
Jangan ada bombay sepagi ini, tapi kebetulan othor baru abis order bawang. Jadi othor mau berbagi pada readers sekalian ππ
Siapkan tisu atau cukup daster payung yang menjadi andalan para wanita-wanita super yang di sebut, emak-emak π€π
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπ»πΈπ»πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Meninggalkan Kent dan Melisa dalam ketegangan mereka. Jess berkunjung ke sebuah makam yang sudah hampir satu bulan ini tak pernah dia kunjungi.
Terlihat rumput liar mulai merambat di area makam tersebut. Jess berjongkok kemudian mencabuti rumput-rumput di sekitar sana hingga bersih.
Taburan kelopak bunga menjadi pembuka salam pertemuan dua makhluk berbeda alam tersebut.
"Apa kabarmu kak? Maaf aku sempat melupakanmu sejenak. Aku sedikit sibuk belakangan ini. Adik-adik di panti sedang mengadakan kegiatan bulan bakti dengan lingkungan sekitar. Seperti dulu, akan ada kesibukan para wanita di area dapur dan pasar. Pak Rahmat mengadakan lomba lingkungan bersih dan sehat skala RT. Itu berhasil membuat semangat warga berkobar bagai nyala api." Jess menjeda kalimatnya. Ada butiran kristal bening meluncur tanpa permisi di kedua pipinya.
Jess mengusapnya kasar. Wanita itu tersenyum hambar, hatinya masih menyimpan duka tahunan itu hingga kini. Rasanya seperti baru kemarin, hatinya masih belum sepenuhnya merelakan.
"Aku harap kau dapat melihatku dari sana. Bagaimana aku menjalani kehidupanku bersama ibu Maria dan adik-adik kita di panti. Kevin, Yulia dan Ben sudah menjadi remaja yang tampan dan cantik. Mereka akan menghadapi ujian akhir Kelulusan. Doakan mereka, oke? Bukankah kau ingin Kevin menjadi seorang dokter bedah terbaik, Yulia menjadi seorang desainer ternama dan Ben menjadi seorang dosen yang hebat. Mereka akan mewujudkan semua mimpi indah yang pernah kau impikan dulu. Tenanglah di sana, kami baik-baik saja di sini." Suara Jess semakin tercekat parau. Dadanya sesak hampir tak mampu bernafas dengan benar.
"Kami merindukanmu... terutama aku...aku seperti kehilangan sandaran setelah kepergianmu kak...kenapa kau begitu cepat pergi? Apa kau begitu lelah menjaga kami semua? Kenapa kau menimpa pundak kecilku dengan beban yang amat berat? Aku hampir tak sanggup menerima beban ini seorang diri. Kenapa kau jahat sekali...." Isakan Jess terdengar begitu menyayat hati.
Seorang pria tercengang mendapati pemandangan tak terduga tersebut. Sungguh dunia sesempit ini. Dengan langkah lebar, pria tersebut berbalik mundur menuju mobilnya. Niat berkunjung ke makam salah seorang kerabatnya pun dia urungkan.
Sesampainya di mobil. Pria itu tak langsung pergi, namun masih betah menunggu sesuatu yang membuat jiwanya meronta penasaran.
Dari kejauhan, dapat dia lihat tubuh mungil seorang wanita berjalan gontai menuju di mana motornya terparkir. Wajah cantik itu terlihat kuyu dan tak bersemangat.
"Bagaimana bisa ini menjadi sekebetulan ini? Kenapa aku bisa-bisanya tak menyadari jika itu kau." Si pria tertawa miris mengingat kebodohannya.
"Bodohnya aku. Harusnya aku menyadarinya sejak awal melihatmu." Air matanya mengalir mengingat betapa bodohnya dia. Melukai peri yang seharusnya dia jaga dengan seluruh hidupnya. Bukannya memelihara parasit yang menggerogoti kehidupannya.
πΈ
πΈ
Ibu Maria mengetuk pintu kamar Jess beberapa kali, namun tak mendapatkan respon apapun. Membuat hati wanita paruh baya itu ketar ketir penuh ketakutan.
