Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 35


__ADS_3

Holaaa hari Senin, semoga kalian semua sehat dan senantiasa berbahagia ya🤗🤗🥰🥰😇😇


...----------------...


Melisa tengah beradu mulut dengan seorang pria di sebuah restoran. Adu argumen tersebut nampak sangat tegang terlihat dari si pria yang beberapa kali menunjukkan jari telunjuknya ke arah Melisa.


"Dengar Melisa, aku tak sudi mengakui anak itu sebagai benihku. Kau pikir aku tak tau sepak terjangmu selama ini? mhuh! kau salah jika berkhayal aku melakukan hubungan se*k*sual denganmu karena aku mencintaimu. Jangan naif Melisa! kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Apa pernah aku memaksamu untuk datang memuaskanku? tidak! kaulah yang menawarkan tubuh murahanmu tanpa tau malu. Aku seorang pria normal, di tawarkan barang murah. Jelas aku akan langsung menerjangnya tanpa ampun. Jadi jangan pernah mendatangi rumahku lahi, jika kau masih ingin melihat cahaya matahari besok pagi!" selesai mengatakan kalimat menusuk rongga hati Melisa.


Bisma meninggalkan wanita itu seperti sampah. Melisa terlihat sangat gusar, marah dan kecewa. Usahanya untuk meyakinkan Bisma agar menikahi ternyata gagal total. Pria itu bahkan menghinanya setelah apa yang selama ini dia korbankan.


"Lihat saja Bisma! aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia setelah membuangku bagai sampah! kau harus merasakan bagaimana rasanya menjadi seperti diriku. Tidak diinginkan!" Gumam Melisa menyeringai iblis.


Wanita itu pergi setelah menenangkan hatinya. Tujuannya hanya satu saat ini, yaitu rumah Kent. Selama putrinya berada di sana, Melisa akan menebalkan wajahnya. Eli kecil akan menjadi alatnya untuk tetap tinggal di rumah mewah Kent sampai Kent sendiri yang memilih hengkang dari sana. Begitulah harapan Melisa.


Sedangkan di rumah, senyum Kent tak henti-hentinya mengembang. Teringat tentang kejadian semalam membuat Kent tak bisa menyurutkan senyum di bibirnya.


Plak


Sebuah tepukan tak berperasaan baru saja mendarat di punggung lebar Kent. Membuat pria itu langsung memasang wajah datar tak enak di pandang.


"Widih! tatapan matamu menarik lembu, membuat aku terlinu-linu..." Sadam bernyanyi dengan lirik lagu yang entah berasal dari negara bagian mana.


"Sans bro, kenapa wajahmu tak pernah ramah saat menatap orang lain selain istrimu. Ayolah Kent, belajarlah tersenyum lebar kala berpapasan dengan orang-orang. Terutama denganku. Sayang wajah tampan ini jika kau pandangi dengan tatapan mata tak bersahabat. Kadar ketampananku bisa menurun karena melihat raut es mambo mu setiap waktu." Celoteh Sadam.


Pria itu tengah menuangkan air minum dari kulkas ke dalam gelas. Sadam tengah menikmati pentol setan bersama Yuni dan bi Sum di taman samping.


"Terserah padaku. Lagipula apa untungnya aku terus tersenyum menatapmu? sorry brother, kita tak sedekat itu." Ucap Kent kemudian berlalu begitu saja.


Sadam mendengus kesal mendengar kalimat tak berakhlak sang sepupu.


"Dasar es mambo! kanebo kadaluarsa! untung saja bibi menjodohkanmu dengan wanita yang memiliki kadar kecantikan sekelas bidadari. Kalau tidak, kau akan terus dalam keperjakaan seumur hidupmu karena hidup mu terlalu kaku." Gerutu Sadam menatap jengkel punggung Kent yang tengah berjalan menuju kamar.


Bugh!


"Kacang telor rasa nano-nano dijilat enak diemut matanp!" Sadam mengelus dada akibat rasa terkejut. Pria itu ternyata memiliki bibit latah yang tak biasa. Sangat cocok jika Sadam menjadi rekan Yuni si biang kepo. Sama-sama memiliki lidah lincah.

__ADS_1


"Apa kau tak bisa tidak mengagetkan orang! kurang kerjaan sekali," ucap Sadam mendelik tajam.


Sedangkan Queen menyeka sudut matanya akibat terlalu keras tertawa. Dia suka saat Sadam mulai mengeluarkan jurus latahnya. Sungguh menghibur bagi seorang Queen yang susah menebar senyuman. Apalagi tawa renyah.


"Maaf kan aku adik kecil. Kenapa kau menggerutu tak jelas? apa kau sedang kesal karena rekan ranjangmu tak pulang semalam, hmm?" ledek Queen dengan senyum jahil. Kini berganti Sadam yang di buat kesal dengan senyum miliknya itu.


"Adikmu semakin hari semakin menjengkelkan. Kenapa kalian terlahir dari sepasang orang tua yang ramah dan murah hati. Tapi memiliki anak-anak yang sangat menyebalkan seperti ini


" Queen menepuk bahu sang adik dengan keras, sampai sadam meringis di buatnya.


"Jawabannya sama seperti nasibmu. Kau memiliki orang tua yang perhitungan dan tak ramah. Tapi lihat dirimu, lil brother? kau sangat murah hati dan ramah lingkungan." Sadam mendelik kala mendengar kalimat ambigu Queen.


"Kau pikir aku oli mesin. Ramah lingkungan?" omel Sadam.


