Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 31


__ADS_3

Im back again readers πŸ€—πŸ€—


Semoga masih betah di lapak ini terutama mentengin novel receh ini😚😚


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa tidak ada cara lain dok? Maksudku selain kemoterapi dan berkahir dengan bedah torax. Mungkin ada alternatif lain yang terlewati. Maaf jika aku melampaui spesialisasi yang dokter bidangi. Hanya saja aku masih belum siap secara mental. Semua masih terlalu mendadak untukku. Aku ...." Kent mengeratkan genggaman tangannya untuk menyalurkan kekuatan pada sang istri.


"Kami akan mempertimbangkannya Dok, mungkin saat ini istriku masih syok dengan segala penjelasan yang dokter sampaikan. Maaf, bukannya menolak saran dokter. Mohon beri istri saya waktu untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu." Sela Kent menatap penuh permohonan agar sang dokter memahami situasi istrinya.


Dokter Meta tersenyum seraya mengangguk paham. Hampir semua pasiennya mengalami reaksi yang sama seperti Jess. Jadi bukan sesuatu yang mengherankan baginya.


"Tidak masalah tuan Kent. Hanya saja opsional yang ku berikan adalah keputusan akhir. Penyakit nyonya Jess telah mencapai stadium lanjut. Semua rencana tindakan sudah kami pertimbangkan dengan matang. Dokter Arya selaku dokter yang menangani penyakit kanker nyonya Jess pun, sudah merekomendasikan rujukan kemari. Artinya ini adalah keputusan final yang bisa kami berikan sebagai solusi untuk menghambat penyebaran, juga mengangkat sel-sel kanker yang sudah menyebar." Terang dokter Meta panjang lebar.


"Hasil MRI nyonya Jess memperlihatkan ada beberapa jaringan saraf yang telah rusak. Itu kenapa mimisan terkahir lebih banyak dari sebelumnya." Lanjut dokter Meta menjelaskan.


Telapak tangan Jess mulai berkeringat dingin. Kent dapat merasakan basah di tangannya. Pria itu menoleh lalu menarik sang istri hingga merapat padanya.


"Tak apa, kau pasti akan sembuh. Bukankah penentu hasil akhir adalah sang pencipta? Dia tak akan tega membuat orang sebaik dirimu merasakan kesakitan ini. Yakinlah kau pasti pulih, dan kita akan memiliki banyak anak yang lucu dan menggemaskan." Tutur Kent menahan lelehan bening yang siap meluncur dari pelupuk matanya.


Sedangkan Jess sudah terisak dalam pelukan Kent. Tak ada lagi jarak, Jess hanyalah wanita biasa yang bisa merasakan rapuh dan sedih. Kini dirinya berada di titik yang paling menyedihkan sepanjang hidupnya.


Kent berusaha terus menguatkan sang istri tercinta. Jess akan pulih begitulah keyakinan Kent.


πŸ‘ΈπŸ»


πŸ‘ΈπŸ»


"Kak Jess masih belum kembali?" Tanya kevin ikut duduk di samping Ben. Keduanya baru pulang sekolah, namun Kevin bahkan tak ikut makan siang. Hanya berganti pakaian. Keduanya hari ini tidak bekerja, karena mendapatkan off kerja satu hari selain hari minggu.


"Belum. Ibu bilang kakak hari ini di rujuk ke dokter bedah saraf. Semoga saja hasilnya baik. Aku tak ingin kehilangan seorang seperti kak Jess." Sahut Ben menatap lurus ke arah pohon rindang kesukaan sang kakak.


"Kak jess pasti sembuh. Kau lupa jika kakak kita itu wanita yang kuat. Berpikir positif saja, semua akan baik-baik saja." Tandas Kevin terdengar tak senang dengan kalimat bernada putus asa dari mulut Ben.


"Ya kau benar. Kak Jess wanita yang kuat dan hebat. Buktinya kita tak ada satupun yang mengetahui perihal penyakitnya selama ini. Kak Jess berhasil mengelabui keadaannya tanpa pernah sekalipun mengeluh." Papar Ben menahan getir.


Jess ibarat oksigen bagi seluruh penghuni panti. Jika wanita itu rapuh dan lemah, maka mereka semua akan merasakan sesak yang amat sangat.


Kevin bergeming, tatapan kosong mengisyaratkan perasaan yang sama risaunya. Memikirkan Jess yang tengah menanggung kesakitan, membuat hatinya pedih.


