Bukan Istri Ke_dua!

Bukan Istri Ke_dua!
Bab 20


__ADS_3

Satu bab lagi buat para kesayangan buna QayaπŸ₯°πŸ₯°


jangan lupa tinggalkan jejak cinta untuk Yuni si pelopor bagi kaum tertindas 🀭😁


πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»πŸ‘ΈπŸ»


Jess menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari sang suami.


"Pengasuh Eli menghubungiku, aku terlalu panik hingga tak sempat pamit dengan benar pada ibu. Aku di gendong oleh Ben. Jangan memarahinya, aku yang memaksanya membawaku kemari. Lihat Eli, dia sendirian kau malah sibuk merawatku. Seharusnya kau di sampingnya, Eli bahkan baru saja datang dan kau malah meninggalkannya di rumah begitu saja." Jawab Jess tenang.


Kent mencium kening Jess tanpa peduli pada dua pekerja rumahnya.


"Terimakasih sudah peduli pada putriku. Maaf aku tak bisa di hubungi, sekali lagi terimakasih banyak sayang." Ucap Kent tak habis-habisnya memasang senyum syukur atas kelapangan hati Jess menerima putrinya.


"Makasih bik, kalian bisa melanjutkan pekerjaan yang lain. Oya, buatkan makan malam sekalian. Saya dan nyonya akan makan malam di rumah. Dan kau, tetaplah bekerja di sini, hanya aku dan istriku Jess yang punya wewenang untuk memecatmu." Ujar Kent kembali ke mode datar. Tak selembut saat dia berbicara pada Jess.


Keduanya mengangguk paham lalu keluar kamar tersebut dengan perasaan lega. Lega karena tak di salahkan oleh sang majikan.


"Bik? Kok bik Sum manggil mbak yang tadi nyonya? Memangnya dia siapa? Istri mudanya tuan ya?" Rupanya Yuni terjerat rasa kepo yang amat mendalam.


"Husshhh! Sembarangan kalau bicara. Itu istri sahnya tuan. Nyonya Melisa hanya istri sirinya tuan Kent. Begitu yang bibik tau. Tuan sempat memberikan diklat singkat waktu bibik baru bekerja di sini. Beliau mengatakan, ada dua wanita yang akan tinggal di rumah ini. Salah satunya adalah istri sah tuan, yaitu nyonya Jess. Dan istri siri tuan, yaitu nyonya Melisa. Cuma sebatas itu, sudah jangan kepo lagi." Terang bi Sum singkat.


"Kok bisa ya bik, yang punya anak duluan yang seharusnya istri sah. Kok kebalik sih. Yang tua malah istri siri. Itu tuan kejebak cinta satu malam apa gimana ya bik? Kaya yang di novel-novel drama gitu." Lanjut Yuni masih belum tuntas dengan rasa keponya.


"Yuni!" Geram bik Sum kesal.


Yuni cengengesan namun masih belum jera. Gadis itu masih di balut rasa penasaran akan status pernikahan sang tuan.


"Menginap di sini ya, kita bisa tidur di sini bersama Eli jika kau tak keberatan." Mohon Kent menatap penuh harap pada Jess.


Dia tak mungkin tega meninggalkan Eli dalam keadaan sakit seperti ini. Namun Jess juga tidak dalam keadaan yang cukup sehat untuk di ajak berjaga. Tapi paling tidak, Kent akan tenang jika Jess ada di sampingnya.


"Lalu bagaimana jika Melisa pulang? Istrimu itu mulutnya seperti silet, aku tak cukup kuat untuk berdebat dengannya nanti." Sahut Jess tenang. Kini keduanya tengah duduk di sofa. Jess di sisi lain dan Kent di sisi lain. Itu karena Kent sedang memijat kaki Jess yang sedikit kehilangan fungsinya meski tak terlalu parah.


