Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 61


__ADS_3

I am back again readers 🤗🤗🤭


...----------------...


Perdebatan sengit tersebut seketika terhenti saat terdengar suara seorang wanita menyela.


"Tolong hentikan perdebatan kalian, aku mohon." Lirih Jess yang rupanya telah tersadar sejak tadi. Wanita itu memilih untuk mengumpulkan segenap kesadaran, juga tenaganya sembari mendengarkan kata demi kata yang terlontar keluar dari mulut kedua pria tersebut.


Perih, itulah yang Jess rasakan saat ini. Namun wanita itu menekan rasa sakit yang menjalar dalam hatinya dengan ekspresi tenang.


Kent menatap sendu wajah kurus istrinya dengan hati berdebar kencang. Pikirannya berkecamuk, apakah sang istri mendengar kan semua perdebatan mereka atau bahkan sudah mengetahui akar permasalahannya.


Dengan langkah pelan, Kent menghampiri ranjang sang istri dengan perasaan was-was.


"Hai sayang, terimakasih sudah kembali pulang. Aku merindukan mu," ucap Kent menahan sesak karena telah menyakiti istrinya tanpa sengaja.


Saat akan mendaratkan ciuman penuh kerinduan di kening Jess, wanita itu reflek menoleh. Sehingga membuat Kent tercenung. Pria itu tau jika istrinya berusaha menghindari sentuhannya. Meski sedih akan penolakan Jess, Kent tetap berusaha untuk tersenyum menyambut kesadaran sang istri.


Sedangkan Sadam menatap intens interaksi kaku antara sang sepupu dengan istrinya. Pria itu menyeringai penuh kemenangan. Sadam menghampiri ranjang Jess dengan menampilkan senyum lebar khasnya.


"Akhirnya kau menemukan jalan pulang. Pasti karena signal darurat yang ku kirim selama ini, bukan? kau rupanya takut jika kedua anakmu mendapatkan ibu tiri." Kekeh Sadam meraih jemari kurus milik Jess.


Rahang Kent mengeras sempurna, kepalan tinjunya mengetat seolah bersiap untuk memukul seseorang. Sadam sengaja memancing emosi nya dengan sindiran tersebut.

__ADS_1


"Lihatlah, kau harus banyak makan setelah ini. Kau terlalu....tipis," ucap Sadam tergelak renyah. Pria itu hanya berusaha untuk mengukir senyum manis di bibir Jess yang masih memucat.


"Di mana anak-anakku, Dam?" tanya Jess mengalihkan topik.


"Mereka di rumah sayang, mama meminta agar di kembar di rawat di rumah saja." Bukan Sadam yang menjawabnya, melainkan Kent yang menyahut sebelum Sadam sempat membuka mulut nya.


Kent duduk di sisi ranjang karena kursi hanya ada satu yang kini di duduki oleh Sadam. Sadam baru saja memanggil perawat melalui tombol darurat yang terpasang di ranjang Jess.


"Apa mereka baik-baik saja tanpaku, Dam?" lagi, Jess menanyakan perihal anak-anaknya pada Sadam. Itu membuat hati Kent perih namun pria itu tak berani melayangkan protes.


"Mereka baik, kedua anakmu memiliki banyak orang yang menyayangi mereka. Jadi fokus pada dirimu saja. Kau harus pulih agar bisa bertemu dengan kedua bayimu yang menggemaskan." Jawab Sadam tersenyum hangat.


Kent hanya menatap interaksi tersebut dengan menahan berbagai perasaan kacau di dalam benaknya. Mau bagaimana lagi, Jess sama sekali tak mau menoleh padanya.


"Permisi?" sapa seorang dokter wanita yang di ikuti oleh dua orang perawat di belakang nya.


"Bisa saja, ini memang rumah keduaku." Timpal dokter Ratih, wanita berusia sekitar 40an tahun tersebut mengekeh pelan.


"Hai Jess, apa kabarmu? kau terlihat langsung bersinar cerah seperti cahaya matahari di langit terik di luar sana." Jess tersenyum mendengar celotehan sang dokter yang nampak sangat ramah tersebut.


"Aku baik dokter, terimakasih sudah mau merawatku." Balas Jess dengan senyum manis di balik bibir pucatnya.


