
Kuy kita menyapa Jess dan Kent pagi ini bestieh๐ค๐ค
Jangan lupa favorit, komen n like kalian yah๐๐๐๐
...----------------...
Jess mengerjabkan kedua matanya. Setelah seluruh kesadarannya pulih, Jess mendudukkan dirinya perlahan. Di liriknya sisi kasur yang sudah kosong. Ada gurat kekecewaan tercetak jelas di wajahnya.
"Apa yang kau harapkan Jess, pria itu hanya ingin menciptakan kesan baik di hadapan keluargamu. Menjeratmu dengan perhatian palsu, agar ksu bertahan lebih lama lagi dalam ikatan tak sehat ini. Jangan terlalu berharap, hidupnya sudah sempurna. Kini giliranmu yang harus mulai menata hati dan hidup baru." Gumam Jess lirih.
Saat akan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi menggunakan tongkat, pintu kamar terbuka. Terlihatlah sosok yang sempat dia cari meski tak nampak jika dia mencari pria itu. Muncul dengan senyum lebar di wajahnya yang rupawan.
"Kau masih di sini?" Pertanyaan Jess membuat Kent berdecak. Senyumnya surut seketika.
" Tentu saja, istriku di sini. Memangmya siapa yang kau harapkan berada di sisimu selain aku? Mario? Calon pebinor itu sudah ku usir pergi, jadi jangan mencarinya lagi." Ucap Kent tak berekspresi.
Jess mencebik, reaksi Kent tak pernah benar-benar dia pahami. Entah apa yang ada dalam benak pria itu. Bersikap seolah seperti seorang suami yang pencemburu, namun memiliki wanita lain serta seorang anak yang sempurna.
"Aku pikir kau sudah pulang, mengingat kau juga memiliki istri di tempat lain." Sahut Jess tenang. Dia tak ingin memperpanjang perdebatan dengan Kent. Terutama saat kondisi tubuhnya belum pulih sempurna.
Kent berdecak tak suka, dia merasa tersentil jika Jess selalu membahas soal keberadaan Melisa di antara mereka.
"Ck! Kau istriku, jadi aku akan disini selama kau masih di sini. Aku membuatkanmu sup, ayo makan. Apa kau ingin ke kamar mandi terlebih dahulu?" Kent seperti memahami kegelisahan Jess.
"Tidak, kau bisa keluar panggilkan ibu. Aku membutuhkan nya sekarang. Jika ibu sibuk tak apa, aku masih bisa berjalan menggunakan tongkat ini." Usir Jess tanpa menoleh.
Wanita itu duduk berselonjoran di tepi ranjang.
Tanpa Jess duga, Kent malah mengangkat tubuhnya menuju kamar mandi.
"Kent, apa kau gila!" Seru Jess terpekik kaget. Tubuhnya serasa melayang akibat ulah Kent tersebut.
"Diamlah, kau istriku. Kenapa masih meminta ibu yang mengurusmu jika suamimu ada di sini." Sentak Kent tak menggubris Jess yang memberontak dalam gendongannya.
"Tapi Kent..."
"Aku suamimu, titik! Jangan membantah lagi." Jess langsung bungkam, entah mengapa dia lebih menyukai Kent yang arogan, dingin dan tak banyak bicara. Apalagi melakukan kontak fisik dengannya. Sungguh Jess tidak merasa nyaman dengan semua perlakuan manis yang tiba-tiba tersebut.
Sesampainya di kamar mandi, Kent mendudukkan Jess di atas kursi plastik. Pria itu membuka penutup closed lalu memindahkan Jess ke sana. Saat akan membantu membuka perkakas keramat milik Jess.
Wanita itu menepis tangan Kent hingga membentur sisi bak air. Kent terlihat memejamkan kedua matanya, antara menahan sakit juga gemas dengan kelakuan istrinya tersebut.
"Kelak aku juga akan melihatnya Jess, cepat atau lambat. Jadi biasakan dirimu menerima semua perhatian dan sentuhanku." Ucap Kent berusaha meredam gejolak yang mulai mengusik sanubarinya.
__ADS_1
"Kita akan bercerai jika saja kau lupa. Sekarang keluarlah, aku bisa melakukannya sendiri." Tolak Jess kukuh pada pendiriannya.
Kent lagi-lagi di uji kesabarannya.
"Baiklah, lakukan dengan cepat. Aku akan tetap di dalam sini hingga kau selesai." Kedua mata Jess membola. Bagaimana bisa dia buang air jika di tunggui. Apalagi oleh seorang pria meski itu adalah suaminya sendiri.