"Abaikan saja. Aku yang akan mengurusnya nanti. Kau cukup dengarkan aku saja." Ucap Kent masih dengan tatapan mata yang sama. Kini semakin sendu membuat hati Jess tergerak iba.


"Baiklah, pastikan istrimu tak menyentuhku. Aku tak suka di kontaminasi oleh bakteri." Tukas Jess lugas. Kent mengangguk cepat.


Melisa tersenyum lebar kala melihat mobil Kent terparkir indah di halaman rumah mewah tersebut. Dengan langkah penuh percaya diri, wanita itu berjalan lenggak-lenggok ke dalam rumah.


Sejenak wanita itu menghentikan langkahnya kala tak sengaja melihat seseorang yang sudah dia pecat tempo hari.


"Kau?! Kenapa kau masih di sini? Bukankah aku sudah memecatmu? Apa kau tak punya malu hah?!" Hardik Melisa terlihat marah.


"Maaf nyonya, non Eli yang memintaku untuk kembali. Dan lagi non Eli sakit selama anda tinggal pergi. Jadi sayalah yang merawatnya." Jawab Yuni dengan berani.


Deg


Melisa menoleh ke lantai atas, perasaannya mendadak tak karuan. Kent pasti tau jika dirinya tak pernah pulang selama pria itu tak di rumah. Habislah sudah citra istri Solehah yang berusaha dia perlihatkan selama ini.


"Sejak kapan suamiku pulang?" Tanya Melisa terlihat resah.


"Satu setengah jam yang lalu, nyonya. Sekarang sedang menemani non Eli di kamarnya." Sahut Yuni lagi. Gadis itu sengaja tak memberi tahukan perihal kehadiran nonya nya yang lain. Di dorong oleh rasa penasaran yang bercokol di hatinya, Yuni ingin melihat pertunjukan yang akan terjadi di antara dua wanita tersebut.


Sungguh pengasuh kurang kerjaan.

__ADS_1


Melisa berjalan cepat menaiki tangga, wanita itu bersiap dengan segala untaian alasan yang akan dia katakan pada Kent.


Klek


Kedua mata Melisa membola sempurna, kala melihat dua insan yang tengah berpelukan di atas sofa sambil tertidur pulas.


Dengan langkah lebar, Melisa menuju sofa. Tanpa perasaan, wanita itu menarik rambut panjang Jess sekuat tenaga.


Kent yang tak siap akan serangan terhadap istrinya, tak sempat menangkap Jess yang terjatuh ke lantai hingga sedikit terseret oleh tarika kuat Melisa.


"Melisa! Hentikan kegilaanmu! Lepaskan istriku atau kau akan tau akibatnya!" Seru Kent penuh amarah. Kilatan cahaya menyala di kedua mata tajamnya. Melisa menghempas tubuh Jess begitu saja lalu memberikan tendangan dengan sepatu hak nya ke arah punggung Jess.


Jess yang masih syok, tak dapat memberikan perlawanan terlebih kondisi yang tak menguntungkan.


Kent berjalan dengan langkah lebar, berhenti di hadapan Melisa lalu memberikan salam sayang sepenuh hati.


Plak plak!


Dua kali suara tamparan menggema di dalam kamar Eli. Melisa terhuyung ke tepi ranjang.


"Kau! Kau membela wanita pelakor ini Kent. Di mana nuranimu? Lihat dia, dia hanya istri keduamu, akulah istri pertamamu. Kau harus ingat itu sampai kapanpun!" Teriak Melisa histeris.


Eli bahkan sampai terbangun kemudian menangis keras karena terkejut.


Sementara Kent membantu Jess duduk kembali ke atas sofa.


"Lihatlah! Itu ulahmu wanita ja lang! Kau merebut ayah putriku, apa kau tak punya malu hah?!" Melisa kembali berteriak sembari menunjuk ke arah Jess. Wanita itu bahkan tak berusaha untuk menenangkan sang anak yang menangis kejer.


