
Edisi campur sari, semoga alurnya tetap nyambung ya gaesss 😁
Jangan lupa jejak goibnya, komen n like okeh😘😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Di dalam kamar, Jess terlihat lebih banyak diam. Entah apa yang wanita itu pikirkan. Kent yang baru saja keluar dari kamar mandi menghampiri sang istri di depan jendela.
"Sayang? apa yang kau lihat, sepertinya lebih menarik daripada aku." Seloroh Kent mencoba mencairkan suasana. Jess menoleh kemudian tersenyum simpul.
"Aku hanya melihat taman di sebelah sini ternyata lebih luas dari yang dekat gazebo. Aku berpikir untuk membuat rumah kaca kecil jika boleh." Sahut Jess kembali menatap halaman samping. Kent ikut menatap apa yang sedang istrinya lihat.
"Tentu saja boleh. Ini rumahmu sayang. Kita akan membuatnya, apa saja yang ingin kau tanam di dalamnya nanti? kita bisa membeli beberapa bibit bunga kesukaanmu." Balas Kent antusias. Pria itu senang, jika Jess mulai menggantungkan semua rencana padanya. Dia merasa menjadi suami yang sempurna.
"Aku suka bunga apa saja. Mungkin aku akan memilih beberapa yang menarik perhatianku nanti." Kent mengangguk paham.
"Ayo bersiap, kita akan mengunjungi rumah orang yang akan mengenalkan kita pada seorang tabib ramuan tradisional itu. Semoga saja kita berjodoh dengannya. Aku optimis kau akan sembuh total. Lalu kita akan mencetak banyak anak yang hebat seperti ibunya." Tutur Kent dengan segala rancangan masa depannya.
Binar harapan di wajah Kent membuat Jess tak tega. Jujur saja dia telah menyerah. Dirinya merasa harapan untuk sembuh sangatlah mustahil. Satu banding seribu yang bisa pulih dari penyakit mematikan itu.
"Bagaimana jika aku ternyata tak memiliki harapan untuk sembuh? apa kau akan...." terbungkam. Itulah yang kini Jess alami. Benda kenyal itu tidak hanya menempel, tapi juga me lu mat sangat dalam. Seperti sedang menahan gemas atas kalimat yang baru saja dia lontarkan dari bibir mungilnya.
Kent menghentikan aksinya. "Jangan mengatakan hal konyol itu lagi, aku tak suka. Kau pasti akan sembuh, dan aku yakin itu." Ujar Kent setelah melepaskan tautan bibir mereka.
Pipi Jess bersemu merah. Kent selalu melakukan hal itu tanpa pernah meminta kesiapannya.
"Aku hanya ragu, Kent." Lirih Jess masih belum memiliki keyakinan sekuat keyakinan yang Kent miliki.
"Percaya pada kekuatan doa, percaya pada setiap usaha yang kita lakukan. Tak ada yang mustahil. Bukankah kau sering mendengar aku memutar lagu mujizat itu nyata? aku sengaja terus memutarnya agar kau semakin bersemangat dalam menjalani pengobatan. Baik medis maupun tradisional. Kita ikhtiar, tidak ada yang salah." Hati Jess menghangat.
Ada gelayar yang mengalir hangat dalam darahnya kala mendapati perhatian Kent, kini semua tertuju padanya seorang.
"Terimakasih..." ucap Jess dengan suara tertahan. Perhatian Kent terlalu manis, dia tak sanggup untuk menahan air matanya agar tak mengalir keluar.
"Kembali kasih sayang. Sekarang ayo bersiaplah, kau ingin memakai pakaian yang mana? aku memesan beberapa dress untukmu. Sebentar..." Kent membuka lemari pakaian lalu mengeluarkan beberapa gantungan dress.
Jess sampai ternganga melihat dress-dress tersebut. Dia tau itu adalah dress mahal. Namun dia bingung sejak kapan Kent menyiapkan nya. Terbersit pikiran jika dress itu adalah milik Melisa. Senyum di wajah Jess langsung memudar.
Kent mengerut heran. Raut antusias di wajah cantik istrinya meredup sempurna.