πŸ‘ΈπŸ»


πŸ‘ΈπŸ»

__ADS_1


Melisa memicing melihat mobil sport mewah keluaran terbaru, terparkir indah di halaman rumah. Senyum piciknya mengembang kala melihat mobil tersebut. Tangan mulusnya mengusap kap mobil mengkilap tersebut dengan senyum penuh arti.


"Khemmm..." Melisa terlonjak kaget kala mendengar suara deheman seorang wanita.


Wanita itu memutar bola mata jengah. Dia tau suara siapa yang terdengar menjengkelkan di telinganya itu. Melisa memutar tubuhnya dengan malas ke arah sumber suara.


"Kau baru pulang? Sepertinya kesibukan yang kau sebut tadi malam sangat menyita waktumu, Melisa. Kau bahkan tak diberikan jeda untuk beristirahat walau sejenak untuk menikmati tidur malam." Sindir Queen dengan nada meledek.


Melisa melengos tanpa berniat untuk membalas sindiran tersebut.


"Ah ya, aku baru saja membeli mobil baru. Sedikit mahal sih, tapi Kent tak keberatan sama sekali aku memakai uangnya untuk membeli mobil ini. Tapi sepertinya aku mulai berpikir untuk mencari mobil lain saja. Mobil ini terlalu pelit ruang. Aku butuh mobil dengan ruang yang luas." Queen menjeda kalimatnya seolah tengah berpikir.


Sedangkan Melisa melotot mendengar pengakuan sang kakak ipar. Jadi mobil ini di beli dengan uang suaminya? Jatah bulanannya saja tidak Kent kirim hingga sekarang. Dan apa ini? Queen bahkan bisa membeli mobil baru dengan harga fantastis.


"Bagaimana dengan Pajero sport saja? Bukankah mobil itu di desain dengan ruang yang luas? Ah, aku harus meminta Kent mengirimkan aku uang lagi. Aku tak suka dengan mobil jelek ini." Tukas Queen dengan gaya pongah.


Wanita itu bahkan menendang kecil ban mobil tersebut kemudian berlalu begitu saja.


Jangan di tanya reaksi Melisa. Wanita itu menatap dongkol sikap semena-mena Queen menggunakan uang suaminya.


"Awas saja kau Kent! Kau memberikan uang tak terbatas pada kakakmu sementara istrimu kau lupakan nafkahnya. Kau harus membayar semua penghinaan saudaramu padaku Kent." Dumel Melisa menahan geram yang kian bercokol di hatinya.


Dengan langkah pelan Melisa memasuki rumah. Area pangkal pahanya masih menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Entah bagaimana si bule brengsek itu memperlakukannya semalam. Seperti ada bongkahan di dalam miliknya yang belum keluar sempurna.


Tanpa Melisa ketahui, jika si bule tengil juga memasukkan s*e*ks toys ke dalam milik Melisa demi mencapai kepuasannya. Pria itu merasa kurang puas dan berusaha menjadikan benda tersebut sebagai pengganjal agar miliknya merasa terjepit.


Eli berlari menyongsong sang ibu yang terlihat kuyu.


"Mama..!" Seru Eli nyaring. Melisa menoleh malas ke arah sang anak.


"Mama cape, Eli. Main sama sus Yuyun saja dulu, mama mau istirahat di kamar." Tukas Melisa belum sempat Eli mengatakan kerinduannya pada sang ibu.


Raut wajah Eli berubah masam. Gadis kecil itu berdiri mematung berharap sang ibu berubah pikiran. Sayang melisa hanya melewatinya begitu saja.


Yuni lekas menghampiri, membawa Eli ke gazebo taman belakang. Eli mengangguk walau hatinya masih berharap jika ibunya kembali dan memeluknya meski hanya sekejap.


Namun hingga tiba di gazebo, ibu yang dia harapkan tak kunjung menyusul. Eli terlihat begitu muram. Gadis kecil itu tenggelam dalam rasa kecewanya. Bahkan permainan yang dilakukan oleh Yuni pun tak menarik minatnya.


Yuni mendesah panjang melihat Eli yang jadi semakin pendiam. Belum lagi rasa takut gadis itu terhadap sang bibi. Di tambah sikap Melisa yang semakin menjauh dari putrinya.


"Nyonya sungguh keterlaluan. Pulang pagi bekas ikan ****** di mana-mana. Abis open BO apa gimana? Kurang uang? Ternyata lebih kere dari aku sama bik Sum." Dumel Yuni kesal.


