
I am back again readers🤗🤗
Jangan lupa komen n like yah, gratis kok😘🥰🥰🥰
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kehidupan Jess serasa begitu sempurna terlepas dari segala perkara pelik termasuk penyakit yang di deritanya. Berkat ketekunannya dalam melakukan pengobatan rutin, baik secara alternatif maupun medis. Jess kini menuai hasil yang luar biasa.
Wanita itu berangsur membaik meski ada saja sedikit keluhan yang masih dalam tahap wajar. Namun sama sekali tak mengganggu Jess dalam beraktivitas.
"Hari ini aku mungkin pulang sedikit larut, apa kau tak apa sayang?" ujar Kent di sela menikmati sarapan bersama. Pria itu menatap sang istri dengan debaran tak biasa pagi itu.
Jess menganggukkan kepalanya tanda tak masalah. Toh ada kedua orang tuanya di sana yang akan menemaninya. Sadam, pria itu memilih menetap di apartemen entah kenapa. Jess tak bisa melarang nya toh itu hak Sadam untuk tinggal di mana dia inginkan.
"Tak apa Kent, mama dan papa tak akan kemanapun meninggalkan Jess. Mungkin papa hanya akan keluar sebentar untuk menjemput Eli lalu langsung pulang. Jangan khawatir kan apapun," sela Barata menimpali.
Pria paruh baya itu juga bertugas untuk menjemput sang cucu bila Kent tak sempat melakukan nya. Bukan nya Kent tak mampu menggaji seorang supir, hanya saja Kent masih ragu untuk memperkerjakan orang asing untuk menjemput putrinya.
Eli masih terlalu kecil untuk memahami gelagat kejahatan dari seseorang.
"Papamu benar Kent, jangan khawatir. Mama akan selalu mendampingi istri mu selama kau bekerja. Jadwal persalinan Jess Masih masih dua Minggu lagi, jadi kau bisa bekerja dengan tenang." Sambung sang ibu mertua ikut menimpali perkataan sang suami.
"Baiklah ma, pa. Titip istri ku, jika sesuatu terjadi, hubungi saja aku langsung. Aku akan segera pulang," sahut Kent akhirnya. Entah mengapa pria itu merasa sedikit berat untuk meninggalkan sang istri hari ini. Semacam ada sesuatu yang mengganggu pikiran nya, namun Kent pun tak mengerti.
Sepeninggalan Kent, Jess meminta sang ibu membuat kan nya puding mangga. Sementara dirinya duduk di gazebo sembari menonton film kartun kesukaan nya dan Eli di ponsel nya.
Kirani yang sedang memasak bersama bi Sum tak mengetahui apa yang terjadi pada sang anak setelah dirinya pergi menuju dapur.
Di gazebo, Jess merintih menahan rasa sakit yang tiba-tiba mendera perut nya. Darah mengalir deras dari kedua kakinya, legging berwarna putih itu kini telah berubah menjadi berwarna merah darah.
Di sisa tenaganya, Jess hanya meminta pada Tuhan, agar kedua anaknya selamat. Kedua matanya terpejam sempurna setelah kata amin menjadi penutup kalimat doa singkat nya.
"Bibik sudah tidak sabar menunggu persalinan nyonya muda. Si bibik kangen sama suara tangisan bayi, Bu." Ujar wanita itu sambil terus mengaduk puding di atas kompor.
Kirani pun tersenyum lebar. Dirinya sama seperti bi Sum, sama-sama tak sabar ingin menimang cucu.
"Saya juga bi, sudah tidak sabar rasanya ingin segera menimang bayi. Apalagi langsung dapat dua cucu, aduh, tidak tau lagi bagaimana cara mengekspresikan perasaan bahagia di hati saya ini." Ujar Kirani antusias.
"Ini sudah Bu, tak taruh kulkas dulu supaya cepat dingin. Nyonya tidak suka makan puding hangat," tukas bi Sum setelah selesai menuangkan semua puding ke dalam loyang plastik bulat berbentuk bunga.
"Ya sudah bi, saya mau ke belakang dulu bawakan Jess cake keju ini. Tolong bibi antarkan susu hangat Jess ya bi. Tehnya biar saya bawa sendiri aja, masih bisa ini." Ujar Kirani kemudian berlalu menuju gazebo. Sedang kan bi Sum menaruh gelas susu Jess di atas lepek kaca serta di tutup terlebih dahulu sebelum di berikan pada sang nyonya.
__ADS_1
Saat melangkah melewati pinta samping, suara benda jatuh membuat bi Sum menghentikan langkahnya. Tak berselang lama, suara jeritan histeris Kirani terdengar begitu nyaring dari arah gazebo.