__ADS_1
Dia khawatir Jess kembali pingsan seperti biasanya, jika putrinya itu sedang berada dalam sebuah tekanan psikologis dan kelelahan fisik.
Kevin yang baru tiba di rumah lekas menghampiri sang ibu.
"Kenapa bu? apa Kak Jess ada di dalam?" Berondong Kevin terlihat cemas. Ibu Maria hanya mengangguk dan meminta kevin untuk mendobrak pintu kamar kakaknya.
Tak lama Ben datang setelah memarkirkan motor bututnya di garasi.
Pria muda itu ikut membantu Kevin mendobrak pintu kamar Jess. Benar saja, setelah pintu terbuka. Terlihat Jess tergeletak di bawah ranjangnya dengan darah mengering di sekitar wajahnya.
Wanita itu mimisan dalam jumlah yang sangat banyak. Ibu Maria berteriak histeris kala melihat keadaan putri sulungnya. Menghampiri lalu memangku kepala Jess.
"Biar Kevin angkat ke kasur dulu bu." Pinta Kevin menahan panik yang sama. Sementara Ben menghubungi bidan dari pustu tempat tinggal mereka.
"Kenapa kau bisa sampai seperti ini nak? Beban apa yang kau tanggung hingga membuatmu kembali mengalami mimisan separah ini?" Isakan ibu Maria membuat lelehan panas di pipi Kevin mengalir semakin deras.
Ben kembali masuk bersama Yulia dengan sebaskom air dingin. Seperti anjuran bidan, mimisan tak baik di kompres menggunakan air hangat. Hanya akan membuat mimisan semakin parah.
Yulia menangis dalam diam, sembari terus membersihkan wajah Jess yang berlumuran darah kering. Di kedua lubang hidungnya, masih ada cairan darah encer di sana. Ibu Maria membersihkan rambut Jess yang ikut terkena genangan darah di lantai.
Ben beberapa mengusap kasar air matanya. Remaja itu menepuk pelan bahu Kevin, agar saudaranya itu tak terlalu menampakkan kesedihannya di hadapan ibu Maria.
"Mari masuk bu, kak Jess di kamar."
"Jess kenapa Ben? Suaramu tidak begitu jelas ibu dengar. Di pustu sedang ada keluarga pak Hanung. Menantunya, istrinya Deden melahirkan. Jadi ramai sekali tadi." Tutur bu bidan sambil terus berjalan mengekori Ben dengan tas perlengkapan medis ditangan kanannya.
"Kak Jess di temukan pingsan lagi Bu bidan. Sepertinya sudah lumayan lama, darahnya sudah mengering sebagian. Kali ini lebih banyak dari yang sudah-sudah." Terang Ben mengarahkan bu bidan ke pintu kamar Jess.
"Astaghfirullah...!" Seru wanita itu, kala melihat genangan darah yang belum sempat di bersihkan. Sebelumnya tak pernah sebanyak ini, artinya penyakit Jess tidak main-main. Bu Zainab mengusap dadanya menahan rasa terkejut yang amat sangat.
"Zainab, tolong putriku..." Pinta Bu Maria terisak pelan sembari terus memijit pelan tangan Jess. Sementara Yulia duduk di sisi kaki kakaknya.
"Ya Bu, ya... Insyaallah Jess akan baik-baik saja. Tidak ada doa yang mengkhianati harapan insannya. Tenanglah, aku akan memeriksanya dulu." Hibur Bu bidan menenangkan hati ibu Maria.
Wanita itu mulai mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya. Memeriksa tekanan darah Jess juga mengambil sampel darah dari lengan Jess. Yang rencananya akan dia kirim ke puskesmas terdekat untuk di periksa di laboratorium di sana.
__ADS_1
Setelah selesai, Jess belum ada tanda-tanda terbangun. Bidan Zainab menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembus dengan helaan panjang.
Jess sudah seperti adik baginya. Wanita itu 13 tahun lebih muda darinya, sejak kecil Jess sering di ajak oleh sang ibu ke rumah mereka untuk menjadi temannya. Karena beliau hanya anak tunggal yang tak terlalu pandai bergaul dengan teman sebayanya.
