Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 38


__ADS_3

I'am back again gaesss 🤗 😁


Setelah berkelana menyusuri lorong waktu, kini othor come back lagi kemari🤭🤭😆😆


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Kehidupan Melisa yang sudah mulai terasa bagai di neraka siang itu. Kediaman Kent di datangi oleh dua tamu yang tak dia sangka-sangka. Melisa bahkan belum sempat mengatur strategi marketing, untuk mengambil alih perhatian kedua paruh baya tersebut. Namun kini start nya nampak telah tercuri.


Bahkan Eli yang awalnya sudah begitu bersemangat ingin berjumpa dengan keduanya, kini terlihat hanya duduk diam tanpa suara. Tak ada keceriaan lagi semenjak dirinya tau jika Kent bukanlah ayah kandungnya. Artinya, nenek dan kakek yang dia harapkan, bukalah miliknya.


Anak kecil itu sudah mulai memasuki fase kanak-kanak yang memiliki pemikiran kritis yang sensitif.


"Apa kau baru saja merayakan hari peringatan arwah? rumahmu sehening pemakaman." Celetuk Utomo membuka suara.


"Maaf pa, aku hanya ingin fokus pada istriku." Sahut Kent menatap sekilas pada sang ayah sembari tersenyum penuh arti.


"Bagaimana keadaanmu sayang? maafkan mama tak bisa merawat mu selama kau sakit. Mama benar-benar menyesalkan kesehatan mama yang tiba-tiba menurun kala itu." Sela Isadora menatap sendu pada sang menantu.


Jess tersenyum setelah menelan makanannya.


"Tak apa ma, kesehatan mama juga penting. Lagi pula suamiku selalu berada di sampingku selama aku sakit. Kent bahkan tak beranjak meski aku tau dia sudah mulai bosan menjagaku." Seloroh Jess terkekeh kecil. Kent menjawil bibir mungil sang istri yang begitu lancar mengatakan hal tersebut.


"Itu sudah kewajiban dan tugasnya sayang, kau harus mefaatkannya sebagaimana mestinya. Pria harus mengerti tanggung jawabnya sebagai seorang suami untuk istrinya. Bukannya hal yang di luar kapasitas dan tanggung jawabnya." Tekan Isadora dengan intonasi lugas.


Melisa mengepalkan tinjunya di bawah meja. Dia tau wanita itu sedang menyindirnya.

__ADS_1


"Baik ma, Kent suami yang sangat bertanggung jawab. Aku bahkan tak di perbolehkan hanya sekedar mandi dan berganti pakaian sendiri." Balas Jess melirik sekilas ke arah Melisa yang terlihat semakin gerah.


"Apa hebatnya bisa merampas suami wanita lain," sela Melisa dengan nada sinis. Semua mata tertuju padanya, membuat Melisa tersenyum jumawa.


"Apa maksudmu? siapa kau di rumah ini? aku bahkan tak mengenalmu, dan kau tiba-tiba ikut duduk di sini seperti seorang anggota keluarga. Aku bahkan tak tau sejak kapan Jess menantuku memiliki saudari perempuan, sehingga dia memperbolehkan wanita asing duduk di meja makan di rumahnya." Balas Isadora tak kalah sengit. Melisa meneguk ludah kasar. Tak menyangka akan mendapatkan balasan semenohok ini dari wanita yang dia sangka lemah tersebut.


"Ah maaf, perkenalkan. Namaku Melisa, tadinya aku adalah istri satu-satunya yang Kent miliki. Namun kehadiran wanita ini, rumah tanggaku yang damai mulai kacau. Kent bahkan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah bagi putri kecil kami, Eli. Jadi, apakah aku salah jika ingin menuntut hakku sebagai seorang istri yang terabaikan? Bukankah rumah seorang suami merupakan rumah istrinya juga? jadi aku punya hak yang sama seperti wanita tak tau malu ini. Terlebih kami sudah memiliki seorang anak, jelas posisiku lebih kuat di bandingkan wanita perusak ini." Tegas Melisa dengan menggebu-gebu.


Yuni lekas membawa Eli pergi dari sana. Seperti biasa gadis itu akan bergerak cepat, kala situasi sudah mulai tak kondusif untuk di dengar dan dilihat oleh anak di bawah umur.


"Wow son! kau mengagumkan. Papa tak menyangka kau mampu memiliki dua wanita dalam hidupmu. Papa saja tak sanggup meski hanya berbagi raga pada wanita lain. Ibumu adalah wanita yang sangat berharga, itu kenapa papa tak bisa berjauhan darinya." Sambung Utomo nampak speechless mendengar kalimat tak tau malu melisa.


Kent mendelik ke arah sang ayah, membuat tawa Utomo menggelegar seketika.


"Astaga! Melisa, lihat dirimu. Kau mengaku sebagai istri dari putraku, tapi kami bahkan tak mengenal siapa dirimu. Dan ya, putrimu bahkan tak memiliki sedikitpun kemiripan dengan wajah anakku. Kau yakin jika kau tidak sedang mengarang cerita? putraku memiliki selera yang sempurna, pria sejati seperti kami tak akan menjamah wanita sebelum memilikinya secara sah. Aku jadi curiga kau melakukan konspirasi jahat untuk menjebak putraku jika memang benar itu terjadi sesuai ucapanmu." Tantang Utomo kini mulai fokus menatap datar ke arah Melisa.


