Buried Love

Buried Love
Part 81


__ADS_3

Kedua orang tua Bellinda langsung menatap manusia yang baru saja menyeletuk itu. Mereka sampai mengernyitkan kening. Oh ... ternyata semua dihitung dan tidak suka rela?


“Memangnya berapa yang kau keluarkan? Ku ganti semua!” Tuan Baldwig mulai mengeluarkan suara. Enak saja, berasa tak mampu membayar semuanya sampai diungkit masalah uang.


“Keluargaku tidak semiskin itu. Dan kau sendiri yang memaksa untuk membayar seluruh tagihan. Kenapa sekarang jadi membawa untung dan rugi?” Akhirnya Nyonya Baldwig terbuka juga matanya kalau calon besan itu hanya mencari keuntungan.


Kacau, pernikahan Bellinda dan Steven justru berakhir dengan kedua orang tua yang saling adu mulut. Sementara mempelai terabaikan.


Bellinda tidak mau terlibat perdebatan, ia menggandeng tangan Colvert. “Ayo kita pergi saja dari sini.” Kasihan putranya harus melihat orang dewasa bertengkar.


“Wait, Mommy.” Colvert menahan orang tuanya supaya tidak segera beranjak. Dia melepaskan genggaman Bellinda untuk sekedar menghampiri si nenek sihir. “Hei, kau! Kirimkan tagihanmu padaku atau daddyku, akan aku bayar menggunakan uang warisan darinya. Jadi, jangan merasa rugi karena apa yang kau keluarkan sangat kecil bagiku.” Apa pun urusannya, sombong pada si Nyonya Dane tetaplah nomor satu.

__ADS_1


Colvert melengos begitu saja setelah memberikan tamparan telak dari ucapannya. Lalu kembali menghampiri sang Mommy dan keduanya bergandengan tangan. Berusaha berjalan lebih cepat menuju area parkir sebelum ketiga teman Arsen pergi dari mansion Baldwig.


Tapi, Steven yang sejak tadi terabaikan pun lekas berlari dan menghadang tubuh Bellinda supaya tak pergi begitu saja. Dia belum mengucapkan sepatah kata, masih menekuri guratan penuh rasa khawatir dari wajah wanita yang gagal dipersunting.


“Apa kau mencintainya? Maksudku ... daddynya Colvert,” tanya Steven.


Bellinda terdiam sesaat, tapi beberapa detik kemudian ia mengangguk. Tidak bisa dipungkiri kalau perasaan untuk Arsen masih tetap ada, walau sudah berusaha dikubur sedalam mungkin. “Maaf, Steven.”


Bellinda menimbang dan tak langsung memberikan jawaban. Tapi, Steven sudah mencondongkan tubuh terlebih dahulu, melingkarkan kedua tangan dan membawa kepala si janda untuk bersemayam pada dadanya. “Semoga pilihanmu kali ini tidak membuatmu kecewa seperti sebelumnya. Kembali dengan masa lalu bisa saja mengulangi luka yang sama. Tapi, ku terima keputusanmu, dan ... aku tidak akan ada lagi untuk kehidupanmu berikutnya jika kau benar-benar membatalkan semuanya.”


“Aku sudah siap menerima segala konsekuensinya,” sahut Bellinda.

__ADS_1


“Mommy, ayo ... nanti kita ditinggal.” Colvert menarik tangan Bellinda supaya lekas keluar dari pelukan.


Steven yang lebih tahu diri. Dia mengurai kedua tangan, lalu sedikit berjongkok supaya sejajar dengan Colvert. “Jadi, kau sudah memilih memihak daddymu?” Seharusnya ia kesal, tapi pria itu justru mengacak-acak rambut bocah itu.


Kepala Colvert mengangguk. “Sorry, Steven. Mungkin kita lebih cocok jadi teman daripada Ayah dan anak.”


“Ya, it’s ok.” Steven berusaha memaksakan senyuman. Dia membiarkan Bellinda dan Colvert berjalanmenuju lokasi parkir.


Saat sampai dijajaran mobil yang berderet rapi, sepasang ibu dan anak itu langsung menghampiri kendaraan di mana ada Madhiaz, Pierre, dan Eduardo berdiri di samping sana. Ketiga pria itu memang sengaja menunggu dan berpura-pura baru mau masuk mobil saat melihat Bellinda mendekat.


“Aku ikut pergi dengan kalian,” ucap Bellinda.

__ADS_1


__ADS_2