Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 49


__ADS_3

I'am back again bestieh 🤗 🤗


Komen n like gratis yaa🤭😚😚😚


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Dua minggu pasca kejadian yang menyisakan sesal mendalam bagi seorang Aditya, pria itu terlihat tak begitu bersemangat untuk memulai hari. Apalagi beberapa hari terakhir, sang atasan terkesan sengaja membebaninya dengan berbagai pekerjaan yang tak ada habisnya.


"Apa dia pikir aku ini robot? seenaknya memberikan pekerjaan yang bahkan bukan tupoksiku." Sungut Aditya mengomel kesal. Sedangkan yang di omeli, tengah menikmati makan siang romantis bersama sang istri tercinta di sebuah restoran mewah.


"Bagaimana perasaanmu sayang? apa pengobatan tradisional itu memberikan efek yang baik untuk tubuhmu?" tanya Kent di sela makannya. Jess mengangguk pelan seraya meneguk minumannya.


"Aku merasa jauh lebih baik. Hanya saja liurku sedikit pahit, mungkin efek obat herbal yang aku minum setiap hari." Terang Jess Terlihat mengecap lidahnya.


"Tapi masih bisa merasakan kenikmatan makanan tidak? atau semua menjadi terasa pahit di lidahmu?" tanya Kent nampak cemas.


Jess menggeleng cepat, "tidak. Hanya seperti ada rasa pahit sedikit di pangkal lidahku. Tidak semua yang aku makan terasa pahit." Lanjut Jess menjelaskan. Kent tersenyum lega, pria itu mulai mencemaskan keadaan apapun yang Jess keluhkan.


"Makan yang banyak, kau butuh makanan 2 kali lipat dari biasanya agar kalian bertiga selalu sehat." Ujar Kent menambah dua sendok sayur ke dalam piring Jess.


"Ini terlalu banyak, aku sudah merasa kenyang hanya dengan melihatnya." Keluh Jess protes.


"Tidak sayang, ini bahkan masih kurang. Kau harus banyak makan sayur, karena untuk menggantikan nutrisi daging merah yang sementara belum boleh kau konsumsi sampai pengobatanmu selesai." Sanggah Kent tak setuju. "Sup ikan mau?" tawar pria itu lagi. Jess henya mengangguk pasrah, padahal Jess sangat ingin makan iga bakar saat ini. Apa daya, pantangan dari pengobatan tradisional yang dia jalani, tidak memberikan nya toleransi sedikitpun.


"Kalau kau ingin memakan makanan olahan daging, aku tak apa sayang. Jangan menghukum selera makanmu hanya karena diriku yang tak boleh memakannya." Ucap Jess menatap iba pada sang suami. Kent bahkan melarang segala jenis makanan yang berbahan dasar daging merah. Pria itu begitu konsisten pada pengobatan yang sang istri lakukan. Bukannya mempercayai mitos, namun daging merah akan menghambat proses pemulihan kanker sang istri.

__ADS_1


Kent tak mau perjuangan istrinya sia-sia. Setiap pagi dan malam harus meminum ramuan sepahit empedu, namun wanita itu selalu menampilkan senyum terbaiknya meski Kent tau rasanya sangat tidak mengenakkan.


"Tak apa sayang, aku tak masalah. Aku lebih suka ikan belakangan ini, Eli juga. Kau lihat, kemarin Eli bahkan memilih sendiri ikan segar yang dia inginkan?" ujar Kent mengingatkan.


Keluarga kecil itu ikut turun ke pasar bersama bi sum dan Yuni. Dan si kecil Eli sangat antusias meski sepatu princess nya terkena cipratan genangan air kotor. Juga ujung dress nya. Eli sama sekali tak merengek untuk di gendong, gadis itu bahkan tak ingin di gandeng yang katanya seperti anak kecil.


"Ya ya, Eli makannya lahap sekali kemarin siang." Ucap Jess menerawang ke hari kemarin. Eli sampai minta menambah porsi makanannya saking antusiasnya terhadap rasa gorengan ikan nila buatan bi Sum.


"Nah kan? kami semua tidak masalah tidak makan daging. Makan daging terlalu sering juga tak baik, jadi tak perlu memikirkan selera makanku. Kau lihat tubuhku belakangan naik 3 kilo gram. Si bule tengil itu sampai meledekku, pria lapuk itu mengataiku pria gendut." Cerita Kent sedikit kesal.


Sepupu jaha namnya itu belakangan suka sekali mencari kekurangannya. Terutama sekarang, berat badannya naik drastis. Kent memang sengaja tak mengontrol porsi makannya, dia ingin menyeimbangkan diri dengan kondisi sang istri saat ini.


