Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 27


__ADS_3

Kita kenalan sama malaikat mautnya Melisa dulu yuk😁🤭


Jangan lupa meninggalkan jejak cinta kalian untuk othor remahan ini ya🙏🙏🥰🥰


...----------------...


...****************...


Melihat Melisa yang masih memicingkan matanya menelisik penampilan sang tamu. Aditya berusaha untuk menyela namun kalah cepat dari nona mudanya.


"Apa kau akan membiarkan tamumu terus berdiri di muka pintu seperti ini?" Sarkas sang tamu penuh penekanan.


Melisa menatap ke arah Aditya yang terlihat tak bergeming. Pria itu hanya diam tanpa kata, tanpa reaksi apapun.


"Maaf, ini rumahku. Aku berhak untuk menolak tamu yang tidak aku kehendaki, termasuk anda nona." Ujar Melisa lantang.


"Sayang sekali, padahal aku datang dengan asisten Tampan ini. Apa kau juga tak akan membiarkannya masuk?" Balasnya menantang.


Melisa melirik ke arah Aditya yang kini terlihat menatap berani ke arahnya.


"Bawa wanita tak tau malu ini pergi Aditya, kau tau suamiku sedang tak di rumah. Kenapa kau malah membawa wanita asing bertamu ke rumahku dengan tidak tau diri?" Sarkas Melisa menatap tajam ke arah Aditya.


"Maaf nyonya, nona Qween ingin berkunjung kemari, aku tak punya wewenang untuk melarangnya." Sahut Aditya lugas. Melisa sejenak memperhatikan rupa wanita cantik di hadapannya.


Menilik dari barang mewah yang di kenakan oleh wanita itu, bisa di pastikan jika wanita itu berasal dari kalangan atas. Pertanyaannya, untuk apa wanita itu berkunjung ke rumahnya.


"Katakan dengan jelas Aditya, atau aku akan melaporkan kelancanganmu ini pada suamiku." Tukas Melisa semakin pongah.


"Menyingkirkanlah, aku lelah. Perjalananku memakan waktu belasan jam, dan kini aku di sambut dengan tak ramah di rumah adikku sendiri." Qween masuk dengan langkah anggun, wanita sengaja menubruk lengan Melisa menggunakan tas branded miliknya.


Sedangkan Melisa berusaha mencerna kalimat wanita tadi, lalu sadar jika wanita cantik itu adalah kakak dari Kent suaminya.


Senyum Melisa terukir selebar lapangan tenis. Dengan langkah cepat, Melisa menyusul Queen menuju ruang keluarga.


"Maafkan aku, aku tak tau jika kau adalah kakak dari suamiku. Kent tak mengatakan perihal kedatanganmu. Sekali lagi maafkan aku, aku akan meminta bibik membereskan kamar tamu untukmu. Ah, kau ingin makan malam apa. Aku bisa meminta bibik menyiapkannya." Tawar Melisa dengan senyum ramah.


Senyum penuh kepalsuan di mata Queen yang terlihat jengah.


"Apa aku ini terlihat seperti seorang tamu bagimu? Aku ingin kamar di lantai atas. lagi pula ini rumah adikku, bagaimana bisa seorang kakak di berikan kamar tamu yang sempit. Dan ya, aku ingin kau yang memasakkan aku makan malam. Aku ingin opor ayam, bistik daging dan sayur tumisan juga sambel terasi." Melisa melotot mendengar kalimat Queen yang seenak jidat.


Namun wanita itu tetap tersenyum manis kemudian mengangguk kaku.


Sedangkan hati Qeen tertawa puas melihat ekspresi keterkejutan di wajah Melisa.


"Tenang saja adik ipar, aku akan mengembalikan semuanya seperti yang seharusnya." Gumam Queen menatap kosong ke arah pintu kaca penghubung ke taman samping.


"Aditya, kau boleh ikut makan malam jika kau mau. Aku ingin beristirahat, tolong minta adik iparku yang cantik tadi untuk membereskan kamar atas. Aku tak ingin ada barang siapapun di dalamnya." Aditya hanya bisa mengangguk pasrah. Pria itu berjalan menuju dapur dengan perasaan was-was.

__ADS_1


"Apa?! Aku? Tidak! Ada bibik, kenapa harus aku. Lagi pula aku adalah tuan rumahnya. Bik, bereskan kamar Eli simpan saja semua mainan Eli di dalam lemari, jika wanita itu tidak suka. Suruh dia menginap di hotel saja. Lagi pula dia bisa menginap di rumah orang tuanya, kenapa harus di rumahku. Sungguh merepotkan." Ketus Melisa dongkol.