Meski belum pernah mendapatkan sentuhan seorang pria. Namun Yuni cukup memahami bekas-bekas tertentu di tubuh manusia dewasa. Apalagi leher melisa memperlihatkan begitu banyak bekas merah keunguan yang nampak tak tersembunyikan.

__ADS_1


"Apa wanita itu tak malu memperlihatkan leher penuh penyakit aibnya di hadapan nona Queen?" Gerutu Yuni masih tak habis pikir.


Di suatu tempat, seorang pria tengah menikmati makan siang dengan tergesa-gesa. Dia memiliki janji dengan seseorang dan kini dirinya terlambat hampir satu jam lamanya.


"Semoga saja wanita pemarah itu tak mengeluarkan tanduk rusanya untuk menubrukku nanti. Bisa-bisa aku mati dalam keadaan yang belum sempurna sebagai seorang Pria." Gumam pria itu di sela mulutnya yang tengah mengunyah makanan.


Drrttt drrttt drrttt


Ponselnya memperlihatkan panggilan dari nomor asing. Keningnya mengerut dalam. Namun jarinya tetap menjawab panggilan tersebut, dengan mode loud speaker aktif.


"Ya dengan siapa?" Tanyanya to the poin.


"Ck! Kau di mana? Kakak mencarimu dan kau bagai di telan se lang ka ngan. Lenyap tanpa bekas!" Sahut si penelepon terdengar geram.


"Kau? Oh maafkan aku. Aku sedang makan, perutku keroncongan. Bercinta menguras banyak energiku brother. Sebentar lagi aku akan ke rumahmu, aku harus ke hotel dulu untuk mengambil koper dan barang lainnya. Ah, aku meminjam mobil seorang teman. Aku harap kau cukup kaya untuk menyediakan aku mobil di rumahmu. Dan ya, aku tak suka mobil dengan merek murahan. Share lock alamat rumahmu, aku akan langsung ke sana saat semuanya beres. Bye!"


Panggilan di putuskan secara sepihak. Dia tau sang sepupu pasti akan mendampratnya dengan berbagai kalimat umpatan. Untuk itu dia mencari aman terlebih dahulu.


"Ah kentangnya... terimakasih Tuhan." Gumamnya seraya berucap syukur. Sebejad-bejadnya dia, selalu ingat mengucapkan kalimat syukur atas apapun yang dia peroleh. Termasuk mendapati wanita ja la ng yang dengan suka rela menawarkan tubuh murahan mereka padanya.


"Kenyang tuan, bukan kentang. Kentang itu sejenis hewan melata, berbulu halus dan licin." Ucap seorang waitress sekenanya dari meja sebelah.


Gadis itu sedang membereskan meja dan piring bekas pelanggan lain.


Suara wanita itu sontak membuat si pria menoleh cepat. Delikan mata tajam menghunus bokong si pelayan restoran.


"Ku pikir kentang semacam benda bulan dengan tololan di pucuknya. Ternyata semacam belut listrik mematikan. Kau pandai membuat perumpamaan nona. Siapa namamu?" Mulailah kalimat kalimat penuh nada gombalan terlontar dari mulut si Casanova kelas lele sawah.


Si wanita menoleh kemudian melemparkan senyum manis. Oh hati, si pria langsung cenat cenut melihatnya.


"Senyummu semanis susu murni, aku menyukainya." Puji si pria terus menatap bongkahan di balik kemeja ketat si waitress.


"Anda bisa saja tuan, bukankah susu murni rasanya hambar?" Balas si waitress balas mencandai si pria asing. Selesai membersihkan meja, si wanita pergi dari sana dengan troli berisi piring kotor.


"Ah sayang sekali. Padahal aku tertarik pada dadanya. Eh? Senyum manisnya. Ya, senyumannya. Membuat aku meleleh seperti keju mozzarella." Gerutu si pria menatap bokong berisi yang berjalan menuju arah pantry dengan decakan gemes. Entahlah. Antara kagum atau kesal karena tak kuasa ingin merematnya.


Lekas dia menggelengkan kepalanya, lalu meraih kunci mobil. Ada janji yang harus segera dia tuntaskan sebelum ijin tinggalnya terancam hangus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Ada bayangan gak, siapa pria super mesum itu??

__ADS_1


kuy tebak bareng-bareng gaeesss 😘


lope lope para kesayangan buna Qaya 🀍🀍🀍


__ADS_2