"Kau benar-benar sakit, Kent. Mana bisa aku melakukan jika kau di sini. Keluarlah Kent, aku mohon. Aku sudah tak dapat menahannya..." Lirih Jess pelan. Wanita itu semakin gelisah menahan sesuatu di bawah sana.
Kent kembali berbalik menghadap ke arah Jess.
"Lakukan sekarang sendiri dengan aku berdiri di pojok, atau aku sendiri yang akan Melakukannya untukmu? Kau punya dua pilihan Jess sayang?" Jess nampak lesu, wanita itu bahkan sudah merasakan bagian bawahnya mengeluarkan sedikit air seni.
Kent masih berjongkok di depan toilet yang di duduki oleh Jess, membuat Jess frustasi berat.
"Kau membuatku mengompol brengsek!" Umpat Jess jengkel. Sedangkan Kent terkekeh tanpa dosa, kedua tangannya terulur menurunkan celana istrinya.
Meski harus melawan gejolak hasrat, Kent tetap melakukannya hingga tuntas dengan tenang. Pria itu bahkan langsung memandikan Jess, karena Jess sendiri risih. Dia belum mandi selama beberapa hari, dan kini terpaksa mengompol karena ulah Kent.
Selesai drama kamar mandi, Kent dengan telaten menyisir rambut panjang Jess.
"Aku sudah memanggil ahli terapi untuk pemulihan kakimu. Mungkin sore ini akan tiba. Setelah kau pulih, kita akan langsung pergi bulan madu. Mama sudah menyiapkan tiket penerbangan untuk kita berdua ke Hawaii. Mereka belum bisa kembali, kesehatan mama sedikit bermasalah. Jadi mama titip salam rindu untuk menantu kesayangan mereka ini." Celoteh Kent panjang lebar.
Sesekali Jess melirik melalui pantulan cermin. Melihat ekspresi wajah Kent saat menyampaikan kalimat panjang penuh kejutan tersebut. Datar. Satu kata yang bisa Jess simpulkan. Entah bagaimana perasaan Kent sebenarnya, pria itu membawanya terbang menembus angkasa. Namun tak terlihat memiliki persiapan, untuk kemungkinan besar jika salah satu dari mereka terhempas jatuh ke dasar bumi.
Pria itu memutar lalu berjongkok di hadapan Jess. Di raihnya kedua tangan yang masih terlihat pucat tersebut. Tatapan mata elangnya membuat Jess salah tingkah. Namun Jess yang pandai mengendalikan diri, mampu membuat dirinya terlihat biasa saja di hadapan Kent.
"Beliau ibumu juga, Jess. Apa kau sudah tak menganggap mama sebagai ibumu lagi? Kau marah padaku, tapi jangan membenci kedua orang tuaku. Mereka sangat menyayangimu, bahkan lebih besar dari rasa sayang mereka padaku." Ucap Kent lemah.
Hatinya sedih kala Jess sudah mulai menjaga jarak dengan kedua orang tuanya.
"Maaf, aku tak bermaksud. Aku hanya ingin membiasakan diri sebelum kita berpisah. Kelak akan mudah bagi Melisa masuk dalam kehidupan keluargamu setelah aku pergi. Dan putrimu tak lagi kau sembunyikan dari siapapun. Aku tau sakitnya tak di inginkan, jangan sampai putrimu juga merasakan hal yang sama sepertiku." Ujar Jess menatap Kent. Ada rasa sakit kala kalimat itu dia ucapkan.
Jess mengumpulkan segenap keberaniannya untuk bersitatap dengan pria itu. Walau harus menahan degup jantungnya yang kian berdebar kencang.
Kedua netra itu bertemu pandang, dengan jarak yang sangat dekat. Entah siapa yang memulai. Kini bibir Kent telah menempel sempurna dengan bibir ranum Jess.
Wanita itu reflek memejamkan kedua matanya. Kent tersenyum samar, hingga lu ma tan terasa menggelitik gelora kedua insan fana itu.
Kent yang merasakan candu, mulai memperdalam ciuman mereka. Ciuman hangat yang kini mulai terasa menuntut lebih. Jess mendorong pelan bahu Kent. Nafas ke-duanya terengah-engah. Ini adalah ciuman pertama bagi ke-duanya. Jika Jess yang amatir dalam kepolosannya, berbeda dengan Kent yang menggunakan naluri kelakiannya.