Dia sering melihat Jess diam-diam menimbang bobot tubuhnya yang terlihat kian bulat setiap harinya. Dan wanita itu sering melamun menahan lapar, karena khawatir berat badannya akan semakin naik pesat. Semua karena ramuan yang Jess minum. Di dalam nya ada kandungan untuk membuat nafsu makannya bertambah.


Mengingat jika penyakit Jess sangat berpengaruh besar terhadap bobot tubuhnya yang kian hari kian merosot tajam. Kini puji Tuhan, wanita itu sudah mulai membaik. Bahkan semakin baik setiap hari nya.


"Tak apa sayang, aku dan Eli bisa mengurus apa yang kami butuhkan. Eli pun sudah mulai mandiri sejak berada dalam asuhanmu. Tak pernah ku dengar lagi Eli merengek untuk hal-hal kecil. Kau sungguh ibu hebat, aku bangga dan bersyukur karena di berikan istri sehebat dirimu." Puji Kent mengakhiri kalimatnya.


Genggaman tangan Kent terasa hangat, memberikan sensasi gelayar yang mampu menggetarkan sanubari seorang Jess Amartha. Wanita yang sedikit keras kepala, wanita yang nyaris membuat Kent frustasi karena begitu sulit meluluhkan hati keras wanita itu.


Kini Kent patut bersyukur, wanita luar biasa itu kini telah menjadi miliknya secara utuh.


Lain halnya dengan Kent yang tengah menikmati momen terbaik bersama sang istri tercinta, Aditya di buat kesal oleh ulah sekretaris pengganti, yang kini menggantikan posisi Risma untuk sementara waktu.


"Kenapa kau tak bertanya dulu padamu, Dewi." Geram Aditya menekan kalimatnya.


Dewi meringis melihat ekspresi kemarahan jelas terlihat di wajah Aditya. Bukan salahnya, namun sang atasan sendiri yang sudah meng ACC laporan yang dia buat.

__ADS_1


"Tapi pak asisten, ini kan sudah di ACC oleh bos. Kenapa jadi aku yang salah sih?" gerutu Dewi tak terima. Dia hanya mengerjakan tugas pokoknya saja, selebihnya Dewi hanya membantu hal-hal kecil seperti melaporkan perihal laporan yang masuk dari berbagai divisi.


"Tapi tapi, ngeles saja seperti bajaj." Omel Aditya dengan nada kesal. "Seharusnya sebelum kau meniru tanda tangan tuan Kent, beritahu kan dulu padaku. Jika sudah begini siapa yang akan bertanggungjawab? aku juga 'kan? kau ini, sungguh merepotkan. Entah kenapa mereka malah merekomendasikan mu untuk menggantikan Risma." Dumel pria itu berlanjut.


Dewi melirik melalui ekor matanya, kesalahan tersebut sebenarnya di sengaja. Agar pikiran Aditya teralihkan dari masalah yang tengah dia hadapi. Semua adalah ide sang atasan, Dewi hanya melaksanakan tugas saja sesuai perintah.


"Ya maaf, lain kali saat menggunakan tisu toilet pun, aku akan melaporkan terlebih dahulu pada anda tuan asisten yang terhormat." Balas Dewi semakin menyulut kekesalan Aditya.


"Dasar wanita, hanya penampilan saja yang kau perhatikan. Pekerjaanmu jadi ambyar begini 'kan jadinya?" Dewi tak merespon, wanita itu terlihat acuh sembari kembali memakan coklat pemberian sang pujaan hati.


"Ck, malah asyik-asyiknya makan. Ini pekerjaanmu di kerjakan, urusan perut belakangan." Ketus Aditya sewot.


"Justru saat pekerjaan kita mulai kacau, kita harus makan lebih banyak. Apalagi makan coklat yang di percaya dapat menenangkan sensorik motorik halus agar pikiran kita lebih jernih dalam berpikir dan bertindak. Anda mau? kebetulan aku punya beberapa batang coklat hadiah dari kekasih ku. Aku akan berbagi denganmu saja, aku kasihan melihatmu. Kau pasti belum pernah di berikan coklat walaupun ukuran mini sekalipun." Ucap Dewi menohok tepat ke jantung Aditya.


"Kau meledekku ya?" tuduh pria itu jengkel.


"Eh? siapa bilang, aku hanya berbicara fakta yang sering aku dengar dari berbagai sumber terpercaya." Elak Dewi sembari menggeleng kuat.


Aditya mencebik, pria memilih diam daripada berbicara dengan wanita yang membuat moodnya semakin kacau.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Maafkan kemalasan othor dalam berpikir panjang, belakangan sedikit lelah hayati jadi kurang fokus dalam menulis karya.


Tetap stay sampai tamat ya gengs, lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍

__ADS_1


__ADS_2