Buried Love

Buried Love
Part 71


__ADS_3

Sebenarnya yang mau menikah itu siapa? Bellinda dan Steven atau justru dua Nyonya yang kini sedang sibuk sendiri melihat-lihat model gaun serta setelan tuxedo?


Bellinda sudah menolak dengan mengatakan tidak bisa ikut ke butik karena harus mengurus restoran. Beberapa hari ini ia tak pergi ke CoBell. Tapi, tetap saja mommynya memaksa, langsung dibawa masuk ke dalam mobil. Jadilah sekarang terjebak di sana.


Tak ada gairah dan nyawa Bellinda di butik itu. Meski sejak tadi para pegawai memperlakukan dengan baik saat ukur tubuh, tapi pikirannya justru melayang ke Arsen. Entah bagaimana kabar mantan suaminya sekarang, dihubungi juga tak bisa. Tiap kali Colvert merengek minta dipertemukan juga tak pernah ada balasan. Pesan hanya centang satu terus. Beberapa kali ia mengecek ke apartemen, kosong. Ada perasaan tak nyaman yang mengganjal. Mungkin pria itu sengaja menjaga jarak karena tahu kalau dirinya akan segera menikah?


Banyaknya pikiran itu membuat Bellinda sejak tadi hanya diam dan melamun. Diperintah untuk mencoba gaun yang sudah ada pun dia hanya menurut tanpa membantah karena tidak mau membuat keributan di butik.


Gorden setinggi dua setengah meter itu dibuka dari dalam oleh pegawai butik setelah Bellinda selesai berganti menggunakan gaun pilihan mommynya dan orang tua Steven.

__ADS_1


“Wah ... cantiknya,” puji dua wanita yang usianya mungkin selisih sedikit.


Bellinda hanya tersenyum tipis tapi tak begitu terlihat tulus. Sebab, kehadirannya di sana memang terpaksa. Bahkan tidak mengucapkan terima kasih setelah mendapatkan pujian.


Sementara Steven yang sejak tadi duduk di sofa dan menanti pun menunjukkan reaksi tidak berkedip sama sekali. Ia terpukau. Bellinda benar-benar luar biasa menawan. Meski janda dan sudah pernah melahirkan satu anak, tapi tidak membuat wanita itu terkesan lebih tua. Auranya justru kian terpancar. Apa lagi dipadukan bersama gaun dengan model ketat tanpa lengan, bagian atas hanya menutupi sampai buah dada, membuat area belahan dan ada yang menyembul keluar itu benar-benar menyegarkan mata.


Gila ... ternyata besar juga. Selama ini selalu ditutupi dengan pakaian yang longgar, sekalinya memakai yang seksi, ternyata ... membuatku tidak sabar ingin segera mencicipi hidangan spesial. Steven tidak akan berani mengatakan itu secara langsung. Selama ini yang membuatnya merasa penasaran adalah rasa janda itu seperti apa? Dia belum pernah. Kalau yang gadis, tentu sudah biasa.


“Jadi, bagaimana menurutmu? Model gaun itu bagus atau tidak?” tanya Nyonya Dane.

__ADS_1


Steven mengangguk tanpa mengalihkan tatapan dari dada Bellinda yang seperti meronta minta keluar jika dipadukan dengan gaun itu. “Bagus, aku suka.”


Bellinda merasa kalau sejak tadi hanya satu titik yang diamati oleh Steven. Ia lekas berbalik. Dan sedikit mendengar ada desah kecewa dari seseorang yang kini dipunggungi.


“Oke, buatkan yang model seperti itu,” putus Nyonya Dane secara sepihak.


“Tidak, aku mau yang lebih tertutup, tidak pas badan, dan lengan yang panjang.” Namun Bellinda langsung meminta sebaliknya.


“Why?” Steven seperti tidak sepakat dengan keputusan Bellinda.

__ADS_1


Bellinda menatap pegawai butik. “Tolong tutup gordennya, aku mau ganti,” pintanya. Enggan menjelaskan, yang memakai juga nantinya dia.


Si janda itu sudah kembali memakai celana jeans panjang dan kaos longgar. Dia melenggang keluar dari ruang ganti. “Sudah selesai, kan? Aku mau pergi.” Bellinda tidak menunjukkan sisi antusias karena memang jiwanya sedang tak di sana.


__ADS_2