Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
bab 45


__ADS_3

I'am back again bestieh 🤭 🤗


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Setelah perundingan yang nyaris membuat Jess putus asa, akhirnya wanita itu kini bisa bernafas lega. Dokter Adam menyarankan agar Jess melakukan kontrol rutin setiap dua minggu sekali. Itu mutlak tak dapat di ganggu gugat, termasuk Kent yang harus menahan diri agar tak menerkam sang istri, hingga kehamilan Jess di nyatakan aman untuk di kunjungi.


Pria itu tak masalah. Kebahagiaan pasangan tidak hanya terletak pada hubungan se k sual semata, namun bagaimana kedua insan tersebut mampu menyatukan perbedaan, dan saling menerima kekurangan satu sama lain.


"Kau ingin makan buah sayang? mungkin semacam rujak. Aku melihatnya di internet. Makanan keramat para wanita hamil. Kau ingin mencobanya?" tawar Kent yang masih setia mendusel perut Jess dengan hidung mancungnya.


Pria itu berbaring di atas pangkuan Jess sebagai bantalan kepalanya. Sejak terakhir mengunjungi dokter kandungan seminggu yang lalu, Kent sama sekali belum pernah pergi ke kantor. Alhasil pekerjaan sang asisten semakin menumpuk mengalahkan tingginya gunung Himalaya.


"Aku malah ingin makan eskrim rasa vanilla dan coklat." Ucap Jess terlihat begitu penuh minat. Hampir saja air liurnya menetes di wajah sang suami.


"Baiklah, ayo kita membelinya di minimarket depan komplek." Timpal Kent penuh semangat. Jess terkekeh geli melihat reaksi Kent yang begitu tak sabar. Padahal dirinya lah yang memiliki ide memakan eskrim, namun sang suami ternyata lebih doyan darinya.


🌈


🌈


Meninggalkan pasangan yang sedang di landa asmara, beralih pada seorang pria yang sudah seminggu ini seperti kehilangan semangat hidupnya.


Beberapa kali Aditya uring-uringan mencari-cari kesalahan karyawan. Itu semua karena Aditya tengah di landa kegalauan. Perjuangannya terasa begitu sulit, satu-satunya tempat yang ingin dia jadikan sebagai wadah untuk mencurahkan keresahannya. Malah begitu sulit untuk di sekedar hubungi.


Kent seolah sengaja menghindarinya. Nyatanya pria itu masih sempat menghubungi Risma untuk urusan pekerjaan. Lalu kenapa Kent nampak pilih kasih padanya.


Tok tok tok


lamunan Aditya buyar seketika, kala mendengar suara ketukan pintu ruangannya.

__ADS_1


"Masuk tidak di kunci," seru Aditya dari kursi kebesarannya. Pria itu sedang dalam mode mager dan maker (malas kerja). Aditya menghabiskan waktunya hanya untuk mencari referensi cara merayu Risma si sekretaris incarannya.


Klek


Terlihat seorang wanita yang selama dua minggu ini mengambil alih fokus Aditya, tengah berdiri di depan pintu sembari membawa sebuah berkas setebal tesis di tangannya.


Aditya yang tadinya lesu mendadak seperti mendapatkan durian runtuh. Binar mata penuh kerinduan tak dapat di jelaskan dengan kata-kata.


Aditya fix menjilat ludahnya sendiri. Bersikap angkuh namun kini kukuh ingin memperjuangkan wanita itu hingga titik darah penghabisan.


"Ada apa Ris?" tanya Aditya dengan gaya yang di buat sesantai dan se cool mungkin.


"Hanya ingin memberikan laporan keuangan tiga bulan terakhir. Lusa jadwal pengauditan, semoga anda sempat memeriksa berkas ini tuan. Aku letakkan di sini saja, anda bisa memeriksanya saat anda sedang tidak sibuk." Ucap Risma formal. Aditya mendengus kesal.


Kini dia bisa melihat dirinya dalam versi Risma. Dingin, dan tak tersentuh. Namun kini Aditya begitu ingin di sentuh oleh wanita itu.


"Taruh saja di sana, nanti aku akan memeriksanya. Ah ya, pulang nanti tunggu aku. Ada hal yang ingin aku sampaikan secara pribadi padamu. Jadi tunggu aku di lobby," ucap Aditya Berusaha menguasai diri. Degup jantungnya bertalu-talu Sette menyelesaikan kalimat pendek tersebut.


