Buried Love

Buried Love
Part 38


__ADS_3

Arsen sadar kalau dia egois. Setelah menyakiti wanita yang sudah dibuang begitu saja, diceraikan sesudah ditiduri, dan sekarang tanpa rasa malu pun memaksa untuk menikah lagi dengannya.


Tanpa orang lain mengatakan dirinya brengsek, Arsen sudah tahu kalau memang kelakuannya layak dinobatkan sebagai bajingann. Dia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya Bellinda bersanding dengan orang lain, lalu ia hanya menjadi penonton atas kebahagiaan mantan istri.


Seharusnya Arsen bahagia karena tak ada lagi yang menyakiti wanita itu kalau Bellinda memang sudah menemukan kebahagiaan dari orang lain. Tapi, tidak bisa. Sisi egoisnya selalu menekan untuk tak mengizinkan jandanya dimiliki orang lain, kecuali dirinya.


Belum pernah Arsen menemukan sosok sebaik Bellinda. Walau matanya baru terbuka sekarang, dan ia menyesal karena tidak sejak dahulu menyadari itu.

__ADS_1


Arsen memang pernah menyukai seorang wanita, dan itu adalah Scherie, istri sahabatnya—Madhiaz. Tapi, ternyata, Bellinda jauh lebih berhati malaikat dibandingkan sosok yang pernah ia kagumi sebelumnya. Anggaplah bertahun-tahun yang lalu matanya buta dan telinga tuli karena tak bisa merasakan ketulusan hati yang selalu Bellinda berikan padanya. Dan sekarang ia sungguh menyesal karena itu.


“Maaf jika aku sudah membuatmu ketakutan hari ini,” ucap Arsen setelah ia tenang dan tak lagi ada emosi yang diperlihatkan. Dia mengusap tangan Bellinda yang ternyata bersentuhan dengan wanita itu mampu meredakan segala amarah yang ada. Tapi sekaligus membangkitkan sesuatu yang semestinya tak terbangun dari tidur lelap.


Bellinda mengangguk, berusaha menarik tangan yang digenggam terus. Tapi, Arsen justru semakin erat. Akhirnya ia mengalah. “Aku tak bisa mengendalikan perasaan orang, termasuk Steven yang menyukaiku. Siapa saja bebas memiliki perasaan, itu hak setiap individu. Aku baik dengan setiap pria, bukan berarti menyimpan rasa pada orang tersebut. Begitu juga ketika aku memperlakukanmu.”


Arsen sudah malas dengan obrolan yang berputar di situ-situ terus. Intinya Bellinda belum mempercayainya. Daripada suasana dalam mobil menjadi suram. Lebih baik dia cairkan dengan cara ... menarik tangan mantan istrinya untuk memegang sesuatu yang tanpa malu mengeras sejak tadi.

__ADS_1


Arsen tersenyum menggoda saat Bellinda menatapnya dengan mata membulat dan terkejut. Sudahlah, menahan diri juga sakit. Toh mereka sama-sama sudah dewasa, dan pernah melakukan lebih dari itu.


“Berada di dekatmu selalu membuat ini bertransformasi menjadi lebih garang.” Arsen hanya mau jujur, tubuhnya tak bisa membohongi kalau Bellinda sangat berpengaruh terhadap gairahnya. Dia tetap menahan tangan jandanya ketika hendak ditarik. Tak diizinkan untuk pergi. “Kau selalu membuatku seperti ini, walau tak melakukan apa pun.”


Bellinda menelan ludah saat merasakan kulit Arsen menghantarkan hawa panas yang tidak biasa. Tubuhnya seakan menjadi beku saat kepala pria itu perlahan mendekat. Dia merapatkan bibir karena belum siap seandainya tiba-tiba dicium. Tapi, untuk menghindar pun tak mampu karena sorot mata mantan suaminya seakan memaku seluruh tubuh supaya tidak bergerak menjauh.


“Haruskah kita check in? Selagi sudah berhenti di depan hotel, atau ....” Arsen berhenti berbisik di telinga Bellinda, beralih memberhentikan wajah tepat di depan mata wanita yang kini nampak sangat tegang. Bibirnya tersenyum menggoda, suka sekali menyaksikan ekspresi jandanya yang tak berkutik. “Mau lakukan di dalam mobil saja?”

__ADS_1


__ADS_2