"Maaf nyonga, ini permintaan langsung dari nona Queen. Aku tak berani membantahnya, jika anda keberatan silahkan menyampaikan sendiri pada nona Queen." Melisa mendelik dengan tatapan membunuh.


Aditya benar-benar membuatnya terpojok keadaan. Tak mungkin dia berani protes pada wanita dingin itu.


"Baiklah! Kau puas!?" Melisa menghempas pisau daging di tangannya hingga terjatuh ke lantai.


Aditya bergidik ngeri melihat reaksi wanita itu. Dengan tarikan nafas berat, Aditya mengusap dadanya agar mampu memupuk kesabaran tinggi. Kehadiran nona mudanya akan membuat sederet pekerjaannya bertambah berat.


Di kantor, Kent bersiap untuk pulang. Namun pesan singkat dari sang asisten membuat kinerja jantung pria itu menjadi berantakan. Di lihatnya sekali lagi, memastikan pukul berapa pesan itu di kirim. Dua jam yang lalu. Artinya sang kakak sudah bertemu dengan Melisa dan putrinya Eli.


Dengan terburu-buru Kent berjalan menuju elevator. Bersamaan dengan sang sekretaris yang ikut menumpang turun bersamanya.


"Anda sedang ada masalah tuan?" Tanya Risma basa basi.


"Hmmm..." Risma mencebik mendapatkan jawaban menjengkelkan tersebut.


"Sepertinya hidup anda belakangan ini penuh dengan konflik rumit, ya tuan? Ckckckck! Jadi orang tampan dan mapan resikonya memang, maut." Ucap Risma ambigu.


Kent menatap tajam pada sekretarisnya, membuat senyum cengengesan Risma terlihat seperti tengah meledek bagi Kent.


"Maksudku, selama anda tak berusaha melepaskan salah satu istri anda. Selamanya hal seperti ini akan terus terjadi. Anda akan kesulitan membagi waktu, itu yang pertama. Anda akan sering meninggalkan pekerjaan karena masalah yang mendesak dan tiba-tiba, itu yang kedua. Anda akan terus terhimpit oleh masalah, jika anda lebih cenderung diam dan meyakini semua baik-baik saja. Padahal sebenarnya anda sedang menggali lubang kematiannya anda sendiri sedikit demi sedikit. Itu yang ketiga."


"Dan yang terakhir, apa?" Risma sontak menoleh mendengar pertanyaan frustasi dari sang atasan.


"Anda akan kehilangan pundi-pundi dari rekening anda karena terus menyogokku untuk bekerja lembur." Sahut risma tersenyum mesem. Kent mendelik lalu kembali fokus pada angka yang terus bergulir di atasnya.


👸🏻


👸🏻


Queen adalah wanita yang keras. Sebagai anak sulung keluarga Rahardjo, Queen di didik sedikit berbeda darinya dan Rendra. Wanita itu bahkan pernah menempuh pendidikan akademi militer, sebagai seorang tenaga medis di area perang.


Dengan banyak kalimat doa yang di panjatkan di dalam hatinya, Kent memberanikan diri untuk turun dari mobilnya.


Melisa yang sejak tadi melihat kedatangan Kent menatap heran. Karena pria itu tak kunjung keluar dari mobilnya. Sementara Queen tengah menikmati rendaman air hangat aromaterapi di kamar Eli. Barang-barang hadis kecil itu di keluarkan semua tanpa terkecuali.


Dan itu berhasil menciptakan sedikit drama. Seperti biasa, Eli yang tak suka terhadap apa yang membuatnya kesal. Menangis histeris kala melihat barang-barangnya di pindahkan ke kamar bawah.


Kent menyapu bulir keringat di keningnya. Berharap suatu mujizat, agar sang kakak sedang dalam mood yang baik.


Saat tiba di ruang keluarga, terlihat Aditya duduk bagai tuan rumah sembari memainkan ponselnya. Kent menatap geram pada sang asisten. Separuh hari tanpa kabar, lalu tiba-tiba mengirim pesan yang membuat jiwanya porak poranda.


Aditya yang tengah asyik memainkan ponselnya, langsung tak berkutik saat melihat ujung sepatu mengkilap berada tak jauh dari kakinya.


"Khmmm..apa kau sudah menentukan pilihan untuk menjadi asisten siapa, Aditya Kusuma?" Suara berat dan datar Kent terdengar menusuk lubang telinga Aditya. Pria itu mendongak kemudian berdiri tegak.

__ADS_1


"Maaf tuan, saya tetap asisten anda. Hanya saja, saya punya perintah langsung dari tuan dan nyonya besar untuk menjemput dan menjaga nona Queen, serta melayaninya dengan baik selama di tanah air." Jawab Aditya dengan sopan tanpa keraguan.


