
Meski tak bisa membawa Bellinda pulang juga, tapi Arsen sudah cukup bahagia karena kini Colvert ada bersamanya. Di dalam mobil dan sedang menuju ke apartemen. Sejak keluar dari area mansion Baldwig, ia tak mendengar suara anaknya, sedikit pun. Penasaran, akhirnya menyempatkan untuk menengok, memastikan sedang apakah putranya itu.
Arsen tersenyum gemas bercampur lega. “Ternyata kau tertidur, aku pikir sejak tadi tidak menjawab pertanyaan karena marah dan mogok bicara.” Tangan kanan terulur untuk mengusap lembut ujung kepala Colvert. Anak usia enam tahun itu terlihat tenang. Dia tidak akan mengganggu, mungkin kelelahan juga setelah acara makan malam.
Sesampainya di apartemen, Arsen segera turun dan menggendong Colvert hingga ke unitnya. Ia merebahkan tubuh yang kini memiliki tinggi sekitar seratus dua puluh centimeter itu ke atas ranjang.
Si duda tak beranjak pergi. Dia tetap duduk di tepi ranjang, memandangi wajah yang begitu mirip dengannya. Beberapa kali matanya menangkap kening Colvert mengerut seperti orang gelisah di alam mimpi. Buru-buru ia ikut berbaring di samping sang putra dan memeluk seolah memberikan perlindungan.
“Colvert mimpi buruk? Tenang, ada Daddy. Yang nyenyak tidurnya, ya ... Sayang.” Arsen melabuhkan kecupan di kening putranya, lalu mengusap dahi yang tadi sempat mengerut beberapa kali.
__ADS_1
Ini adalah kali pertama Arsen tidur berdua bersama putranya sendiri, ketika sudah usia enam tahun pula. Banyak sekali waktu yang ia buang tanpa tumbuh kembang darah dagingnya. Dia merasa sangat buruk menjadi orang tua. Ternyata ada berbagai hal yang belum pernah ia lakukan sebagai seorang Daddy. Entah apakah tetap bisa seperti sekarang, seandainya Bellinda memilih menikah dengan pria lain. “Ku rasa ... akan sulit.”
Arsen menempatkan tangan kiri untuk dijadikan bantalan Colvert. Sebelah kanan mengusap kepala si kecil. Terus seperti itu sampai tidak terasa ikut terlelap. Ternyata ... nyaman sekali saat ia bisa memberikan dan menunjukkan kasih sayang pada orang terkasih. Apa lagi itu putranya.
Dini hari Colvert terbangun. Entah, ia tiba-tiba membuka mata setelah bermimpi buruk. Namun, ketika merasakan ada tangan hangat merengkuh tubuh, ia perlahan mendongak untuk melihat. Ternyata keluar mansion bersama daddynya bukanlah mimpi, tapi nyata.
Setiap detik terus bergulir maju, malam juga berganti menjadi semakin pagi. Arsen yang pertama bangun. Dia mengulas senyum ketika merasakan baju seperti basah, dan saat dicek ternyata Colvert mengiler. Tidak ada rasa marah sedikit pun walau kini pakaian kotor, justru senang karena bisa melihat bagaimana putranya saat tidur pulas. Biasanya selalu Bellinda yang mengurus hingga ia tak tahu apa pun tentang anak sendiri.
“Daddy buatkan sarapan, ya. Kau tidurlah yang nyenyak, nanti kalau bangun supaya bisa langsung makan.” Setelah melabuhkan kecupan, Arsen pelan-pelan menarik tangan yang semalaman penuh dijadikan bantal Colvert. Untung tidak mengganggu.
__ADS_1
Arsen mengibaskan tangan karena merasa kesemutan, seraya kaki keluar kamar dan menuju dapur. Ia mencuci wajah terlebih dahulu, lalu berkutat dengan bahan-bahan yang simple. Mungkin membuat pasta yang mudah.
Belum selesai memasak, Arsen mendengar ada pintu terbuka, otomatis mata melirik ke arah sumber suara. “Sudah bangun? Nyenyak tidurnya?”
Colvert menjawab dengan anggukan seraya tangan mengucek mata. “Baunya enak.” Setelah memberikan pujian, dia naik ke atas kursi di ruang makan, dan melihat bagaimana daddynya memasak.
“Untuk sarapan kita, tapi belum matang. Tunggu sebentar, ya.”
Colvert kembali mengangguk. Dia menanti sembari melihat punggung daddynya yang terus bergerak, sibuk memasak. Ia jadi kepikiran dengan ucapan Granny saat itu. “Dad, apa benar kalau aku bukanlah anak yang kau inginkan?” Tidak terasa, hal yang selama ini selalu mengganjal di hati pun akhirnya ditanyakan langsung.
__ADS_1