"Bagaimana keadaan anakku, Zainab?" Tanya Bu Maria setelah isaknya mulai mereda. Lengan dasternya kini beralih fungsi sebagai kain lap, untuk menyeka air matanya yang baru saja surut.
Sebelum menjelaskan kondisi Jess, Zainab menatap sejenak pada sang pasien yang masih betah memejamkan kedua matanya. Hatinya meringis pilu jika harus mengatakan kemungkinan buruk pada wanita paruh baya di hadapannya itu.
"Katakan saja, Zainab. Kau tau aku selalu punya hati yang lapang untuk menerima setiap kemungkinan buruk, meski sejatinya aku tak pernah siap." Desak ibu Maria menatap sayu ke arah Zainab.
"Baiklah. Kondisi Jess tidak baik-baik saja. Aku curiga Jess mengidap sejenis penyakit kronik yang belum bisa aku pastikan secara rinci. Bolehkah aku merujuk Jess ke rumah sakit saja, bu? Kita akan mengetahui penyakit apa yang Jess derita, dan bisa melakukan penanganan sesegera mungkin sebelum terlambat." Terang Zainab dengan nada rendah.
Hatinya tak tega melihat garis kerutan di wajah Bu Maria, yang terlihat jelas menahan beban pikiran berat.
Bu Maria memejamkan kedua matanya. Ada sesak yang berusaha dia tahan, agar dapat bertahan demi sang putri tercinta.
Sementara tangis Yulia kembali mengucur deras. Gadis itu terisak-isak dalam dekapan Ben yang berdiri di samping ranjang. Kevin? Remaja itu terlihat cukup tegar, namun terlihat jelas kedutan bibir yang di tahan agar tak kembali menumpahkan tangisan.
Ben diam-diam mengusap air matanya menggunakan lengan baju seragam yang dia pakai.
Berbagai pikiran buruk mulai menghantui pikiran mereka, kondisi Jess memang tak terlihat baik. Wajah wanita itu sangat pucat bagai tubuh tak bernyawa.
Bayangan kehilangan membuat hati mereka ketar ketir tak rela. Hingga keputusan di buat, beberapa tetangga yang melihat ada mobil ambulan tiba di pelataran rumah Bu Maria lekas berdatangan.
Saat mengetahui Jess lah pasien yang di jemput olej mobil pesakitan tersebut. Beberapa ibu-ibu tak dapat membendung tangis mereka. Jess wanita muda yang sangat ramah dan terkenal sangat baik, serta santun di lingkungan mereka.
Melihat wanita itu terbaring tak berdaya di atas brankar. Membuat hati mereka ikut merasakan sakit yang sama, seperti yang di alami oleh seisi panti.
"Yang sabar Bu Maria. Allah tak akan menguji kemampuan umat_Nya melebihi batas yang mampu di hadapi." Ujar seorang wanita berkerudung sembari mengusap pelan bahu Bu Maria. Wanita itu hanya mengangguk tanpa mampu berkata apapun.
"Kami akan menyusul ke rumah sakit nanti. Kabari saja bagaimana perkembangan keadaan Jess. Nanti saya Share di group warga tentang kondisi Jess. Ibu yang sabar, insyaallah Jess anak yang kuat. Anak ibu itu bahkan hampir tak pernah sakit sejak kecil. Anggap saja ini jembatan bagi Jess untuk meraih nikmat ketika berhasil menyebrangi badai kecil ini." Hibur wanita lainnya memeluk bu maria sebelum wanita itu ikut masuk ke dalam ambulan.
Sedangkan Kevin, Ben dan Yulia berbagi tugas. Yulia tetap di panti untuk menjaga adik-adik mereka, sementara Kevin dan Ben menyusul menggunakan motor dari belakang ambulan. Keduanya hanya berganti baju saja tanpa sempat mengganti celana seragam sekolah yang masih mereka pakai.
...****************...
__ADS_1
Kuy jejak cintanya jangan lupa ya gaesssπ€π€ππ
lope lope para kesayangan buna Qaya π₯°π₯°π₯°π₯°