
Seandainya yang ditawarkan untuk check in adalah Bellinda di masa lalu, maka wanita itu akan langsung menyetujui tanpa pikir panjang. Tapi, sayangnya Bellinda bukan lagi yang dulu. Kali ini ia memiliki ketakutan ditinggalkan setelah menyerahkan segalanya. Bahkan mengubur cinta pun tidak sepenuhnya berhasil membuatnya membenci mantan suami, juga gagal menepis segala debaran yang dirasakan tiap kali bersama pria itu.
Akal sehat Bellinda masih waras untuk tidak memenuhi hasrat mantan suami. Walau dirinya juga sebenarnya ingin mendapatkan sentuhan, tapi untunglah bisa mengendalikan diri.
Wanita itu menggelengkan kepala untuk menolak. Bellinda juga menarik tangan dan melepaskan sesuatu yang tadi sempat digenggam. “Antarkan aku pulang, Colvert pasti sudah menunggu di apartemen. Merry harus berangkat kerja jam delapan.”
Untunglah Bellinda memiliki alasan yang logis. Saat melihat jam ternyata sudah pukul setengah delapan, dan ia tidak berbohong soal Merry. Temannya memang kerjanya malam karena bekerja di sebuah club malam, entah sebagai apa, ia tak terlalu ikut campur.
“Ini belum selesai, masih tegak.” Arsen menunjuk miliknya yang belum malu-malu untuk tidur pulas. Dia mencoba meraih tangan Bellinda lagi, tapi wanita itu menepis dan menghindar. Menatap pun tidak mau.
“Tolong, segera pulang. Atau aku pergi menggunakan taksi saja?” Bellinda tidak mau berada terlalu lama di dalam mobil bersama Arsen. Terlalu berbahaya untuk adrenalin jantung, desiran darah, dan yang masih berkedut di bawah sana. Dia takut terbuai dan pada akhirnya hanya akan ditinggal lagi.
Arsen menghembuskan napas pasrah. “Baiklah.”
__ADS_1
Akhirnya mobil pun keluar dari parkiran hotel. Gagal total! Pria itu mengeluh dalam pikiran. Padahal tadi sudah berhasil membuat mantan istri gelisah, tapi ternyata benteng Bellinda tinggi dan kuat juga sampai sulit dirobohkan.
Syukurlah milik Arsen juga perlahan bisa mulai tertidur setelah tadi sempat mendapatkan sentuhan wanitanya. Jadi, walau kepala pening, tak terlalu pusing sekali.
Berhenti di basement, Bellinda langsung melepaskan seatbelt. Dia hendak langsung turun tanpa memberi sapaan apa pun.
Namun, tangan Arsen mencekal pergelangan wanita itu, jadilah kepala Bellinda menengok sebelum tubuh benar-benar keluar.
Bellinda belum sempat menanggapi, tapi getaran di ponsel membuatnya harus mengangkat telepon dari Merry. “Iya, aku segera jemput Colvert.”
Arsen melepaskan cekalan tangannya, membiarkan Bellinda bebas bergerak karena sepertinya Merry sudah mau berangkat kerja.
Pria itu buru-buru turun juga, menyusul jandanya yang sudah menuju lift. Arsen tak lupa memastikan kalau celana sudah di tutup kembali. Aman.
__ADS_1
Kedua orang itu turun di lantai yang sama. Lebih tepatnya Arsen yang mengekori. Mereka berhenti di unit milik Merry.
“Colvert tidur,” beri tahu Merry saat membukakan pintu.
“Biar aku gendong.” Arsen permisi untuk masuk ke dalam. Dia mengambil putranya dalam dekapan tangan.
“Terima kasih sudah bantu menjaga putraku. Maaf sedikit kemalaman pulangnya.” Bellinda meringis karena merasa bersalah.
“Tak apa, masih ada waktu untuk perjalanan.” Merry menepuk pundak Bellinda dengan mengulas senyum.
Bellinda pun jalan di samping Arsen yang menggendong Colvert. Di dalam lift ia mengamati pria itu. Sebenarnya mantan suaminya sudah banyak berubah. Terlihat menunjukkan kasih sayang pada anak dan dirinya. Dalam hatinya berkata ingin memberi kesempatan. Tapi otak memberontak seolah mengolok-olok dan mengatakan bahwa dirinya wanita bodoh kalau sampai masuk ke dalam lubang hitam yang sama.
Setelah merebahkan Colvert, Arsen menghampiri Bellinda yang masih berhenti di tengah ruang tamu. Dia mengusap puncak kepala wanita itu, lalu sedikit ditarik dan masuk ke dalam pelukannya. “Jika ku katakan bahwa aku mencintaimu, apakah kau percaya?”
__ADS_1