
Kuy lanjut gaesss 😁, kita hajar Melisa habis-habisan sore ini. Kita kupas tuntas dia hingga tak berkulit lagi🤭
Jangan lupa jejak goibnya, komen n like tolong di daratkan dengan hati ikhlas dan riang gembira ya gengs 🤭🤭🤩😘😘
Kisah Jess gak akan othor buat panjang kali lebar, semoga tembus 70 bab untuk tamat. Jadi masih ada 30 bab lagi sedang di OTW kan menuju puncak kisah.
Terus dukung ya bestieh, apalah daya othor tanpa kalian. Semoga ini bukan novel ending, godaan sedang berseliweran di mana-mana. Astaga! dakuh dilema tingkat dewa. God help me, jangan biarkan iman iminku lentur, meleyot dan layu🤲🤲🤧😁
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Melisa berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar. Sadam terjengkit kaget, pria itu tersedak jus alpukat hingga kedua matanya mengeluarkan air mata.
"Bisakah kau berdiri dengan perlahan?!" seru Sadam kesal. Setelah mengusap air mata serta hidungnya, Sadam melempar tisu bekas tersebut ke wajah Melisa dengan kasar.
"Kau seperti tisu itu, Melisa. Sampah! jadi keluarlah dari rumah ini sebelum nasibmu berakhir mengenaskan. Jika kau butuh uang, aku akan dengan suka rela memberikanmu sumbangan. Anggap saja aku sedang menanam kebaikan untuk sekedar menjadi bahan pertimbangan malaikat, ketika aku di akhirat." Ucap Sadam tersenyum miring.
Pria itu pamit pada paman dan bibinya untuk pergi terlebih dahulu. Sedangkan wajah Melisa pias menahan malu yang amat sangat. Keluarga itu benar-benar mene lanjangi nya hingga tak bersisa.
Melisa menatap nyalang pada tiga insan yang masih setia menghuni ruang makan tersebut dengan tatapan penuh dendam.
"Akan aku balas penghinaan ini! lihat saja! Terutama kau wanita tua tak tau diri!" Tunjuk Melisa tepat ke arah wajah Isadora. Utomo yang tak terima dengan ancaman tersebut, bersiap maju untuk memberikan wanita ja lang itu pelajaran. Namun genggaman lembut tangan Isadora mengurungkan niatnya.
Wanita itu tersenyum manis ke arah Melisa tanpa rasa takut.
"Kau membuatku ketakutan Melisa, sungguh." Ucap Isadora seolah dirinya benar-benar ketakutan. Tak tau saja jika hatinya tergelitik mendengar ancaman kerupuk tersebut.
Seorang wanita malam seperti Melisa mengancam seorang mantan agen rahasia Rusia? Isadora ingin sekali terbahak, namun dia harus terlihat kalah untuk melihat seberapa jauh wanita itu merancang rencana jahat padanya, juga anak menantunya. Isadora sudah terlalu kenyang menghadapi strategi licik semacam itu.
"Kau?! kau akan menyesal telah bermain-main denganku wanita tua! semua penghinaan ini akan aku ingat seumur hidupku, dan kau bersiaplah menerima pembalasanku terhadap keluarga sialanmu ini!" Ujar Melisa dengan penuh amarah. Tak ada lagi senjatanya untuk tetap bertahan di rumah tersebut.
Bahkan Kent sudah tak peduli lagi pada Eli, yang selama ini selalu menjadi tameng baginya untuk merebut semua atensi Kent. Kini dia kalah telak di tengah permainan. Namun dia tak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1
Melisa berbalik namun sebelum itu, wanita itu menghancurkan sebuah vas mahal di sudut ruangan dengan senyum puas.
"Dasar kampungan. Apa hebatnya merusak barang? benar-benar tipe wanita norak tak berkelas." Cibir Queen cukup keras. Dia sengaja agar Melisa mendengar ucapannya dengan jelas.
Melisa jelas mendengar, namun wanita itu memilih untuk naik ke lantai atas tanpa peduli pada kalimat sindiran Queen.
Sesampai di dalam kamar, rupanya Sadam pria yang sangat pengertian. Pria itu telah mengemas semua barang Melisa tanpa sisa ke dalam sebuah koper besar.
"Tak perlu berterimakasih, aku ikhlas melakukannya. Ah ya, ada sedikit sumbangan belas kasih dariku. Kata orang bijak, jangan di lihat dari jumlahnya, tapi dari ketulusannya. So, anggap saja aku membayar lunas hutang bercinta kita tempo hari. Aku tak yakin popularitasmu akan bertahan lama, mengingat perutmu pasti akan semakin membesar. Sayang dia bukan benihku, jika iya, aku akan dengan senang hati merawatnya. Tentu saja hanya bayinya bukan ibunya." Sadam tergelak di akhir kalimatnya.
Melisa meraih botol parfum milik Sadam lalu melempar pria itu dengan amarah penuh.
Namun Sadam yang sudah katam dengan sifat Melisa, berhasil menangkap botol parfumnya.
"Astaga Melisa! ini parfum mahal. Harga dirimu tak akan cukup untuk membelinya. Ck! kenapa tanganmu suka sekali melempar barang-barang, dasar orang kampung." Sungut sadam kesal.