"Maaf, bibirmu sangat manis. Aku merasa sangat candu. Ini milikku, tak ada yang boleh menyentuhnya selain aku." Ucap Kent dengan suara parau. Pria itu menempelkan keningnya di kening Jess.
"Kau mencuri ciuman pertamaku!" Sarkas Jess setelah kesadarannya kembali. Wanita itu sangat malu, karena hanyut dalam kehangatan yang Kent berikan padanya.
__ADS_1
Bibirnya masih terasa kebas, akibat ulah Kent yang sedikit grangas.
Kent terkekeh pelan, telapak tangan lebar itu kini mengusap pipi tirus Jess.
"Aku serius, jangan pernah membiarkan pria lain menyentuh apa yang menjadi milikku. Aku tak akan segan-segan mengirimnya ke neraka saat itu juga." Ancam Kent mengultimatum peringatan tegas pada Jess.
"Ck! Lalu bagaimana denganmu? Kau bisa menyentuh wanita lain, kenapa aku tidak? Sedangkan kita juga akan berpisah sebentar lagi." Sungut Jess tak terima dengan ancaman sepihak Kent padanya.
"Tidak akan ada perpisahan Jess! Kau akan menjadi istriku selamanya dan satu-satunya. Camkan itu!" Ucap Kent penuh peringatan.
"Kau amnesia? 10 hari lagi kontrak pernikahan kita berakhir." Balas Jess mencoba menyegarkan ingatan pria egois di hadapannya itu. Nada suaranya sedikit meninggi, dan ini kali pertamanya seorang Jess yang tenang larut dalam emosi.
"Aku sudah merobeknya kemarin. Jadi kontrak di batalkan!" Sahut Kent enteng. Jess melongo, semudah itu Kent mengucapkan kalimat pembatalan sepihak tersebut.
"Bagaimana bisa kau melakukannya tanpa berkompromi denganku?" Tanya Jess kesal. Wanita memalingkan wajahnya ke arah lain, berhadapan dengan Kent membuat kinerja jantungnya menjadi tak stabil.
Kent menangkup kedua pipi Jess agar pandangan wanita itu mengarah padanya.
"Jadi mulai sekarang dan selamanya, kau adalah wanitaku. Kau istriku dan itu tak bisa di ganggu gugat. Aku tak menerima bantahan Jess. Menurutlah padaku, sebagai istri yang baik dan penurut. Aku akan membelikan rumah lain untuk Melisa dan Eli. Kau tetap tinggal di rumah kita yang sekarang. Jadi untuk sementara, aku akan menemanimu di sini sampai kau pulih. Jangan bertanya apapun lagi, jangan protes apalagi berniat kabur dariku. Akan ku potong kedua kakimu agar tak dapat melarikan diri dariku selamanya." Ingat Kent tegas.
Gluk
Jess meneguk ludah kasar. Kent mengancam dengan nada datar yang terlihat serius. Entah kapan dia bisa memahami karakter Kent yang sesungguhnya.
Pria itu berubah menjadi pemaksa setelah kedatangan istri pertamanya.
"Kau menyebalkan Kent Rahardjo!" Umpat Jess kesal.
Kent tak ambil pusing. Sekarang masalah dengan Jess telah usai. Wanita itu akan selalu menjadi miliknya sampai kapanpun. Untuk Melisa akan dia tatar wanita itu agar menjadi pribadi yang lebih baik. Kent tak berharap hubungan mereka bertiga berhasil. Karena Kent memang tak pernah menginginkan hubungan tersebut terjadi.
Namun kehadiran Eli tak dapat dia tampik begitu saja. Eli adalah tanggung jawabnya. Jika kedua wanita itu bisa saling berbagi waktu, maka Kent akan melakukan yang terbaik agar hubungan mereka tetap terjaga dengan baik.
Yang jelas untuk saat ini, dia tak ingin kedua orang tuanya mengetahui kebenaran sebelum dia sendiri yang menyampaikannya.
Karena cerita versi orang lain, akan berbeda dengan apa yang kita ucapkan sendiri.
Begitulah pikiran sederhana seorang Kent. Tanpa dia sadari, jika keputusannya mempertahankan Jess. Akan membuat wanita itu hidup dalam lingkaran penderitaan yang tak ada ujungnya.
...----------------...
......................
Gimana gaess, Kent nyebelin gak sih? bikin baper tapi menghempas secara diam-diam. Kuy tabok Kent pake komen kalian๐คญ๐
__ADS_1
Lope lope para kesayangan buna Qaya ๐ค๐ค๐ค