"Kau itu terlalu baik, sampai-sampai kau rela membagi uangmu yang tak seberapa itu dengan para ja* la ng. Kau juga terlalu ramah, sampai rela memberikan seluruh tubuhmu untuk di jamah. Bukan kah perkataanku benar adik kecil?" Ucap Queen menaik turun alisnya.


Sadam yang semakin kesal mendorong pelan lengan sang kakak melingkar di bahu lebarnya.


"Awas! aku masih mau mengisi perutku. Berlama-lama menghadapi adik Kakak seperti kalian membuat energiku terkuras habis." Sadam membawa botol air dingin beserta dua buah cangkir ke arah taman. Queen yang penasaran pun mengekori sanga adik meski Sadam sudah mengusirnya berkali-kali.


"Wah! ternyata begini kelakuan kalian tanpaku. ckckckk! tak bisa di biarkan. Kenapa hanya segini? jangan bilang kalian sudah memakannya sejak tadi?" protes Queen saat melihat sisa pentol iblis di dalam wadah tinggal seperempat.


"Maaf non Queen, bibik tidak tau kalau non juga mau. Mau delivery lagikah? bibik ada aplikasinya non." Ucap bi Sum mesen-mesem.


"Bibik keren, boleh deh. Bibik pesan aja sekalian sama seblak. Nanti Sadam yang gantiin uang bibik, aku mau mandi dulu." Sadam yang hendak memasukkan pentol ke dalam mulutnya mendadak terhenti.


Tatapan tajam Sadam seakan menembak punggung kecil Queen terlihat berjalan santai ke dalam rumah.


"Dasar orang kaya pelit!" sungut Sadam kesal.


"Jadi gimana den? order berapa porsi seblaknya?" tuntut bi Sum terlihat sudah akan mengklik jumlah yang akan dia masukkan ke dalam keranjang belanja.


Sadam memperlihatkan wajah pasrah yang ogah-ogahan. Membuat Yuni mengulum senyum.


"Terserah bibik aja, eh? tapi dua porsi cukup tidak? harganya berapa sih?" tanya Sadam memastikan.

__ADS_1


"Mbok ya kalau mau pesen makanan Jangan di lihat dari harganya, mas Sadam yang tampan. Tapi dari porsi dan rasanya. Harga nomor sekian yang penting perut kenyang hatipun riang." Sambung Yuni tersenyum manis penuh maksud.


Sadam melempar potongan cabe bekas gigitannya ke arah Yuni, membuat tawa gadis itu meledak.


"Jadi berapa porsi den?" ulang bibik tak sabar.


"Semangat bener bibik, yang tadi kurang? padahal paling banyak makan perasaan." Sungut Sadam namun tak membuat wanita paruh baya itu tersinggung. Bi Sum malah tersenyum lebar memperlihatkan gigi tuanya yang mulai jarang-jarang.


"Bibik sedang dalam proses pertumbuhan menuju penuaan den, jadi butuh banyak makan supaya kuat menghadapi kenyataan hidup." Balas bi Sum masih menampilkan senyum selebar taman samping tersebut.


Sadam berdecih kesal, semua orang selalu pintar menjawab kalimatnya. Sadam merasa benar-benar sial berada di tengah-tengah kepintaran tersebut, dan dirinya yang merasa dibodohi berkali-kali oleh kalimat cerdas dan wajah yang tersenyum malu-malu tapi mau.


"Beli lima porsi deh bik, awas saja kalau tidak habis. Dan kau, akan aku tenggelamkan dalam kolam kalau kau tidak menghabiskan bagianmu nanti." Ancam Sadam menatap horor ke arah Yuni.


Yuni tersenyum jumawa, jangankan baru satu porsi seblak. Lima porsi sendirian pun dia masih sanggup.


Sadam melirik postur tubuh Yuni yang menurutnya tak sesuai, pria itu tersenyum sinis.


"Awas kalau makanannya kau muntahi, akan aku jejal kembali menggunakan sekop ke dalam mulutmu itu" ingat Sadam terus mengintimidasi gadis itu. Namun Yuni tak gentar.


"Tenang aja mas Sadam, pernah denger istilah don't judge novel by cover? Yuni ini dulunya selalu juara umum dalam lomba makan setingkat kelurahan. Wong nasi sebakul aja sanggup Yuni habiskan sendiri, apalagi cuma seblak. Kecil mas, kecil." Remeh Yuni membuat Sadam berdecih.


"Jangan sombong dulu, sini bik hp nya. Aku mau lihat satu porsi isi berapa." Sadam tersenyum misterius, pria itu sedang menyiapkan konspirasi kecurangan terhadap makanan gadis sombong itu.


"Rasakan," gumam Sadam setelah berhasil mengklik orderannya.


"Mas Sadam nambah pesanan ya? wah, baik bener. Yuni jadi terharu. Sering-sering aja begini, rejeki orang baik dan tak pelit selalu lancar seperti air mengalir di lautan. Tak bertepi." Ujar Yuni terdengar bijak namun terselip banyak makna.


"Ya kalau tiap hari isi dompet di jajah mulu, lama-lama bisa surut juga Yuni!" geram Sadam mengangkat kedua tangannya seolah hendak mencekik gadis itu. Yuni langsung beranjak dan bersembunyi di balik punggung lebar bi Sum.


Sungguh pemandangan yang harmonis. Hubungan antara ART dan majikan tak ada jarak yang terbentang. Meski Sadam yang lagi-lagi menjadi korban keharmonisan tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan komen n jempol nya ya🤗🙏🥰


Lope lope para kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍


__ADS_2