Buried Love

Buried Love
Part 29


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Colvert juga sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa minggu yang lalu. Bocah itu bisa berjalan dan beraktivitas seperti biasa karena bagian tulang yang retak tidak terlalu parah. Jadi, penyembuhan juga tak butuh waktu lama.


Dua bulan sudah Arsen tinggal di Amsterdam. Tapi, ia masih belum mendapatkan pengakuan atau panggilan Daddy dari Colvert. Bellinda sulit sekali didekati, wanita itu memang membiarkannya dekat dengan anak, tapi mencuri-curi kesempatan pada mantan istrinya tidak pernah ada celah. Bellinda jelas sekali kalau membangun benteng tinggi di balik keramahan dan kelapangan dada.


Hampir setiap hari Arsen bolak balik Finlandia ke Belanda karena pekerjaan kantornya banyak dan tidak bisa dikerjakan jarak jauh. Jadi, mau tak mau pun harus merelakan jam terbang.


Pagi setelah Arsen mengantarkan anaknya berangkat sekolah, dia langsung ke bandara. Malam atau sore kembali lagi menuju Amsterdam.


Setidaknya ada sedikit kemajuan dalam hubungan Daddy dan anak itu. Meski sekedar antar sekolah.


Kalau ditanya lelah atau tidak, jujur iya. Arsen paling malas dirumitkan oleh hal-hal yang menyita waktu. Tapi, demi anaknya dan Bellinda, tidak masalah. Anggaplah sedang membayar kesalahan masa lalu.


Si duda munafik dan bebal itu mulai menentukan arah dan tujuan hidupnya, mendapatkan lagi kepercayaan mantan istri. Dia akan mempersiapkan diri untuk dicekoki oleh teman-temannya. Hal itu tak bisa dihindari kalau sampai ketahuan saat ini tengah memperjuangkan jandanya sendiri.

__ADS_1


Sampai detik ini, Arsen belum menceritakan perkembangan apa pun pada Madhiaz, Pierre, dan Eduardo. Nanti sajalah kalau benar-benar butuh bantuan mereka. Untuk sekarang masih bisa melakukan sendiri.


Akhirnya ... weekend tiba juga. Hari yang paling Arsen suka karena ia tidak perlu bolak balik ke Finlandia. Walaupun Naik pesawat, tapi tetap saja waktunya tersita untuk perjalanan setiap hari.


Baru Sabtu pagi Arsen mendarat di Amsterdam, dia langsung menekan bel apartemen Bellinda. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, baru pukul tujuh.


Arsen mendapatkan sapaan berupa senyuman dari mantan istri. “Masuk.” Dia melangkah ketika ada perintah itu dari Bellinda.


“Hari ini kalian rencananya mau ke mana?” tanya Arsen seraya mengekor di belakang jandanya.


“Wah ... maafkan Daddy karena baru bisa pulang pagi ini. Pekerjaan di Helsinki banyak sekali.” Arsen menghampiri putranya yang sedang duduk di ruang makan. Bocah itu terlihat tengah minum susu setelah sarapan.


Arsen berdiri di samping Colvert, meraih puncak kepala dan mengecup di sana. “Mau pergi sekarang?”

__ADS_1


Colvert mengangguk karena sedang menghabiskan susu jadilah tidak mengeluarkan suara.


Arsen menggendong putranya untuk diturunkan dari kursi. Tahu kalau Colvert sudah bisa, tapi dia kan belum pernah melakukan hal itu.


“Ayo, Mommy.” Colvert mengulurkan tangan meminta digandeng.


Tapi Bellinda menggeleng. “Kalian berdua saja, ya?” Dia selalu melihat Colvert sungkan ingin bermanja dengan Arsen kalau ada dirinya. Jadi, tidak mau menjadi penghalang kedekatan mereka.


Colvert menekuk wajah, muram. “Kenapa?”


“Mommy harus ke CoBell, melihat situasi di sana. Weekend biasanya ramai.”


Arsen melihat raut sedih putranya, lalu berganti pada wajah Bellinda yang menunjukkan mimik teduh. “Kita bisa ke CoBell dulu, setelah itu cari gelato.”

__ADS_1


Tanpa persetujuan, Arsen menggandeng tangan mantan istrinya. Dia mengulas senyum ketika wajah Bellinda menatapnya dengan raut terkejut. “Ayo berangkat.” Sebelum diprotes atau ditepis, semakin eratlah tangan kekarnya. Sementara sebelah lagi untuk menggandeng Colvert.


__ADS_2