"Kenapa? tidak suka ya, masih ada yang lain." Kent mengeluarkan semua pakaian yang telah dia beli. Jess semakin tercengang, dengan banyaknya pakaian mahal di atas ranjang.
__ADS_1
"Ini? kapan kau membelinya? apa ini memang untukku?" Kent terdiam, kini dia mengerti, jika sang istri pasti telah berpikir macam-macam tentang pakaian tersebut.
Kent duduk di samping sang istri sambil tersenyum hangat.
"Ini aku pesan waktu kita di rumah sakit. Kak Queen yang memilihnya, aku hanya memberikan deskripsi ukuran yang kau pakai. Termasuk pakaian dal am mu." Terang Kent sontak membuat wajah Jess memerah malu.
"Kau menyebutkan ukuran pakaian dal am ku pada kakakmu? apa kau gila Kent! itu memalukan. Kak Queen pasti akan berpikir kita sudah pernah melakukannya." Ujar Jess protes.
Sementara Kent terkekeh kecil melihat kepolosan sang istri.
"Memangnya kenapa? kau kan istriku. Wajar saja jika kita sudah melakukannya. Siapa yang akan memarahi kita?" balas Kent mengacak gemas pucuk kepala sang istri.
"Termasuk kau dan..." Jess tak melanjutkan kalimatnya. Ekspresinya langsung berubah mendung.
Kent mengulum senyum, melihat jika wanitanya sudah mulai menampakkan kecemburuan secara nyata.
"Tentu saja..." kedua nata Jess melotot sempurna, Kent tak tahan tak tertawa renyah.
"Tentu saja tidak sayang. Mana mungkin aku meniduri wanita tidak aku cintai. Aku bukan pria seperti itu. Bagiku sentuhan soal hubungan hati, bukan hanya soal hasrat semata. Dan aku baru pernah mencium satu orang wanita saja seumur hidupku. Dan aku langsung menjadi candu karenanya." Aku Kent jujur.
"Itulah kenapa aku tak sabar untuk melihatmu pulih. Aku ingin mengambil jatahku sayang, apa kau tak kasihan padanya? setiap pagi harus membuat album kenangan di kamar mandi." Cerita Kent mendramatisir.
Jess mencebik seraya mencubit lengan kekar suaminya karena malu.
"Aku hanya mesum padamu istriku, jadi optimislah mulai sekarang. Kasihanilah suamimu ini, kau tak khawatir jika milik suamimu ini akan layu karena tak pernah di sirami air surga?" canda Kent mengerling nakal pada sang istri. Membuat rona wajah putih berseri itu memerah.
👸🏻
👸🏻
Di panti, anak-anak nampak sangat bahagia. Bagaimana tidak, kehadiran Mario dan sang ayah serta omanya. Membuat seisi panti mendapatkan masing-masing hadiah kejutan.
"Kau menyukainya dek?" tanya Mario pada Yulia yang terus tersenyum sembari menatap dus laptop pemberian Mario padanya.
Yulia si paling pendiam itu hanya mengangguk sambilan tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca. Impiannya untuk membeli laptop kini tercapai.
"Semoga bermanfaat untuk kuliahmu nanti, ya?" lanjut Mario mengacak rambut Yulia dengan sayang. Dia senang semua adik-adiknya menyukai hadiah masing-masing yang mereka dapatkan. Tak ada raut iri ketika melihat hadiah saudara yang lain.
Mereka bahkan sudah berjanji akan saling meminjamkan kepunyaan mereka secara bergantian. Sungguh Mario bersyukur memiliki adik-adik yang sangat pengertian dan pandai mensyukuri berkat.
"Terimakasih kak, ini memang sangat aku butuhkan. Aku sudah menabung separuh gajiku untuk membelinya. Tapi masih jauh dari cukup." Ucap Ben menyela. Pria itu mendapatkan hadiah sepeda motor baru dari Mario. Motor miliknya sering mogok karena memang dia membelinya bekas dengan harga yang sangat murah. 1,8 juta rupiah. Tanpa surat lengkap dan sudah terlihat butut.
Namun itu cukup untuk membawa mereka bertiga ke sekolah, dengan Yulia di tengah. Terkadang mereka terlambat jika motor tersebut membuat ulah di perjalanan.
