Buried Love

Buried Love
Part 67


__ADS_3

Arsen ingin menggunakan waktu berdua bersama Colvert dengan sebaik mungkin. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu karena belum tentu di kemudian hari ada peluang untuk menjaga dan merawat putranya selama seharian penuh, bahkan lebih.


Si duda ingin mengajak anaknya jalan-jalan keluar. Anggaplah sebagai salah satu cara supaya Colvert melupakan segala apa pun tentang kejelekannya. Dia hanya ingin lebih dekat dan semakin mengenal satu sama lain.


Untunglah pakaian Colvert tidak dibawa ke mansion Baldwig. Jadi, bocah itu bisa mengambil ganti di unit samping.


Setelah menyelesaikan sarapan, Arsen memandikan putranya. Walau ditolak dengan alasan bisa sendiri, tapi ia tetap memaksa.


“Daddy belum pernah memandikanmu. Sesekali boleh, lah ... selagi tak ada mommymu.” Satu kalimat yang membujuk itu pun akhirnya membuat Colvert menyerah, membiarkan tangan kekarnya menyabuni dan mengusap rambut dengan shampo hingga berbusa.


Arsen benar-benar merasa menjadi orang tua sungguhan karena kini bisa merawat putranya. Dia juga mengeringkan tubuh basah si kecil dengan handuk, lalu membantu mengganti pakaian juga. Setelah dirasa Colvert telah rapi, barulah gilirannya bersiap.

__ADS_1


“Oke, ayo kita keluar!” seru Arsen seraya tangan terulur ke hadapan Colvert dan keduanya pun bergandengan tangan.


Sepasang Daddy dan anak itu mengayunkan kaki bersamaan. Wajah mereka nampak tersenyum, tidak ada raut tertekan atau banyak pikiran seperti sebelumnya. Mungkin karena apa yang terasa mengganjal sudah dituntaskan tadi saat bangun tidur, jadilah kini mereka bisa berdamai tanpa perlu mendiamkan satu sama lain lagi.


Definisi jalan-jalan menurut dua pria beda generasi itu adalah pergi menggunakan kaki. Mereka tidak naik mobil, tapi sungguh melangkah beriringan.


“Ada tempat yang ingin kau tuju?” tanya Arsen seraya membiarkan Colvert menggoyangkan genggaman tangan mereka. Dia bisa merasakan kegembiraan itu.


Colvert menggelengkan kepala. “Aku hanya ingin jalan-jalan saja dengan Daddy.” Wajahnya lalu berpaling dan berubah sedikit sendu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh anak itu. Dia selalu menutupi perasaan yang sebenarnya.


“No. Aku ingin minum strawberry milkshake.”

__ADS_1


“Itu kesukaan mommymu,” sahut Arsen.


“Memang.” Colvert tersenyum kaku seolah merasa tak enak karena memikirkan Mommy di saat bersama Daddy. “Di sana, aku sering minum bersama Mommy.” Ia menunjuk ke sebuah bangunan bertuliskan milky young.


“Sesuai permintaanmu.” Arsen tidak tahu bagaimana Bellinda mendidik Colvert, tapi saat bersamanya, akan dituruti apa pun yang anak itu minta. Sebab, dia sadar kalau banyak sekali yang perlu ditebus dari lima tahun yang ia lewatkan tanpa memberi kasih sayang sedikit pun.


Arsen mendudukkan Colvert di bangku dekat dengan jendela supaya bisa sembari melihat ke luar seraya menanti pesanan datang.


“Daddy kenapa bisa tahu kalau Mommy selalu memilihkan tempat duduk di sini?” ucap Colvert. Dari banyaknya kursi kosong, justru di sana pilihannya.


“Oh, ya? Mungkin aku dan mommymu memang sehati dan memiliki selera sama,” jawab Arsen seraya menggeser gelas berisi strawberry milkshake yang baru saja diantar oleh waiters itu ke arah Colvert.

__ADS_1


“Kalau sehati dan sama, kenapa mommyku harus menikah dengan Steven?” celetuk Colvert. Ia lalu menyedot minuman dingin tersebut.


Arsen tidak langsung menjawab, ia mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala si kecil. “Kenapa? Colvert tidak senang kalau Mommy bersama Steven? Bukankah sudah lama juga dia dipanggil Daddy dan kalian pun terlihat senang saat bersama?” Dia langsung menggigit bibir ketika kalimat terakhir meluncur begitu saja. Demi apa pun ... tidak bermaksud mengungkit masalah itu. Tapi, mungkin dalam lubuk hatinya ada kecemburuan saat anak sendiri nampak dekat dan bahagia bersama pria lain.


__ADS_2