Bi Sum berjalan cepat sambil memegang gelas agar tak jatuh. Namun sesaat dirinya akan mencapai gazebo, gelas itu akhirnya tetap jatuh juga.
Wanita berlari kecil menuju ke arah majikannya yang terlihat tergolek dalam genangan darah segar.
"Nyonya! bagaimana bisa seperti ini, Bu...kenapa bisa begini?" tanya wanita itu penuh nada kecemasan.
Kirani hanya bisa menggeleng lemah, keduanya berusaha mengangkat tubuh Jess namun apa daya. Jess yang sedang dalam kondisi hamil besar, membuat mereka tak cukup kuat untuk menggotong nya.
Bi Sum berteriak memanggil Yuni yang tengah menjemur pakaian, hingga membuat gadis itu tunggang langgang dengan masih memegang satu baju di tangannya.
"Astaga! apa terjadi bi, bagaimana bisa nyonya jatuh?" Yuni yang salah persepsi mengira Jess terpeleset.
"Pingsan sendiri Yun, hubungi tuan Kent atau tuan Sadam sekarang Yun. Lekas!" titah wanita itu.
"Ba_baik bi," Yuni bergegas menghubungi kedua pria yang di maksud namun hanya ponsel Sadam yang bisa dia hubungi.
Tak berselang lama, Sadam tiba di rumah Kent dan segera membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat. Sepanjang jalan Kirani berusaha untuk menghubungi sang suami yang masih di luar untuk membeli beberapa buah pesanan sang anak. Sedangkan nomor ponsel Kent masih belum bisa di hubungi.
Sadam pun mulai frustasi, pria itu beberapa kali mendial ulang nomor sang sepupu namun masih belum bisa terhubung.
Setiba di rumah sakit, Sadam yang tak sabar memilih untuk langsung menggendong tubuh Jess masuk ke dalam IGD.
Sedangkan Kent sedang melakukan meeting dengan seorang klien dari kota lain. Untuk menghargai sang klien, Kent mengikuti saran Restoran yang di rekomendasikan oleh klien nya tersebut. Di sini lah Kent berada, di sebuah restoran mewah bersama seorang klien wanita dari kota A.
"Apakah anda menyukai makanan nya tuan Kent?" tanya si wanita mencoba berbasa basi. Dia penasaran akan desas desus yang pernah dia dengar, jika pria itu pernah memiliki dua istri. Dan sekarang pria di hadapannya itu lebih memilih untuk bertahan bersama istri keduanya.
"Lumayan. Hanya saja aku lebih suka makan masakan rumahan. Masakan istri ku tiada duanya, dan aku selalu lahap tanpa pernah menyisakan barang sebutir nasi pun." Jawab Kent membuat senyum di bibir Lestari memudar.
"Anda benar. Masakan rumahan selalu juara. Apakah istri yang anda maksud adalah istri pertama atau kedu anda tuan Kent?" tanya Lestari mulai keluar jalur.
Kent mengerutkan keningnya sembari menatap ke arah sang klien dengan tatapan tak terbaca. Itu membuat Lestari kikuk salah tingkah.
"Maaf, bukan bermaksud lancang. Aku hanya mendengar sedikit gosip di luar sana, jika anda memiliki dua orang istri. Tak perlu menjawabnya jika anda tidak berkenan, aku hanya sekedar penasaran." Ucap Lestari tak enak hati.
"Tidak masalah. Hanya saja aku pikir berita tentang ku tak seheboh itu. Ya, tadinya aku memiliki dua orang istri, tapi istri yang ku nikahi secara sah hanya satu orang. Dia adalah istri ku yang sekarang. Wanita yang sangat aku cintai dengan seluruh hidupku. Sedangkan wanita lainnya, hanya sekedar untuk mempertanggung jawabkan kesalahan seseorang di masa lalu. Jadi bukan karena perbuatan ku, aku hanya korban yang tepat di waktu yang tepat pula. Terdengar pelik, tapi begitu lah kenyataan nya. Aku hanya memiliki satu istri terlepas dari berita miring di luar sana. Wanita yang benar-benar aku ingin kan dalam hidupku, bukan hanya sekedar tanggung jawab yang bahkan bukan karena ulahku." Pungkas Kent panjang lebar.
Lestari terdiam. Sulit baginya untuk mencerna penjelasan Kent, karena dirinya tak terlibat langsung di dalamnya. Dia hanya menjadikan pemberitaan sebagai patokan, bukan sumber terpercaya.