"Itu sudah kewajibanku, lagi pula ada banyak dokter jaga yang menangani mu selama kau tertidur pulas. Aku salah satunya, dan aku beruntung karena bisa bertukar kata denganmu secara langsung." Ujar dokter Ratih sambil melakukan pemeriksaan terhadap Jess.

__ADS_1


"Kau masih memerlukan beberapa hari untuk bisa kembali pulang. Kami akan melakukan yang terbaik agar kau bisa segera meninggalkan ruangan ini beserta segala perintilannya." Canda dokter Ratih tertawa kecil.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, kini Jess kembali dalam mode bisu. Wanita itu sesekali melirik wanita yang tengah duduk di sofa dan tanpa berniat sedikit pun untuk pergi dari sana.


Jess tak sengaja melihat kaos yang di pakai oleh sang suami sama persis dengan yang di pakai oleh wanita itu. Hatinya tertawa miris. Sebegitu tak sabar kah Kent menunggu nya terbangun? apakah cinta pria itu hanya sebatas sadarnya, dan akan memudar kala dirinya layu dan tak berdaya.


Jess mulai berpikir rasional. Mungkin benar, seorang pria dewasa yang telah merasakan indahnya surga. Tak akan mampu menahan diri lebih lama tanpa sentuhan seorang wanita. Dia akan belajar mengikhlaskan, lalu perlahan melepaskan.


Sejak awal hubungan mereka adalah kesalahan. Kini pun akan berakhir karena sebuah kesalahan.


"Kau ingin aku suapi?" ucap Sadam menyela lamunan Jess. Pria itu menawarkan diri untuk menyuapi Jess makanan yang baru saja di antar oleh seorang perawat.


Jess menggeleng pelan, tak lupa senyum tipis yang menggambarkan ketegaran.


"Aku akan makan saat aku ingin, kau bisa pulang Dam. Aku baik-baik saja sekarang, terimakasih sudah meluangkan waktumu untuk wanita penyakitan ini. Kau terlalu sering ku repotkan, aku sampai malu jika mengingat kebaikanmu." Ujar Jess menolak halus.


"Ck, aku bukan orang lain. Lagi pula aku senang bisa membantumu, hitung-hitung aku bisa belajar menjadi suami siaga ketika kelak aku menikah. Aku sudah tau apa yang harus aku lakukan, dan kelak jika kemungkinan buruk terjadi pada istriku, aku sudah mengerti jika aku aku harus memiliki kesabaran juga menjadi pria yang setia." Balas Sadam penuh nada sindiran.


Kent yang kini tengah duduk di sofa tunggal merasa tertampar oleh kalimat sang sepupu. Pria itu melirik ke arah sang istri kemudian ke arah Flora yang kebetulan sejak tadi terus menatapnya. Kent merasa tersindir berkali-kali oleh mulut lemes sang sepupu.


"Maaf menyela, aku permisi dan maaf jika kehadiranku telah membuat kesalahpahaman terjadi. Sungguh aku tak bermaksud menjadi orang ketiga, tapi siapa yang dapat menolak perasaan yang datang diam-diam tanpa di minta. Terlebih Kent memberiku ruang yang cukup luas, sehingga aku dengan mudah masuk ke dalam hatinya. Aku tau kata-kataku mungkin melukaimu Jess, tapi perlu kau ketahui. Akulah orang yang selalu ada di saat Kent terpuruk oleh keadaan, aku selalu ada untuknya. Dan Kent menerima kehadiranku dengan tangan terbuka, aku tak pernah memaksakan diri. Melainkan Kent sendiri yang menarikku lebih jauh ke dalam hidupnya. Suamimu menyukaiku, itu fakta yang harus kau terima sekarang. Hati suamimu bukan hanya milikmu seorang, tapi sudah terbagi untukku. Suka tak suka kau harus rela berbagi, karena aku tak akan melepaskan cintaku begitu saja."


Kalimat panjang Flora membuat kepala Jess berdenyut hebat, sedangkan Sadam mengepal erat tangannya menahan amarah. Kent? pria itu tercengang mendengar pengakuan panjang dari mulut Flora. Wanita itu rupanya menyimpan harapan tinggi pada kedekatan mereka selama ini.

__ADS_1


Sungguh kenapa sesal selalu muncul di akhir permasalahan. Kent benar-benar terjebak oleh keadaan dan tak tau bagaimana cara untuk mengakhiri nya


TBC


__ADS_2