Buried Love

Buried Love
Part 58


__ADS_3

Sejak tadi Arsen terus duduk di sofa dengan posisi tangan bertumpu pada lutut sehingga postur tubuh menjadi lebih condong ke depan. Dia memandangi ponsel yang sengaja diletakkan di atas meja. Duda satu itu tak mengalihkan pandangan dari layar berukuran enam koma tujuh inch karena tidak ingin terlambat seandainya Madhiaz mengirimkan alamat kediaman keluarga Baldwig.


Bahkan sejak pagi pun Arsen memilih tidak mandi demi bisa langsung tancap gas kalau sudah mendapatkan alamat yang begitu dinanti. Sering menyentuh layar hingga dari redup berubah terang, hanya sekedar ingin memastikan apakah daya baterai masih banyak dan sinyal lancar. Pasalnya, waktu telah menunjukkan sore menjelang malam hari, tapi tak kunjung ada satu pun pesan atau telepon masuk.


Rambut si duda sampai tak beraturan. Berantakan sekali, terlalu sering diacak-acak. Muka juga masih kusut saja, belum dicuci. Ternyata kehilangan jejak orang yang disayang berhasil membuatnya lumayan frustasi.


Terlalu mendalami penantian informasi masuk dari Madhiaz, Arsen sampai tak rela jauh-jauh dari ponselnya. Buang air besar dan kecil pun ia bawa alat komunikasi itu. Tetap dipandangai terus.


Tak kunjung mendapatkan apa-apa, Arsen yang kini sudah kembali duduk di sofa pun menghubungi Madhiaz untuk meminta kepastian. Dia terasa seperti digantung berjam-jam kalau seperti ini terus. Menanti hal yang tak pasti.


Layar itu sudah menempel pada telinga. Pada nada sambung pertama belum diangkat juga, kedua, ketiga, sampai ke lima masih sama. Barulah detik-detik terakhir ada suara seseorang menyahut.

__ADS_1


“Bagaimana? Iparmu bisa membantu tidak?” tanya Arsen tak sabaran. “Kalau tak bisa, bilang dari tadi supaya aku mencari secara mandiri. Berjam-jam aku seperti orang gila karena dihantui keresahan,” cerocosnya kemudian.


“Kau bisa sabar tidak? Ipar-iparku orang sibuk semua, mereka juga harus bekerja dan tak bisa sembarangan meminta sesuatu langsung selesai begitu saja.” Madhiaz jadi balas mengomel.


“Ck! Ini hari libur, bekerja untuk apa mereka?”


“Mereka punya anak istri, libur dihabiskan bersama keluarga. Memangnya kau yang weekend justru mengganggu kemesraan teman.”


“Ya ... ya, jadi intinya bagaimana? Bisa diandalkan tidak? Aku sampai seharian belum mandi karena menunggu kabarmu.”


“Oke. Segera!”

__ADS_1


Setelah panggilan terputus, Arsen meninggalkan ponsel dengan posisi dicharge. Sementara ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Benar apa kata Madhiaz, penampilannya jangan nampak buruk, nanti Bellinda ilfeel atau mantan mertuanya semakin mengolok-olok.


Sudah rapi dan wangi, Arsen kembali melihat ponsel. Dan senyum terlihat mengembang karena Madhiaz mengirimkan sebuah pesan. Tanpa berpikir panjang, langsung dibaca.


“Banyak sekali rumahnya,” gumam Arsen. Ada tiga alamat yang dikirimkan padanya. Satu di Finlandia, ada di Korea juga, dan yang terakhir di Amsterdam.


Arsen segera mengambil kunci mobil. Dia mengendarai ke arah alamat yang ada di Amsterdam. Meski tak yakin seratus persen Bellinda ada di sana, tapi kepercayaannya mengatakan bahwa harus memastikan di lokasi paling dekat.


Saat sampai di lokasi, Arsen ditahan oleh penjaga, tak diizinkan masuk. Tapi, dia bisa melihat dari kejauhan kalau ada beberapa mobil terparkir di depan sebuah bangunan megah. Pasti Bellinda ada di dalam sana dan sedang ada acara.


“Jangan sampai aku terlambat datang dan Bellinda sudah bertunangan dengan si gunung-gunung ... apalah itu namanya,” geruru Arsen.

__ADS_1


Sempat terjadi adu mulut antara Arsen dan penjaga. Bahkan dia sempat mau mengajak bertarung pria yang menghalanginya untuk masuk. Tapi, tak jadi karena akhirnya ia dibebaskan.


“Tuan dan Nyonya Baldwig mengizinkan Anda masuk,” ucap penjaga yang baru saja menerima telepon dari pelayan.


__ADS_2