalian berdua adalah orang pertama yang akan aku pensiunkan." Sarkas Kent dingin.


Bukannya marah, kedua dokter tersebut malah melepaskan tawa. Sungguh membuat Kent dongkol setengah mati. Keduanya sama sekali tak takut, karena pemilik saham terbesar di rumah sakit itu adalah tuan Utomo. Itu kenapa mereka memiliki kewajiban untuk mematuhi perintah pria paruh baya itu ketimbang putranya yang kaku.


...----------------...


Kepulangan Jess di sambut meriah di kediaman nya. Semua adik-adiknya berkumpul di rumah nya untuk menyambut nya pulang. Ada sang oma yang meski juga tengah tak baik-baik saja, tetap Hadir demi menyambut sang cucu.


"Selamat datang kembali nak, maaf ibu tak bisa mendampingi mu selama di rumah sakit. Ibu senang melihat mu pulang dan terlihat lebih baik. Jangan membuat wanita tua ini khawatir nak, kau tau betapa ibu sangat menyayangi mu." Ujar Maria setelah mengurai pelukan penuh kerinduan pada sang putri tercinta. Matanya berkaca-kaca namun tetap tegar agar tak mengeluarkan air mata.


"Maafkan aku bu, aku tak tau jika begitu banyak orang yang menyayangiku." Seloroh Jess mencair kan suasana.


Ada sepasang paruh baya yang terlihat masih begitu Tampan dan cantik di mata nya. Dan kehadiran keduanya mencuri perhatian nya sejak baru masuk.


Aryo yang peka tersenyum penuh arti. Pria itu menghampiri sang anak lalu memeluknya penuh sayang.

__ADS_1


"Ayah senang kau pulang. Sehat selalu nak, Tuhan memberkatimu serta kedua anakmu." Ucap pria itu tulus. Jess baginya seperti seorang putri kandung.


"Apa kau tak ingin berbagi pelukan dengan kakakmu ini, Jess?" sela Mario yang baru tiba dari arah dapur. Kent memasang mode siaga, pria itu lekas memangkas jarak antara sang istri dengan sang ipar.


"Ck, Jess adikku jika saja kau lupa. Dasar ipar tak tau etika." Gerutu Mario kesal.


"Dan wanita yang kau sebut adik ini adalah istriku. Harga mati, tak ada tawar menawar. Kau ku black list dari daftar orang yang boleh memeluk istri ku." Balas Kent tak mau kalah.


"Apa ibu lihat, pria ini mencoba memanipulasi adikku seorang diri. Coba saja aku datang lebih cepat, ku pastikan akan mempengaruhi Jess untuk tak akan memaafkan kelabilanmu di masa lalu." Sungut Mario dongkol.


"Sudah, sudah. Kalian ini selalu saja seperti anak kecil jika bertemu." Omel Isadora yang memang sudah sangat mengenali Mario sebagai sahabat sang anak.


"Sayang, mama senang kau akhirnya pulang. Rumah ini terasa hampa tanpamu, Eli bahkan kurang bersemangat selama kau di rumah sakit. Kau lihat dekorasi itu, Eli bangun pukul 5 subuh untuk mengerjakannya bersama Yuni serta bi Sum. Anak itu begitu bersemangat kala mendengar kabar bundanya telah pulih dan akan segera pulang." Cerita Isadora pada sang menantu.


Eli bahkan tak pernah lagi menanyakan ibu kandungnya. Ketika dengan isengnya Yuni bertanya apakah gadis itu tak merindukan Melisa. Eli menjawab pertanyaan Yuni dengan jawaban yang cukup mencengangkan.


"Ibuku adalah bunda Jess, sekarang dan selamanya. Hanya ada bunda, ayah dan adik-adikku. Juga sus Yuyun dan bi Sum."


Eli bahkan mengubah panggilannya pada Kent dengan sebutan ayah. Karena papa baginya sama halnya mengingatkan nya pada sang ibu yang dia panggil mama.


"Ah, di mana Eli ma?" tanya Jess yang juga merindukan putrinya itu.


"Baik ma," sahut Ben yang memang semua dari mereka di perintahkan untuk memanggil Isadora dan Utomo dengan sebutan mama dan papa. Meski awalnya kaku namun kini mereka mulai terbiasa.


"Bundaaa...!" teriakan cempreng dari mulut mungil Eli menggema di ruang keluarga. Gadis kecil itu berlari kecil menuju ke arah Jess tengah duduk.


"Bunda Eli kangen," rengek Eli memeluk sang ibu penuh kerinduan. Jess membalas pelukan sang anak dengan hangat dan erat. Diapun merindukan putri sulungnya itu.


"Bunda juga merindukan Eli, adik-adik juga." ungkap Jess setelah puas memberikan kecupan hangat di wajah sang anak.


