Buried Love

Buried Love
Part 80


__ADS_3

Sebenarnya bisa saja Arsen dan ketiga temannya mengacaukan pernikahan menggunakan jackpot berupa sisi buruk Steven yang sering keluar bersama wanita yang berbeda setiap saat. Tapi, si duda tidak mau melakukan hal itu.


Arsen memang tidak rela jandanya dimiliki pria lain, tapi bukan mengacau menggunakan cara yang menunjukkan aib orang lain. Dia memposisikan jika diperlakukan seperti itu juga, pasti tidak mau. Arsen pernah merasakan bagaimana tidak nyaman dikuliti kesalahan masa lalu di depan orang lain, bahkan saat itu hanya beberapa orang saja—keluarga Baldwig dan Dane. Jadi, ia tidak akan balas dendam mempermalukan Steven pada seluruh tamu undangan. Masih banyak cara yang bisa digunakan sebagai alternatif, salah satunya adalah mengabarkan bahwa ia sakit dan tidak bisa hadir.


Arsen sengaja memanipulasi keadaan karena ingin tahu bagaimana reaksi Bellinda ketika mendengar kalau ia dalam kondisi tidak baik-baik saja. Mungkinkah membatalkan pernikahan dan memilih menemui dirinya, atau justru melanjutkan dan berbahagia di atas penderitaannya? Semua dikembalikan pada keputusan si janda.


“Wait!” seru Bellinda saat tiga pria yang diketahui adalah teman Arsen itu mulai mengayunkan kaki satu langkah.


Tentulah dengan suka rela Madhiaz, Eduardo, dan Pierre berhenti, lalu menyempatkan menengok ke belakang secara bersamaan. Hanya menyentakkan alis ke atas sebagai pertanda kalau mereka menanti sebuah pertanyaan atau apa pun yang hendak dikatakan.


“Arsen sakit apa?” tanya Bellinda. Ia jadi tak fokus pada pernikahan yang sudah ada di depan mata, tapi pikiran justru melayang pada mantan suaminya yang tak ada kabar selama satu bulan lebih.

__ADS_1


“Ada penyakit di hatinya, dan itu sudah akut,” jawab Pierre. Memang kalau bagian menyeletuk tanpa berpikir adalah keahliannya.


Madhiaz dan Eduardo hanya mengangguk membenarkan. Memang begitu, Arsen patah hati akut.


“Kanker? Tumor? Liver? Atau apa?” Bellinda mencecar dan ingin tahu lebih detail.


Madhiaz, Eduardo, dan Pierre mengedikkan bahu bersama-sama.


“Aku ikut ... mau menjenguk Daddy.” Colvert berteriak sembari turun dari kursi. Dia hendak berlari menuju tiga teman Arsen, tapi tangan dicekal oleh sang nenek.


“Nanti bisa menjenguk, Colvert di sini dulu sampai mommymu selesai mengucapkan janji pernikahannya,” larang Nyonya Baldwig.

__ADS_1


“Tidak mau.” Bocah itu mengibaskan tangan secara kasar. “Aku ingin melihat Daddy.”


Memang dasar pengacau, Madhiaz, Eduardo, dan Pierre tetap melangkah hendak pergi meninggalkan lokasi pernikahan. Tugas mereka hanyalah menyampaikan kabar bohong tadi.


“Mommy ... aku mau menjenguk Daddy sekarang!” Karena tak juga dibiarkan pergi, akhirnya Colvert pun berteriak meminta bantuan. “Bagaimana kalau dia mati? Aku tidak ingin kehilangan waktu bersama dengannya, walau sebentar saja.” Matanya mulai berkaca-kaca, diperlihatkan pada Bellinda.


Rasa tak tega langsung merungkup hati, Bellinda menuruni anak tangga dan mengampiri sang anak. Dia melepas paksa tangan mommynya yang terus mencekal Colvert. “Ayo kita jenguk daddymu.”


“Tidak bisa seperti itu, Bellinda! Lanjutkan dulu pernikahannya,” tegur Nyonya Dane yang tak terima oleh keputusan sepihak tersebut.


Bellinda menatap Steven dan keluarga Dane. “Maaf, aku tidak bisa berbahagia disaat ada seseorang yang tengah menderita. Apa lagi itu adalah Daddy dari anakku.”

__ADS_1


“Enteng sekali mulutmu bicara! Keluargaku sudah keluar uang banyak untuk acara ini.” Nyonya Dane yang paling terlihat tak terima. “Rugi kalau batal begitu saja.”


__ADS_2