"Ck! Harusnya kau mengatakan jika kakakku akan datang kemari. Apa kau juga mendapatkan tugas agar tak memberitahuku mengenai kehadiran kakakku?" Sarkas Kent geram.


"Maaf tuan, kalau bagian itu, saya yang memang lupa untuk menyampaikannya." Sahut Aditya menunduk, ada senyum kepuasan yang berusaha Aditya sembunyikan dari pandangan sang atasan.


"Kent? Kau baru pulang? Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Malam ini Eli akan tidur bersama kita, kamarnya di pakai sementara oleh bibinya." Sela Melisa yang baru turun dari lantai atas.


Melihat kepulangan Kent, membuat wanita itu senang bukan kepalang. Melisa bergegas menyiapkan kebutuhan Kent meski hanya sebatas handuk dan air mandi.


Dengan lancang Melisa menggandeng lengan Kent ketika melihat Queen berdiri di puncak tangga, hendak turun.


"Lepaskan tanganmu Melisa, kau tau aku tak suka kau sentuh!" Ujar Kent jengah. Wajah Melisa terlihat pias menahan malu. Niat hati ingin memperlihatkan kemesraan dihadapan kakak iparnya, namun malah berkahir memalukan.


"Kent? Kau masih marah perkara semalam? Maaf, aku sedang tak enak badan jadi aku menolakmu. Malam ini aku siap, lagi pula Eli sudah tak sabar untuk segera memiliki seorang adik. Maaf kan aku ya sayang." Sungguh Aditya ingin mengeluarkan semua isi perutnya.


Kata-kata Melisa membuatnya ingin muntah darah seketika. Sementara Kent tak terlihat senang dengan kalimat tak tau malu tersebut.


Pria itu kembali menepis lengan melisa yang hendak kembali meraih lengannya.


"Aku bahkan tak tidur di sini sejak beberapa hari ini. Jangan mempermalukan dirimu sendiri Melisa. Kau benar-benar wanita murahan tak tau diri!" Sarkas Kent berlalu meninggalkan melisa yang terpekur menahan amarah dan rasa malu.


"Kak? Apa kabarmu? Maaf aku tak menyambutmu dengan sambutan yang baik. Istriku sedang sakit, sekarang kami masih menginap di panti. Kakak berkunjunglah ke sana, Jess pasti senang bisa berkenalan langsung dengan kakak iparnya yang cantik ini." Ujar Kent menyapa sang kakak di ujung tangga di Lantai dua.


Lagi-lagi Melisa tercengang, jadi wanita itu sudah mengetahui perihal hubungannya dengan Kent? Dengan penuh kemarahan yang tertahan, Melisa menggenggam erat jemari tangannya hingga terasa perih.


Melisa pikir akan mendapatkan pujian atas hasil kerja kerasnya di dapur, namun malah mendapatkan kenyataan menyakitkan.


Wanita itu merasa telah di permainkan oleh Queen. Memasak dengan jumlah menu yang tak sedikit, merusak kuku-kuku indahnya dan membuatnya berjibaku dengan aroma terasi. Membuatnya Bermandi peluh di dapur kotor tanpa boleh di bantu oleh ART. Lalu membersihkan dapur seorang diri. Sungguh Melisa ingin mencakar wajah ipar jahanamnya tersebut.


"Tak apa, Kent. Tadinya aku ingin marah padamu, tapi melihat bagaimana kau menghiburku. Aku urungkan niatku untuk memarahimu. Terimakasih adikku, rasa lelahku sedikit terobati oleh pertunjukan drama singkatmu tadi. Sungguh aku sangat terhibur." Ujar Queen balas memeluk sang adik penuh kerinduan.


Dibalik punggung Kent, Queen melemparkan senyuman manis penuh ledekan ke arah Melisa. Membuat nafas wanita itu turun naik menahan emosi.


...----------------...


Nyesek gak tuh di kerjain🤭🤭


jangan lupa komen n like nya yang akak/akang yang baik hati😘😘🙏🙏


lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedikit informasi yang tak penting 🤭


Sehubungan dengan bab ke 27. Hari ini othor sedang dalam fase pertambahan usia menuju tua yang tak dapat ditolak😁😆

__ADS_1


Tepat di bulan 2 tanggal 7 ini. Banyak harapan yang othor kemas dalam bentuk sebuah doa lalu di panjatkan kepada sang pencipta. Agar seluruh raga hayati ini boleh diberikan kesehatan melalui makanan yang sehat, keluarga yang hangat dan bahagia, serta rejeki yang mengalir cukup melalui celah mana saja yang berkenan oleh kehendak Tuhan. Amin


Othor minta hadiah, "Amin" dari readers semua jika berkenan🙏🙏🤗😚😚😚


__ADS_2