
“Bukankah itu bagus? Jadi tidak mungkin dia akan selingkuh karena hanya denganku miliknya menunjukkan respon?” Bellinda masih tetap membela Arsen di depan orang tuanya.
Memang benar Bellinda sudah pernah disia-siakan dan sakiti. Tapi, hatinya tak setega itu untuk tidak memberikan kesempatan kedua. Apa lagi mantan suami telah menunjukkan perubahan dan kesungguhan, berusaha keras memberikan yang terbaik untuk anak mereka, merelakan waktu untuk pulang pergi Helsinki Amsterdam yang jaraknya lumayan juga. Terlebih Colvert menyayangi Daddy kandung dan menginginkan keluarga utuh, meski ada pengecualian asalkan Bellinda bahagia tak masalah kalau tidak kembali bersama.
Dalam lubuk hati Bellinda berkata mau kembali dengan Arsen. Toh pria itu jelas sekarang sudah mencintainya. Ya ... walaupun awal mereka kembali bertemu setelah cerai beberapa tahun tetap sedikit kurang menyenangkan, tapi pada akhirnya rukun juga.
Pasti beranggapan Bellinda bodoh kalau mau kembali dengan orang yang sama dari masa lalu, yang sudah menorehkan luka sedemikian rupa sampai rasanya tidak akan pernah hilang begitu saja penderitaan hati saat itu. Tapi, nyatanya, sesakit apa pun itu, dia tetap bisa kembali mencintai orang yang sama, perasaan tetap ada meski sudah berusaha dikubur sedalam mungkin.
__ADS_1
Kalau Arsen hanya bisa merespon ketika bersamanya, bukankah Bellinda juga sudah berbuat baik dengan menyelamatkan kehidupan penerus sebuah keluarga? Hati wanita itu memang bak malaikat yang tidak bisa membenci atau dendam dengan seseorang. Sebaik itu memang, hanya saja saat itu waktu yang salah dan belum tepat mempertemukan dirinya dan Arsen hingga mereka berakhir oleh perpisahan.
Tapi, lain dengan pemikiran seorang Nyonya Baldwig, orang tua yang sudah membesarkan Bellinda dari melahirkan sampai dewasa. “Apa kau yakin masih tetap menjadi pilihannya ketika dia bisa bergairah bersama wanita lain?”
Pertanyaan tersebut membuat Bellinda termenung. Terdengar seperti ada benarnya, tapi hati tetap ingin menampik segala doktrin yang sedang ditanamkan oleh mommynya.
Segala rentetan ucapan mommynya membuat Bellinda semakin berpikir dua kali. Benarkah Arsen datang karena tak ada pilihan lain lagi? Namun, hati selalu berbicara sebaliknya untuk memberi kesempatan kedua.
__ADS_1
“Bukankah itu salahku yang tidak memberi tahu dia kalau aku hamil? Keputusanku juga untuk memilih tidak menuntut pertanggung jawaban,” tutur Bellinda. Wajahnya kini terlihat banyak pikiran.
Nyonya Baldwig menggelengkan kepala pelan. Menepuk punggung tangan putrinya dengan lembut. “Arsen adalah pria dewasa yang sekolah tinggi tanpa membayar lewat jalur belakang demi mendapatkan ijazah dan gelar. Pertanda dia terpelajar sekaligus pintar. Pastilah tahu ketika melakukan hubungan yang mempersatukan cairannya dengan sel telurmu, akan ada kemungkinan membuahkan embrio yang akan terlahir dalam bentuk bayi.”
Nyonya Baldwig menjeda sejenak seraya mengusap kulit halus Bellinda. “Meskipun tahu ada kemungkinan bisa menghasilkan positif hamil, tapi dia tetap memilih cerai. Tandanya?”
“Dia tidak mengharapkan anak dariku?” tebak Bellinda dengan suara lirih.
__ADS_1
“Tepat sekali. Colvert sebenarnya tidak terlalu diharapkan oleh Arsen. Tapi karena dia tak bisa memiliki anak dengan yang lain, maka mau tak mau tetap harus mengambil cucuku, dan otomatis akan berusaha mengambil hatimu supaya mau kembali lagi.” Nyonya Baldwig mengusap puncak kepala Bellinda supaya sadar dan mulai berpikir dengan akal. “Sangat terlambat bagi pria itu memperbaiki semuanya.”