
Semakin rombongan keluarga Dane mendekat, wajah Bellinda bertambah terkejut karena sosok yang sangat ia kenal justru kian jelas, bukan sekedar bayangan lagi. Tangannya otomatis tergerak ke atas untuk menutup mulut yang menganga supaya tak nampak kalau sekarang tengah terguncang oleh kehadiran pria itu.
“Daddy?” panggil Colvert. Dia menyambut dengan senyum saat pria yang sejak dua tahun lalu selalu hadir dalam hidupnya dan dianggap seperti daddynya karena saat itu ia belum tahu siapa orang tua kandung. Sampai sekarang kebiasaan itu belum hilang.
Sementara Nyonya dan Tuan Baldwig cenderung terkejut karena cucunya memanggil dengan sebutan Daddy.
“Colvert kenal dengan Uncle Everest?” tanya Nyonya Baldwig.
Bocah itu mengangguk. “Iya, dia pria yang pernah aku ceritakan pada Granny. Orang yang menyukai mommyku dan sering ku panggil Daddy,” jelas Colvert.
“Oh ... bagus kalau seperti itu. Jadi, kalian tidak butuh banyak waktu berkenalan karena sudah mengenal satu sama lain.” Nyonya Baldwig terlihat berbinar. Dia lalu menyambut rekan bisnis suami, dari keluarga Dane.
“Hi, boy, akhirnya kita ketemu lagi.” Dia adalah Steven. Sengaja berjongkok di hadapan Colvert setelah bersalaman dengan orang tua Bellinda. “Bagaimana kabarmu?”
“Aku sangat baik, Daddy Steven.” Colvert mengulurkan tangan untuk bersalaman sebagai sambutan pada tamu.
__ADS_1
Steven langsung memeluk bocah kecil itu. “Maaf, ya. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Jadi, jarang menemuimu.”
“Santai, aku punya Daddy yang lain juga. Jadi, disaat kau tidak ada, aku ditemani Daddy Arsen,” balas Colvert.
Steven terkekeh seraya melepaskan pelukan, tangannya mengacak-acak rambut Colvert dengan gemas. “Minggu lalu kau ulang tahun, kan?”
Colvert mengangguk membenarkan. “Aku merayakan dengan berkemah dengan Mommy dan Daddy Arsen.”
Steven hanya menanggapi dengan senyuman. “Aku punya hadiah untuk ulang tahunmu yang ke enam, tapi di dalam mobil. Mau diambil sekarang atau nanti?”
“Ya ... nanti saja, ayo ke dalam. Granny sudah menyiapkan banyak makanan.” Colvert menunjuk arah pintu yang sejak tadi terbuka lebar.
“Oke, mau aku gendong seperti biasa?” tawar Steven. Kedua tangan terulur ke depan Colvert tapi tak langsung menyambar tubuh kecil yang kini semakin tumbuh tinggi.
Colvert menggelengkan kepala. “Sudah pakai jas rapi, nanti kalau digendong jadi tidak terlihat berwibawa lagi.” Ia membusungkan dada dan menaikkan dagu hingga terlihat gagah seperti bangsawan.
__ADS_1
“Oke.” Steven pun berangsur berdiri, menegakkan postur tubuh.
Satu persatu orang mulai ke dalam mendahului. Tersisa Steven dan Bellinda. Pria itu mengulas senyum pada wanita yang sudah lama ditaksir tapi tak kunjung memberikan lampu hijau, kuning terus.
“Kenapa wajahmu terkejut sekali saat melihatku?” Steven mengusap puncak kepala Bellinda seperti biasa ia melakukan. “Apa penampilanku hari ini seperti hantu?”
Bellinda lekas kembali pada mimik normal. Menepis seluruh rasa tertegun yang sempat membuatnya membeku sesaat. “Tidak, aku tak menyangka saja kalau orang yang ingin diperkenalkan padaku adalah kau.”
Keluarga Dane yang datang berjumlah lima orang. Dua diantaranya sudah pasti orang tua Steven, dua lagi masih kecil, sepertinya adik Steven. Jadi, sudah pasti Everest yang dimaksud adalah pria yang dikenal dan masuk ke dalam kehidupannya beberapa tahun silam.
“Iya, maaf aku tidak sempat cerita tentang ini.” Steven menunjuk dalam, mengajak Bellinda supaya bergerak. Keduanya pun berjalan beriringan.
“Kenapa dari Steven bisa berubah Everest?” tanya Bellinda. Ia masih bingung sejak tadi. Jauh sekali perbedaannya.
“Everest Steven Dane.” Dia mengulurkan tangan seperti orang mau berkenalan. Tapi ditarik lagi karena tak kunjung dibalas oleh Bellinda. Pandangannya lalu lurus ke depan. “Everest itu panggilan di lingkungan keluarga. Kalau di luar, aku selalu memperkenalkan diri dengan nama Steven.”
__ADS_1