"Tutup mulutmu Melisa! Eli sakit karena tak kau perhatikan. Kemana saja kau berhari-hari tak pulang? Kau mengabaikan tanggung jawabmu sebagai seorang ibu. Ibu macam apa kau ini!" Kent yang sudah tersulut emosi pun tak tinggal diam.


"Kent? Tolong tenangkan Eli dahulu, aku tak apa." Jess berusaha menghentikan berdebatan suami istri tersebut, kepalanya sudah cukup menahan rasa sakit. Di tambah tangisan Eli membuat kepalanya semakin berdenyut hebat.


"Biarkan saja ibunya yang menenangkannya, itu adalah kewajibannya. Ayo kita pergi, ini sudah bukan lagi rumah. Tapi neraka!" Ucap Kent tak peduli.


Pria itu menggendong tubuh Jess menuju pintu keluar. Sedangkan Melisa berteriak dengan segala umpatan terbaiknya. Tak ada niat untuk mendiamkan Eli yang masih menangis keras.


Wanita itu bahkan membentak sang anak lalu meninggalkannya begitu saja. Yuni, si biang kepo. Sejak tadi bersembunyi di balik pintu kamar. Saat Kent dan Jess keluar, gadis itu berjongkok di samping nakas. Kini melihat Melisa ikut keluar. Yuni berinisiatif untuk masuk.


"Non Eli, ini sus Yuyun. Udah ya, tenang tidak apa-apa. Sus Yuyun akan di sini menemani non Eli. Sudah ya sudah, berhenti menangis supaya lekas sembuh, kita bisa bermain di taman kota dan membeli banyak eskrim." Bujuk Yuni menggendong tubuh kecil Eli.


Untung saja demamnya sudah turun. Namun Yuni sedikit ngeri menggendong Eli dengan jarum infus yang masih menancap di kulit tangannya.


"Pa_pa ma_na sus Yuyun?" Tanya Eli yang masih terisak sesegukan di gendongan Yuni.


"Papa pergi bekerja, mungkin nanti akan pulang setelah pekerjaannya selesai. Non Eli yang sabar ya, ada sus Yuyun sama bibik yang akan menemani non Eli di rumah." Bujuk Yuni memenangkan hati nona kecilnya.


"Eli dengar suara mama sama papa kok sus? Sekarang kemana?" Yuni tersenyum masam. Rasa iba menyelinap dalam hatinya.


"Mama ada di kamar sebelah. Kalau papa belum pulang. Mau ketemu mama?" Tawar Yuni mengalihkan topik. Dia juga ingin melihat reaksi Melisa terhadap anaknya.


Yuni benar-benar biang kerok.


Tok tok tok


Yuni mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengetuk pintu kamar sang majikan. Meski hatinya was-was namun dia cukup kepo akan reaksi Melisa ketika dia membawa Eli ke kamar tersebut.

__ADS_1


Klek.


Terlihat Melisa dengan baju tidur yang sangat merusak mata kaum adam.


"Ada apa?!" Tanya Melisa ketus, wanita itu bahkan tak menoleh pada sang anak yang sedang di gendong oleh Yuni. Kutek di jarinya ternyata lebih menarik daripada Eli yang malang.


"Ma? Eli kangen mama.." ucap gadis itu seraya mengulurkan satu tangannya. Namun Melisa malah menepisnya hingga tak sengaja, tangan kecil itu mengantam kusen pintu.


Eli kembali menjerit dalam tangis kesakitan, namun Melisa malah mengusir dengan isyarat tangannya agar Yuni membawa Eli pergi.


"Dasar emak dajal! Aku kutuk bakal susah berojol kalau punya anak lagi. Nyangkut tuh nyangkut di selang ka ngan tidak bisa keluar." Maki Yuni kadung jengah terhadap sikap Melisa.