"Ya sudah, aku akan menunggu anda di lobby, jika dalam 10 menit anda terlambat tanpa kejelasan. Aku akan langsung pulang saja." Risma yang tak suka basa basi nampak begitu tegas saat mengatakan kalimat tersebut.


"Baiklah, aku akan turun beberapa menit setelah dirimu tiba di lantai bawah." pungkas Aditya pasrah. Semoga saja penyakit demensia alzheimer nya tak kumat di saat yang tak tepat. Aditya sering melupakan janji dengan seseorang karena kegilaannya terhadap pekerjaan hingga lupa waktu.


"Hmm.." sahut Risma ambigu. Setelah itu Risma pun melenggang keluar dari ruangan Aditya tanpa menunggu jawaban dari sang asisten.


"Ck, kenapa dia sekarang jadi irit bicara. Apa karena subsidi nya sudah habis? membuat ku kesal saja. Kenapa aku barus menanggung ini semua, ya Tuhan? tak cukupkah status kejombloan sejati yang melekat bagai lem super pada diri ini? jangan uji perjalanan pendekatan ku Tuhan. Kasihanilah hambamu yang tak kalah tampan dari tuan Kent. Amin" sepenggal kalimat yang berisi makna sebuah harapan yang tersemat di sana.


🌈


🌈


Di panti asuhan, Kevin baru saja membereskan piring kotor dari atas meja makan. Setiap kali makan bersama, selalu saja ada anak yang tak menghabiskan makanannya. Bu Maria terlalu penyayang, hanya bisa mengikuti alur anak-anaknya yang kadang suka membuat huru hara di saat-saat tertentu.

__ADS_1


Hanya Jess lah yang mampu membuat adik-adiknya itu duduk tenang dan menikmati makanan mereka hingga kenyang sempurna.


"Bu?"


"Hmmm ada apa nak?" tanya wanita itu masih fokus pada pekerjaannya.


"Kira-kira kak Jess sudah benar-benar bahagia tidak? maksudku, aku hanya tak melihat bagaimana keseharian kakakku itu. Aku tak ingin berburuk sangka, tapi aku masih sulit melepaskan kak Jess sepenuhnya kepada kak Kent. Entahlah, sulit untuk di jelaskan. Aku hanya selalu mencemaskan kakak setiap saat." Tutur Kevin panjang lebar..


Pemuda itu sedang dalam fase kritis cara pandang. Baginya Kent masih belum mampu membuat sang kakak bahagia, namun kukuh ingin tetap bersama wanita kesayangannya itu.


Bu Maria menghentikan pekerjaannya megelap meja makan.


"Kakakmu baik-baik saja nak, doakan saja semoga kebahagiaan senantiasa menghampiri kehidupan kakakmu. Dan jangan lupa doakan kesembuhan untuk kakakmu, nak." Nasihat Bu Maria bijak. Dia tak ingin Kevin putranya terus menyimpan bibit ketidaksukaan yang akan menjadi momok baru, dalam jalinan adik dan kakak ipar tersebut.


"Apa aku terlalu berlebihan, bu? aku sangat menyayangi kak Jess. Saat mengetahui kakakku di jodohkan dengan seorang pria dari kalangan atas, aku sedikit keberatan. Namun kak Jess selalu meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Nyatanya, kak Jess sakit saja kita bahkan tak mengetahuinya sama sekali. Entah apa lagi yang kak Jess sembunyikan dari kita." Ujar Kevin lirih.


Bu Maria mengusap sudut matanya diam-diam. Dia pun mencemaskan sang putri. Namun ada jarak di antara mereka yang tak bisa dia sentuh. Yaitu hubungan pribadi yang bersifat privasi.


"Semua akan baik-baik saja nak, sama seperti yang kakakmu ucapkan. Amin kan saja. Agar menjadi doa yang kelak di dengar oleh malaikat lalu di sampaikan kepada Tuhan untuk di kabulkan." Balas Bu Maria berusaha memberikan pengertian pada putranya.


Kevin hanya bisa mengangguk pasrah meski hatinya masih di landa kecemasan. Namun dia tak ingin membuat hati sang ibu semakin terluka, jika mengetahui fakta yang pernah terjadi antara sang kakak sebelum pria brengsek itu menjadi penganut sekte bucin akut.


Obrolan ringan ibu dan anak itu beralih pada adik-adiknya di panti. Tentang apa saja yang kadang mengundang gelak tawa di antara keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Semoga masih betah gaesss


Lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍

__ADS_1


__ADS_2