"Sebelum kehadiran wanita ja la ng ini, Kent begitu perhatian dan sangat menyayangi kami. Namun semua berubah karena kehadirannya. Kent mengabaikan putrinya, mengabaikan tanggung jawabnya pada kami begitu saja. Benar memang Eli bukan putri kandungnya, tapi asal anda tau tuan Rahardjo yang terhormat...."


"Stop Melisa! kau keterlaluan! sudahi omong kosongmu sekarang dan segera berkemas. Kau seharusnya sudah enyah dari rumah ini, kau sudah ku talak dan kau bukan lagi tanggung jawabku!" potong Kent memangkas kalimat yang akan Melisa sampaikan pada kedua orang tuanya.


Melisa tersenyum penuh kemenangan. Dia tau Kent memiliki ketakutan akan kenyataan yang akan dia katakan. Kini dia merasa menang selangkah dari pria itu.


"Aku tak akan pergi, ini juga rumahku! aku tak menerima talakmu, aku akan tetap menjadi istrimu sampai kapanpun. Lagi pula aku sedang hamil, jadi kau tak bisa menceraikan ku begitu saja Kent." Tolak Melisa berteriak tegas.


Semua orang terkejut namun tidak bagi Kent, dia bahkan tak pernah menyentuh wanita itu.


"Terserah! itu bukan anakku, hanya Jess istriku saja yang pernah ku sentuh. Bukan ja la ng sepertimu Melisa. Jika sampai siang kau masih berada di rumah istriku, maka kau tanggung sendiri akibatnya. Dan ya, jika kau ingin membawa Eli, silahkan. Selama ini kau selalu menggunakan Eli untuk menekanku, sekarang tidak lagi. Aku juga akan memiliki anak kandungku sendiri dari wanita yang sangat aku cintai." Kent pamit pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


pria itu membawa Jess kembali ke kamar tanpa peduli pada teriakan Melisa.


"Bisakah kau tak bersikap seperti di dalam hutan? terlihat jelas jika kelasmu sangat jauh di bawah standar seorang menantu idaman. Entah mengapa Rendra bisa terjebak dengan wanita ja la ng sepertimu. Kasihan sekali putraku itu, bahkan saat dirinya sudah pergi sekalipun, kau masih meneror kehidupan putraku yang lain." Ucap Isadora menohok perasaan Melisa yang sedang kacau balau.


Wanita itu berbalik lalu menatap tak percaya pada wanita yang ternyata mengetahui tentangnya itu.


"Kau pasti heran bukan? aku tau siapa dirimu Melisa. Wanita malam yang beruntung karena berhasil menjebak putraku Rendra setelah gagal menjebak Kent dalam permainan busukmu. Rupanya jebakan satu malam itu berhasil membuat benih manusia baru tumbuh di rahimmu. Sangat di sayangkan. Putraku harus memiliki keturunan dengan wanita kelas rendahan sepertimu." Melisa terkejut bukan main.


Namun hatinya semakin panas kala mendengar hinaan demi hinaan yang terlontar lancar dari mulut wanita itu.


"Anda boleh menghina saya nyonya, tapi tak bisa di pungkiri Eli adalah darah daging Rendra. Dan anakku berhak mendapatkan harta warisan ayahnya. Bahkan semua aset milik ayah kandungnya, dan sekarang aku menginginkan semua di berikan pada putriku. Maka aku tak akan menggangu kehidupan Kent dan menantu kesayangan anda lagi." Ucap Melisa memulai negosiasi liciknya.


Isadora tertawa renyah karena dia tau apa yang sedang Melisa pikirkan saat ini. Wanita seperti Melisa tak akan pernah ada kata kapok untuk merecoki kehidupan orang lain, bahkan meski tujuannya sudah tercapai sekalipun.


"Sayangnya Rendra tak memiliki hak apapun di keluargaku Melisa. Rendra hanyalah anak angkat yang tak memiliki hak waris atas aset-aset keluarga Rahardjo. Jadi, satu-satunya harta berharga dari mendiang putra angkatku adalah, putrimu Eli. Jadi, jagalah Eli seperti kau menjaga harta berharga warisan putraku Rendra. Bukankah anak adalah harta tak ternilai, bukan?" kekeh Isadora dengan tawa penuh ledekan.


Namun hati wanita itu menyimpan perih kapa mengucapkan kalimat tersebut. Rendra baginya bukan hanya sekedar pelipur lara. Namun putra kesayangannya selain Kent dan Kaylo yang kini entah berada di mana.


Wajah Melisa memerah menahan amarah, kedua tangannya terkepal sempurna. Sadam segera memasang mode siaga. Pria itu menggeser apapun yang bisa Melisa gunakan untuk melempar sang bibi.


Sedangkan Queen hanya diam menyimak, begitupun dengan sang ayah yang mengulum senyum bangga atas ketegasan sang istri tercinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


lope lope kalian yang masih menjadi kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍

__ADS_1


__ADS_2