Eli kembali tertidur setelah lelah menangis, infusnya bahkan kini sudah terlepas dengan sendirinya. Tadi ketika mereka kembali dari kamar Melisa, Eli mengamuk dalam gendongan Yuni. Yuni pun kewalahan, satu tangannya memegang tiang infus satu lagi menggendong Eli.


"Yun, kok lesu amat? Itu makanan apa kabar ya, padahal bibik sudah semangat 54 masaknya. Kirain nyonya sama tuan bakal makan di rumah ini. Eh, malah pergi." Keluh wanita itu terlihat lesu.


Yuni mendesah lelah. "Semangat 45 bik, bukan 54. Auto di denger tentara bibik bisa berakhir di lubang buaya." Ucap Yuni tak kalah nyeleneh. Keduanya sama-sama terlihat lelah.


Ben yang baru kembali ke dalam rumah, celingukan mencari keberadaan sang kakak.


"Bik? Kak Jess masih di kamar atas ya?" Yuni yang berselonjoran di lantai bersama bi Sum langsung berdiri tegak hingga hampir limbung.


Gadis itu tersenyum penuh arti.


"Pas ini. Bik, masakan tadi di bungkus semua aja. Biar adek ganteng ini yang membawanya." Bi Sum langsung bersemangat. Wanita itu mengambil rantang susun lalu menaruh semua masakan ke dalamnya tanpa sisa. Toh mereka berdua bisa makan apa saja.


Ben terlihat bingung, tak mendapati jawaban kini malah di berikan rantang dan beberapa kantong buah segar.


"Ini maksudnya gimana ya?" Tanya Ben cengo. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena kebingungan. Dia terlalu larut dengan pemandangan taman belakang rumah. Sungguh menakjubkan baginya yang tak pernah mendapati hal mewah seperti itu.


"Kakaknya adek ganteng sudah pulang, jadi makanan ini bawa saja semuanya. Ini request_an tuan Kent. Tapi keburu siluman ratu ular datang, semuanya langsung buyar. Jadi ini di bawa saja ya, kami gampang. Kalau ratu siluman ular mau makan, gampang. Tinggal buka penutup saluran pembuangan, beliau bisa langsung cari makan sendiri ke sumbernya. Di dalam sono tikus pasti sedang semok-semoknya. Di jamin kenyang sampai seminggu." Ucap Yuni ngalor ngidul. Bi Sum menggeplak lengan gadis itu membuat Yuni meringis.


"Sembarangan saja kalau bicara, Yun Yun." Tegur bi Sum.


"Ngapain jauh-jauh buka saluran pembuangan, noh got di depan kan ada. Bisa buat berenang malah." Yuni tergelak renyah, rupanya bukan hanya dirinya yang mulai keluar jalur. Bi Sum pun sudah mulai sengklek seperti dirinya.


Sedangkan Ben hanya meringis melihat dua pekerja sang kakak ipar yang terlihat rada-rada.


"Ini sudah ya bik? Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Makasih banyak atas makanannya." Ujar pemuda itu berpamitan, dia ingin segera kabur dari sana. Namun Yuni yang selalu kepo menahan Ben hanya karena ingin tau nama pemuda tersebut.


Setelah berhasil kabur dari keudanya Ben mengusap dada lega. Dengan motor bututnya, Ben melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik kantong plastik lumayan besar yang berisi paketan makanan juga beberapa buah-buahan segar.


"Lumayanlah tidak perlu beli buah. Adik-adik pasti senang." Gumam pemuda itu tersenyum lebar.


Mereka selalu diajarkan untuk bersyukur atas kemurahan Tuhan melalui orang-orang baik dan tulus. Sekecil apapun, wajib untuk di syukuri. Begitulah pesan yang selalu diucapkan oleh sang ibu dan mendiang ayahnya.


...----------------...


...----------------...


Yuni benar-benar ya🀭


Jangan lupa komen n like nya yaπŸ™πŸ™


lope lope para kesayangan buna Qaya 🀍πŸ₯°πŸ€

__ADS_1


__ADS_2