"Ah maaf jika aku membuat situasi tak nyaman. Silahkan melanjutkan makan anda tuan Kent, atau mau aku pesankan makanan penutup? ada beberapa rekomendasi terbaik di restoran ini, anda juga bisa take away. Ku dengar istri anda sedang hamil besar, biasanya wanita hamil mudah merasa lapar." Tawar Lestari mencoba mengembalikan mood sang rekan bisnis yang nampak mulai tak terlihat baik.
__ADS_1
Kent menggeleng seraya mengucapkan terimakasih atas tawaran tersebut. dirinya mendadak kenyang karena pembahasan barusan. Dan lagi pikiran nya tiba-tiba di penuhi oleh bayangan sang istri.
"Aku rasa pertemuan kita hari ini cukup, jika ada hal yang masih belum anda pahami, silahkan hubungi asisten saya, Aditya. Makanan ini biar saya saja yang membayar nya, anggap saja saya sedang mentraktir anda kali ini." Ujar Kent tetap menjaga mode keramah tamahan walau hatinya dongkol dengan sikap lancang Lestari.
Entah kenapa perusahaan yang bekerja sama dengan nya selalu saja mengirim kan seorang wanita sebagai perwakilan dari perusahaan mereka. Apa mereka sudah kekurangan karyawan bergender pria? batin Kent mendumel kesal.
"Ah, sayang sekali. Padahal aku masih ingin mengobrol untuk beberapa hal lain. Tapi tak masalah, mungkin lain kali saja. Simpan nomor ponsel ku tuan Kent dan hubungi aku jika anda memiliki waktu luang, untuk menemani ku melakukan tour singkat mengelilingi kota ini." Ucap Lestari tersenyum penuh makna.
Kent tak menggubris nya, pria itu berpamitan lalu beranjak pergi tanpa menoleh lagi.
"Relasi bisnis seperti inilah yang paling aku benci. Pepatah mengatakan, sambil menyelam minum air. Apa dia tak sadar, jika dirinya menyelam ke dalam lumpur hisap. Itu bisa membunuhnya jika terlalu agresif terhadap suami wanita lain." Umpat Kent menggerutu kesal.
Pria itu memacu mobilnya menuju rumah, entah kenapa Kent sangat ingin pulang padahal pekerjaan nya sangat menumpuk di kantor.
"Kok sepi? pada kemana?" monolog Kent bergumam sendiri saat baru memasuki rumah. Hingga pria itu terpeleset dalam ceceran darah di lantai, barulah Kent sadar. Sesuatu yang buruk telah terjadi.
Pria itu lekas memeriksa ponsel nya, sayang nya ponsel tersebut kehabisan daya. Kent mengumpat marah lalu meraih gagang telepon. Pria itu menghubungi nomor ponsel istrinya namun malah bersuara tak jauh darinya. Kent menghela nafas panjang, ponsel istrinya tertinggal di meja sofa ruang keluarga.
"Yuni?" gumam Kent lalu menghubungi nomor pengasuh putrinya.
......................
Kent memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal. Pria itu menerobos dua kali lampu merah tanpa peduli apapun lagi. Beberapa kali Kent memukul kemudi mobilnya menahan kemarahan pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia pergi bekerja dengan membawa ponsel tak berguna.
Belum lagi dirinya terjebak obrolan tak berfaedah dengan seorang wanita. Itu menambah daftar rasa bersalah Kent terhadap sang istri.
"Bertahanlah sayang, jangan berpikir untuk pergi meninggalkan ku dan anak-anak. Kau akan mendapati kedua anak kita menjadi yatim piatu jika berani menghentikan nafasmu." Oceh Kent tak karuan. Hatinya resah memikirkan kondisi istrinya yang sedang berada di rumah operasi.
Di sana istri nya tengah berjuang melawa maut untuk membawa kedua anaknya. Sedangkan dia baru saja duduk manis bersama wanita lain dia sebuah restoran mewah. Kent kembali memukul kemudi nya penuh sesal, apalagi dirinya mulai terperangkap dalam situasi jalanan siang yang macet parah.
"Suami macam apa aku ini? maafkan aku sayang, tolong bertahan demi aku. Demi pria bodoh ini, aku menukar sebuah proyek besar di saat kau sedang berjuang antara hidup dan mati. Hukum aku setelah ini, tapi jangan berusaha untuk pergi. Aku mohon," lirih Kent tergugu.
Sepanjang jalan Kent melangitkan doa agar sang kuasa mendengar dan mengabulkan nya. Kent hanya ingin istri nya selamat, hingga melupakan kedua buah hatinya pun sama-sama membutuhkan doa yang sama dari ayah mereka.
TBC
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Edisi ngalur ngidul, semoga bisa di cerna dengan baik alurnya ya gaess😗😗😗
Lope lope para kesayangan Buna Qaya🥰🥰🥰
__ADS_1