__ADS_1
Kini dengan motor baru itu, mereka bukan hanya bisa ke sekolah tanpa kendala, tapi juga menjadikannya transportasi untuk mengantar sang ibu ke pasar tanpa harus naik ojek atau angkot lagi. Mengingat angkot sudah sangat jarang di temukan sejak taksi online mulai menguasai jalanan.
"Kev? suka tidak sama hadiahnya?" tanya Mario menoleh ke arah Kevin yang terus menatap ponsel keluaran terbaru di tangannya. Pemuda itu tersenyum malu-malu sembari mengangguk kecil.
"Terimakasih kak, aku janji akan jaga dengan baik hadiah dari kakak. Aku juga akan bergantian memakainya dengan yang lain." Tukas Kevin dengan mata berkaca-kaca. Ponsel mereka tak ada yang bermerek mahal. Hanya ada satu ponsel yang selama ini mereka pakai bertiga demi keperluan mencari referensi tugas di internet.
Ponsel merk V_vo pemberian Jess dua tahun lalu.
"Kakak senang kalian menyukainya. Ah ya, Jess kapan kembali kemari?" tanya Mario di sela obrolan mereka.
"Belum pasti kak, kak Jess akan melakukan pengobatan tradisional. Itu yang aku dengar dari ibu. Kak Kent menelpon semalam menceritakan niatnya, dan ibu juga setuju." Sahut Yulia menjelaskan.
Mario mengangguk paham.
"Berikan alamat rumah Jess, kakak akan berkunjung ke sana saat sudah ada waktu luang." Pinta Mario pada ketiganya. Lekas Ben mengatakan alamat rumah sang kakak berbekal ingatannya tempo hari.
Di rumah Kent.
Sadam nampak bosan, pria itu berjalan menyusuri tepi kolam renang untuk menghalau rasa bosan yang tengah dia alami. Hingga sebuah suara mengagetkannya. Sadam terjatuh ke dalam kolam tanpa sempat berpegangan.
Pria itu bersungut-sungut kesal pada gadis yang kini hanya menatapnya dengan tatapan meringis. Yuni, gadis paling kepo di rumah tersebut. Nampak tak berkedip kala melihat sesuatu di balik kolor basah Sadam.
"Wow! masih bobo aja segitu, gimana kalau bangun. Auto kejang-kejang langsung modar baru ngeliatin aja." Ucap Yuni absurd. Sadam yang sadar lekas menutupi area terlarang miliknya.
"Nyebut Yun, nyebut!" seru Sadam gemas. Gadis kecil itu membuatnya basah kuyup kini malah menilai ukuran keperkasaannya yang masih tidur anteng. Benar-benar pengasuh kurang kerjaan.
Yuni cengengesan tidak jelas. Membuat delikan tajam di mata Sadam semakin sangar.
"Ambilin handuk kek, kedinginan ini. Ck! dasar bocah. Tak lelepin ke kolam baru tau!" Omel sadam gemas sendiri. Yuni bergegas menuju lemari penyimpanan tak jauh dari kolam renang. Satu buah handuk bersih dia berikan pada Sadam. Namun ekor matanya terus melirik benda melingkar di balik kolor basah Sadam.
"Jaga pandangan Yun, kalau dia matok kau bisa langsung kenyang 9 bulan. Mau coba?" Sadam menaik turunkan alisnya menggoda Yuni. Gadis itu terpekik lalu berlari kabur ke dalam rumah.
Sadam tergelak renyah melihat betapa Yuni ketakutan akan ucapannya. Sebejad-bejadnya dia, tak ada niat merusak gadis baik-baik seperti Yuni. Sadam mungkin nakal, namun berlaku pada wanita yang sebanding dengan kenakalannya saja.
...----------------...
...----------------...
Yuni memang si biang kerok, Sadam aja sampai kelelep kolam renang karena ulahnya🤣🤣🤣🤣
Berhubung othor sedang kejar tayang di lapak tetangga, kita slow update ya gengs 🤭 yapi tetap tiap hari kok update nya di sini😚😚😚
Nanti tak spil sedikit cerita gadis lugu bernama Pelangi biar penasaran kebawa mimpi 🤭🤭🤣🤣🤣
__ADS_1
lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