
Jurus andalan Bellinda untuk memberikan tanggapan dari kata-kata penuh hinaan yang dilontarkan oleh mantan suami adalah sebuah senyuman. Dia tidak pernah bisa marah, sekalipun sudah diinjak-injak, diremehkan, maupun disakiti.
Bukan berarti lemah. Tapi, segala sesuatu tidak perlu dibalas dengan hal sama atau yang lebih menyakitkan. Dendam tak menyelesaikan semuanya, juga belum tentu membuat hati tenteram. Namun, cukup dengan memaafkan dan tidak memasukkan kata menyayat itu ke dalam hati.
“Kau tidak perlu risau ataupun memikirkan darimana aku memenuhi biaya hidup anak kita. Selama enam tahun ini, aku bisa menjalani semua sendiri, tanpa kekurangan sedikit pun. Kasih sayang pada Colvert juga selalu terpenuhi.” Bellinda merasa tidak perlu mengatakan sumber uangnya. Toh, di mata Arsen, dia hanyalah seorang wanita yang tidak bisa apa pun. Jadi, tak perlu membuang waktu untuk memberi tahu. Untuk apa juga? Hanya terkesan menyombongkan diri dan seolah berniat menampar mantan suami dengan kenyataan.
Bellinda tak butuh pengakuan atau sanjungan. Hanya mau hidup tenang, bahagia bersama anak. Itu sudah cukup. Keinginannya tak terlalu berlebihan.
“Oh, iya, aku lupa. Kau adalah putri keluarga Baldwig. Pasti tidak perlu susah payah bekerja, uang datang dengan sendirinya.” Arsen menarik pergelangan tangan Bellinda untuk diajak masuk lebih dalam, tidak mengobrol di depan pintu.
__ADS_1
Bellinda mengernyit saat tubuhnya dihempas paksa hingga terduduk di sofa. “Maaf, Arsen. Aku tidak berniat untuk bertamu lebih lama. Kedatanganku hanya ingin minta maaf karena putraku—”
“Kita!” Arsen langsung membenarkan lagi dengan mata menatap tajam. “Sekali lagi kau tidak menganggap aku sebagai bagian hidup dari Colvert, ku ambil paksa anak itu!” ancamnya kemudian.
Kepala Bellinda menggeleng pelan. Ketakutannya hanya itu. “Tolong, jangan usik hidupku dan anak kita. Janji, kami tak akan mengganggumu. Biarkan kami hidup berdua dengan tenang.”
Arsen melotot sembari pantat mendarat di sofa hadapan mantan istri. “Jadi, maksudmu, aku mengusik hidup kalian, begitu?!”
“Oh ... sudah merahasiakan kehamilan anakku, tidak memperkenalkan aku sebagai daddynya, membesarkan secara diam-diam, sekarang mau menjauhkan dari putraku sendiri?” Arsen menepuk dua telapak tangan dengan jeda tiga detik tiap tepukan. “Kau begitu benci denganku?”
__ADS_1
Bellinda sampai menghela napas pelan. Pertanyaan itu sepertinya terbalik. Lebih cocok ditujukan pada Arsen, dibanding dirinya.
“Membenci seseorang, tidak memberikan keuntungan, hanya berakhir menjadi penyakit hati dan menghilangkan ketenangan pikiran.” Namun, Bellinda masih bisa membalas dengan tenang, santai, juga elegan.
Justru Arsen yang sejak tadi masih belum terima kalau reaksi Bellinda biasa saja. Bukan wanita yang dahulu selalu mencoba menempel padanya, mencari perhatian demi mendapatkan cinta, juga selalu memancarkan ketertarikan dari sorot mata. Mantan istrinya telah berubah banyak.
Tidak mendapatkan tanggapan apa pun, Bellinda justru mendapat tatapan terus dari Arsen, tanpa berkedip. “Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku pamit pergi. Masih ada sesuatu yang harus ku kerjakan.” Dia lekas berdiri dan menunduk sekilas.
Kalau menanti Arsen memberikan izin, pasti lama. Maka, Bellinda pun segera berjalan. Sebelum tiba-tiba ditarik untuk ketiga kali.
__ADS_1
Arsen tetap duduk di tempat, menatap punggung mantan istri yang semakin mendekati pintu. “Tolong, beri tahu Colvert tentang daddynya. Kenalkan kami. Bagaimanapun juga, aku orang tuanya, dan mau mengenal dekat darah dagingku.”