
Arsen kini sudah duduk sendirian di taman karena dua pria paruh baya yang tadi bersamanya sudah kembali masuk, sementara ia memilih untuk tetap berada di sana. Sengaja, memang mau memandangi Colvert dan Bellinda yang masih seru memainkan drone bersama Steven. Sudah tahu sakit melihat anak dan mantan istrinya nampak bahagia bersama pria lain, tetap saja nekat uji nyali.
Biarkan cambukan di hati yang saat ini Arsen rasakan menjadi peneman dalam gelapnya malam yang diterangi cahaya remang-remang oleh lampu taman. Dia sedang menikmati bagaimana rasanya sakit hati, mungkin Bellinda lebih parah lagi dari apa yang saat ini membuatnya terlihat getir.
Semakin lama, rasanya tidak tahan dengan pedihnya luka yang kian mengiris dada. Sesak sekali rasanya. Bisakah Arsen sungguh rela melepas Bellinda juga Colvert begitu saja? Baru melihat tiga orang itu cocok menjadi keluarga bahagia pun sudah membuatnya kesulitan bernapas.
Perhatian Arsen mendadak tersita ke arah sebuah benda terbang yang kini melayang di depannya. Pasti itu drone yang dimainkan oleh Colvert karena anaknya saat ini menatap ke arahnya tanpa ekspresi. Lebih mudah memahami dan menghadapi Colvert versi arogan, dibandingkan dingin seperti sekarang. Ia jadi tak tahu isi pikiran bocah itu, sulit didalami. Apakah marah padanya karena mendengar ucapan Nyonya Baldwig yang tadi menguliti kesalahannya, atau apa? Sumpah ... pusing. Dia tidak ingin dibenci oleh anak sendiri. Itu sangat menyakitkan.
Arsen langsung merubah ekspresi dari sendu menjadi tersenyum. Walau itu berat, tapi ia tak ingin menunjukkan sisinya yang saat ini sedang merasakan tikaman tak kasat mata.
__ADS_1
“Hi, drone yang bagus. Kau sudah lincah mengoperasikannya, ya?” Arsen berbicara dengan kamera yang menyatu di benda melayang itu. Dua jempol terangkat sebagai pujian. “Sepertinya kau jauh lebih senang mendapatkan hadiah barang. Apakah ingin sesuatu juga dariku? Selain berkemah.”
Drone itu tiba-tiba pergi dari hadapan Arsen. Dia hanya bisa melihat saat benda itu berhenti di lantai depan Colvert. Bocah itu lalu mengemasi dan masuk ke dalam.
Arsen menundukkan kepala seraya menyentuh kening yang mendadak terasa berat. Kini dia sendirian, Bellinda dan Steven juga ikut masuk ke dalam.
“Sepertinya kehadiranku memang tidak diharapkan di sini.” Ada helaan napas yang tak bisa diartikan dengan kata-kata. Perih pokoknya.
Benarkah jika kesempatan kedua itu tak akan pernah Arsen dapatkan? Bersatu kembali dengan Bellinda setelah sekian lama bercerai adalah fatamorgana belaka? Dan orang yang pernah salah apakah pasti diragukan kalau sudah menyesal dan mau memperbaiki diri?
__ADS_1
Arsen sadar kalau kelakuannya di masa lalu seburuk itu. Dia juga tidak terlalu berharap dimaafkan dengan mudah. Tapi, tetap saja sulit untuk merelakan segalanya yang ia perjuangkan mati-matian sampai rela pulang pergi Amsterdam Helsinki yang tidak dekat.
Kaki Arsen membawa tubuhnya terus ke arah mansion. Dia hendak pamit karena di sana pun tak ada lagi yang menemani.
Ketika sampai di dalam, Arsen melihat keluarga Baldwig sedang jalan masuk. Mungkin baru saja mengantarkan tamu pulang karena tidak nampak atau mendengar suara Steven beserta keluarganya.
Tuan Baldwig pertama kali menepuk pundak Arsen dan berlalu begitu saja. Lalu, si Nyonya yang selalu memberikan tatapan sinis. Kali ini wanita paruh baya itu bersuara. “Bagaimana Daddy baru untuk Colvert? Bagus, kan, pilihanku?”
Arsen mengangguk. Dia akui sejak pertama kali melihat Steven, pria itu memang pesaing terberatnya. Apa lagi sekarang ada dukungan dari keluarga, semakin sulit. Bibirnya tidak mau mendebat apa pun yang mantan mertua ucapkan.
__ADS_1
“Tenang, kau akan aku undangan saat pernikahan mereka.” Nyonya Baldwig berlalu meninggalkan mantan menantu yang sampai detik ini selalu berhasil membuatnya dongkol dan ingin sekali membuat pria itu menyesal sudah mencampakkan putrinya.
Kini Bellinda dan Colvert yang berhenti di depan Arsen. Pria itu langsung mengulas senyum dan menutupi perasaannya yang tadi sempat tercabik-cabik. “Mau mengobrol denganku? Sebentar saja.”