Parfum tersebut dia beli dengan segala pertimbangan matang, harganya yang selangit membuatnya lebih menyayangi parfum tersebut daripada seorang wanita ja lang seperti Melisa.
"Kalian akan membayar mahal atas apa yang kalian lakukan terhadapku! aku pastikan hidup keluarga Rahardjo tak akan tenang setelah ini. Dan kau, pria brengsek jahanam. Ku doakan kelak istrimu akan menjadi wanita mandul begitu pula denganmu." Setelah mengeluarkan kalimat mengerikan tersebut, Melisa meraih gagang kopernya lalu menyeret kasar keluar kamar.
Mengabaikan perkataan Sadam, Melisa melanjutkan langkahnya keluar kamar. Tujuannya kini adalah kamar Eli.
Dikamar bawah terjadi drama yang dramatis. Eli menolak pergi meski Melisa terus mendesak bahkan membentaknya dengan kata-kata kasar. Eli memeluk tubuh Yuni yang juga tengah memeluk erat dirinya.
"Biarkan Eli bersamaku Melisa, aku adalah bibinya. Rendra adalah kakakku, aku punya hak untuk merawat eli sebagai wali dari mendiang ayahnya." Ucap Jess yang tak tega melihat eli terus di bentak.
Wanita itu nekat keluar kamarnya meski Kent sudah mencegahnya.
Kedua mata Melisa melotot kala mendengar pengakuan Jess.
"Kau?! rupanya kalian sama-sama orang-orang buangan. Pantas saja pria itu cepat mati, hidupnya hanya menyusahkan orang lain saja. Kaya tidak miskin ya. Dan yatim piatu pula, sungguh menyedihkan." Cibir melisa tersenyum sinis.
Jess maju selangkah lalu, plak! Jess mengayunkan tangan kanannya dengan kekuatan penuh. Hinaan Melisa terhadap kakaknya sungguh keterlaluan. Tak apa jika Melisa menghinanya, namun tidak kakaknya yang telah tiada.
__ADS_1
"Belajarlah mengasah kemampuan berbicara mu mulai sekarang, Melisa. Kelak kau akan berhadapan dengan seseorang yang mampu membungkammu, hingga sekedar membuka mulutmu pun, kau tak akan sanggup." Ucap Jess menekan kalimatnya dengan tegas.
Wanita yang lebih suka mengalah itu kini terlihat sangat berbeda. Kent sampai tercengang, istrinya yang selalu memilih diam kini menyuarakan sebuah nasihat dengan kalimat panjang penuh penekanan.
"Kau dengar Melisa? kau harusnya berterima kasih karena menantuku mau merawat putrimu. Dan aku yakin perawatan serta kasih sayang Jess akan lebih baik dan besar daripada dirimu. Jadi, pilihlah pilihan bijak sekali saja dalam hidupmu. Jika kau lebih memilih hidup dengan masa depan yang penuh pertaruhan gengsi, yang di tukar dengan kelicikan. Paling tidak Eli tak akan menyampai rekor buruk ibunya kelak saat dia sudah dewasa." Sambung Isadora semakin menyudutkan Melisa ke tepi jurang paling curam.
Kekesalan Melisa semakin bertumpuk, posisinya kini benar-benar tak menguntungkan untuk memberikan perlawanan.
"Ambil saja anak sampah itu, aku juga tak menginginkan nya jika saja dia tak memberikanku keuntungan." Putus Melisa akhirnya walau di sertai dengan kalimat yang menyakiti hati si kecil eli.
Gadis kecil itu terus terisak di pelukan Yuni yang masih setia mengelus punggung kecilnya.
Jess menggeleng tak percaya, wanita itu begitu tega mengatakan hal seperti itu di hadapan anaknya sendiri.
"Keluar dari rumahku sekarang juga, Melisa. Kau membuat aura rumahku serasa mencekam." Desis Jess berusaha tak menambah ketakutan Eli.
Jess melewati tubuh Melisa lalu meraih Eli perlahan.
"Kemarilah sayang, mulai sekarang, Eli akan menjadi anak bunda. Bunda Jess, mau tidak?" ucap jess lembut sembari merapikan anak rambut Eli yang terlihat kusut.
Eli mengangguk pelan lalu mulai merentangkan kedua tangannya ke arah Jess. Dengan senang hati, Jess menyambutnya dengan pelukan hangat. Kent tersenyum haru, dia tak benar-benar rela jika Eli pergi, karena Kent yakin Eli tak akan meninggalkannya. Terutama Eli sudah merasakan kasih sayang Jess beberapa waktu belakangan ini.
Tak ada yang mampu menyaingi sebuah ketulusan, tidak harta sekalipun. Bahkan Melisa sang ibu kandung, tak membuat Eli berpaling dari kehangatan yang Jess berikan.
"Kau lihat, putri mu saja tau, siapa yang lebih menyayanginya dengan tulus." Bisik Isadora meledek.
Melisa melewati tubuh Isadora hampir membuat wanita itu limbung. Bisa saja Isadora menahan tubuhnya dan membuat Melisa terjungkal. Namun sudah cukup pelajaran yang wanita itu tuai hari ini. Mungkin di lain waktu, Isadora akan membuat Melisa berguling di dasar jurang untuk memohon pengampunan darinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Semoga cukup untuk santap sore nyambi ngeteh terus celupin Nisin rasa Vanilla 🤭😁
__ADS_1
Lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