"Halo adik-adik kakak di dalam sana, kakak kangen kalian berdua. Cepat lahir ya, supaya kita bisa bermain bersama." Celoteh Eli di permukaan perut sang ibu. Semua orang menatap haru pemandangan tersebut. Eli begitu tulus menyambut kehadiran kedua adiknya tanpa merasa akan kekurangan kasih sayang Kent juga Jess padanya.


"Nak, ayah ingin mengenalkan seseorang padamu. Ah, dua orang tepatnya." Jess mengikuti arah pandangan sang ayah pada dua tamu yang menyita perhatiannya sejak tadi. Keduanya tersenyum hangat dengan mata berkaca-kaca.


Hati Jess seketika merasakan hal berbeda. Ada gelayar aneh yang menjalar dalam darah nya ketika bersitatap dengan kedua orang tersebut.


"Hai nak, maaf jika kami datang tanpa di undang. Kami senang kau sembuh dan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Ayahmu ini adalah kakak sepupuku, dan wanita cantik ini adalah istriku. Namanya Kirani dan namaku sendiri adalah Barata Amartha." Ujar pria tersebut memperkenalkan diri.


Deg!

__ADS_1


Jantung Jess serasa di godam. Nama belakang pria sama dengan nama belakangnya. Amartha. Nama tersebut di ambil dari tulisan yang terpahat di liontin hati, kalung yang Jess pakai ketika dirinya di temukan. "J Amartha"


Begitulah tulisan yang terbaca di sana, sehingga Yusuf dan Maria memutuskan untuk memberikan nama Jess untuk inisial J, lalu menyematkan nama Amartha sebagai nama belakangnya.


Namun siapa sangka, nama itu tanpa mereka sadari. Adalah nama belakang seorang sahabat lama di kota yang telah mereka tinggalkan dengan begitu banyak torehan kenangan.


"Amartha," lirih Jess setengah berbisik.


"Mereka adalah pasangan yang sangat merindukan sosok putri yang telah lama pergi karena ulah manusia berhati jahat." Ucap Aryo di sela momen awkward tersebut.


Jess menatap nanar netra wanita yang begitu persis seperti rupanya namun dalam versi lebih dewasa.


Air mata Jess mengalir begitu saja, tanpa bisa wanita itu bendung lagi.


Kirani mengambil alih tempat duduk yang di sengaja di berikan oleh Kent. Kent membawa Eli dalam gendongannya untuk memberikan ruang bagi Jess. Pria itu sudah mengetahui perihal tersebut, jadi tak merasa terkejut sama sekali.


"Jessie putri ku," ucap Kirani dengan suara bergetar. Tangisnya pun luruh bersamaan dengan sentuhan telapak tangan nya di pipi tembem Jess.


Flashback


"Maaf jika aku tak mengatakan apapun padamu perihal ini sayang. Hatiku begitu meyakini, jika Jess adalah keponakan ku yang di culik ketika berusia dua bulan. Aku melihat tanda lahir di lengan kiri Jess kala di rumah sakit waktu pertama kali kita bertemu. Kedatangan Bara kemari ingin meminta ijin mu, untuk meminta sampel rambut Jess guna melakukan uji DNA. Maaf kan aku sekali lagi untuk kelancanganku ini, aku sangat menyayangi Jess siapa pun dia. Dia tetap putri kesayanganku." Jelas Aryo panjang lebar.


Pria itu ketar ketir kala melihat respon sang istri, ketika Barata mulai menyampaikan maksud tujuan mereka datang jauh-jauh ke kota tersebut. Maria terdiam tanpa kata. Wanita itu terlihat syok dan tak mengatakan sepatah katapun. Itu membuat Aryo cemas.


"Amartha? bagaimana bisa aku dan mas Yusuf tak menyadarinya sejak awal. Liontin hati itu," Maria beranjak menuju kamarnya. Tak lama wanita itu kembali dengan sebutan kotak persegi bludru di tangan kanannya.


"Apa kalian mengenali kalung ini?" tanya Maria setelah membuka kotak bludru tersebut.


Tangis Kirani pecah seketika. Itu adalah kalung yang dia pakaikan pada sang anak ketika berusia genap 40 hari.


"Jessie pa, ini kalung milik Jessie putri kita. Tuhan rupanya sangat adil, meski bukan kita yang merawatnya, nyatanya mas Yusuf dan mbak Maria lah yang Tuhan percayakan untuk menjadi orang tuanya." Ucap wanita itu dengan suara terbata. Kirani terisak di pelukan sang suami.


Barata pun tak kalah haru, putri yang selama ini mereka cari rupanya telah di besarkan oleh mendiang sahabatnya sendiri. Dunia sungguh sempit.


flashback end


...----------------...


Semoga masih betah dalam menunggu kehaluan ini berjalan meski slow update.

__ADS_1


Lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍🤍


__ADS_2